Kala itu aku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Firman. Bodoh sekali. Bisa-bisanya aku tertipu, sedangkan aku sendiri pun tahu bahwa Firman tidak pernah mengenal ataupun tahu wajah Alwi ataupun Dito. "Nggak ada," jawabku dengan polosnya. "Hahaha ...." Dia tertawa. "Kenapa?" tanyaku bingung. Pasalnya, dia tertawa tanpa ada sedikitpun hal yang menurutku lucu. "Sumpah kepintaran lo perlu diragukan, Niel. Orang kayak gini kok bisa dapet beasiswa. Aneh. Lha gue aja gak tahu orang yang fitnah lo itu wajahnya kayak apa. Ya kali gue ngerti kalau dia ada di sini," ucap Firman. Alhasil, aku cuma bisa garuk-garuk kepala dibuatnya. Aku malu dengan kepolosanku. Aku telah tertipu lewat hal yang sangat sederhana. Sebuah hal yang harusnya tidak mungkin bisa membuatku tertipu. Akan tetapi, aku ini man

