Aveline menggigit pelan ujung croissant yang mulai kehilangan kehangatannya. Matanya menatap kosong ke arah laut lepas di balik dek, meski telinganya masih menangkap gema dari kata-kata pria itu. Satu pertanyaan. Dan itu disebut sebagai hadiah? Gadis itu mengerjapkan matanya perlahan dan getir. 'Hadiah? Serius? Jadi, dia pikir dengan memberiku kesempatan mengajukan satu pertanyaan itu adalah hadiah? Pria ini sudah menculikku, merudapaksa, memasukkan sesuatu ke dalam makananku tanpa izin, dan sekarang dengan entengnya menyebut satu jawaban darinya sebagai sebuah hadiah? Dasar psikopat.' Jantungnya pun berdegup cepat bukan karena rasa takut, melainkan karena amarah yang begitu ditekan hingga nyaris mendidih dalam diam. Namun Aveline tahu, seberapa pun bencinya ia pada pria ini, seberapa

