Malam hari pun tiba, satu persatu orang kembali ke rumah masing - masing setelah menyambut pernikahan Raja. Nico dan Gerhard baru saja tiba, diiringi dengan suara langkahan kaki kuda yang terdengar menggema di tengah keheningan malam.
Nico turun lebih dulu dari kudanya, dan disusul dengan Gerhard yang digendong oleh Nico. Pintu rumahnya langsung terbuka saat mendengar suara langkahan kaki kuda yang berhenti di depan rumahnya. Gerhard langsung berlari ke arah Ayahnya yang berdiri di ambang pintu.
"Aku tadi mengajaknya melihat pernikahan Raja. Dia mendapat banyak sekali hadiah dari banyak orang," ujar Nico sembari memberikan sebuah kantung berisikan makanan yang di dapat oleh Gerhard hasil pemberian orang - orang di kota.
"Sebanyak ini?" tanya William saat melihat isi dari dalam tas tersebut.
"Iya. Banyak yang memberkati ketampanan Gerhard," balas Nico.
Memang benar, bahkan William dan Sagira sendiri masih tak percaya jika Gerhard memiliki wajah setampan dan menawan itu. Siapa pun yang melihat wajahnya pasti akan terpana.
"Terima kasih banyak, Nico," ujar William.
"Aku juga berterima kasih karena Gerhard mau menemaniku ke kota hari ini. Kalau begitu aku pulang dulu, Laura pasti sudah ada di rumah menungguku," ujar Nico dan menggiring kudanya menyebrangi jalanan menuju ke arah rumahnya.
William masuk ke dalam rumah bersama dengan Gerhard. Sagira yang berada di dapur pun memperlihatkan batang hidungnya menyambut kedatangan anaknya yang baru saja kembali dari kota.
"Gimana suasana kota? Sangat ramai?" tanya Sagira.
Gerhard menganggukan kepalanya dan tersenyum, "Ada banyak sekali orang. Lalu ada bunyi terompet yang menggema dan saat Raja melintas pun orang - orang melemparkan bunga ke arahya!" pekik Gerhard yang tampak antusias bercerita.
William berjongkok di samping Gerhard, "Nanti kita akan ke kota lagi bersama - sama lain kali ya," ujar William.
"Asik!" pekik Gerhard.
"Kalau begitu kita makan dulu ya, sehabis itu kamu mandi dan tidur. Sudah hampir larut," ujar Sagira dan menarik kursi untuk Gerhard duduk.
William memberikan kantung makanan kepada Sagira, "Ini hadiah yang didapat oleh Gerhard saat ke kota. Kata Nico, banyak orang yang terpana dengan Gerhard," ujar William.
Sagira menatap ke arah Gerhard yang justru memilih masakan Ibunya dibandingkan dengan hadiah yang ia dapatkan. Tak peduli dengan pembicaraan kedua orang tuanya, Gerhard hanya terfokus untuk menghabiskan makan malamnya.
Usai makan malam, Gerhard pun segera pergi membersihkan dirinya di kamar mandi. Dengan menggunakan air hangat yang telah disiapkan oleh Sagira, Gerhard mulai membasuh tubuhnya dengan air hangat. Satu tangannya ia gunakan untuk menggosok seluruh bagian tubuhnya.
Tubuhnya langsung terasa segar saat air hangat mengalir membasahi tubuh mungilnya. Meski Gerhard baru berusia 7 tahun, nyatanya anak itu sudah terhitung cukup dewasa untuk seusianya. Gerhard tak lagi membutuhkan bantuan Sagira untuk membersihkan tubuhnya, dan bahkan Gerhard tak pernah lagi disuapi makanan sejak usianya menginjak 3 tahun.
Terkadang, Sagira dan William merasa bahagia karena perkembangan anaknya yang jauh di atas normal. Namun, tak jarang juga Sagira dan William merasa kehilangan masa kecil Gerhard yang berharga dengan begitu cepat.
"Ahh! Segarnya!" desah Gerhard sembari melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk kecil yang melingkar di tubuhnya.
Kaki kecilnya melangkah menuju sebuah kamar dengan pintu kayu yang masih tertutup. Sebelum masuk, anak laki - laki itu tampak melihat ke sekitarnya dan mencari keberadaan Sagira dan William. Matanya melihat ke arah meja makan yang sudah rapi dan kemungkinan besar Sagira dan William sudah tidur di kamar mereka.
Gerhard pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya tanpa mengunci. Satu tangannya melepas handuk kecil yang melilit di tubuhnya dan kemudian melangkah ke lemari untuk mengeluarkan baju.
Seluruh pakaian milik Gerhard dibuat langsung oleh Sagira tanpa terkecuali. Meski memiliki warna dan model yang sama, nyatanya Gerhard selalui menghargai seluruh pemberian Sagira.
Setelah selesai memakai bajunya, Gerhard melangkah menuju meja kecil yang berada di sudut ruangan dan mulai menyisir rambutnya ke belakang yang masih basah.
"Sepertinya aku tidak bisa tidur jika masih basah begini," gumam Gerhard dengan mata yang melirik ke arah bantal tidurnya dan memutuskan untuk menunda tidurnya karena tidak mau bantalnya basah terkena tetesan air yang membasahi bantal tidurnya.
Kaki kecilnya kembali melangkah ke arah rak buku yang ada di kamarnya, sedikit berjinjit agar ia bisa mengambil sebuah buku berwarna merah tua yang terletak di atas kepalanya. Berhasil mendapatkan buku yang ingin ia baca, Gerhard pun duduk di tepi kasur dan menggeser lampu minyak yang menyala di kamarnya ke arahnya.
Kakinya menekuk dan anak itu mulai membaca buku tentang hewan kesukaannya. Satu persatu halaman ia baca, berharap agar rambutnya cepat kering dan ia bisa cepat tertidur. Gerhard bahkan sampai menahan matanya agar tetap terbuka dan terjaga dari rasa kantuk hanya demi membuat rambutnya kering dahulu.
Brak !
Tiba - tiba saja, jendela kamarnya yang semula tertutup langsung terbuka saat sebuah angin kencang menerpanya. Sontak, Gerhard langsung menoleh saat suara tersebut membuat dirinya tersentak saat membacanya.
Gerhard meletakkan bukunya di atas meja kemudian merangkak ke atas tempat tidurnya dan mengarah ke jendelanya. Baru saja anak itu ingin menutup jendela kamarnya, seekor burung hantu datang dan hinggap jendela kamar tidurnya membuat Gerhard terpana dan terhipnotis.
Ini adalah pertama kalinya bagi Gerhard melihat seekor burung hantu dalam jarak yang sangat dekat. Burung itu bahkan menatap ke arahnya seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Hai burung hantu," sapa Gerhard.
Suara lolongan serigala terdengar dari kejauhan, membuat Gerhard kembali tersentak dan hendak menutup jendelanya. Namun sang burung hantu masih menghalangi Gerhard seolah tak ingin pria itu menutup jendelanya.
"Pergilah. Aku harus menutup pintunya. Bagaimana jika malam ini ada seekor serigala yang sedang berkeliaran?" tanyanya kepada sang burung hantu.
Burung hantu itu tampak memutar badannya, membuat Gerhard mengikuti arah tatapan burung hantu itu. Matanya kembali berbinar saat melihat seekor macan kumbang yang berkeliaran di depan jendelanya. Kumbang itu tampak mondar mandir seperti sebuah setrika baju. Mata Gerhard dan macan kumbang itu pun bertemu. Meski tubuh sang macan kumbang berwarna hitam legam, namun matanya tampak bercahaya di tengah kegelapan.
"Wah keren sekali!" pekik Gerhard.
Gerhard yang sangat menyukai dengan kehidupan hewan, tampak terpana melihat 2 hewan asing yang ia lihat di depan jendela kamarnya. Selama 7 tahun ia menempati kamar itu, mungkin ini pertama kalinya bagi Gerhard melihat hewan - hewan liar secara langsung di depan jendela kamarnya.
Terlebih, posisi jendela kamar Gerhard memang mengarah ke arah hutan yang berada di kaki gunung. Gerhard pun sering mendapat peringatan untuk tidak membuka jendela di malam hari karena takut hewan buas masuk ke kamarnya dan menerkamnya.
Tapi sepertinya kali ini Gerhard memberikan pengecualian kepada burung hantu dan juga macan kumbang yang berada di ujung penglihatannya. Macan kumbang itu terus menatap Gerhard tanpa melakukan apapun.
Burung hantu yang semula berdiri di jendela kamarnya dan menghalangi Gerhard untuk menutup jendela akhirnya terbang dari sana, membuat Gerhard langsung mendekat ke arah jendela. Gerhard mengedarkan pandangannya dan langsung membulatkan matanya saat melihat kawanan kucing besar yang terlihat mengerumuni depan jendelanya.
Mulai dari macan kumbang, macan tutul, cheetah sampai harimau pun terlihat mengerumuni kamar Gerhard. Dan semua hewan - hewan itu menatap ke arah Gerhard dengan tatapan terpana.
Bruk !
"Akkkh!" Gerhard meringis kesakitan saat lutut kecilnya menghantam tanah dengan begitu keras.
Tubuh mungil Gerhard terjatuh ke tanah dan keluar dari kamarnya akibat Gerhard yang terlalu mencondongkan tubuhnya ke luar jendela. Seekor macan kumbang yang pertama kali ia lihat, berjalan mendekat ke arah Gerhard, Gerhard sontak hanya memeluk lututnya yang terasa sakit.
Gerhard memejamkan matanya karena merasa takut, terlebih ia dikelilingi oleh hewan buas yang mungkin akan siap menerkanya. Gerhard tidak bodoh, dia tahu jika hewan - hewan itu bisa memangsa manusia. Tapi anak itu juga penasaran saat pertama kali melihat hewan yang ia baca muncul di depan matanya.
Macan kumbang itu menempelkan hidungnya ke arah pipi Gerhard, membuat anak itu tertawa saat merasakan kumis macan kumbang yang menyentuh kulit wajahnya.
"Ahahaha, geli!" pekiknya lalu Gerhard membuka matanya.
Mulutnya terbuka lebar saat melihat hewan - hewan liar itu mendekat ke arahnya. Satu persatu hewan di hadapannya menunduk seolah memberikan hormat kepada Gerhard.
Merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi, Gerhard hanya mengulurkan tangannya dan mengusap kepala macan kumbang yang tadi menyentuh wajahnya dengan hidungnya. Macan kumbang itu tampak bersahabat dan bahkan memberikan kepalanya untuk diusap.
Satu ekor cheetah pun mendekatkan diri untuk minta diusap oleh Gerhard. Di bawah sinar rembulan, hewan - hewan itu tampak mematuhi apapun yang dilakukan oleh Gerhard. Gerhard merasa ini seperti mimpi, terlebih ia baru saja membaca buku tentang hewan - hewan itu barusan.
Macan kumbang yang ada di hadapannya pun memutar tubuhnya, dan memposisikan dirinya duduk di hadapan Gerhard, "Kau mau aku menaikimu?" tanya Gerhard dan melihat macan kumbang itu hanya menoleh.
Gerhard pun bangkit dari duduknya, anak itu sempat meringis saat merasakan tubuh bagian bawahnya yang terasa sakit akibat terjatuh dari jendela kamarnya. Gerhard langsung mengambil posisi duduk di atas punggung macan kumbang. Sang macan kumbang langsung berdiri saat Gerhard duduk di atas punggungnya.
Kaki macan kumbang melangkah, memasuki area hutan dan begitu pula dengan hewan - hewan lainnya yang ikut berjalan. Suara lolongan serigala kembali terdengar, membuat Gerhard sedikit takut. Merasa seolah macan tutul dan cheetah menyadari jika Gerhard ketakutan, kedua hewan itu pun mendekat pada Gerhard dan memberikan rasa aman kepada anak itu.
"Terima kasih," ucap Gerhard sambil melihat ke sisi kanan dan kirinya bergantian.
Gerhard tak tahu kemana macan kumbang akan membawanya pergi, yang ia tahu, hewan - hewan itu sepertinya ingin menunjukan sesuatu kepadanya. Gerhard sama sekali tak merasa takut kepada hewan buas itu dan justru merasa hewan itu adalah teman bermainnya.