Bab 107

1013 Kata

Aku hadapkan wajahku ke sana dengan sedikit malas. Nampaknya Pak Handoko juga sama seperti itu. "Apa lagi, Shel?" tanyaku. "Nggak. Cuma mau ngasih tahu. Hati-hati aja!" pintanya. Aku pun bingung apa maksudnya. "Hati-hati kenapa?" tanyaku. Shela tidak menjawab. Ia memberi isyarat lewat matanya yang menunjuk ke arah Pak Handoko. Dari situlah aku baru mengerti maksudnya. Dia menyuruhku untuk berhati-hati terhadap guruku yang satu itu. "Kamu nyindir saya ya, Shel?" tanya Pak Handoko. "Enggak. Ngapain nyindir Bapak?" ucap Shela. Entah kenapa wajahnya nampak lucu ketika ia menjawab. "Ya udah, Niel. Kamu masuk sana. Nanti kalau udah selesai, kabarin aku, ya!" pinta Shela kemudian. "Iya," jawabku. "Ya udah, aku pergi dulu. Pak Handoko, saya sebagai murid terbaik yang Bapak punya izin meng

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN