Meski Nikita yang sudah pergi meninggalkan halaman rumah, nyatanya Gerhard masih terus menatap ke arah jalan kepergian Dolunay milik Nikita. Gerhard masih mengingat senyuman Nikita yang menurutnya manis.
"Astaga sadarkan dirimu, Gerhard!" ucap Gerhard sambil menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan sosok bayangan Nikita dari dalam benaknya.
"Siapa itu?" tanya seorang wanita yang tiba - tiba muncul dari belakang Gerhard hingga membuat pria itu tersentak dan langsung memutar tubuhnya.
"Astaga! Cleo!" pekik Gerhard yang menyadari jika Cleo berada di belakangnya dan entah sejak kapan wanita itu berdiri di sana.
Jantung Gerhard bedetak dengan kencang tak beraturan. Membuat pria itu bahkan sampai menunduk dan memegangi d**a kirinya dengan satu tangannya.
"Apa aku mengejutkanmu?" tanya Cleo.
"Ya, kau membuatku terkejut," jawab Gerhard.
Cleo, wanita berusia 45 tahun yang berpofesi sebagai seorang penyihir. Wajahnya tetap cantik bahkan setelah 18 tahun berlalu. Wanita itu tampak seperti yang Gerhard temui sejak awal. Rambutnya tetap berwarna cokelat tanpa sehelai rambut putih sedikit pun. Selama Sagira menjadi batu, wanita itulah yang menjaga Sagira hingga detik ini.
Bahkan dengan berbaik hati, Cleo memberikan kamar khusus untuk ditempati oleh Sagira. Cleo tak memiliki pasangan hidup ataupun anak, dia tinggal seorang diri di dalam sebuah rumah yang bahkan terlihat tak terawat sama sekali. Sebenarnya Gerhard sudah menawarkan diri untuk membersihkan rumah Cleo, namun wanita itu menolak dengan alasan tak ingin merepotkan Gerhard.
Padahal Gerhard yang merasa direpotkan. Karena Cleo bersikeras ingin menemukan obat untuk menyembuhkan Sagira, Cleo sampai membiarkan Sagira tinggal di rumahnya selama 18 tahun terakhir. Cleo juga sering memberikan wyon tambahan untuk Gerhard yang selalu pulang pergi dari Solandis ke Eyelwe.
"Kau sudah makan?" tanya Cleo kepada Gerhard.
Baru saja Gerhard ingin menjawab, tiba - tiba suara aneh seperti gemuruh dan kerucukan kecil terdengar dari dalam perut Gerhard. Gerhard pun menatap ke arah perutnya dan tersenyum kaku menatap Cleo.
"Ayo kita makan dulu. Aku sudah buatkan sup rumput laut untukmu," ajak Cleo kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Gerhard, sedangkan Gerhard ikut berjalan mengikuti Cleo di belakangnya.
Biasanya Cleo tidak pernah keluar rumah, wanita itu lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah dengan setumpuk ramuan dan juga buku - buku ilmu sihir yang ia pelajari sejak berusia 15 tahun. Tandanya sudah 30 tahun Cleo berlatih sihir, namun hingga detik ini, wanita itu belum menemukan obat yang cocok untuk Sagira.
Berbagai mantra dan cairan obat - obatan digunakan olehnya, namun Sagira tetap menjadi batu. Bahkan sedikit pun tubuh Sagira tidak pernah berubah. Di dalam rumahnya, Cleo memelihara seekor Oriel yakni Basilisk. Ia memiliki kepala seperti ayam, mata seperti katak, tubuhnya dilapisi sisik, dan bagian belakangnya seperti ular.
Sebenarnya Basilisk adalah hewan beracun, namun Cleo memeliharanya karena menurutnya sangat lucu. Terlebih bola matanya yang bulat dan berwarna ungu membuat Cleo semakin jatuh cinta. Cleo tentu saja memberikan sebuah ramuan anti racun bagi Basilisk yang dinamai dengan Bai miliknya. Biasanya Basilisk akan meninggalkan racun di tempat - tempat yang ia lewati, namun tidak bagi Bai. Bai sama sekali tidak beracun dan justru berubah menjadi hewan yang sangat lucu.
"Bai kemana?" tanya Gerhard sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok Bai, si Basilisk yang tak beracun milik Cleo.
"Di bawah meja makan," jawab Cleo sambil menuangkan sup rumput laut untuk Gerhard yang telah dimasak olehnya ke dalam mangkuk kecil.
Gerhard pun menoleh ke arah bawah meja makan dan benar saja, Bai berada di bawah sana dengan mata berwarna ungunya yang menatap ke arah Gerhard. Bai menyadari jika Gerhard sedang menatapnya dan sontak langsung melompat ke atas pangkuan Gerhard.
"Halo, Bai," sapa Gerhard sambil mengusap puncak kepala hewan itu dengan lembut.
Mata Bai sampai terpejam karena begitu menyukai Gerhard.
"Dia sangat menyukai sentuhan tanganmu itu," ucap Cleo sembari memberikan semangkuk sup rumput laut yang tadi sudah dituangkan olehnya ke dalam mangkuk dan meletakannya tepat ke hadapan Gerhard.
"Dia betina?" tanya Gerhard kepada Cleo.
"Kau sudah 18 tahun bertemu dengannya bahkan tidak sadar jika Bai adalah betina?" tanya Cleo balik.
Cleo mengambil duduk di samping Gerhard dengan mangkuk di tangannya. Sambil melirik ke arah Gerhard yang asik mengusap kepala Bai, Cleo pun mulai menyendokkan kuah sup rumput laut buatannya.
"Pantas saja dia sangat cantik. Oh ya, Basilisk bisa hidup berapa tahun?" tanya Gerhard.
"Aku tidak tahu kau penasaran dengan Oriel. Bahkan kau tak pernah menanyakan tentang Bai. Basilisk bisa hidup hingga ratusan tahun dan Bai sekarang baru berusia 40 tahun," ucap Cleo.
"Benarkah? Berarti kau menemukannya saat kecil?"
"Iya. Aku menemukannya di ruang bawah tanah. Saat itu ia masih menjadi telur dan lalu aku menetaskannya dengan sebuah mantra. Jika dilihat dari usia telurnya, mungkin ia sudah menjadi telur selama 300 tahun," jawab Cleo sambil memakan sup rumput laut miliknya.
"Apa?! 300 tahun?!" Gerhard sedikit memekik saat mendengar usia Bai.
Berarti jika dihitung usia Bai seharusnya sudah 300 tahun lebih atau mungkin saja sudah 400 tahun karena tak ada yang tahu sejak kapan Bai ada di sana.
"Sebenarnya aku menemukan 3 telur, namun 2 telur lagi sudah dalam kondisi mati. Hanya Bai yang selamat," tambah Cleo.
Gerhard menganggukan kepalanya. Tangannya yang semula mengusap kepala Bai pun kian melambat saat melihat Bai yang kini sudah mulai memejamkan matanya karena merasa nyaman diusap kepalanya oleh Gerhard.
"Sebaiknya kau makan sup rumput laut buatanmu. Jika masih lapar, aku ada roti kismis di rak atas," ucap Cleo sambil menunjuk ke salah satu rak yang tak jauh dari posisi Gerhard duduk.
Gerhard tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ia pun akhirnua melepaskan usapannya pada Bai dan memindahkan hewan itu ke tempat biasa Bai tertidur, yakni sebuah bantalan yang terletak tepat di bawah perapian. Karena Bai adalah hewan yang tak tahan dingin, Cleo pun menempatkan Bai tepat di depan perapian.
Bai tampak terlelap dan napasnya mulai teratur. Dengan hati - hati Gerhard memindahkan tangannya meninggalkan Bai. Tubuh kecil Bai sempat menggeliat namun akhirnya Bai kembali tertidur dengan pulas. Usai meletakkan Bai, Gerhard mencuci tangannya dan kemudian kembali ke tempatnya semula, menikmati sup rumput laut buatan Cleo yang sepertinya sudah mulai mendingin karena terlalu lama ia tinggalkan.
"Kau datang kemari dengan Ciro?" tanya Cleo.
"Tidak. Aku tadi bersama temanku, Nikita," jawab Gerhard.
"Nikita?"
"Oh ya aku lupa bercerita. Aku masuk ke akademi Lorillis Adarlan. Aku selalu lupa bercerita setiap kemari."
"Sudah berapa lama?" tanya Cleo kepada Gerhard dengan posisi sendok yang menempel di lidahnya.
"Mungkin sekitar 4 bulan? Entahlah aku tak menghitungnya dengan baik," jawab Gerhard kemudian kembali memasukan sesendok sup rumput laut ke dalam mulutnya.
"Pantas saja aroma tubuhmu berbeda," balas Cleo.
"Aroma tubuhku?" Gerhard langsung menciumi tubuhnya terutama bagian ketiaknya.
"Bukan itu maksudku. Tapi memang aku bisa merasakan aroma yang berbeda. Seperti halnya sekarang, karena kau habis bersama dengan wanita, aku mencium aroma manis di dalamnya dan juga --"
Ucapan Cleo tiba - tiba terhenti saat ia menyadari ada aroma lain dari tubuh Gerhard. Cleo pun mendekatkan dirinya ke arah Gerhard dan menciumi leher pria itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Gerhard yang kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh wanita paruh baya itu.
"Ssst!" Cleo meminta Gerhard berdiam sementara wanita itu menciumi tubuh Gerhard dan mengendusnya seperti seekor anjing.
Cleo menatap Gerhard dengan tatapan aneh dan dipenuhi dengan tanda tanya.
"Aku mencium aroma seekor Aul ditubuhmu. Kau bertemu dengan Aul?" tanya Cleo yang terdengar mengintimidasi Gerhard.
"I - iya."
Brak !
Cleo langsung memukul meja kayu di hadapannya dan menatap Gerhard kemudian memeriksa setiap inci tubuh Gerhard. Mulai dari kepala bahkan hingga ke balik baju Gerhard.
"Bagian mana yang terluka? Kau harus segera diobati, jika tidak akan menjadi racun untuk tubuhmu!" ucap Cleo.
Gerhard sontak langsung menahan tubuh Cleo hingga wanita itu terdiam menatapnya.
"Aku baik - baik saja," ucap Gerhard.
"Baik - baik saja bagaimana? Aul adalah hewan buas. Dia bukan sembarang Oriel. Bahkan dari 3 Oriel berbahaya, Aul menempati urutan ke dua!" balas Cleo dengan nada khawatirnya.
"Tapi kenyataannya aku baik - baik saja. Aku juga tak mengerti kenapa baunya masih tertinggal di tubuhku, padahal kejadian itu sudah sekitar 5 hari yang lalu," ujar Gerhard.
Cleo membelalakan matanya mendengar Gerhard yang selamat dan dalam kondisi baik - baik saja setelah bertemu dengan Aul.
"A - apa?! Bagaimana bisa?"
"Entah. Aku juga tak mengerti. Aku tiba - tiba mengerti bahasa mereka dan mereka mengobati lukaku. Padahal mereka yang melukaiku. Aku sudah bercerita kepada Ayah tapi dia tak mempercayainya," jawab Gerhard.
"Kau bisa berkomunikasi dengan Aul?"
Gerhard menganggukan kepalanya ragu karena takut dianggap gila oleh Cleo.
"Apa kau bisa berbicara dengan Bai juga?" tanya Cleo.
Baik Cleo dan Gerhard, kedua orang itu sama - sama menoleh ke arah Bai yang terlelap di depan perapian.
"Tidak," jawab Gerhard.
"Untuk pertama kalinya aku mendengar seorang manusia tanpa ilmu sihir apapun berkomunikasi dengan Oriel. Dan bukan Oriel biasa, melainkan Oriel berbahaya. Mungkin jika kau bertemu dengan Kraken dan Hydra kau bisa mengajak mereka berbicara," ujar Cleo.
"Tapi untung saja kedua hewan itu tak pernah aku temui."
"Kau mau mencoba bertemu dengan Hydra? Aku tahu dimana tempatnya."
"Tidak! Tidak! Cukup aku membahayakan nyawaku satu kali, tidak lagi."
"Ayolah," pinta Cleo memelas dengan wajah cantiknya.
"Tidak terima kasih. Aku tidak mau berbicara dengan Kraken dan Hydra," tolak Gerhard kemudian beranjak dari duduknya dan beralih meletakkan mangkuk kosongnya ke dalam tempat cuci piring.
Sedangkan Cleo hanya berjalan mengikuti Gerhard dan berusaha membujuknya.
"Aku dengar pernah ditemukan seekor Hydra di hutan Maylea. Mungkin saja kau mau mencoba bertemu dengannya. Tingginya hanya 6 meter," ucap Cleo.
Gerhard kembali meletakkan mangkuk yang hendak ia cuci dan berbalik menatap Cleo yang tingginya tentu saja lebih rendah darinya.
"Hanya 6 meter?! Bertemu Aul yang tingginya 4 meter saja aku sudah keringat dingin. Tidak," jawab Gerhard kemudian kembali melanjutkan kegiatannya yakni mencuci piring.
"Sayang sekali. Padahal kudengar air mata Hydra bisa meluruhkan apapun yang menjadi batu," lirih Cleo.
Pergerakan tangan Gerhard tiba - tiba terhenti saat mendengar jika air mata Hydra bisa meluruhkan sesuatu yang menjadi batu. Tiba - tiba ia teringat kepada Sagira yang menjadi batu hingga detik ini.
"Maksudmu?" tanya Gerhard tanpa berbalik dengan tangan yang masih memegangi mangkuk kotor.
"Cobalah minta air mata dari Hydra itu. Air matanya mengandung kekuatan sihir yang luar biasa. Dan mungkin aku bisa membuatnya untuk menjadi obat bagi Sagira," jawab Cleo.
Gerhard pun memikirkan dengan ide yang diberikan oleh Cleo. Memang benar, Hydra adalah satu - satunya Oriel yang bisa mengeluarkan air mata namun disamping itu, Oriel itu memiliki kekuatan sihir yang luar biasa. Tak ada satu pun yang berani menaklukan Hydra. Jika Hydra ditemukan di sebuah desa, otomatis orang - orang di desa itu akan mengungsi tepat saat malam hari ketika Hydra tertidur.
"Kalau begitu akan kucoba nanti," jawab Gerhard.
Cleo membelalakan matanya saat mendengar Gerhard yang setuju untuk mengambil air mata Hydra dan mau mencoba berkomunikasi dengan hewan berkepala 3 itu.
"Benarkah?!"
"Tidak sekarang. Aku harus menyiapkan mentalku. Aku takut jika percobaanku tidak berhasil," jawab Gerhard.
"Aku akan buatkan ramuan penyembuh untukmu. Tenang saja," jawab Cleo.
Cleo pun langsung pergi meninggalkan Gerhard. Gerhard yang sudah mengenal Cleo selama 18 tahun sudah paham bagaimana wanita itu bereaksi terhadap sesuatu. Wanita itu akan mempersiapkan dari jauh hari, sedangkan Gerhard pun juga harus mempersiapkan dirinya yang akan kembali menempati batas ambang kematian.