[30]

1631 Kata
Akademi Lorillis Kota Adarlan * Keesokan harinya . . . Suara bel yang nyaring terdengar hingga ke seluruh penjuru akademi Lorillis. Satu persatu murid mulai masuk ke dalam kelas mereka, termasuk dengan Jaromir dan juga Antheia. Kedua orang itu sedari tadi tampak merasa tidak tenang, terlebih kursi yang seharusnya ditempati oleh Gerhard dan juga Nikita masih kosong. "Kemana mereka pergi? Apa mereka hari ini tidak masuk?" tanya Antheia kepada Jaromir yang duduk di belakangnya. Jaromir menggidikan bahunya, "Aku tidak menerima kabar apapun dari Gerhard," jawabnya. Aldrich yang bertugas sebagai penanggung jawab kelas itu pun masuk dan membuat orang - orang yang ada di dalam kelas hening seketika. "Selamat pagi semua, bagi yang hari ini ingin membayar untuk perjalanan study tour, silakan maju ke depan," ujar Aldrich. Beberapa murid pun berdiri dari kursi mereka dan segera membentuk barisan rapi untuk membayar biaya uang study tour mereka yang telah diumumkan kemarin. Jaromir dan Antheia pun ikut berdiri. Baru saja Jaromir ingin ikut masuk ke dalam barisan antrian, Antheia menahan lengan pria itu dan menatapnya. "Ada apa?" tanya Jaromir. "Apa punya Gerhard bayarkan sekalian saja?" tanya Antheia. "Tapi dia tidak datang," ujar Jaromir. "Tidak apa - apa. Bagaimana jika ia tidak datang sampai hari terakhir pembayaran?" "Baiklah," balas Jaromir mengalah. "Kau saja yang bayar," ujar Antheia dan langsung memasukkan uang 500 wyon ke dalam amplop milik Jaromir kemudian langsung mengantri di belakang Jaromir. "Apa?!" Jaromir membelalakan matanya. Namun pada akhirnya Jaromir pun hanya menghela napasnya dan mengalah. Setelah mengantri beberapa saat, akhirnya tiba giliran Jaromir untuk membayarkan study tour miliknya. Aldrich mengambil amplop itu dan mengeluarkan isinya. "Kenapa 2000 wyon?" tanya Aldrich yang bertanya mengenai jumlah uang di dalam amplop milik Jaromir. "Anu pak... Gerhard menitipkan pada saya untuk membayarkan miliknya," ujar Jaromir. "Gerhard? Memang dia kemana?" tanya Aldrich dan kemudian melirik ke arah tempat duduk Gerhard yang tak mendapati pria itu di tempatnya. "Gerhard..." jawab Jaromir menggantung. Koak ! Koak ! Seekor burung gagak tiba - tiba saja masuk ke dalam ruang kelas. Tepat di paruh burung hitam yang berwarna serba hitam itu, terdapat sebuah surat yang digigit oleh paruhnya. Burung itu berjalan mendekati Aldrich dan meletakkan surat itu tepat di hadapannya. Setelahnya, burung itu pun pergi keluar kelas. Semua murid di dalam kelas langsung membelalakan matanya saat melihat burung itu yang tiba - tiba saja masuk ke dalam kelas. Terlebih burung gagak lebih banyak digunakan oleh para penyihir untuk saling mengirim surat dan bertukar informasi. "Semuanya harap tenang!" titah Aldrich yang membuat suasana ricuh di kelas kembali hening seperti sedia kala. Tangan Aldrich terulur mengambil secarik kertas yang diberikan oleh burung gagak itu kepadanya. Matanya langsung bergerak ke kanan dan ke kiri sambil membaca isi pesan dari surat itu. Sedangkan Jaromir yang berdiri di hadapannya tampak seperti patung yang tak tahu harus apa. "Gerhard dan Nikita tidak masuk hari ini karena sedang ada urusan," ujar Aldrich usai membaca isi pesan itu. "Apa?" pekik Antheia dari balik tubuh Jaromir. "Sudah kuduga ada sesuatu terjadi pada mereka," sahut yang lain sata mendengar ucapan Aldrich. Jaromir mengerenyitkan dahinya saat mendengar ucapan Aldrich, ia yakin jika surat itu pasti berisi tentang Gerhard dan juga Nikita. "Kalau begitu uang ini akan kuterima," ujar Aldrich kemudian memberikan tanda ceklis pada nama Jaromir dan juga Gerhard. Usai membayar biaya study tour miliknya dan juga Gerhard, Jaromir pun kembali ke tempat duduknya. Matanya tak henti menatap lekat ke arah tempat duduk Gerhard dan Nikita yang kosong. "Apa kau berpikir apa yang aku pikirkan?" sahut Antheia yang baru saja datang dan langsung bertanya kepada Jaromir, membuat pria itu tersadar dari lamunannya. "Entah lagi, tapi yang aku yakin, Gerhard dan Nikita tak memiliki hubungan apapun satu sama lain. Mereka hanya kebutulan sedang ada urusan bersama dan mereka memiliki alasan kuat untuk itu," jawab Jaromir. Setelah beberapa murid melakukan pembayaran untuk kegiatan study tour, barulah Aldrich menutup buku miliknya dan melanjutkan kembali kegiatannya untuk memberikan materi di kelasnya. Semua orang tampak antusias setiap kali Aldrich memberikan materi di kelas itu.  Sementara itu di tempat berbeda namun di waktu yang sama . . . Kerajaan Odor Kota Terassen * Matthew sang Raja dari Kerajaan Odor tampak mondar mandir di depan kursi tahtanya sambil menggigit bibir bawahnya seolah tampak khawatir dengan perasaannya. Sudah 3 jam lebih pria itu bergerak tanpa henti, membuat para pelayan yang ada di sana kebingungan dengan perilaku sang Raja.  Berbeda dengan penampilannya saat 18 tahun lalu yang tampak gagah, nyatanya Matthew pun mengalami fase menua. Wajahnya sudah tak lagi muda seperti sedia kala dan kerutan mulai terlihat di wajahnya yang tampan. Meski begitu, setidaknya Matthew masih tampak berwibawa dengan janggut panjang yang menghiasi wajahnya. Tiba - tiba, pintu ruangannya terbuka, menampilkan sosok wanita yang cantik dengan berbalut sebuah gaun berwarna hijau muda dengan motif emas. Wanita itu dengan anggun melangkahkan kakinya ke arah Matthew yang sedang berdiri di depan singgasana. "Sebaiknya kita sarapan pagi bersama daripada kau berdiri di sana dengan pikiranmu yang kacau," ucap wanita itu tepat setelah dirinya berhenti di hadapan Matthew. Wanita itu adalah Ginevra Garbhan, istri dari Raja Matthew Garbhan yang saat ini menduduki posisi sebagai Ratu dari Kerajaan Odor. Ginevra adalah seorang wanita cantik yang memiliki rambut panjang bergelombang berwarna abu - abu. Wanita itu dicintai oleh seluruh rakyatnya tanpa terkecuali. Tak hanya cantik, Ginevra juga memiliki hati yang baik hati dan sering kali menjadi penengah antara panasnya pemikiran Raja dengan permintaan rakyat. "Apa Yuhwa sudah kembali?" tanya Matthew tanpa menatap Ginevra. "Dia sudah menunggumu di meja makan," jawab Ginevra. "Baiklah." Matthew langsung melangkahkan kakinya, meninggalkan tempatnya berdiri dan melewati Ginevra begitu saja. Selama 18 tahun pernikahan mereka, Kerajaan Odor belum mendapatkan pewaris dari Ginevra. Gosip panas pun sempat menyebar saat orang - orang membicarakan Ginevra mandul dan bahkan tak bisa memiliki anak, bahkan ada pula yang menyebut jika Matthew sebenarnya masih mencintai Yuhwa karena kedua orang itu sudah dekat sejak mereka masih anak - anak. Tapi isu itu dengan cepat ditepis oleh Matthew sendiri dan mengatakan hanya Ginevra yang ia cintai, bahkan Matthew berkata meski Ginevra tak memberikannya keturunan sekalipun ia masih tetap mencintai Ginevra hingga akhir hayatnya.  Matthew masuk ke area ruang makan, diikuti dengan Ginevra di belakangnya dan benar saja, Yuhwa sudah duduk manis di tempat biasa ia duduk dengan tenang. "Kau sudah kembali dari Wendlyn tanpa menyapaku?" tanya Matthew. Mendengar suara Matthew yang menelisik telinganya, Yuhwa pun tersentak dan langsung berdiri untuk memberikan hormat kepada Matthew. Sedangkan Matthew justru terlihat tak acuh pada wanita itu.  Seorang pelayan datang menghampiri Matthew dan Ginevra yang baru saja tiba, kemudian membantu sepasang suami istri itu untuk menempati tempat mereka. Beberapa pelayan yang lain ikut menyajikan makanan di hadapan kedua orang itu. "Apa kau sudah menemukan alasanku selalu gelisah selama ini?" tanya Matthew sembari menunggu sarapan paginya disajikan di hadapannya oleh para pelayan itu. Ginevra sesekali tampak melirik ke arah Yuhwa dan juga Matthew yang sedang bercengkrama, namun wanita itu justru kembali terfokus pada sarapan paginya dan tak ingin terbenam dalam pembicaraan mereka. "Aku sudah mencoba mencarinya namun hasilnya nihil. Kemarin aku menemukan bola Luella di Wendlyn," ujar Yuhwa. Tring ! Garpu yang dipegang oleh Ginevra tiba - tiba saja terjatuh saat ia mendengar sebuah kata yang keluar dari mulut Yuhwa, "Maafkan aku," ujar Ginevra kemudian kembali mengambil garpu miliknya. "Luella?" tanya Matthew. "Iya. Bola itu bisa melihat kejadian di tempat lain meski dengan rentang waktu berbeda," jawab Yuhwa. "Lalu kau menemukan alasanku gelisah? Apa mungkin karena rakyatku?" tanya Matthew lagi sambil menyuapkan potongan daging ke dalam mulutnya. "Tidak ada hal aneh yang terjadi. Bahkan di Eyelwe dan Adarlan sekalipun, semuanya tampak baik - baik saja," jawab Yuhwa. Matthew kembali menyantap sarapan paginya. Kemudian teringat akan ucapan Yuhwa yang mungkin sudah 27 tahun yang lalu. "Dulu, kau pernah mengatakan akan ada seseorang yang lahir dengan kekuatan tak biasa. Apa anak itu telah lahir?" tanya Matthew. Ginevra tampak menaikkan sebelah alisnya meski mata dan tangannya terfokus pada hidangan di hadapannya.  Yuhwa pun yang mendengar pertanyaan itu langsung menghentikkan kegiatannya dan menatap Matthew, "Wanita itu mengalami keguguran," jawab Yuhwa berbohong. Entah mengapa ia justru memilih berbohong kepada Matthew dan bukan memberitahu jika seorang anak laki-laki telah lahir 25 tahun yang lalu. Bahkan Yuhwa menyadari jika anak laki - laki yang ikut menyambut pernikahan Matthew dan Ginevra hadir di sana. "Sayang sekali," ucap Matthew. Akhirnya mereka pun melanjutkan sarapan pagi mereka dengan keheningan. Sesekali Ginevra tampak mencuri pandang pada Yuhwa yang tampak asik menikmati sarapan paginya.  Setelah selesai sarapan, Yuhwa kembali masuk ke dalam kamarnya. Mengeluarkan sebuah kotak kayu dari bawah tempat tidurnya dan membuka isinya. Tangannya pun terhenti pada sebuah buku catatan yang tampak sudah mulai berubah warna menjadi cokelat karena sudah terlalu lama.  Buku itu merupakan buku catatan Yuhwa. Setelah ia memprediksi lamaran kelahiran seorang anak luar biasa di Adarlan, setiap hari Yuhwa selalu mencari tahu tentang pasangan itu. Sampai akhirnya Yuhwa kini tahu banyak tentang pria yang sudah menjadi dewasa dan tumbuh dengan paras yang tampan. Srek ! Sebuah foto berwarna hitam dan putih tiba - tiba saja terjatuh dari dalam buku catatan miliknya. Foto itu merupakan foto para pekerja tambah di Desa Solandis 10 tahun yang lalu. Saat itu Gerhard baru berusia 15 tahun dan baru diperkenalkan dengan pekerjaannya.  "Bahkan dari foto ini aku bisa merasakan energi yang tidak biasa. Sebenarnya siapa anak ini? Apa karena anak ini, Tuan Matthew menjadi selalu gelisah setiap hari?" gumam Yuhwa sambil menatap ke arah foto yang telah usang itu. Hampir setiap hari Yuhwa selalu penasaran pada Gerhard Alastair. Bahkan saat berpapasan dengan anak laki - laki pada 18 tahun yang lalu, ia bisa merasakan aura yang tak biasa. Kekuatan dahysat dan begitu besar tersembunyi di baliknya. Yuhwa berusaha mencari tahu siapa sosok Gerhard namun nyatanya ciri - ciri anak itu tak pernah ditemukan dalam buku sejarah bangsa elf dan juga bangsa vampire. "Kau mengubag tujuan hidupku hanya untuk mencari tahu siapa kau sebenarnya," gumam Yuhwa lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN