Suara kicauan burung di pagi hari terdengar begitu asri. Nyanyiannya yang menenangkan hati, seolah mereka sedang saling bersahutan membuat alunan yang merdu untuk menyapa mentari pagi. Sinar matahari mulai menunjukan jati dirinya, menyorot ke seluruh permukaan pohon dan tanah, memberikan asupan bagi tanaman yang tumbuh.
Tubuh seorang anak kecil yang tertidur di atas tanah dengan tumpukan dedaunan untuk menghangatkan tubuhnya, terlihat menggeliat seolah merespon sinar hangat matahari pagi yang mulai memanas seiring bertambahnya waktu.
"Uungghh!" lenguhnya panjang sembali merentang tangan dan kakinya dengan lebar.
Perlahan, anak itu mengerjapkan matanya, menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam matanya. Sambil mengumpulkan nyawa, anak lelaki itu bangkit dari posisi tertidurnya dan melihat ke sekitar. Tempat itu terasa sangat asing di matanya.
"Dimana ini?" gumamnya.
Gerhard sontak langsung membuka matanya lebar dan mengedarkan pandangannya saat menyadari dirinya yang tidak berada di dalam kamarnya. Pikiran anak itu langsung memutar kembali kejadian tadi malam, dimana dirinya yang justru keluar dari kamar bersama para hewan buas dan meninggalkan kamarnya.
"Astaga, Ibu pasti mencariku!" pekik Gerhard.
Gerhard berusaha berdiri namun kakinya terasa sakit akibat jatuh dari jendela kamarnya. Anak itu berusaha mencari macan kumbang yang semalam membawanya namun nyatanya nihil. Tak ada hewan apapun di sekitar situ. Gerhard bahkan tak tahu arah jalan pulang.
Anak itu akhirnya melangkahkan kakinya perlahan dan meringis kesakitan. Namun tak ingin hanya terjebak di dalam hutan seorang diri, Gerhard terus melangkahkan kakinya, mengikut arah cahaya matahari.
Kakinya berhenti saat matanya menangkap sebuah benda yang bergerak di balik tumpukan daun yang menggunung di depan matanya. Napasnya tercekat saat ia menyadari apa yang ada dibalik tumpukan daun saat melihat sedikit bagian tubuhnya yang tersingkap dan tak tertutupi oleh daun.
Gerhard merasa kematian akan segera menjemputnya, saat menyadari seekor ular black mamba yang berukuran besar dengan kulit hitam legam mengitari tubuhnya. Gerhard tak bisa pergi kemana pun karena sekitar tubuhnya di tutup oleh tubuh ular tersebut.
Gerhard tak menyerah begitu saja, dia bahkan tak menangis seperti anak - anak pada umumnya yang biasanya justru hanya menitikkan air mata ketika sedang ketakutan. Gerhard mengumpulkan batu - batu yang ada di tanah dan mengikatnya menjadi satu dengan menggunakan ranting yang masih basah akibat embun air di balik daun.
Setelah menjadi satu, Gerhard pun mencari kepala sang ular raksasa itu dan . . .
Brak !
Gerhard melemparkan batu tadi hingga mengenai kepala sang ular. Tubuh ular itu berhenti bergerak. Buru - buru Gerhard memanjat tubuh ular itu dan berlari meninggalkan ular yang masih tak sadarkan diri. Sadar jika sang ular kembali tersadar, Gerhard pun mempercepat langkahan kaki mungilnya.
Namun sayang, tubuhnya justru jatuh saat kakinya tanpa sengaja tersandung sebuah batu. Gerhard menoleh ke arah belakangnya dan melihat ular raksasa itu keluar dari tumpukan daun. Matanya membulat, tubuhnya menegang saat melihat ular black mamba yang ukurannya 5 x lebih besar dari tubuhnya berjalan ke arahnya.
Ular itu langsung meliukan tubuhnya dengan cepat dan menghampiri Gerhard. Mulutnya perlahan terbuka dan memperlihatkan taring yang berukuran besar dengan ujungnya yang meruncing. Gerhard merasa nyawanya akan habis ketika taring ular itu menancap di dagingnya.
"Jangan makan aku!" pekik Gerhard dan menutup matanya, karena tak kuasa melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Seharusnya, sang ular raksasa itu sudah melahap Gerhard, tapi nyatanya Gerhard tak merasakan pergerakan ular itu dan tak lagi mendengar suara ular yang mendesis. Pelan - pelan Gerhard membuka matanya, mengumpulkan keberaniannya untuk melihat apa yang terjadi.
Mata cokelatnya membulat saat ia menyadari jika ular yang semula ingin melahapnya dengan ganas terkena sebuah panah yang menancap tepat di bola matanya. Gerhard mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang melakukan hal tersebut kepada sang ular raksasa itu.
"Halo? Apa ada orang di sana?" tanya Gerhard dengan suaranya yang sedikit mengeras, berharap orang yang menolongnya memunculkan diri.
Benar saja, seorang anak lelaki dan perempuan mengintip dari balik pohon. Dari postur tubuhnya, Gerhard yakin kedua anak itu seusiasnya. Gerhard bisa melihat sebuah busur panah yang dipegang oleh anak lelaki itu dan menunjukan jika dirinya ditolong oekh sang anak lelaki tersebut.
"Hei, terima kasih banyak telah menolongku. Aku tak tahu jadinya jika tak ada kau," ujar Gerhard kepada anak kecil sesusianya.
Anak lelaki dan perempuan itu pun menunjukan dirinya lebih berani ke hadapan Gerhard, lalu melangkah maju mendekati Gerhard dan melihat mayat ular raksasa yang kini sudah tak bernyawa dan bahkan tak bergerak sedikit pun.
"Kau tidak apa - apa?" tanya sang anak lelaki kepada Gerhard.
"Aku baik - baik saja, terima kasih banyak," balas Gerhard.
Sang anak perempuan tampak menghampiri tubuh ular raksasa itu dan menyentuhnya, lalu menoleh ke arah sang anak lelaki, "Dia mati," ujarnya.
"Iya. Aku sempat melumasi racun pada ujung anak panah dan rupanya berhasil. JIka saja anak panah hanya mengenai kulitnya, mungkin ia hanya akan pingsan dan kembali bangun dan mengejar kita," ujar anak lelaki itu.
"Oh ya, siapa namamu? Aku Gerhard," ujar Gerhard memperkenalkan dirinya kepada anak lelaki dan perempuan yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
"Aku Jaromir, dan ini temanku Antheia," ujar Jaromir.
"Teman? Aku pikir kalian kakak adik," balas Gerhard.
"Tidak, dia temanku. Kami bahkan seumuran," ujar Jaromir sambil melirik ke arah Antheia.
Antheia tersenyum manis menatap Gerhard dan melangkah mendekati Gerhard, "Sepertinya aku baru pertama kali melihatmu di hutan ini," sahut Antheia.
Gerhard menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak terasa gatal dan memasang senyuman aneh. Jika ia mengatakan ia dibawa oleh kawanan hewan buas, mungkin saja Jaromir dan Antheia tak percaya kepadanya.
"Aku tersesat tadi malam karena mengikuti cahaya bulan purnama. Tanpa sadar aku tertidur di tengah hutan dan saat sadar, ular ini sudah mengikutiku, dan hampir melilit tubuhku," ujar Gerhard berbohong walau sebenarnya tadi malam bulan purnamanya memang sangat cantik.
"Untung saja tidak terjadi apa - apa padamu. Hati - hati jika ke hutan ini tengah malam, banyak sekali hewan buas yang berkeliaran dan bisa menjadikanmu sebagai santapan mereka," ujar Jaromir.
"Aku beruntung," gumam Gerhard.
"Rumahmu dimana? Biar kami antarkan. Kau pasti tersesat kan?" tanya Antheia yang menyadari jika Gerhard justru berjalan ke arah gunung dan bukan ke pemukiman penduduk.
"Kalian tahu jalan menuju ke arah pemukiman?" tanya Gerhard.
"Tentu saja. Kami memang tinggal di kaki gunung, tapi kami tahu jalan menuju ke sana. Ayo kami antarkan kau pulang," ajak Jaromir lalu berjalan mendahului Gerhard.
Baru saja Gerhard akan melangkah, anak itu kembali meringis saat merasakan sakit pada lututnya. Luka Gerhard rupanya semakin membesar dan justru darahnya kembali keluar. Menyadari Gerhard yang terluka, Antheia pun merobek ujung bajunya, mengeluarkan sebuah daun yang telah dihaluskan dan mengikatnya pada kaki Gerhard yang terluka.
"Ini obat untuk menghentikan pendarahan. Setidaknya bisa mengurangi sedikit rasa sakitmu," ujar Antheia.
"Terima kasih banyak. Aku berhutang nyawa kepada kalian berdua," ujar Gerhard.
"Ayo kita segera pulang, matahari semakin meninggi. Jika terlalu siang, nanti akan semakin panas," ujar Jaromir.
Dengan bantuan Antheia, Gerhard pun bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan mengikuti Jaromir yang sudah jauh di depan. Sesekali Gerhard meringis kesakitan akibat obat yang diberikan oleh Antheia, namun setidaknya luka itu tak akan bernanah dan membusuk.
Berbekal sebuah pisau dan busur panah, Jaromir membuka jalanan hutan yang terutup dan melewati lembah. Di tengah perjalanan mereka, Jaromir melihat seekor kelinci berukuran besar yang berkeliaran. Jaromir sontak berhenti berjalan, membuat Gerhard dan Antheia ikut berhenti.
"Diam sebentar, aku akan bawa kelinci itu untuk makan siang," ujar Jaromir.
Jaromir pun mengeluarkan anak panah miliknya dan membidik kelinci tersebut.
Syut !
Dalam satu kali tarikan, kelinci itu langsung tertusuk dengan anak panah yang diluncurkan oleh Jaromir. Jaromir berlari kecil ke arah kelinci yang berukuran cukup besar itu dan mengangkat kelinci itu dengan menarik telinganya.
"Aku dapat kelinci!" pekik Jaromir.
Akhirnya, setelah lebih dari 1 jam ketiga anak kecil itu tiba di depan sebuah rumah. Pintu rumah itu tampak terbuka, dan Gerhard langsung masuk ke dalam tanpa berkata apapun. Semua orang yang ada di dalam rumah melihat ke arah Gerhard yang baru saja datang dengan pakaian kotor, ditambah lututnya yang diikat dengan sebuah kain.
"Ibu," panggil Gehard.
Sagira yang menangis akibat kehilangan Gerhard dan mengira anaknya sudah mati di makan oleh hewan buas langsung menoleh dan berlari memeluk tubuh kecil Gehard.
"Astaga kau dari mana saja, Gerhard?!" pekik Sagira sembari memeluk tubuh mungil Gerhard.
"Kami semua mencarimu sejak pagi. Kami pikir kau sudah tewas menjadi santapan macan kumbang di dalam hutan!" sahut Laura yang tak kalah khawatir pada Gerhard.
Jaromir dan Antheia muncul dari balik pintu dan menatap Gerhard, membuat orang - orang di sana juga heran menatap kedatangan 2 anak asing di dalam rumah Gerhard.
"Perkenalkan Bu, ini teman - temanku. Mereka yang menolongku dan mengantarkanku pulang," ujar Gerhard.
Sagira melonggarkan pelukannya dan melihat Jaromir dan Antheia yang berdiri di ambang pintu. Sagira langsung menyeka air matanya dan tersenyum, "Terima kasih ya," ujar Sagira.
Sagira pun ikut memeluk Jaromir dan Antheia, "Kalian sudah makan?" tanya Sagira kepada Jaromir, Antheia dan Gerhard.
"Belum," jawab Antheia.
Mata Sagira melirik ke arah kelinci yang dibawa oleh Jaromir. "Mau aku buatkan masakan? Aku ahli membuat olahan daging kelinci," ujar Sagira.
"Benarkah?" tanya Jaromir dan tersenyum senang saat tahu jika Sagira bisa memasak olahan daging kelinci.
Sagira menganggukan kepalanya. Jaromir pun memberikan kelinci itu kepada Sagira.
"Kalian tinggal dimana?" tanya Nico.
"Kami tinggal di kaki gunung," jawab Antheia.
"Kalau begitu, sebaiknya kalian berdua bermalam disini saja. Aku takut hari semakin gelap dan ada hewan buas berkeliaran di sana," sahut William.
"Benar juga, kalau kalian kembali pasti matahari sudah terbenam. Gimana kalau kalian bermalam di sini dan besok kembali pagi - pagi ke rumah?" usul Laura.
Jaromir dan Antheia melirik ke arah Gerhard karena tak tahu harus menjawab apa.
"Kalian bisa tidur di kamarku. Kamarku cukup luas," ujar Gerhard.
Akhirnya Jaromir dan Antheia pun setuju untuk bermalam di rumah Gerhard. Dan sebagai balasan karena telah menunjukan jalan pulang pada Gerhard, Sagira memasak cukup banyak dan mengolah daging kelinci hasil tangkapan Jaromir barusan.