"Tolonglah, Niel! Gue gak mau kena hukuman. Kali ini saja. Gue janji. Setelah ini gue akan berusaha sendiri," ucapnya. "Kalau gue tetep gak mau?" tanyaku. "Lo masih marah ya, sama gue? Lo masih benci, kah?" tanyanya. Ia nampak murung. "Iya sih, Niel. Gue terlalu keterlaluan dulu. Tapi itu dulu, Niel. Sekarang gue udah sadar akan kesalahan yang gue perbuat. Lagian gue kan udah minta maaf sama lo," ucapnya. Kupandang saja ia. Cukup lama, dan kami hanya saling diam. Beberapa saat setelahnya, aku tertawa kecil sehingga suasana pun bisa kembali hidup. "Nggak-nggak. Gue cuma bercanda, kok. Lo boleh minjam punya gue. Tapi cuma kali ini aja, ya. Jangan dibiasain! Setelahnya lo nggak boleh lupa atau sengaja tidak mengerjakan," kataku. "Beneran boleh, Niel?" tanyanya. Aku mengangguk. Bahagia

