Bab 6: Crosswinds (Angin Silang)

1200 Kata
Masa-Masa Akhir: Perjuangan dan Perubahan Bulan-bulan terakhir di Cranwell adalah periode tekanan ekstrem. Ujian akhir—teori, simulator, dan penerbangan sebenarnya—menentukan segalanya. Atmosfer penuh dengan keringat, kafein, dan ketegangan yang hampir terlihat. Kai Dawson berubah. Dorongan kompetitifnya yang buta kini memiliki arah baru: menjadi pria yang pantas diperhatikan Amelia Thorne. Dia tidak lagi hanya ingin mengalahkannya; dia ingin membuatnya terkesan. Dia menghabiskan malam-malam di perpustakaan, bukan hanya untuk mengejar nilai, tapi untuk memahami materi dengan tingkat kedalaman yang sebelumnya dia anggap tidak perlu. Dia bahkan—diam-diam—membaca beberapa jurnal taktis yang dia tahu Amelia sukai, hanya untuk bisa memahami referensinya. Perubahannya tidak luput dari perhatian Amelia. Suatu kali, di ruang simulator, Amelia secara tidak sengaja mendengar Kai menjelaskan konsep aerodinamika kompleks kepada kadet lain dengan kesabaran dan kejelasan yang mengejutkan. "Whoa,Dawson. Kau jadi seperti mentor baru?" goda Amelia, bersandar di pintu. Kai menoleh,sedikit tersipu. "Hanya… mencoba memahami semuanya dengan benar." Matanya bertemu mata Amelia, dan untuk pertama kalinya, tidak ada tantangan di dalamnya. Hanya kejujuran. "Tidak ingin tertinggal." Amelia mengangguk pelan,tatapannya penuh keheranan. "Ya. Aku bisa lihat itu." Ada sesuatu yang hangat dalam suaranya yang membuat jantung Kai berdegup kencang. Amelia dan Dilema Rhys Sementara itu, Amelia Thorne sedang bergulat dengan perasaannya sendiri terhadap Flight Lieutenant Cavanaugh. Ketertarikan itu nyata. Rhys adalah kombinasi memikat dari kecerdasan, kompetensi, dan otoritas yang tenang. Perhatiannya membuatnya merasa diakui, bukan sekadar sebagai "anak Thorne yang pintar", tapi sebagai calon penerbang yang serius. Namun, kecerdasan Amelia juga membuatnya waspada. Dia melihat bagaimana perhatian Rhys juga memicu kecemburuan konyol Kai (yang entah mengapa sekarang justru terlihat agak… menarik dalam kebingungannya), dan lebih penting lagi, bagaimana hal itu memengaruhi Scarlett. Persahabatan dengan Scarlett telah menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi Amelia. Di dunia kompetitif dan maskulin ini, Scarlett adalah sekutunya, pengertinya, orang yang membantunya menavigasi politik akademi. Amelia tidak ingin kehilangan itu. Momen Penemuan yang Mengubah Segalanya Suatu malam, Amelia meminjam buku teks taktik militer langka dari Scarlett. Saat membalik halaman, selembar foto lama terselip keluar dan jatuh ke pangkuannya. Itu adalah foto Rhys Cavanaugh yang jauh lebih muda, mungkin baru lulus pelatihan penerbang, berdiri di depan pesawat jet tempur dengan bangga. Tapi yang membuat Amelia membeku adalah tulisan di belakang foto, dalam tulisan tangan Scarlett yang elegan namun tegas: "Target utama. Pencapaian tertinggi. Terbang bersamamu atau menyingkirkan halangan? Pilihan akan segera dibuat." Dingin menyebar dari ujung jari Amelia ke seluruh tubuhnya. Ini bukan sekadar kekaguman. Ini adalah… obsesi. Rencana. "Menyingkirkan halangan". Dan siapa halangan terbesar Scarlett untuk mendapatkan perhatian Rhys? Dirinya sendiri. Rasa mual melanda perutnya. Gambar Scarlett yang tenang, selalu menghitung, selalu mengamati, tiba-tiba terlihat berbeda. Julukan "Viper" bukan hanya untuk ketenangannya, tapi untuk bisanya yang tersembunyi. Pada saat itu, semua ketertarikan romantis Amelia pada Rhys Cavanaugh menguap, digantikan oleh kengerian yang dingin. Dia tidak ingin menjadi bagian dari permainan ini. Dia tidak ingin kehilangan sahabat karena seorang pria, apalagi seorang pria yang, bagaimanapun juga, adalah atasannya. Itu terlalu berisiko, terlalu rumit, dan tiba-tiba terasa sangat… tidak penting dibandingkan dengan kenyataan bahwa sahabatnya mungkin melihatnya sebagai "halangan". Dengan hati berdebar, Amelia menyelipkan foto itu kembali ke dalam buku, memastikan persis di halaman yang sama. Esok harinya, dia mengembalikan buku tersebut kepada Scarlett dengan senyuman biasa. "Terima kasih,Scar. Sangat membantu." "Always,"balas Scarlett, tersenyum. Tapi apakah ada kilatan evaluasi ekstra di matanya? Amelia tidak yakin. Sejak hari itu, Amelia dengan sengaja mendinginkan hubungannya dengan Rhys. Dia tetap hormat, profesional, tetapi tidak lagi mencari sesi ekstra atau percakapan pribadi. Dia menjawab pertanyaannya dengan singkat dan efisien, lalu pergi. Rhys, yang peka, memperhatikan perubahan itu. Tatapannya seringkali mengikutinya dengan pertanyaan, tetapi Amelia selalu menghindar. Hari Kelulusan: Medan Pertempuran Baru Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Upacara kelulusan diadakan di halaman parade Cranwell dengan segala kemegahan dan tradisi militer. Keluarga diundang. Dan tentu saja, ini berarti Dawson dan Thorne akan berada dalam jarak yang sama untuk pertama kalinya sejak hari pendaftaran. Suasana awalnya tegang namun sopan. Keluarga Dawson berdiri di satu sisi, keluarga Thorne di sisi lain, dipisahkan oleh beberapa keluarga lain. Richard Dawson dan Dr. Alistair Thorne saling melirik, mengukur. Masalah mulai ketika Richard, dengan suara keras yang ingin didengar semua orang, berkata, "Lihat, Sand. Putra kita, perwira Angkatan Udara. Tidak seperti beberapa orang yang hanya bisa mengotori tangan dengan buku." Alistair Thorne langsung menyambar."Setidaknya tangan yang 'kotor buku' bisa membedakan antara dinamika fluida dan minyak rem, Richard. Prestasi Amelia berbicara sendiri." "Prestasi?Dia hanya bisa mengikuti jejak Kai!" "Jejak?Kai yang harus begadang berbulan-bulan hanya untuk menyamai nilai teori Amelia?" Keduanya semakin berhadap-hadapan,wajah memerah. Sandra Dawson dan Eleanor Thorne mencoba menenangkan suami mereka, tetapi tanpa hasil. Beberapa tamu mulai menoleh. Amelia merasa malu dan lelah. Dia melihat orang tuanya, lalu melihat Kai. Dia berharap Kai akan bergabung, menyombongkan dirinya seperti biasa. Tapi yang dia lihat membuatnya terpana. Kai Dawson melangkah maju. Bukan untuk bergabung dengan ayahnya. Tapi untuk berdiri di antara kedua pria yang sedang bertengkar itu. "CUKUP!" suara Kai menggelegar, tegas dan berwibawa, sebuah suara yang tidak pernah Amelia dengar darinya. Dia menatap ayahnya, lalu menatap Dr. Thorne. "Ayah.Dr. Thorne. Ini hari kami. Hari Amelia dan aku. Bukan hari untuk pertengkaran lama yang tidak ada artinya." Suaranya rendah, namun penuh keyakinan. "Kami berdua lulus. Kami berdua akan menjadi perwira RAF. Itu yang penting. Bukan siapa yang lebih baik." Richard Dawson terkesiap, melihat putranya seperti melihat orang asing. Alistair Thorne tercengang, mulutnya agak terbuka. Kai kemudian menoleh ke Amelia. Matanya, yang dulu selalu dipenuhi tantangan, kini terlihat… lelah, tulus, dan penuh permintaan maaf. "Maafkan mereka, Amelia. Dan… maafkan aku. Untuk semuanya." Dunia sekitar Amelia seakan diam. Gemuruh upacara, desir angin, semuanya memudar. Yang ada hanyalah Kai Dawson, berdiri di tengah medan perang lama keluarganya, dengan berani mengibarkan bendera gencatan senjata. Bukan untuk kemenangan, tapi untuk perdamaian. Untuknya. Hatinya berdegup kencang. Ini bukan Kai yang dia kenal. Ini adalah seseorang yang telah berubah, yang telah tumbuh. Dan perubahan itu… sangat menarik. Dari kejauhan, di barisan lulusan, Scarlett Reed menyaksikan semuanya dengan mata yang tajam. Sebuah senyum tipis yang dingin dan puas mengembang di bibirnya. Adegan keluarga Dawson-Thorne yang kacau itu sesuai rencana. Tapi reaksi Kai… itu adalah variabel baru yang menarik. Dia melihat cara Amelia memandang Kai. Itu bukan pandangan permusuhan. Bukan pula pandangan netral. Itu adalah pandangan yang terbuka kembali, penuh keheranan dan sesuatu yang lain. Scarlett menoleh ke arah Flight Lieutenant Cavanaugh, yang berdiri di barisan instruktur. Rhys juga memperhatikan adegan itu, lalu pandangannya beralih ke Scarlett. Untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu. Scarlett memberikan anggukan halus, penuh pengertian seolah berkata, Lihat? Drama yang tidak perlu. Rhys mengangguk balik, lalu memalingkan muka, wajahnya sedikit keruh. Bagus, pikir Scarlett. Kekacauan Dawson-Thorne telah mengalihkan perhatian Rhys dari Amelia. Dan sekarang, dengan Amelia yang mundur dan Kai yang maju… medan semakin bersih. Upacara pun dilanjutkan. Nama dipanggil. Mereka maju, menerima penghargaan, mendapatkan "wings" mereka. Kai dan Amelia, berdiri hampir berdekatan dalam barisan, terkadang saling mencuri pandang. Sebuah pemahaman baru yang sunyi dan tidak pasti mengalir di antara mereka. Perang lama mungkin belum sepenuhnya berakhir. Tapi di sore musim panas di Cranwell itu, gencatan senjata telah dideklarasikan. Dan di tengah semua kebisingan dan kemegahan, hati dua orang bekas musuh mulai berdetak dengan irama yang baru dan membingungkan, sementara sang "Viper" di barisan belakang, dengan tenang menyusun langkah berikutnya dalam kesunyian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN