Aku dan dia diam untuk sesaat. Keheningan kembali tercipta seiring dengan tiadanya kata yang terucap dari mulut kami berdua. Ritual dua orang pendiam yang berada di satu tempat sama pun kembali terlaksana. Sampai akhirnya, keheningan mulai hilang di saat sang kata kembali dipergunakan. Pasha berucap lagi padaku. Tentang sebuah hal yang membuatku bertanya-tanya kenapa ia menampakkan raut wajah yang seperti itu. "Iya, gue tahu kalau soal itu. Tapi yang pengen gue tahu adalah alasan Shela bisa sekagum itu sama lo. Kalau boleh tahu, gue minta lo ngejelasin," ucap Pasha. "Itu, ya? Bagaimana gue bisa menjawabnya, sedangkan gue dan dia ada di dalam jiwa yang berbeda. Tapi kata dia, dia kagum ke gue karena kerja keras gue. Nggak tahu itu benar apa salah. Gue cuma percaya aja," kataku. Dia mangg

