"Pisaunya tumpul, ih. Gak pernah lo asah, ya?" tanyanya. "Pernah. Sebulan yang lalu," jawabku asal. "Kenapa gak setahun aja sekalian?" tanyanya. "Rencananya sih emang gitu. Hahaha," ucapku. Tak ada pembicaraan istimewa antara aku dengan dia pada hari itu. Aku sudah tidak merasakan pusing pun sudah sangat bersyukur, apalagi kalau mendapatkan lebih dari itu. "Mau nggak?" tawarnya sambil menunjukkan buah apel itu padaku. "Masih nanya lagi?" tanyaku. "Oh. Mau, ya?" "Iya," jawabku. Potongan apel yang sudah berhasil diiris itu ia angkat. Kukira mau diberikan ke aku, ternyata malah ia makan sendiri. Sungguh menyebalkan dia pada hari itu. "Enak juga, sih. Lumayan," katanya. "Kok dimakan sendiri, sih?" "Lah. Kan gue yang ngiris. Wajar lah kalau gue juga yang makan," katanya. "Kirain ma

