[29]

1405 Kata
Dolunay yang dikemudikan oleh Nikita akhirnya tiba di depan sebuah rumah yang pernah ia singgahi 1 hari yang lalu. Sama seperti sebelumnya, rumah itu bahkan tampak seperti tak berpenghuni dengan dedaunan kering yang bertebaran di bagian halamannya. Gerhard turun lebih dulu untuk memindahkan patung Melior, namun Nikita menahannya. "Kenapa?" tanya Gerhard. "Lebih baik pindahkan bersama trolinya saja," usul Nikita. Gerhard melihat pada troli yang tersambung pada Dolunay milik Nikita, sejurus kemudian pria itu pun beralih untuk melepas penyambung troli pengangkut Melior dengan Dolunay. Setelahnya, barulah Gerhard menarik troli kayu itu dengan kedua tangannya. Nikita bisa melihat dengan jelas urat tangan pada pria itu, terlebih sebelumnya Gerhard memang sudah biasa mengangkat dan menarik beban berat sewaktu bekerja di pertambangan. "Mau kubantu?" tanya Nikita sambil mengikuti langkahan kaki Gerhard. "Tolong ketuk pintu rumahnya," ujar Gerhard. Nikita pun berlarian kecil ke arah pintu rumah tersebut dan langsung mengetuknya sesuai dengan intruksi yang diberikan oleh Gerhard barusan. Tok ! Tok ! Tok ! Suara ketukan pintu terdengar menggema. Tak berapa lama kemudian, pintu pun terbuka, menampilkan sosok Cleo dengan mata yang setengah terpejam dan gaun tidur berwarna putih yang ia kenakan. Nikita sempat menatap wanita itu beberapa saat sampai akhirnya ia tersadar ada energi sihir yang terasa aneh memancar dari tubuh wanita yang baru saja keluar. "Siapa," gumam Cleo sambil menahan kantuknya. Cleo bahkan terlihat menguap beberapa kali dengan mata yang masih terpejam. "Gerhard. Sepertinya kita dalam masalah," ujar Gerhard sambil menarik troli kayu dengan susah payah. Bruk ! Gerhard menghentikkan troli yang ia tarik tepat di hadapan Cleo. Cleo yang mendengar suara hantaman cukup keras langsung membuka mata dan kesadarannya kembali seketika. "Apa ini?" tanya Cleo. Satu tangan Nikita terulur untuk membuka kain yang menutupi patung Melior. Mata Cleo langsung membulat saat melihat sesuatu yang ada di hadapannya. "Jangan bilang...." "Iya. Satu korban lagi. Hal yang kau takutkan kembali terjadi dan sialnya aku tak menemukan siapa pelakunya," sambung Gerhard. Cleo melangkahkan kakinya mendekati patung Melior kemudian mengelilingi tubuh patung wanita itu sampai akhirnya menemukan sebuah tanda yang sama dengan milik Sagira. "Astaga!" pekik Cleo. "Sepertinya kita harus segera melakukan rencanamu yang kemarin. Siap atau tidak siap, aku harus melakukannya. Aku takut akan semakin banyak korban dari kejahatan ini," ujar Gerhard. "Sebaiknya bawa masuk ke dalam dan letakkan di kamar Ibumu, kita bicarakan ini di dalam," titah Cleo. Gerhard mengangguk mengerti kemudian kembali menarik troli itu ke dalam. Tatapan mata Cleo dan Nikita bertemu, kedua wanita itu tampak canggung satu sama lain. "Kau juga, ikut ke dalam," ujar Cleo. Nikita pun ikut masuk ke dalam dan begitu juga dengan Cleo yang ikut masuk ke dalam. Sebelum menutup pintu rumahnya, wanita itu melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada orang lain yang melihat mereka. Setelah merasa yakin tak ada satu pun yang memperhatikan mereka, barulah Cleo menutup pintu rumah itu rapat - rapat dan mengunci pintunya. Gerhard memindahkan patung Melior seorang diri tanpa bantuan orang lain. Sekuat tenaga ia meletakkan patung Melior dengan hati - hati agar tak terluka tepat di samping patung Sagira. Nikita yang diam - diam mengintip di ambang pintu pun terkejut saat menyadari terdapat patung lain yang sudah lebih dulu berada di kamar itu. Walaupun sudah berubah menjadi patung, nyatanya Nikita masih mengenali wajah patung itu. Nikita sangat yakin jika patung itu adalah Ibunya Gerhard. "Kau mungkin terkejut menemuinya, kan?" ujar Gerhard kepada Nikita tanpa membalikkan diri.  Padahal Nikita sudah diam - diam mengintip ke kamar itu, nyatanya tetap saja ketahuan oleh Gerhard. Alhasil Nikita pun memunculkan dirinya dan masuk ke dalam ruang kamar itu. Saat masuk, Nikita langsung mengenali aroma bunga peony yang menyeruak di ruangan itu. Beberapa saat kemudian, Nikita pun menyadari jika di ruangan itu terdapat sebuah vas bunga berisikan bunga peony berwarna merah jambu yang ia ingat dibeli oleh Gerhard saat di Adarlan. "Jadi rupanya bunga itu untuk Ibumu?" tanya Nikita sambil menunjuk ke arah vas bunga peony. Gerhard menoleh dan melihat ke arah yang Nikita tunjuk, "Iya. Ibuku sangat menyukai bunga peony berwarna merah jambu," jawab Gerhard kemudian mendudukan dirinya di tepi tempat tidur dan menatap 2 wanita yang paling ia sayangi dan kini telah berubah menjadi sebuah patung batu. Nikita berjalan menghampiri Gerhard dan mengusap bahu pria itu. "Aku tau ini sangat berat, tapi aku yakin Ibumu dan wanita itu akan bisa kembali normal," ujar Nikita. "Kapan? Ini bahkan sudah 18 tahun berlalu tapi tak pernah ada kabar baik," balas Gerhard. Gerhard menundukan kepalanya dan mengacak rambutnya diiringi dengan erangan. Tak mau tampak frustasi di hadapan Ibunya dan juga Melior, akhirnya Gerhard pun beranjak dan memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Nikita pun mengikuti jejak Gerhard yang keluar dari ruang kamar itu, tak lupa wanita itu pun menutup pintu kamar itu sebelum ia pergi. Sebuah pintu kayu berwarna hitam tertutup rapat. Dari luar ruangan, Gerhard mengetuk pintu itu berharap seseorang membukanya dari arah dalam. Nikita sedari tadi hanya memperhatikan area sekitar rumah itu. Meski dari kecil terlihat seperti tak terurus dan bahkan tampak tidak ditinggali oleh siapapun di dalamnya, nyatanya bagian dalam rumah itu sangat luas dan rapi. Beberapa perabotan tampak jauh lebih modern seolah - olah rumah itu berlokasi di Wendlyn, bukan Eyelwe. Perlahan pintu ruangan itu terbuka, tanpa orang lain yang membukanya. Tanpa aba - aba, Gerhard langsung masuk ke dalam, begitu pula dengan Nikita. Nikita kehabisan kata - kata saat melihat ruangan itu yang dipenuhi dengan berbagai buku pelajaran sihir serta ramuan - ramuan yang dibuat berdasarkan buku - buku tersebut. Tepat di sudut ruangan, Nikita bisa melihat wanita yang tadi membukakan pintu depan sedang sibuk mencampurkan berbagai macam cairan berwarna - warni ke dalam sebuah wadah.  