[25]

1715 Kata
Keesokan harinya  . . . Gerhard terbangun di pagi hari akibat mendengar suara berisik yang berasal arah dapur. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, menyesuaikan frekuensi cahaya yang masuk ke dalam matanya sebelum akhirnya matanya terbuka lebar. Seorang wanita tampak berdiri tepat satu arah dengan matanya menatap ke arah depan. Di ujung mata memandangnya, ia melihat wanita itu sedang menyiapkan sarapan pagi dan menuangkan telur beserta roti gandum ke dalam setiap piring yang sudah tersusun rapi di atas meja. "Ibu?" gumam Gerhard yang masih setengah sadar memperhatikan seorang wanita yang sedang sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. "Gerhard? Kau sudah bangun?" panggil seorang pria yang baru saja keluar dari kamarnya. Gerhard mengenali jika pria itu adalah Ayahnya sendiri, William. William pun berjalan menghampiri Gerhard dan melihat seorang wanita yang sedang asik menata meja makan dengan lihai. William melangkahkan kakinya menuju dapur dan melihat seluruh makanan yang tampak lezat tersaji di hadapannya. "Kau memasak semua ini?" tanya William pada Nikita yang telah menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. Nikita yang semula sedang mencuci piring bekas memasak pun menoleh mendengar William yang bertanya kepadanya. Dengan senyuman manisnya, wanita itu pun menyapa William, "Selamat pagi Pak William. Saya membuatkan sarapan pagi. Saya lihat di dalam kulkas ada beberapa bahan jadi saya memutuskan untuk membuatnya untuk sarapan pagi ini," ujar Nikita. Selesai dengan cucian piring, Nikita pun menghampiri William yang masih terpaku menatap makanan yang tersaji. Gerhard yang baru saja bangun dengan mata yang masih setengah terpejam, berjalan ke arah dapur. Matanya langsung terbuka lebar dan membulat saat melihat sarapan pagi yang sudah siap santap di atas meja. "Hai Gerhard, ayo kita sarapan bersama. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena telah mengizinkanku untuk menginap disini," ujar Nikita. Nikita berjalan menghampiri William, membantu pria itu untuk duduk di atas kursinya. Kemudian Nikita membantu menyiapkan sendok dan juga garpu untuk William. "Selamat menikmati," ujar Nikita pada William. "Terima kasih banyak," balas William. William mulai memasukkan potongan sosis ke dalam mulutnya, matanya langsung berbinar saat merasakan sosis yang terasa lezat di dalam mulutnya. "Bagaimana bisa sosis ini terasa lebih enak?" gumam William dan kembali melanjutkan santapannya. Melihat William yang semangat menikmati sarapan paginya, Nikita pun ikut terduduk di kursi lain dan mulai menyantap sarapan paginya, begitu juga dengan Gerhard yang ikut sarapan bersama William dan juga Nikita. "Sebetulnya aku tidak tahu kalian memakan apa di pagi hari, tapi aku memasak bahan seadanya. Jika tidak sesuai dengan selera kalian, maaf," ujar Nikita di tengah - tengah sarapan pagi mereka. "Tidak, ini sangat enak. Bahkan sosis panggang dan telur buatanmu terasa enak," ujar William sambil memasukan kembali potongan sosis ke dalam mulutnya. Sebelum makan, Gerhard menatap ke arah William dan Nikita beberapa kali, Sampai akhirnya ia mencicipi masakan Nikita sendiri.  "Kau suka?" tanya Nikita sesaat setelah Gerhard memasukan potongan sosis ke dalam mulutnya. "Seharusnya kau menyukai masakannya. Rupanya kau pintar juga memilih wanita. Dia tak hanya cantik, tapi juga pandai memasak," potong William. Uhuk ! Gerhard yang mendengar ucapan William yang mengira jika Nikita adalah kekasihnya langsung tersedak oleh makanan di dalam mulutnya. Nikita dengan cepat membantu menuangkan air ke dalam gelas Gerhard dan membiarkan pria itu membersihkan tenggorokannya. "Dia hanya temanku, Ayah," ujar Gerhard setelah merasa tenggorokannya jauh lebih baik. Nikita tak berkomentar, ia hanya melempar senyumannya pada William sambil makan.  "Kau tidak memakan rotinya?" tanya Gerhard di tengah sarapannya dan melihat Nikita yang sudah selesai makan namun sama sekali tak menyentuh roti gandum di dalam piringnya. "Tidak, kebetulan aku tidak terlalu menyukai roti," jawab Nikita. Gerhard pun memajukan piringnya, "Berikan padaku," ujarnya. "Apa?" Nikita terkejut mendengar ucapan Gerhard yang meminta untuk memberikan roti gandum itu kepadanya. "Berikan saja. Biar aku habiskan. Kau bisa siap - siap untuk mandi. Sebentar lagi juga aku akan mandi, jangan terlalu lama," ujar Gerhard. Nikita hanya menuruti ucapan Gerhard, ia pun memindahkan potongan roti gandum dari dalam piringnya ke piring Gerhard. Setelahnya, ia langsung mencuci piring bekas ia makan.  "Kalau begitu, saya permisi mandi dulu ya," ujar Nikita. Nikita pun langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tepat saetelah wanita itu masuk ke dalam sana, Gerhard dan William saling melempar tatapan satu sama lain. "Kau yakin dia bukan siapa - siapa? Kau tidak menyukainya? Tapi aku rasa dia menyukaimu," ujar William. "Kami hanya teman, Ayah. Tidak lebih," jawab Gerhard dan kemudian beranjak dari kursinya dan segera mencuci piring yang bekas ia pakai untuk makan. Sreeek ! Suara pintu kamar mandi pun terbuka, Gerhard dan William sama - sama menoleh ke arah sumber suara. "Kenapa?" tanya Gerhard. "Boleh tolong ambilkan pakaianku dari dalam Dolunay? Aku memasukkannya ke dalam tas berwarna cokelat," ujar Nikita. "Oh oke, tunggu sebentar," balas Gerhard. Gerhard kemudian berlalu dari hadapan Nikita dan segera keluar dari rumahnya. Matahari masih belum menunjukan jati dirinya, terlebih saat ini masih pukul setengah 6 pagi. Gerhard menatap ke sekitar rumahnya, beberapa orang sudah mulai beraktifitas dan bersiap untuk pergi bekerja. Tatapan matanya berhenti pada seorang wanita yang tinggal dekat dengan rumahnya. Gerhard pun tersenyum menatap wanita itu.  "Pagi, Gerhard! Wah sepertinya aku baru melihatmu lagi," sapa Melior dengan ramah seperti biasanya. "Pagi Melior. Iya saya sering pulang sore sekarang," balas Gerhard. "Ada tamu?" tanya Melior saat melihat sebuah Dolunay yang terparkir di halaman depan rumah Gerhard. "Ada. Teman saya," jawab Gerhard. Melior tak membalas ucapan Gerhard, wanita itu hanya mengacungkan jari jempol pada Gerhard. Setelah selesai berbincang sebentar, Gerhard pun masuk ke dalam Dolunay milik Nikita dan mencari tas berwarna cokelat yang dimaksud oleh wanita itu. Sesampainya di dalam Dolunay, Gerhard pun berhenti saat menyadari jika ada 2 tas berwarna cokelat.  "Keduanya berwarna sama," gumam Gerhard. Tak mau salah ambil, alhasil Gerhard pun memeriksa satu persatu tas itu. Gerhard mengambil tas pertama dan melihat isi dalamnya. Kedua alisnya bertautan dan dahinya mengerenyit saat Gerhard melihat beberapa kotak jus stroberi di dalam tas itu. "Kenapa dia membawa bekal jus stroberi sebanyak ini? Memangnya tidak basi?" gumam Gerhard. Gerhard kembali menutup tas itu, kemudian membuka satu tas lainnya. Barulah ia menemukan tas yang benar dan berisikan seragam akademi Lorillis yang sama persis seperti miliknya. Setelah mendapatkan apa yang Nikita minta, Gerhard pun kembali masuk ke dalam rumahnya dan memberikan tas itu pada Nikita. "Dia sudah masuk ke kamarmu, tadi aku berikan dia handuk besar untuk menutupi tubuhnya," ujar William memberitahu dimana Nikita berada. Gerhard yang semula ingin berjalan ke arah kamar mandi pun putar arah ke arah kamarnya. Setibanya di depan pintu kamarnya, Gerhard mengangkat satu tangannya dan mulai mengetuk pintu kamar itu. Tok ! Tok ! Tok ! Gerhard mengetuk pintu kamarnya. Beberapa saat kemudian, Nikita membuka pintu kamar Gerhard sedikit dan memperlihatkan mata merahnya yang cantik. Gerhard menyodorkan tas cokelat itu kepada Nikita. "Ini," ujar Gerhard sambil memberikan tas berisikan pakaian Nikita kepada sang pemiliknya. Nikita mengulurkan tangannya. Saat tangannya terulur, Gerhard bisa melihat kuku Nikita yang terlihat panjang, cantik dan juga berwarna merah.  "Terima kasih," ucap Nikita setelah menerima tas miliknya.  Gerhard sempat melihat sebuah gigi taring yang cukup tajam saat Nikita mengucapkan kata terima kasih kepadanya. Tapi Gerhard buru - buru menyadarkan dirinya. "Pasti aku berhalusinasi karena kekurangan tidur," ujar Gerhard yang menangkis jika Nikita memiliki taring yang tajam dan panjang di giginya. Setelah memberikan tas berisi pakaian itu kepada Nikita, barulah giliran Gerhard membersihkan dirinya. Beberapa saat kemudian, setelah ia selesai membilas tubuhnya dari sabun, Gerhard kembali keluar dengan hanya menggunakan handuk pada pinggangnya. Di ruang tengah, Gerhard bisa melihat Nikita yang sedang asik bercengkrama dengan William. Tak mau mengganggu Nikita yang sedang asik berbincang, Gerhard pun segera masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian dengan seragam akademi Lorillis. Akhirnya setelah selesai bersiap, Gerhard dan Nikita pun keluar dari rumah. Beberapa orang sempat menatap ke arah kedua orang yang memakai seragam sama persis. William bahkan sampai terpana melihat Nikita yang tampak cantik mengenakan seragam Lorillis miliknya. "Dulu aku dan Ibunya Gerhard tak pernah berpikir untuk masuk ke akademi. Ini pertama kalinya di keluargaku memiliki seorang anak yang bisa masuk ke akademi," ujar William mencurahkan isi hatinya. Dalam benaknya, ia membayangkan jika Sagira saat masih muda mengenakan seragam akademi Lorillis, pasti akan terlihat cantik dan menawan. "Kalau begitu kami berangkat dulu, Ayah," ujar Gerhard berpamitan kepada William. "Ya, hati - hati di jalan," ujar William lalu melambaikan tangannya pada Gerhard. Gerhard dan Nikita pun masuk ke dalam Dolunay milik Nikita. Seperti biasa, Nikita akan mengemudikan Dolunay miliknya. Sebelum pergi, Nikita membalas lambaian tangan William sebagai pamitan terakhir sebelum akhirnya mereka berpisah. "Kau biasa ke Kota Adarlan menaiki kendaraan itu kan?" tanya Nikita tepat saat mereka melintas di hadapan tempat pemberhentian Styx. Gerhard melihat ke arah yang dimaksud oleh Nikita, "Iya, aku biasanya naik itu." "Mungkin kau akan tiba di akademi lebih awal," balas Nikita. Mengingat kecepatan Dolunay yang lebih cepat daripada Styx, sudah pasti Gerhard akan tiba lebih awal dari biasanya meski ia berangkat di jam yang sama. "Tidak masalah, aku akan menunggu di kelas," ujar Gerhard. Gerhard pun kembali teringat pada jus stroberi milik Nikita yang ada di kursi belakang Dolunay milik Nikita. "Oh ya, sebaiknya kau meletakkan jus stroberi milikmu di belakang sana ke dalam kulkas. Aku lihat es batunya sudah mencair, mungkin kau harus segera memindahkannya ke dalam kulkas agar tidak basi," ujar Gerhard. Nikita sempat membelalakan matanya saat mendengar Gerhard yang menyinggung jus stroberi yang dibuatkan oleh Emi untuknya. Tidak, itu bukan jus stroberi melainkan darah segar manusia yang dikemas dalam bentuk jus stroberi. "Ah iya, nanti setelah menurunkanmu di tempat pemberhentian Styx di Adarlan, aku akan pergi ke rumah sebentar untuk memasukkan jus stroberi itu ke dalam kulkas," ujar Nikita sembari tersenyum dengan wajah yang tampak panik. Sepanjang perjalanan pun mereka hanya terdiam, tak ada pembicaraan apapun. Sampai akhirnya mereka tiba di Kota Adarlan setelah melintasi Hutan Viltarin. Seperti yang dikatakan oleh Nikita barusan, wanita itu menurunkan Gerhard di pemberhentian Styx di Kota Adarlan. "Terima kasih banyak," ucap Gerhard. "Aku juga berterima kasih karena diberikan tempat untuk menginap tadi malam," balas Nikita. Gerhard pun turun dari Dolunay milik Nikita, sebelum ia pergi, ia pun menahan Nikita dan mengatakan, "Mungkin sebaiknya tentang kau yang menginap di rumahku hanya aku yang tahu. Aku tidak enak pada pria lain yang berusaha mendekatimu," ujar Gerhard. Nikita menaikkan sebelah alisnya, "Baiklah," jawab Nikita yang akhirnya menyetujui saran Gerhard. Ucapan Gerhard pun ada benarnya. Terlebih gosip sering kali menyebar dengan begitu cepat. Orang - orang pasti akan membicarakan tentang Gerhard dan Nikita yang tidur di bawah atap yang sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN