[3] The Magician

1610 Kata
Desa Solandis, Adarlan 2001 * Beberapa hari setelah berita kehamilan Sagira, tentu saja membuat William merasa sangat bahagia. Terlebih kehamilan sang istri sudah lama dinantikan oleh William sejak lama. "Hei William, aku dengar istrimu hamil. Benarkah?" tanya salah seorang pekerja yang tiba - tiba menghampiri William yang sedang bekerja memecah batu tambang dengan palunya. William langsung berhenti saat mendengar salah seorang pekerja yang menghampirinya. Ia pun menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang tersangkut di lehernya. "Iya, benar," jawab William sambil menyeka peluh keringatnya. "Selamat! Aku tidak menyangka akhirnya keinginanmu tercapai juga. Doakan aku segera menyusul ya!" ujar pria itu lalu pergi meninggalkan William. "Terima kasih," balasnya lalu kembali melakukan pekerjaannya lagi. Matahari kian meninggi. Membuat banyak pekerja lain mulai menghentikan pekerjaannya dan beralih pada makanan yang telah disiapkan oleh tempat kerja mereka. "Hei William, mau makan siang tidak? Aku sudah lapar," pekik Nico sembari berjalan ke arah pria itu. William mengedarkan pandangannya, dan hanya tersisa beberapa dari mereka yang teteap bekerja. Tangannya pun akhirnya melepas pegangan pada palu yang ia gunakan. "Ayo kita makan," ujar William lalu berbalik dan berjalan menghampiri Nico. Akhirnya kedua pria itu memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum akhirnya melanjutkan pekerjaan mereka. Mereka pergi menuju tempat yang memang digunakan untuk membagikan makan siang mereka. Sesampainya di tempat itu, beberapa kursi telah di tempati. Suasananya bahkan sangat ramai, karena pekerja di tambang itu terdiri dari ratusan atau bahkan hingga ribuan orang. Nico dan William langsung mengambil makanan mereka dari salah seorang pekerja yang bertugas untuk memasak untuk para pekerja tambang. "Apa menu makan siang hari ini?" tanya kepada wanita paruh baya yang sibuk menyiapkan beberapa porsi makanan sekaligus. Wanita itu kemudian terdiam dan menatap Nico. "Roti gandum seperti biasa. Jangan mengambil ganda, karena semuanya telah dihitung sesuai porsi jumlah karyawan," ujar sang wanita itu lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. William langsung mengambil 1 porsi roti gandum yang telah disiapkan lalu mengambil air mineral, begitu pula dengan Nico yang turut mengikutinya. Setelah mendapatkan makanan mereka, mereka pun mencari tempat duduk kosong. Untunglah salah satu kursi yang terletak diujung tidak diisi oleh siapapun. "Duduk di sana saja," ajak William lalu berjalan mengarah ke tempat itu dan bersama Nico mereka akhirnya duduk di sana. William meletakkan piring miliknya dan mengambil posisi ternyamannya. Ia langsung menyantap roti gandum dan telur miliknya dengan lahap. "Astaga wanita tua yang memasak tadi sangat tidak enak dilihat sekali. Dia bahkan begitu jutek. Padahal aku hanya bertanya dan berusaha mencairkan suasana, tapi dia begoitu dingin," ujar Nico lalu memulai makan siangnya. "Mungkin saja dia sedang lelah. Bagaimana jika ternyata yang bertanya tidak hanya kau saja? Mungkin kau akan merasa kesal jika terus diberi pertanyaan sama meski dari orang yang berbeda," jawab William sembari menyantap makan siangnya. Nico menghentikan makannya dan menatap WIlliam. "Istrimu benar - benar hamil? Aku bahkan sangat terkejut mendengar beritanya," ujar Nico. William tersenyum senang saat temannya itu menyinggung kehamilan istrinya. "Benar. Aku bahkan sampai terkejut. Aku tak menyangka jika dirinya benar - benar hamil," balas William. "Selemat untukmu, Wil. Aku tahu kau pasti akan mendapat seorang anak yang pintar dan akan bangga karena memiliki Ayah sepertimu," ujar Nico. Nico dan William kembali menyantap makan mereka lalu tiba - tiba seorang pekerja lain berjalan melewati mereka bersama temannya sembari bercengkrama. "Aku dengar raja akan datang ke Adarlan untuk memberikan kemuliaan kepada beberapa orang terpilih," ujar pria itu lalu pergi berjalan melewati Nico dan William. Nico dan William pun berhentii makan dan menatap satu sama lain. "Kau mendengarnya?" tanya Nico. "Tentu saja," jawab William. "Kita harus mencari membuat istrimu mendapatkan kemuliaan itu. Mungkin saja nanti anakmu akan menjadi raja?" ujar Nico. Mereka pun akhirnya menyelesaikan makan siang mereka dan kembali bekerja hingga matahari terbenam. * * * * * Langit semakin gelap, menandakan pekerjaan para penambang batu bara untuk hari ini telah usai. William pulang dengan semangat dengan sebuah pamflet mengenai kedatangan raja esok hari di tangannya. Dirinya tak sabar akan memberitahu istrinya mengenai berita tersebut. Tok ! Tok ! Tok ! Tangannya dengan semangat mengetuk pintu rumahnya yang terbuat kayu itu. Tak berapa lama kemudian, wanita yang paling ia cintai itu keluar dari dalam. Namun kondisinya berbanding terbalik dengan kemarin. Wajahnya bahkan terlihat murung dan penampilannya berantakan. "Ada apa?" tanya William yang kebingungan saat melihat Sagira yang sedang dalam kondisi tidak baik - baik saja. "Maafkan aku," ujar Sagira. "Maaf? Maaf untuk apa?" tanya William lagi yang semakin bingung dengan ucapan Sagira. "Mungkin sebaiknya kau masuk lebih dulu," ujar William lalu membuka pintu rumahnya lebih lebar lagi dan mempersilakan William masuk. William masuk ke dalam dengan masih diselimuti tanda tanya di dalam kepalanya. "Ada apa?" tanya William lagi. "Maafkan aku!" pekik Sagira lalu menghamburkan dirinya ke dalam pelukan William. "Hei jangan peluk aku dulu, aku masih bau sayang," ujar William lalu mengangkat kedua tangannya karena tak ingin mengotori baju Sagira. Sagira tak melepas pelukannya pada William. Ia justru mengeratkan tangannya dan mulai menangis. "Apa yang terjadi? Ceritakan padaku," ujar William lalu melepas kaitan tangan Sagira pada pinggangnya dan menatap matanya yang mulai memerah karena menahan air matanya. Sagira menatap William. Perlahan air matanya jatuh membasahi pipinya. "Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga anak kita," ujar Sagira sembari terisak. "Tidak bisa menjaganya? Apa maksudmu?" tanya William lalu menundukan badannya dan mensejajarkan wajahnya dengan Sagira. "Aku... A - aku keguguran," ujar Sagira lalu menangis dengan kencang. Tubuh William mematung. Pamflet yang ada di tangannya bahkan terjatuh saat mendengar berita Sagira yang keguguran, padahal ia baru saja merasa senang karena mendapatkan seorang anak. "A - apa? Ba - bagaimana bisa?" tanya William pada Sagira lalu memegangi bahu Sagira dan menatap sorot mata Sagira. Sagira terisak dan bahkan belum bisa menjawab pertanyaan William. Akhirnya pria itu luluh pada tangisan Sagira dan memeluk tubuh mungilnya. "Maafkan aku. Maaf aku tidak bisa menjaga kalian dengan baik," ujar William sembari menciumi puncak kepala Sagira dengan lembut. "Ini bukan kesalahanmu. Ini salahku, Wil," balas Sagira lalu melepaskan pelukan William padanya. Sembari terisak, Sagira menjelaskan apa yang terjadi padanya. "A - aku tadi sedang menyiapkan beberapa makanan di balai desa karena katanya Raja akan datang kemari. Jadi aku ikut dengan yang lain untuk mempersiapkan kedatangan Raja. Aku mungkin kelelahan tiba - tiba tidak sadarkan setelah mengalami sakit yang luar biasa pada perutku. Dan saat aku tersadar, dokter mengatakan aku sudah kehilangan anak kita," ujar Sagira susah payah dengan isakan tangisnya. William kembali memeluk Sagira. "Tidak apa. Semuanya akan baik - baik saja. Cepat atau lambat kita pasti akan memiliki anak lagi. Jangan menyalahkan dirimu seperti itu sayang," ujar William sembari memeluk tubuh Sagira. Cukup lama bagi William untuk menenangkan Sagira agar berhenti menangis. Hingga akhirnya wanita itu tak lagi terdengar isakan tangisnya. "Sepertinya kau mengantuk karena kelelahan hari ini. Bagaimana jika tidur saja? Nanti aku menyusul setelah mandi," ujar William sembari merenggangkan pelukannya pada Sagira dan menatap wanita itu. Sagira menganggukan kepalanya lemah. William pun menyadari jika wajah Sagira memucat. Tanpa bertanya, William mengangkat tubuh Sagira ke dalam dekapannya dan membawa tubuh wanita itu ke dalam kamar mereka. Sagira pun langsung mengalungkan tangannya ke leher William dan membiarkan wanita itu mengangkat tubuhnya. Sesampainya di dalam kamar, William langsung meletakkan tubuh Sagira di atas tempat tidur mereka lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Sagira. "Tidurlah lebih dulu. Aku tahu kau lelah hari ini karena pergi ke balai desa. Aku mandi dulu, nanti aku menyusul," ujar William. Saat hendak beranjak dari sisi Sagira, wanita itu menahan lengan kekar pria itu hingga William kembali menoleh dan menatap Sagira yang wajahnya kain memucat. "Aku dengar besok Raja akan datang dengan seorang peramal handal. Bagaimana jika aku datang menemuinya? Aku dengar dia juga berhasil membaca garis takdir Raja," ujar Sagira. William kembali teringat pada sosok wanita peramal yang ia datangi. Memang benar Sagira hamil setelah William mendapatkan ramalan itu, tapi William kembali kesal mengapa mereka hanya dititipkan seorang anak sesaat tanpa pernah melihat wajah anak mereka sendiri? "Tidak usah. Kita tidak perlu ke peramal lagi. Besok kita hanya akan ikut datang menyambut Raja," ujar William lalu melepaskan kaitan tangan Sagira pada lengannya dan pergi keluar dari kamar mereka. William berjalan keluar dari kamar dan langsung terdiam. Dirinya melihat pamflet yang sedari tadi dipegang olehnya. "Apakah kami benar - benar tidak bisa memiliki anak? Apakah seburuk itu pernikahan kami sampai kami tidak diizinkan untuk memiliki keturunan sendiri? Mengapa langit tidak mempermudah segalanya untuk kami?" gumam William lalu meremas pamflet itu dan membuangnya ke dalam tong sampah. Kakinya berjalan ke arah kamar mandi, namun kembali terhenti saat melihat makanan yang tersaji di atas meja makan. "Dia benar - benar kelelahan hari ini. Seharusnya aku menjaganya dengan lebih baik," ujarnya. William kembali melanjutkan langkahan kakinya dan masuk ke dalam kamar mandi. Setibanya di kamar mandi, William melepas pakaian yang telah kotor dan basah akibat keringat. Satu tangannya mengambil air dengan menggunakan gayung dan mulai membasahi dirinya dengan air dingin sembari memikirkan tentang seorang peramal yang ingin didatangi oleh Sagira besok. Setelah selesai membersihkan diri, William mengambil pakaian bersih dari dalam kamarnya dan melihat Sagira yang tertidur pulas. William berjalan mendekati tempat tidur mereka lalu duduk di tepi dan mengusap kepala Sagira lembut. "Jangan bersedih. Aku akan tetap ada di sini untuk menjagamu dan bersamamu. Nanti kita akan coba bertemu dengan peramal itu. Aku akan meminta ramalan lain yang mungkin saja kali ini benar. Aku juga akan meminta kemuliaan raja yang akan mendatangkan anak pada kita. Maafkan aku karena tak ada di sampingmu saat kau membutuhkanku," ujar William perlahan. Tubuh Sagira menggeliat saat merasakan sentuhan pada tubuhnya. "Maaf aku mengganggu tidurmu," sambung William lalu mencium kening Sagira lembut dan beranjak dari sana. Usai mengenakan pakaian, William pun mengambil posisi tidur di samping Sagira dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Akhirnya mereka tidur bersama dalam pelukan di tengah malam yang dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN