"Dih. Marah kenapa?" tanyanya. "Ya karena aku larang untuk meluk aku," jawabku. "Dih. Kepedean. Kalau kamu aja ngelarang, ya udah. Ngapain juga aku harus marah," katanya. "Baguslah. Itu berarti kamu pengertian. Hahaha," ucapku. Perjalanan tetap berlanjut. Aku masih ingat ketika kami mengisi bahan bakar di pom bensin. Saat itu, Shela menjadi yang terdepan untuk membayar bensin yang aku beli. Aku sudah melarangnya, tapi dia memaksaku agar dia saja yang membayarnya. Sebegitu baiknya dia ke aku. Aku tidak pernah menganggap bahwa apa yang ia berikan ke aku itu sebagai penghinaan. Aku tahu kalau itu bentuk dari pengertiannya ke aku. "Kamu mulu yang bayarin. Aku jadi nggak enak, tahu," kataku. "Dienakin aja. Kan aku juga yang pengen ngasih. Bukan kamu yang minta," katanya. "Tapi kayak gim

