Bab 72

1001 Kata

"Lo mau maafin gue, kan?" tanyanya. Aku diam. "Gue juga. Ternyata saat itu lo itu cuma korban fitnah. Harusnya gue bisa lebih berpikir dewasa. Bukan asal emosi dan ngajak lo berkelahi. Bodohnya gue malah dendam atas kekalahan gue waktu itu. Harus gue akui, kemampuan berkelahi lo benar-benar hebat," ucap Alwi. Kalau aku orang jahat, aku pastikan akan menghina mereka habis-habisan. Namun aku bukan orang yang seperti itu. Ucapan mereka aku balas dengan senyuman manis. Dan jujur saja, senyum itu masihlah sebuah senyuman palsu. Rasa sakit hati yang mereka ciptakan untukku tidak bisa begitu saja menghilang hanya dengan kata maaf. Tapi mungkin aku bisa memaafkan. Hanya saja untuk melupakan, rasanya itu sangat sulit. Bahkan hampir mendekati tidak mungkin. Aku adalah seorang pengingat yang baik.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN