[24]

1117 Kata
Kediaman Keluarga Alastair Desa Solandis, Kota Adarlan * Nikita dan Gerhard baru saja tiba di kediaman keluarga Alastair. Seperti yang dikatakan oleh Nikita tadi, karena ini sudah terlalu larut, dirinya pun memilih untuk menginap di rumah pria itu yang terletak di Desa Solandis. "Kau serius ingin tidur di sini? Rumahku sangat kecil," ujar Gerhard menatap Nikita tepat setelah Dolunay yang mereka tumpangi berhenti di halaman rumah Gerhard. "Tentu saja. Kau tega menyuruhku pulang padahal ini sudah hampir tengah malam? Kau mau aku diganggu oleh para Aul saat melewati hutan Viltarin?" balas Nikita. Gerhard membenarkan ucapan Nikita. Di malam hari, para Aul akan lebih aktif dari biasanya.  "Baiklah. Kalau begitu cukup malam ini kau tidur di tempat ini. Besok kau harus segera pulang," ujar Gerhard. "Aku tahu. Besok juga kita harus ke akademi. Sudah pasti dari akademi aku akan langsung pulang," balas Nikita kemudian ia turun dari Dolunay lebih dulu dari pada Gerhard. Beberapa saat kemudian, Gerhard pun ikut turun dari Dolunay milik Nikita. Suasana sekitar rumahnya sangat sepi, bahkan tak ada lagi orang yang beraktifitas di luar rumah.  Sejak kejadian bangsa Aul yang muncul di jalanan antara Kota Adarlan dan Desa Solandis di Hutan Viltarin, seluruh warga Desa Solandis tampak ketakutan. Bahkan sebelum tengah malam, jalanan Desa Solandis pun menjadi lebih sepi dari biasanya. Tentu saja mereka takut bertemu dengan para Aul, terlebih hewan itu berhasil melukai seorang pria hingga meregang nyawa. Gerhard melangkahkan kakinya menghampiri pintu rumahnya, kemudian mengeluarkan sebuah kunci untuk membuka pintu rumahnya. Nikita tampak melihat ke arah Gerhard dengan lekat, sambil bersandar pada daun pintu. "Di sini selalu sepi seperti ini?" tanya Nikita. "Tidak. Karena ini masih desa dan sangat asri, di sini selalu ramai. Tapi karena pernah ada kejadian Aul yang memangsa manusia, desa ini seperti mati di atas jam 9 malam. Semua orang bergegas masuk ke dalam rumah karena takut Aul memangsa mereka. Padahal nyatanya Aul tidak memakan manusia," jawab Gerhard. Gerhard memperhatikan Nikita yang masih mendengarkan jawabannya dengan seksama. Tatapan mata mereka bertemu. "Bisa menyingkir dari daun pintu? Jika aku membukanya, kau akan terjatuh," ujar Gerhard. "Oh iya," balas Nikita kemudian menarik dirinya dan berdiri dengan tegap. Pintu rumah Gerhard pun terbuka lebar. Gerhard masuk lebih dulu dan diikuti dengan Nikita. Suasana gelap pada rumah Gerhard membuat Nikita kesulitan melihat, wanita itu pun memegangi bahu Gerhard. Usai menutup pintu, Gerhard menoleh ke arah belakang dimana Nikita memegangi bahunya sambil mengikuti arah langkahan kakinya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Gerhard dengan nada suara berbisik. "Aku tidak bisa melihat apapun, aku takut menabrak sesuatu," balas Nikita. Trek ! Tiba - tiba lampu pun menyala. Gerhard dan Nikita saling menatap satu sama lain, terlebih mereka sama - sama terkejut karena lampu yang tiba - tiba saja menyala. "Kau menyalakan lampu?" tanya Gerhard pada Nikita. Nikita dengan cepat menjawabnya dengan gelengan kepala. "Gerhard," panggil seorang pria dari balik tubuh Nikita yang terdengar familiar di telinga Gerhard. Sontak Gerhard dan Nikita pun menoleh bersamaan saat mendengar seorang pria yang memanggil Gerhard. Mata Gerhard membulat saat menyadari William yang masih terjaga di dekat saklar lampu dan menatap ke arahnya. "Ini... siapa?" tanya William yang langsung bertanya saat melihat seorang wanita yang datang bersama Gerhard ke dalam rumahnya. "Perkenalkan Om, saya Nikita. Saya temannya Gerhard," jawab Nikita cepat. Gerhard dengan cepat menarik Nikita ke belakang tubuhnya, membuat tubuh Nikita tertutupi oleh Gerhard. "Dia temanku, dan kami bertemu di Eyelwe. Karena dia telah mengantarkanku ke rumah, jadi aku memberikannya tempat untuk menginap, terlebih mengingat hari sudah hampir larut," jawab Gerhard sembari tersenyum menunjukan barisan gigi putihnya yang rapi pada William. William menganggukan kepalanya mengerti, kemudian berjalan menghampiri Gerhard dan Nikita, "Silakan duduk. Anggap saja rumah sendiri," ujar William. Nikita menganggukan kepalanya patuh. Baru saja Nikita ingin mendekati William, Gerhard pun dengan cepat menarik lengan wanita itu. "Dia sudah terlalu lelah jika ingin diajak berbicara sekarang. Terlebih dia yang mengemudikan Dolunay itu seorang diri dari Eyelwe menuju kemari," ujar Gerhard. "Baiklah. Kalau begitu kita akan berbincang besok pagi. Sebaiknya kau beristirahat," ujar William. William pun membatalkan niatnya yang ingin duduk di atas kursi dan beralih masuk ke dalam kamarnya. Sesaat setelah William masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar, barulah Gerhard bernapas lega. "Kau tidur di kamarku, aku akan tidur di sini," ujar Gerhard kemudian hendak pergi mendahului Nikita. "Apa kau baik - baik saja tidur di sini?" tanya Nikita pada Gerhard membuat pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Nikita. "Iya, tentu saja. Tidak perlu khawatirkan aku. Ingat ucapan Ayahku, anggap saja seperti rumahmu sendiri," balas Gerhard dan berjalan menuju kamarnya. Nikita pun mengikuti langkahan kaki Gerhard menuju kamar yang ditempati oleh Gerhard sejak kecil. Sesaat setelah mereka masuk ke dalam, mata Nikita langsung melihat ke arah foto - foto dengan warna hitam putih yang terpajang di atas meja belajar Gerhard. Nikita bisa melihat Gerhard sejak kecil dan berdiri di antara seorang wanita dan pria. "Ini Ibumu?" tanya Nikita. Gerhard yang semula sedang menyiapkan bantal untuk Nikita pun menoleh mendengar ucapan Nikita. Gerhard langsung datang menghampiri Nikita dan melihat sosok yang ditunjuk oleh Nikita. "Iya, dia Ibuku," jawab Gerhard. "Dia sangat cantik," ujar Nikita. "Terima kasih," balas Gerhard. Setelah selesai mengganti alas tempat tidur beserta sarung bantal yang biasa digunakan olehnya, Gerhard pun kembali menghampiri Nikita. "Aku sudah menggantinya dengan yang baru, jika butuh sesuatu, aku ada di depan," ujar Gerhard. "Terima kasih," balas Nikita. Gerhard keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamar itu. Sedangkan Nikita masih melihat - lihat ke arah foto Gerhard sewaktu kecil. Tatapan matanya terhenti saat ia melihat Gerhard yang masih berusia 15 tahun berhasil memenangkan lomba menangkap belut. Wajah Gerhard yang tampan membuat Nikita suka menatap wajah pria itu. "Bagaimana bisa seorang manusia biasa sepertinya memiliki wajah setampan ini?" gumam Nikita. Merasa tubuhnya remuk dan kelelahan setelah mengemudikan Dolunay dari Kota Eyelwe menuju Desa Solandis, akhirnya Nikita pun menyerah pada rasa penasarannya. Wanita itu memutuskan untuk menghampiri tempat tidur Gerhard yang sudah dirapikan untuknya. Nikita terduduk di tepi tempat tidur milik Gerhard. Ini adalah pertama kalinya menginap di rumah orang asing. Sebelumnya ia tak pernah menginap di rumah orang asing, terlebih ia adalah manusia biasa. Jangankan menginap, Nikita bahkan tak pernah mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamarnya. Jadi, jangan heran jika Nikita tak memiliki teman dekat seperti Gerhard yang memiliki teman dekat seperti Jaromir dan juga Antheia. "Huah! Aku mengantuk!" lenguh Nikita panjang. Nikita mulai merentangkan tubuhnya dan sejurus kemudian, ia menidurkan tubuhnya di atas tempat tidur milik Gehard sambil menatap ke arah langit - langit kamar pria itu. "Dia menghias langit kamarnya dengan bintang," gumam Nikita saat melihat rasi bintang yang berada di langit kamar Gerhard. Perlahan, mata Nikita mulai terpejam dan kesadarannya akhirnya menghilang. Wanita itu pun mulai memasuki alam mimpinya dan mulai menjelajahi dunia bawah alam sadarnya dengan tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN