Cleo mengeluarkan beberapa perlengkapan makan mereka dan dengan sigap wanita itu membuka kaleng daging yang sudah ia siapkan kemudian memasaknya dengan menggunakan api dari kayu bakar yang ia nyalakan.
"Karena terlalu fokus pergi, kita sampai lupa untuk mengisi perut. Makanlah ini," ujar Cleo kemudian memberikan masing - masing 1 kaleng daging cincang untuk Gerhard dan Nikita.
Mereka berdua dengan sigap mengambil kaleng daging itu dan mulai menyantapnya meski masih panas.
"Hati - hati," ujar Cleo mengingatkan agar Gerhard dan Nikita tidak buru - buru menghabiskan makanan mereka.
Cleo mengeluarkan sebuah roti dari dalam tas kemudian ia berikan kepada Gerhard, "Makanlah ini," ujar Cleo.
Dengan cepat, Gerhard pun mengambil roti itu. Namun, Cleo hanya memberikan roti itu kepada Gerhard, sedangkan ia tak memberikan roti gandum itu kepada Nikita.
"Kau tidak suka kan?" tanya Cleo.
Nikita menganggukan kepalanya, ia bergumam dalam hatinya "Dari mana ia tahu jika aku tidak suka roti?" tanyanya pada dirinya sendiri, karena seingatnya, tadi pagi mereka pun hanya memakan telur dan juga daging asap tanpa karbohidrat lain, tapi hebatnya Cleo justru tahu jika dirinya tak menyukai roti.
Usai makan malam, Gerhard pun mengambil alas tidur dari dalam tas dan langsung memejamkan matanya di depan api yang dibuat oleh Cleo. Gerhard memilih tidur di luar karena tenda yang dibangun olehnya terlihat kecil dan hanya muat untuk diisi oleh 2 orang saja. Karena Gerhard satu - satunya laki - laki yang ada di antara mereka, pria itu pun secara gentle mengalah dan memilih tidur di luar.
Nikita masuk ke dalam tenda lebih dulu lalu disusul oleh Cleo.
"Sudah mau tidur?" tanya Cleo kepada Nikita.
"Iya. Tubuhku terasa lelah sampai tangan dan kakiku ikut bergemetar," jawab Nikita.
"Kau terlalu banyak mempertahankan bentukmu sebagai seorang manusia biasa sampai energimu habis. Aku bisa merasakannya," ujar Cleo.
Nikita sontak langsung menoleh dan menatap Cleo, "Kau?!"
"Sejak awal kedatanganmu aku tahu kau bukan manusia biasa. Mungkin jika ingin impas aku akan menunjukannya kepadamu," ujar Cleo.
Sesaat kemudian mata Cleo yang semula berwarna hitam pekat berubaah menjadi merah dan rambut panjangnya yang berwarna hitam pun ikut berubah menjadi merah. Gigi taringnya memanjang dan kukunya berubah menjadi merah.
"Kau? Vampire?!" pekik Nikita tertahan dan langsung menutup mulutnya saat melihat Cleo yang berubah menjadi sepertinya.
"Mungkin aku terlambat memperkenalkan diriku, tapi aku bukan vampire. Yaaaa coba kau pikirkan saja, bagaimana seorang wanita biasa yang tetap cantik tanpa keriput meski sudah berusia hampir 50 tahun?" ujar Cleo.
Nikita langsung bangun dari posisi tidurnya dan menatap Cleo, "Astaga! Bagaimana bisa aku tidak tahu kalau kau bukan seorang manusia biasa?!"
"Aku berhasil menyembunyikannya dengan ini," ujar Cleo kemudina menunjuk ke arah kalung berbentuk hati yang melingkar di lehernya.
"Itu? Apa?" tanya Nikita sambil menunjuk ke arah kalung yang dikenakan oleh Cleo.
"Ini adalah potongan dari serpihan bola kaca Luella dari bangsa elf. Aku menemukannya 500 tahun yang lalu, lalu kusimpan dalam liontin hati ini," ujar Cleo.
"Apa itu sebabnya kau tak membutuhkan air dari Aesira?" tanya Nikita.
"Aku masih membutuhkannya. Serpihan saja tidak cukup. Tapi setidaknya bisa mempertahankan wujud asliku."
"Pantas saja aku merasa curiga karena kau tahu tentang Aesira dan kebenaran di balik Hydra."
"Itu juga karena aku memiliki bukunya," jawab Cleo.
"Buku?"
"Iya. Semua tertulis dalam buku Noblesse. Aku memiliki salah satu dari kelima buku itu. Dalam buku itu berisikan seluruh informasi tentang Lacoste termasuk Hydra yang tertidur di dalam Gunung Aesira dan hanya bisa dipanggil oleh para Raja Elf dan Raja Vampire."
Nikita mengerenyitkan dahinya mendengar jawaban dari Cleo, "Tapi katamu Hydra ditemukan beberapa hari lalu di hutan ini?"
"Benar. Itu menjadi tanda tanya besar juga bagiku kenapa hewan yang suka hibernasi itu tiba - tiba terbangun. Lebih heran lagi, hewan itu bahkan tak berniat keluar dari hutan ini," ujar Cleo.
"Bagaimana jika Hydra sudah kembali ke dalam gunung?" tanya Nikita.
"Kau bisa memanggilnya," ujar Cleo.
"Aku?"
"Kau lupa? Kau seorang ratu bangsa vampire untuk saat ini? Sedangkan aku bisa dibilang vampire tersisa yang tidak terbawa pergi saat pindah rumah," ujar Cleo.
"Apa maksudmu?" tanya Nikita.
Cleo akhirnya menjelaskan jika 800 tahun yang lalu bangsa vampire memang sudah berencana untuk pergi dari Lacoste hingga puncaknya Cleo tertinggal dan menjadi vampire yang tersisa. Sebetulnya Cleo sudah mendengar kabar jika ada seorang Mongrel yang diasingkan di Eyelwe, dan ini adalah pertama kali baginya bertemu dengan Nikita, sang Ratu bangsa Vampire yang memiliki darah manusia.
"Aku lupa memberikan salam kepadamu," ucap Cleo kemudian ia bangkit dan menundukan kepalanya serta tubuhnya seolah sedang menyapa ratunya. Nikita tampak terharu melihat Cleo yang memberikan sapaan kepadanya dan mengakui dirinya adalah ratu untuknya.
Setelah itu, Cleo merogoh ke dalam baju yang ia kenakan dan mengeluarkan sebuah botol berwarna merah.
"Minumlah ini. Ini darah segar manusia yang aku dapatkan tadi malam," ujar Cleo kemudian memberikan botol itu kepada Nikita.
Tanpa berpikir panjang, Nikita langsung mengambil botol itu dan meneguk habis isinya.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Cleo.
Nikita menganggukan kepalanya, "Terima kasih, Cleo," ujar Nikita.
"Sebenarnya aku tidak berniat membantu Gerhard sampai sejauh ini. Saat itu aku mendeteksi aura aneh dari Desa Solandis dan aku justru menemukan kasus ini," ucap Cleo.
Tiba - tiba kedua wanita itu terdiam saat menyadari sesuatu.
"Apa Hydra bisa saja terbangun karena merasakan aura itu juga?" tanya Nikita.
"Bisa jadi. Kekuatan itu berasal dari Gerhard. Aku bisa merasakannya," jawab Cleo.
"Gerhard?" tanya Nikita lagi.
Cleo menganggukan kepalanya dengan semangat, "Apa menurut anda keahlian Gerhard yang bisa berbicara dengan Aul bisa muncul begitu saja?"
"Kau benar!" ucap Nikita menyetujui apa yang dikatakan oleh Cleo.
Sejak awal, Cleo memang sudah merasakan kekuatan luar biasa dari dalam tubuh Gerhard, namun hingga saat ini ia tidak tahu kekuatan apa yang ia rasakan. Padahal, di setiap masakannya, ia selalu memberikan mata air Aesira untuk membangkitkan energi sihir dari dalam tubuh Gerhard, namun hasilnya nihil. Tubuh Gerhard tak bereaksi apapun.
"Mungkin kita akan mengetahui jawabannya cepat atau lambat," ujar Cleo.
Setelah pembicaraan panjang mereka dan juga saling mengungkapkan identitas mereka masing - masing, akhirnya Cleo dan Nikita pun tertidur dan mengumpulkan energi mereka untuk esok hari.
Salah satu kekuatan vampire murni memang bisa mendeteksi adanya vampire lain. Bahkan tanpa melihat wujud aslinya pun, vampire murni bisa tahu mana yang benar vampire dan manusia. Berbeda dengan Mongrel, mereka tak memiliki kekuatan itu.