Aku tak marah ketika dia menyebutku rendahan. Malah aku ingin tertawa karenanya. Si rendahan menyebut diriku rendahan. Kurasa itu sangat tidak pantas. "Rendahan siapa?" tanya April. "Daniel, lah. Siapa lagi?" ucap Alwi. "Oh. Nggak, nggak diapa-apain," jawab April. "Halah, nggak usah bohong lo! Tadi gue lihat lo marah-marah ke dia, lho," kata Alwi. "Sejak kapan lo jadi mata-mata?" tanya April. Raut wajahnya mulai menandakan ketidaksukaan dia pada ucapan Alwi. "Lah. Gue bukan mata-mata. Gue cuma kebetulan lewat dan lihat kalian berdua berantem," sangkal Alwi. "Oh." "Hahaha ... Emang lo diapain sama dia?" "Nggak diapa-apain." "Halah. Bohong mulu lo. Gue tahu kok sifat tuh orang. Udah miskin belagu pula. Lo inget kan kejadian waktu itu? Kalau dia nggak mengawali, gue juga gak akan sa

