[33]

1442 Kata
Gerhard terbangun di pagi hari berkat suara seekor gagak yang mengganggunya. Pria itu berusaha mengerjapkan matanya berulang kali sambil mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi. "Unggghhh!" lenguh Gerhard panjang sembari merentangkan kedua tangannya ke atas kepala. Merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, ia pun mendudukan dirinya sambil menggaruk lehernya hingga memerah. Dengan mata setengah terpejam, pria itu memperhatikan sekitarnya dan mendapati dirinya yang tertidur di tengah hutan dengan api yang sudah padam dan hanya tinggal menyisakan arang berwarna hitam sisa pembakaran. Sayup - sayup pria itu mendengar suara gemericik air yang mengalir tak jauh dari tempatnya, Gerhard pun bangkit dari posisi duduknya dan merapikan pakaiannya yang tampak kusut kemudian melangkahkan kakinya ke arah sumber suara. Pria itu bermaksud untuk mencuci wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuknya. Suara gemericik air semakin terdengar jelas setiap kali Gerhard melangkahkan kakinya lebih dekat, hingga akhirnya Gerhard menyingkirkan sebuah ranting pohon yang menggantung dan menghalangi penglihatannya dan tepat di depan matanya, sebuah sungai yang berwarna biru mengalir tepat di depan matanya.  "Aku tidak tahu jika di dekat sini ada sungai seindah ini," gumam Gerhard.  Pria itu pun melangkahkan kakinya mendekati sungai itu dan berjongkok di hadapannya. Air yang jernih sampai memperlihatkan dasar sungai yang diisi dengan pasir dan juga kerikil bebatuan. Dengan senyuman manisnya, Gerhard merasa senang karena untuk pertama kalinya ia melihat sungai sejernih itu. Tangannya pun terulur dan mengambil air dengan kedua telapak tangannya yang ia satukan. Air dingin terasa membasahi telapak tangan pria itu, dan dengan cepat Gerhard membasuh wajahnya dengan air tersebut. "Ahhh! Segarnya!" gumamnya. Kesadaran Gerhard langsung kembali seutuhnya ketika air itu mengenai wajahnya. Matanya kembali terbuka dan melihat sekeliling sungai yang berwarna biru itu. Tak jauh dari sana, ia juga mendengar suara deru air yang begitu kencang dan menandakan terdapat sebuah air terjun dari sana. Tak mau pergi seorang diri dan meninggalkan 2 wanita yang masih berada di dalam tenda, Gerhard pun memutuskan untuk kembali. Saat pria itu kembali, tiba - tiba saja sebuah mata besar muncul dari balik pohon yang berada di seberang sungai. Mata itu berwarna ungu yang terus menatap kepergian seorang pria yang baru saja pergi setelah membasuh wajahnya dengan air sungai. "Cleo! Nikita!" panggil Gerhard bersemangat sambil berlarian kecil ke arah tenda yang ditempati oleh kedua wanita itu. Tenda yang semula tertutup pun perlahan terbuka dan menampilkan sosok Cleo yang massih memejamkan matanya sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya. Tak lama setelah itu, Nikita pun muncul dari balik tenda dan menatap Gerhard. "Kau habis dari mana?" tanya Nikita. "Aku habis dari sungai untuk mencuci wajahku. Di sana aku mendengar ada sebuah suara air yang berjatuhan dengan begitu kencang, sepertinya di sana puncak mata airnya!" ujar Gerhard bersemangat. Cleo yang semula masih setengah terpejam sontak langsung membelalakan matanya dan menatap Gerhard, "Apa?! Sejak kapan kita berada di dekat sungai?" tanya Cleo. Gerhard menggidikan bahunya, "Aku tidak tahu. Tapi saat aku bangun aku mendengar suara gemericik air mengalir dan saat aku menghampirinya itu adalah sungai dengan air jernih berwarna biru," jawab Gerhard. "Itu pangkal sungai Leomord, sedikit lagi kita akan tiba di mata air Aesira. Jika memang kita sudah berjalan sejauh ini dan tidak menemukan Hydra, seharusnya mereka berada di sana. Butuh waktu cukup lama bagi Hydra untuk mengeluarkan energinya sebelum masuk ke dalam Gunung Aesira untuk tidur," ujar Cleo. "Kalau begitu, kita harus bergegas ke sana," balas Gerhard. "Tapi.. Apa tidak apa - apa Gerhard mencuci wajahnya dengan air dari sungai Leomord? Bahkan Gerhard mencuci wajahnya di pangkal sungai, bukankah seharusnya ada energi sihir yang luar biasa besar di sana," sahut Nikita yang tiba - tiba kembali teringat dengan air sungai Leomord. "Jika dia tak meminumnya seharusnya tidak masalah. Lagi pula Gerhard tampak baik - baik saja setelah membasuh wajahnya dengan air itu," jawab Cleo. "Kau tidak merasakan panas atau rasa terbakar?" tanya Nikita kepada Gerhard. Gerhard pun menggelengkan kepalanya, "Sama sekali tidak, justru aku merasa segar setelah mencuci wajahku dengan air dari sungai. Ingin rasanya aku melompat ke sana dan mandi," jawab Gerhard. "Sebaiknya jangan. Kita tidak tahu apa yang terjadi jika air itu terminum olehmu. Terlebih setiap manusia biasa yang memaksa ingin meminum air dari sungai, pada akhirnya akan mati karena keracunan. Berbanding terbalik dengan bangsa vampire dan elf yang justru baik - baik saja jika meminum dari air sungai secara langsung," ujar