Gerhard yang sedari tadi mengedarkan pandangannya, akhirnya menemukan sosok Cleo di dalam ruangan itu. "Sebaiknya kau jangan berisik, dia tidak suka diganggu," bisik Gerhard pada Nikita sebelum akhirnya pria itu menghampiri Cleo yang sedang sibuk dengan ramuan racikan miliknya. "Kau sudah meletakkannya?" tanya Cleo. "Sudah. Aku letakkan persis di samping Ibukku," jawab Gerhard. Cleo meletakkan 2 botol cairan berwarna hijau dan merah kemudian menatap Gerhard dan Nikita secara bergantian, "Sebaiknya malam ini kalian tidur di sini. Malam ini, aku akan berfokus untuk membuat ramuan penyembuh untukmu. Secepatnya kita akan bertemu dengan Hydra di Hutan Maylea," ujar Cleo. "Maylea?" gumam Nikita yang sebenarnya masih terdengar di telinga Cleo dan Gerhard. "Kau tahu letaknya?" tanya Cleo kepada Nikita, membuat wanita itu langsung tersadar dari gumamannya. Gerhard pun menoleh menatap Nikita dan ikut menunggu jawaban wanita. "Tidak," jawab Nikita berbohong. Padahal sebenarnya dia mengetahui hutan Maylea. Selama ini ia selalu melintasi hutan itu dan tak pernah bertemu dengan Hydra, terlebih hutan itu juga menjadi satu - satunya jalan menuju Gunung Aesira. "Tapi, apa tidak apa - apa kau tidak masuk ke akademi?" tanya Cleo yang menyadari jika Gerhard memiliki jadwal masuk ke akademi.  Di tambah saat ini Gerhard dan Nikita masih mengenakan seragam akademi Lorillis mereka. "Tidak apa - apa," jawab Gerhard. "Bagaimana dengannya?" tanya Cleo dengan menatap ke arah Nikita. Gerhard menoleh ke arah Nikita, "Kau sebaiknya pulang besok pagi dan segera menuju ke Adarlan. Terima kasih banyak sudah membantuku," ujar Gerhard. "Jika aku pulang sekarang, bagaimana jika para Hydra itu berlari ke Aesira? Jika Aesira terganggu, itu akan mengganggu seluruh pemasukan air ke Lacoste," gumam Nikita di dalam hatinya. Terlebih Nikita merasa dirinya sudah merasa seperti penjaga Aesira dan mungkin hanya dia yang mengetahui keberadaan Aesira. "Aku ikut," jawab Nikita. "Kau yakin?" tanya Cleo. "Itu berbahaya, sebaiknya kau pulang," sahut Gerhard yang menolak Nikita untuk ikut karena takut terjadi hal buruk kepadanya. "Aku bisa menjaga diri. Percaya padaku," ujar Nikita. Cleo menatap ke arah Nikita, atau lebih tepatnya ke arah bola mata Nikita yang berwarna merah, "Oke." "Cleo!" pekik Gerhard yang tampak tak senang dengan keputusan Cleo. "Dia meminta. Kita berikan jika memang itu maunya. Risiko akan dia yang tanggung," ujar Cleo. "Terima kasih banyak," ujar Nikita sembari tersenyum kepada Cleo. Malam pun semakin larut, Gerhard dan Nikita segera pergi menuju sebuah kamar kosong. Karena hanya ada 1 kamar di sana, Gerhard dan Nikita terpaksa berbagi kamar. Nikita tidur di atas tempat tidur, sedangkan Gerhard tidur di lantai dengan berbekal selimut dan juga bantal. "Kau bisa tidur bersamaku, Gerhard," ujar Nikita yang merasa tak keberatan berbagi tempat tidur dengan pria itu. "Tidak, aku biasa tidur di lantai. Kau istirahatlah, dan jangan berisik," ujar Gerhard kemudian ia mulai memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian, Nikita bisa mendengar suara napas Gerhard yang mulai tenang. Barulah setelah memastikan Gerhard tidur, Nikita juga ikut memejamkan matanya dan berusaha melewati malam itu dengan tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN