Gerhard melangkahkan kakinya memasuki sebuah ruangan dengan nuansa serba cokelat. Di tangannya, ia membawa bunga peony berwarna merah jambu yang sedikit kotor akibat terjatuh saat di Adarlan. Gerhard tersenyum sambil berjalan mendekati sebuah patung wanita dengan posisi seperti berlutut dan memohon kepada seseorang.
Tangan Gerhard terulur mengusap pipi Sagira dan tersenyum kecut saat menyadari jika sang Ibu masih tak bergeming dan tetap dalam kondisi seperti itu selama 18 tahun.
"Bu, aku datang. Kau pasti merindukan anak laki - lakimu yang tampan ini kan?" tanya Gerhard kepada Sagira.
Gerhard tau, Sagira tak akan menjawabnya. Jangankan menjawabnya, mendengarkan saja tidak. Cleo bahkan mengatakan jika kondisi Sagira seperti batu pada biasanya, tak memiliki perasaan apapun dan tak bernyawa. Cleo bahkan tak bisa berkomunikasi dengan Sagira.
Bunga peony berwarna merah jambu yang sedari tadi Gerhard bawa pun ia letakkan ke dalam vas bunga yang ada di atas meja di ruangan itu. Gerhard mengeluarkan bunga peony yang sudah layu dan bahkan warna merah jambunya tak lagi terlihat karena tergantikan dengan warna cokelat sebagai tanda jika bunga tersebut telah membusuk.
Setelah memasukan bunga baru ke dalam vas bunga, Gerhard pun membuang bungkus plastik beserta bunga peony yang telah mati itu ke dalam tempat sampah.
"Bu, kau tahu? Hari ini aku membawakan bunga peony berwarna merah jambu lagi," ucap Gerhard sambil berjalan mendekat ke arah Sagira.
Gerhard mengambil posisi duduk di tempat tidur yang letaknya tak jauh dari posisi Sagira berada. Sambil mengulurkan tangannya dan memegangi tangan Sagira, Gerhard menatap dalam ke wajah Sagira yang berubah menjadi hitam dan mengeras.
"Apa kau tidak ingin pulang, Bu? Ayah merindukanmu," ujar Gerhard.
Setiap kali Gerhard mengunjungi kamar Sagira di kediamaan Cleo, tak ada yang bisa dilakukan oleh Gerhard selain bercerita seperti ini. Gerhard bersikap seolah Sagira mendengarkannya, meski Cleo mengatakan jika Sagira seperti halnya patung dan benda mati pada umumnya.
"Mungkin aku sudah pernah bercerita sampai kau bosan mendengarnya, Bu. Aku masuk ke Lorillis dan menjadi salah satu murid yang terkenal akan kemampuanku. Aku dikenal jenius dan juga tampan. Benarkan, Bu? Aku sudah bilang aku ini tampan dan sejak kecil aku sudah menjadi primadona di Desa Solandis," ujar Gerhard lagi.
Gerhard mengepalkan tangannya sambil menatap Sagira. Sesekali, Gerhard mengusap wajah Sagira dengan lembut. Kerinduannya akan seorang Ibu tak pernah bisa tergantikan oleh apapun. Bahkan tak hanya Gerhard, William pun juga sangat merindukan Sagira.
Dulu saat Gerhard masih kecil, William lah yang selalu menemani Gerhard untuk bertemu dengan Sagira. Gerhard kecil tentu saja tak mengerti bagaimana caranya untuk pergi ke Eyelwe, namun sekarang keadaan berbalik. Gerhard bahkan bisa pergi seorang diri tanpa ditemani oleh William. Sedangkan William yang sudah tua dan renta tak lagi sanggup menempuh perjalanan panjang. Hanya tersisa harapan besar bagi William agar Sagira bisa kembali seperti biasa.
"Oh ya Bu, di Lorillis ada seorang wanita cantik yang katanya berasal dari Wendlyn. Dia memiliki mata merah dan juga rambut berwarna merah. Dia sangat cantik. Ingin sekali rasanya aku memperkenalkan wanita itu kepadamu. Mungkin lain kali aku akan membawanya kemari agar kau bisa bertemu langsung dengannya."
Gerhard kembali teringat pada sosok Nikita yang mungkin saja sudah pulang kembali ke Adarlan. Sedangkan dirinya masih berada di Eyelwe meski waktu sudah menunjukan pukul 6 sore.
Tok ! Tok ! Tok !
Suara ketukan pintu membuat Gerhard berpaling dan menatap ke arah ambang pintu yang terbuka. Gerhard bisa melihat sosok Cleo yang berdiri di sana sambil bersandar pada pintu.
"Kau mau pulang jam berapa? Jangan pulang terlalu larut, akhir - akhir Aul sering berkeliaran untuk mencari mangsa," ujar Cleo.
"Tenang saja, mereka tak akan membunuhku," balas Gerhard.
Cleo membuang napasnya kasar, "Ya aku tahu karena kau bisa berkomunikasi dengan mereka. Tapi kau juga harus memikirkan William yang menunggumu seorang diri di rumah. Dia pasti khawatir jika kau pulang larut," ucap Cleo.
Benar juga. William ada di rumah dan sudah pasti akan khawatir dengan Gerhard jika pulang larut. Meski Gerhard berpesan agar William tak menunggunya pulang, tapi nyatanya William seringkali tetap menunggu Gerhard pulang. William tak percaya jika ia tak bertemu dengan anaknya sebelum ia tidur.
Gerhard kemudian beranjak dari duduknya, berpamitan pada Sagira dan memeluk tubuh sang Ibu dengan erat.
"Aku pulang dulu ya, Bu. Maaf aku kurang pagi datang kemari. Aku berjanji akan menemanimu lebih lama dari hari ini," ucap Gerhard kemudian mengecup kening Sagira dan meninggalkan kamar Sagira.
Usai pintu kamar Sagira tertutup, Gerhard pun menatap ke arah Cleo dengan tatapan tanda tanya. Seolah mengerti, Cleo akhirnya buka suara mengenai rencana mereka yang ingin mencoba mengambil air mata Hydra.
"Aku akan membuat ramuan untukmu lebih banyak. Yang jelas aku akan mempersiapkan semuanya lebih matang. Berjaga - jaga takut berkomunikasi dengan Hydra tak berhasil," ujar Cleo.
Gerhard menghela napasnya. Meski ia sebenarnya tak mau, namun karena Cleo mengatakan jika air mata Hydra bisa menjadi salah satu penawar dari keadaan Sagira saat ini, mau tak mau Gerhard akan melakukannya meski membahayakan nyawanya sekalipun.
"Kau tidak takut?" tanya Cleo.
"Tentu saja aku takut," jawab Gerhard.
"Kau bisa mundur jika kau mau."
"Tidak. Aku akan tetap melakukannya. Aku berharap Ibuku setidaknya bisa kembali seperti semula, meski aku akhirnya meregang nyawa."
"Aku tak akan mengizinkan kau mati. Ibumu membutuhkanmu. Jika sulit, lebih baik kita pergi. Yang penting kau tetap aman."
"Semoga saja," balas Gerhard.
Kaki Gerhard melangkah menuju pintu keluar dan berhenti tepat di depan pintu itu. Bai yang baru saja terbangun berlarian menghampiri Gerhard dan menabrakkan dirinya ke kaki Gerhard.
"Bai!" pekik Cleo saat melihat Bai yang dengan sengaja menabrakkan dirinya pada Gerhard.
Gerhard mengambil Bai di bawah kakinya dan mengangkat tubuh mungil Bai kemudian memeluknya ke dalam dekapannya.
"Halo Bai. Aku harus pulang seperti biasa dan aku tidak lagi bisa menginap disini karena besok aku harus ke akademi. Minggu depan kita akan bertemu lagi, oke?" ucap Gerhard.
Seolah mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Gerhard, Bai menganggukan kepalanya mengerti.
"Anak pintar," puji Gerhard.
Cleo terkejut melihat Bai yang tampak mengerti dengan ucapan Gerhard. Namun mengingat Gerhard yang berbicara dengan Aul, sepertinya Cleo tidak perlu terkejut berlebihan.
"Kalau begitu aku pamit dulu. Terima kasih untuk makan siangnya," ujar Gerhard sembari menyerahkan Bai kepada Cleo.
"Hati - hati di jalan," ujar Cleo.
Saat hendak Cleo ingin mengantarkan Gerhard keluar dari rumah, Gerhard pun berbalik, "Tidak perlu antar aku. Aku bisa berjalan sendiri ke Ciro. Kau harus beristirahat, aku tahu kau kelelahan," ujar Gerhard.
Cleo mengangguk, "Jaga dirimu baik - baik. Sampaikan pada William untuk tak perlu khawatir mengenai Sagira."
"Akan kusampaikan."
Setelah berpamitan, Gerhard akhirnya keluar dari rumah Cleo. Melewati dedaunan kering yang berserakan di halaman rumahnya. Baru saja Gerhard meninggalkan halaman rumah Cleo beberapa langkah, tiba - tiba sebuah cahaya tampak menyorot ke arah Gerhard hingga langkahan kaki pria itu terhenti.
Gerhard memutar balik tubuhnya, melihat ke arah asal cahaya. Matanya menyipit saat melihat ke arah sumber cahaya. Gerhard menyadari sesuatu jika cahaya itu berasal dari sebuah kendaraan yang ia tumpangi tadi pagi.
"Nikita?" gumam Gerhard menyadari sosok wanita yang berada di dalam kendaraan itu.
Dolunay yang semula diam di bawah pohon yang terletak tak jauh dari rumah Cleo, perlahan maju. Dan benar saja, pengemudi di balik Dolunay itu adalah Nikita.
"Kau sedang apa?" tanya Gerhard yang penasaran dengan apa yang dilakukan Nikita.
"Aku menunggumu keluar. Aku takut kau tidak kebagian Styx jika pulang terlambat. Bisa - bisa kau terdampar di Kota Adarlan seorang diri semalaman," jawab Nikita.
Gerhard menaikkan sebelah alisnya mendengar jawaban Nikita.
"Kau khawatir padaku?" tanya Gerhard.
"Tentu saja," jawab Nikita cepat.
Suara cekikikan tiba - tiba saja keluar dari mulut Gerhard. Pria itu menahan tawanya sekuat tenaga.
"Kenapa? Apa salah aku mengkhatawirkanmu? Mengingat kau pernah diserang oleh Aul, aku tentu saja menjadi berpikir ribuan kali untuk meninggalkanmu atau menunggumu."
"Kau mengkhawatirkan seorang pria yang pernah diserang oleh Aul dan selamat tanpa luka. Kau lucu sekali," ucap Gerhard.
Nikita tampak mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Jadi kau mau pulang bersamaku atau tidak? Jika tidak, aku akan pergi sekarang," ancam Nikita dengan tangan yang sudah siap melajukan Dolunay tersebut untuk pergi dari hadapan Gerhard.
Gerhard yang semula tertawa akhirnya berhenti seketika. Pria itu kemudian masuk ke dalam Dolunay milik Nikita dan duduk di samping wanita itu.
"Terima kasih banyak karena sudah mengkhawatirkanku."
Bukannya membalas ucapan Gerhard, Nikita justru melajukan Dolunay itu seketika hingga tubuh Gerhard yang belum siap dengan kecepatan yang tiba - tiba sampai terdorong ke belakang.
Jalanan Kota Eyelwe sudah berubah. Tak ada lagi cahaya yang menerangi jalanan itu, yang ada hanyalah kegelapan. Entah mengapa Eyelwe selalu terlihat seperti kota mati saat malam hari padahal kota itu diisi oleh ribuan orang. Bahkan saat malam hari, tak pernah ada orang yang berkeliaran. Membuat siapapun yang melintas di Kota Eyelwe harus hati - hati karena bisa saja menabrak hewan yang melintas di jalanan.
"Kau selalu kemari?" tanya Nikita dengan pandangannya yang terfokus menatap jalanan.
"Iya. Setidaknya seminggu sekali," jawab Gerhard.
"Pulang malam?"
"Biasanya sore. Sebelum matahari terbenam aku sudah berada di dalam Ciro."
"Kau beruntung aku memberikanmu tumpangan. Aku akan mengantarkanmu ke Solandis."
Mendengar Nikita yang bersedia mengantarkannya ke Solandis, membuat Gerhard langsung menoleh menatap Nikita, "Bagaimana denganmu?" tanya Gerhard.
"Apa ada kamar kosong di rumahmu?"
"Kau mau menginap?" tanya Gerhard balik.
"Sepertinya begitu. Untung saja aku membawa seragamku di belakang," ujar Nikita sambil menunjuk ke arah belakang.
Gerhard pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Nikita dan mendapati sebuah kantung berwarna hitam yang bisa ia tebak berisikan seragam Lorillis miliknya.
"Tidur di kamarku saja. Aku bisa tidur di ruang tengah. Nanti akan aku ganti alasnya," ujar Gerhard.
"Benarkah? Kau mengizinkanku menginap di rumahmu?" Nikita terdengar antusias mendengar Gerhard yang setuju untuk memberikan tempat menginap selama semalaman.
"Hanya 1 malam. Tidak lebih."
"Cih! Lagi pula siapa juga yang ingin berlama - lama tidur di rumahmu. Aku juga harus pulang," ujar Nikita.
Meski Nikita mendengus kesal karena secara tak langsung Gerhard juga mengusirnya, namun nyatanya wanita itu juga senang karena diberikan tempat menginap meski hanya 1 malam.