Cleo. Karena bersumber dan bercampur dengan kekuatan sihir yang dihasilkan oleh Hydra, air di sungai Leomord pun beracun untuk manusia. Sedangkan jika diminum oleh bangsa vampire dan elf, akan berdampak sebaliknya. Energi sihir mereka akan pulih dan kekuatan mereka bisa 10 kali lipat lebih kuat dari biasanya. "Kalau begitu kita tinggalkan ini semua disini, cukup bawa obat - obatan dan juga botol untuk menampung air mata Hydra. Jika harus kabur dan berlari, setidaknya kita tidak membawa beban berat," ujar Cleo memberi perintah kepada Gerhard dan juga Nikita. Akhirnya Gerhard, Nikita dan juga Cleo kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke sumber mata air gunung Aesira. Tempat yang sama sekali tak pernah terjamah oleh manusia atau bahkan keberadaannya tak pernah diketahui oleh para manusia. Hingga saat ini, para manusia yang tinggal di Eyelwe, Adarlan, Wendlyn dan bahkan Terassen mungkin tidak tahu dari mana sumber air sungai Leomord yang di cap berbahaya itu. Nikita tampak lebih bersemangat dari kemarin setelah meminum darah yang diberikan oleh Cleo, begitu pula dengan Cleo yang tampak segar setelah mengkonsumsi darah tadi malam. Rahasia jika Nikita seorang Mongrel dan Cleo sang Vampire saat ini hanya mereka berdua saja yang tahu. Sedangkan Gerhard yang berstatus sebagai manusia biasa untuk saat ini, sama sekali tak tahu identitas asli dari kedua wanita itu. Seperti perjalanan kemarin, Gerhard berjalan lebih dulu dengan menebas rumput tinggi dan ranting daun yang menghalangi jalan mereka. Sedangkan Cleo dan Nikita mengekor pria itu di belakangnya.  "Apa mata air itu masih jauh?" tanya Gerhard. "Seharusnya sebentar lagi," jawab Cleo. Sebenarnya Cleo dan Nikita pun tidak bisa memprediksi sejauh mana mata air itu, terlebih mereka bisa melakukan teleportasi menuju tempat itu. Jadi sudah pasti kedua wanita itu tak akan melewati hutan rimba yang dipenuhi dengan rumput liar. "Sepertinya aku mendengar suara gemericik airnya!" pekik Gerhard dan kemudian langsung berlari ke arah depan.  Cleo dan Nikita justru saling menatap satu sama lain karena mereka tak mendengarkan suara apapun. Suara itu justru hanya didengar oleh Gerhard hingga pria itu tampak antusias. "Jangan - jangan..." ucap Cleo menggantung. Wanita itu sontak langsung berlari menghampiri Gerhard yang sudah berada di ujung, begitu juga dengan Nikita yang ikut menyusul.  "Gerhard, tunggu!" pekik Nikita namun sayangnya Gerhard tak menghiraukan panggilan Nikita, pria itu terus berlari ke arah depan sampai langkahan kakinya berhenti di samping pohon besar. Napas Gerhard terengah - engah setelah berlarian ratusan meter. Matanya berbinar saat ia melihat di seberang dari tempat ia berdiri, terdapat sebuah air terjun yang cantik dan bahkan terdapat pelangi yang muncul akibat percikan air itu. Cleo dan Nikita akhirnya sampai, mereka menatap ke arah air terjun yang berada di depan mata mereka, "Ini ilusi," gumam Cleo.  Baru saja Gerhard akan melangkahkan kakinya mendekati air terjun itu, tiba - tiba Nikita langsung menarik bajunya dan membuat pria itu menoleh, "Apa yang kau lakukan?!" tanya Gerhard. "Ini ilusi! Air terjun Aesira tidak seperti itu, suaranya bahkan lebih tenang dan berwarna berwarna sedikit kebiruan! Kau ingat air yang kau gunakan tadi untuk membasuh wajahmu? Sekarang kau perhatikan air yang mengalir deras di sana, warna bias apa yang kau lihat?" tanya Nikita kepada Gerhard. Gerhard pun mengerenyitkan dahinya kemudian mendapati air yang mengalir di air terjun itu justru berwarna keunguan, "A - apa? Tapi kenapa?! Bukankah itu air terjun yang aku dengar saat membasuh wajahku di sungai?" ujar Gerhard. "Tunggu sebentar," ujar Cleo kemudian mengeluarkan sebuah sabit yang dibungkus dengan sebuah kain dari dalam pakaian yang ia kenakan kemudian. Gerhard dan Nikita sama - sama menatap ke arah Cleo yang sedang membuka kain yang menutupi sabit itu. "Aku sudah melumuri sabit ini dengan buah tin, kita lihat apa yang akan terjadi setelah ini," ujar Cleo. Setelah berhasil melepaskan kain yang menutupi sabit miliknya, Cleo pun berjongkok dan meraba - raba pada tanah dengan tangan lainnya.  Srug ! Sabit yang digunakan oleh Cleo menancap pada tanah dan seketika tanah yang mereka pijaki berubah, begitu pula dengan pepohonan yang menyusut. Satu persatu pohon menghilang hingga tak ada lagi pohon rimbun yang berada di dekat mereka.  Suara deru napas terdengar begitu kencang sesaat setelah pepohonan menghilang, ketiga orang itu sama - sama menoleh ke arah sumber suara napas yang begitu kencang dan membelalakan matanya. Tubuh mereka seakan kaku saat melihat 5 buah kepala besar dengan mata berwarna ungu yang berada tepat di hadapan mereka. Napas ketiga kepala itu saling beradu dan menatap lekat ke arah Gerhard, Cleo dan juga Nikita. "Sudah kuduga ini adalah sebuah ilusi!" pekik Cleo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN