[31] Justice

1131 Kata
Sebuah hutan yang diisi oleh pohon yang menjulang tinggi, memblokir setiap sinar cahaya matahari yang berusaha masuk menembus ke dalam hutan. Suara - suara aneh saling bersahutan, terlebih senandung burung gagak dan burung hantu yang saling bersahutan seolah saling berkomunikasi satu sama lain. Tiga orang yang terdiri atas dari 2 orang wanita dan 1 orang wanita tampak menyusuri Hutan Maylea dengan hati - hati. Sang lelaki berjalan paling depan sambil membawa sebuah tas besar dan sebuah pisau berbentuk sabit yang ia gunakan untuk menebas setiap rumput tinggi yang menghalangi jalannya. Tepat di belakang pria itu, 2 orang wanita berjalan mengikuti setiap langkahan kakinya pergi. Cleo bertugas untuk menunjukan arah jalan, sedangkan Nikita berjaga - jaga kalau Hydra tiba - tiba saja muncul di hadapan mereka. "Apa ini masih jauh?' tanya Gerhard tanpa menoleh dengan tangan yang masih sibuk menebas rumput liar tinggi yang menghalangi jalan mereka. "Jika dari peta yang aku lihat dari terakhir kali aku menerimaa informasi, mungkin masih jauh. Tapi Hydra kan hewan hidup, bisa saja ia bergerak mendekat atau justru menjauh, pilihannya hanya itu saja," jawab Cleo. "Apa yang dilakukan hewan itu di tempat ini?" tanya Gerhard lagi. "Aku juga tidak tahu. Aku mendengar kabar Hydra dari salah satu penduduk Eyelwe lain yang tanpa sengaja bertemu dengan Hydra saat sedang mengumpulkan buah tin di hutan ini," balas Cleo. Nikita tampak tak menggubris dan tertarik dengan ucapan kedua orang itu. Sebaliknya, ia justru tampak sedang berpikir tentang Hydra. Hydra adalah hewan berperawakan seperti naga. Hydra memiliki 3 kepala yang masing - masing memiliki kepribadian. Hal unik yang didapatkan dari Hydra adalah, ketika hewan itu ditebas kepalanya maka kepala lain akan tumbuh dan satu - satunya cara dengan menggunakan pedang beracun. Hewan Hydra terakhir kali terlihat sekitar 300 tahun yang lalu dan berhasil dipenggal oleh seorang ksatria asal Kerajaan Odor dengan menggunakan racun dari buah tin. Seharusnya Maylea menjadi hutan berbahaya bagi Hydra karena terdapat buah - buahan yang dapat membunuhnya. Tiba - tiba saja Nikita kembali teringat dengan mata air di Gunung Aesira yang memiliki kekuatan untuk memulihkan diri. Nikita pun sedikit memahami jika kemungkinan besar Hydra pergi menuju Aesira untuk memulihkan kekuatan mereka dan kembali masuk ke dalam gunung untuk tidur panjangnya.  "Untung saja hewan itu tidak bisa berkembang biak. Jika bisa, mungkin Lacoste berada di ujung tanduk," gumam Nikita membuat Cleo yang berjalan di sebelahnya pun menoleh. Tak ada yang tahu ada berapa jumlah Hydra yang masih hidup di Lacoste. Yang jelas, selama kepala yang terpenggal masih ada, Hydra bisa memperbanyak diri meski tanpa kawin sekalipun.  "Apa kau pernah bertemu dengan Hydra sebelumnya?" tanya Cleo. Nikita menoleh menatap Cleo, "Tentu saja tidak. Bukankah Hydra terlihat terakhir kali 300 tahun yang lalu? Bahkan aku belum lahir saat itu," jawab Nikita. "Kau benar," balas Cleo. "Aku dengar di penghujung Hutan Maylea ini terdapat sebuah gunung yang menjadi tempat tinggal para Hydra. Mungkin bisa saja Hydra ke sana untuk pulang ke rumahnya," tambah Cleo. Gerhard menoleh dan menghentikan langkahan kakinya, "Jadi maksudmu kita sedang menuju ke rumah Hydra?" tanya Gerhard. "Aku tidak bisa berkata begitu. Sekalipun Hydra pulang ke rumahnya, kita tak akan mendapatkan hasil apapun. Ketika mereka tidur, tak ada yang bisa membangunkannya selain bangsa lain yang memiliki kekuatan sihir dalam darah mereka seperti halnya bangsa elf dan vampir. Itupun hanya para pemimpinnya yang bisa membangunkan Hydra tanpa bisa mengendalikan Hydra," ujar Cleo. "Tapi kenapa mereka bisa berjalan - jalan di dalam hutan jika tak ada yang membangunkan mereka?" tanya Gerhard lagi. "Berarti mereka sedang mencari makan," sahut Nikita. Cleo dan Gerhard sama - sama menoleh ke arah Nikita. "Hydra tidak memakan manusia, mereka memulihkan diri dengan tidur. Selama tidur mereka mengeluarkan kekuatan mereka dalam bentuk air. Dan air itu mengalir sepanjang sungai Leomord. Itu sebabnya Raja tak pernah mengizinkan siapapun meminum langsung air dari sungai Leomord," balas Cleo. "Apa?!" pekik Nikita. "Apa selama ini aku meminum kekuatan Hydra untuk mempertahankan bentuk diriku? Tapi dari mana dia tahu tentang hal ini?" tanya Nikita dalam hati. "Selama ini buku sejarah menulis hal yang salah. Mereka menulis mata air sungai Leomord untuk memulihkan diri. Nyatanya, sumber mata air sungai Leomord berasal dari Hydra itu sendiri," ujar Cleo. Jika dilihat dari rentang waktu kejadian, sejak meninggalnya Noblesse terakhir 600 tahun yang lalu, yang dibunuh oleh Nikita sendiri, satu persatu bangsa vampire mulai meninggalkan Velassen, begitu juga dengan bangsa elf yang ikut pergi entah kemana. Sejak saat itu, hanya 5 buku yang ditulis oleh bangsa Noblesse lah yang menuliskan kejadian sebenarnya di Velassen, namun sayangnya buku itu menghilang entah kemana.  Karena menghilangnya buku Noblesse, sejarah di Lacoste menjadi berantakan. Sejarah menjadi simpang siur termasuk tentang identitas para Oriel yang masih hidup dan tersebar di seluruh Pulau Velassen. Salah satunya terjadi pada Nikita yang justru memahami tentang Hydra dalam artian salah selama ini. "Kalau begitu kenapa kita tidak ambil dari mata air saja?" usul Gerhard. Cleo menggelengkan kepalanya, "Aku sudah mencobanya dan tidak cukup," ujar Cleo. Nikita terdiam saat mendengar Cleo yang mengatakan menggunakan air dari Aesira untuk menyembuhkan Sagira. Padahal setau dirinya, hanya dirinyalah yang bisa mengakses pintu menuju sumber mata air Aesira. "Sepertinya aku benar - benar harus mengumpulkan dari mata Hydra," ujar Gerhard. Kemudian mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka ke dalam hutan. Tentu saja tak ada jalan setapak di dalam hutan itu sehingga membuat mereka harus membuat jalan sendiri ke dalam hutan Maylea. Sejak menghilangnya bangsa Noblesse, Vampire serta Elf, seluruh sejarah tentang Lacoste terpecah belah. Beberapa buku menjadi rancu dan bahkan berisikan informasi yang salah. Hanya buku - buku yang ditulis oleh bangsa Noblesse lah yang berisikan informasi sebenarnya. Sayangnya, buku itu hanya terdapat 5 buah dan keberadaannya dipertanyakan hingga saat ini. Namun menurut kabar, 2 dari ke 5 buku tersebut berada di Kerajaan Odor dan dipegang langsung oleh sang Raja, Matthew. Hari pun semakin gelap, matahari tak lagi menunjukan sinarnya. Karena mereka berada di dalam hutan, tak ada satupun dari mereka yang menyadari jika hari sudah semakin sore dan bahkan hampir menyentuh malam hari, mereka harus beristirahat dan segera mencari tempat untuk menghabiskan malam. Karena mereka berada di tengah hutan tak berpenghuni. Cleo pun mempersiapkan dengan membawa sebuah tenda untuk mereka beristirahat. "Kita berhenti di sini saja," ucap Cleo. Gerhard dan Nikita pun ikut berhenti melangkah dan melihat pada Cleo yang sudah berhenti lebih awal. Cleo melangkahkan kakinya ke arah dataran yang sejajar dan tidak terdapat rumput - rumput tinggi. "Oke," ucap Gerhard kemudian melepas tas miliknya dan mulai membangun tenda di tempat yang dimaksudkan oleh Cleo.  Sedangkan Cleo dengan kekuatan sihirnya, ia membuat api dari setumpuk ranting yang telah dikumpulkan oleh Nikita. Nikita yang selama seharian berjalan tampak kelelahan dan wajahnya pun memucat. Menyadari Nikita yang terlihat sakit, Gerhard pun menghampiri wanita itu dan memberikan sebotol air putih untuk diminum. "Minumlah," ujar Gerhard. "Terima kasih," balas Nikita dan mengambil botol air minum itu dari tangan Gerhard. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN