[4]

1697 Kata
Sagira bangun di pagi hari untuk mempersiapkan sarapan untuk dirinya dan juga William sebelum mendatangi acara penyambutan raja. Langkahan kakinya berhenti di depan meja makan dengan makanan yang masih utuh di atasnya. "Apa dia benar - benar lelah kemarin sampai belum makan sedikitpun?" gumam Sagira. Sagira pun mengambil makanan itu dan memindahkannya ke dalam wadah lain untuk nantinya diberikan ke hewan - hewan kecil yang sering mendatangi rumah mereka. Sagira mengambil beberapa kentang dan mulai merebusnya dengan air garam. Sambil menunggu kentang menjadi lembek, wanita itu pun membersihkan dirinya terlebih dahulu dengan melakukan mandi di pagi hari. Beberapa menit kemudian, Sagira selesai membersihkan diri. Baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dirinya langsung mendapati William yang sudah duduk di meja makan sembari menyantap kentang yang sebelumnya sudah direbus oleh Sagira. "Oh sudah bangun?" ujar Sagira saat melihat William yang tengah memakan kentang rebus. William menolehkan pandangannya, mendapati Sagira yang masih berbalut handuk dan baru saja keluar dari kamar mandi. "Aku terbangun karena suara gemericik air. Aku lihat kentangnya sudah matang, jadi aku tiriskan dan memakannya," ujar William dengan mulut yang dipenuhi oleh kentang rebus yang baru saja ia gigit. Sagira tersenyum. "Kau belum makan dari semalam kan? Makanlah yang banyak. Aku akan berpakaian sebentar," ujar Sagira. Sebelum Sagira pergi, William pun menahan tangan Sagira dan menatapnya. "Hari ini kita tetap akan pergi ke pusat Kota Adarlan untuk menemui Raja. Aku memikirkan tentang peramal yang ingin kau temui, jadi tak ada salahnya jika mencobanya. Siapa tahu kita benar akan memiliki anak setelah mendapatkan kemuliaan dari Raja," ujar William, Sagira senang mendengar suaminya akhirnya ingin menemui sang peramal seperti yang ia minta tadi malam. "Baiklah. Aku siap - siap sebentar. Sehabis makan, kamu jangan lupa mandi. Nanti kita jalan satu jam lagi," ujar Sagira lalu mencium pipi William dan meninggalkan pria itu di dapur. Setelah selesai bersiap - siap dan menyantap sarapan pagi dengan kentang rebus yang dibuat oleh Sagira, sepasang suami istri itu pun keluar dari rumah dan hendak menuju ke pusat Kota Adarlan. Baru saja keluar dari rumah, William mendapati Nico dan juga Laura -- istrinya, yang sudah berdiri di depan rumah mereka dengan pakain rapi. "Sudah siap? Ayo kita jalan bersama. Aku menyewa kereta kuda menuju Kota Adarlan," ujar Nico sembari menunjuk sebuah kereta kuda berwarna hitam yang berada tepat di halaman rumah William. Mereka pun masuk ke dalam kereta kuda itu dan sang kusir langsung menarik tali kudanya untuk meminta kuda itu berjalan dan menarik kereta yang ada di belakangnya. "Oh ya aku dengar kau kehilangan itu. Aku turut sedih mendengarnya," ujar Laura sembari memegangi tangan Sagira. Sagira tersenyum, "Tidak apa. Mungkin memang belum waktunya bagi kami untuk memiliki anak. Tapi kami yakin, cepat atau lambat, kami pasti akan memiliki anak," ujar Sagira sembari tersenyum. "Kau benar - benar wanita kuat, Sagira," balas Laura. "Terima kasih, kau juga," ujar Sagira. "Kalian belum ada rencana memiliki anak?" tanya William kepada Nico dan Laura yang juga telah menikah selama 2 tahun tapi hingga kini belum memiliki anak. "Belum ada. Mungkin tahun depan. Kami sedang menikmati masa berdua sebelum ada kehadiran anak," ujar Laura lalu menatap ke arah Nico dan bersandar di bahu pria itu. Nico pun menyambut kepala Laura dan mengusapnya perlahan. "Kalian benar - benar menikmati masa berdua rupanya," ujar Sagira lalu mereka pun tertawa. "Mungkin saja anak kita akan seumuran," ujar Nico. "Kau benar. Jadi mereka bisa berteman sampai besar seperti kita," balas William. Selama perjalanan mereka pun hanya berbincang mengenai kemungkinan anak mereka yang akan berteman nantinya. Bahkan saling menceritakan masa kecil mereka masing - masing yang begitu menyenangkan. * * * * * Pusat Kota Adarlan Acara Kedatangan Raja dan Pemberian Kemuliaan * Setelah menempuh perjalanan selama 1,5 jam, akhirnya William, Sagira, Nico dan juga Laura tiba di pusat Kota Adarlan. Pusat kota sudah dipenuhi dengan orang - orang dari berbagai desa yang ingin menyambut kedatangan Raja di Kota Adarlan. "Wah ramai sekali," ujar Sagira saat melihat orang - orang yang sudah membentuk barisan untuk menyambut kedatangan Raja yang akan ditujukan menuju rumah peristirahatannya yang ada di Kota Adarlan. "Ayo kita berdiri di sana," ujar Nico sembari menunjuk tempat yang paling dekat dengan rumah Raja di Kota Adarlan. Tak lama kemudian, seorang pengawal istana datang untuk membuka jalan Raja. Pria itu merapikan setiap barisan orang yang berkerumun di sana dan memasang garis pembatas agar tak ada yang membahayakan Raja. "Raja telah tiba!" pekik sang pengawal lalu tak lama kemudian, sebuah kereta kuda yang dilapisi emas melintas dengan lambat. Kuda putih yang gagah bahkan membuat orang - orang terpana. Raja membuka jendela kaca kereta kudanya dan melambaikan tangan menyapa setiap rakyat di Kota Adarlan sembari tersenyum ramah. Hingga akhirnya kereta kuda itu melintas tepat di hadapan William, Nico, Sagira dan Laura. Raja tersenyum menatap ke arah William dan Sagira. Saat kereta kuda melintas, William justru melihat ke arah pantulan seorang wanita yang ada di dalam kereta kuda. Penampilannya mengingatkannya pada seseorang. "Bukankah itu Yuhwa, seorang peramal yang pernah kita datangi?" bisik Nico pada William dan membuat pria itu teringat. Usai Raja melintas, para rakyat pun berbaris dan akan dipilih beberapa orang beruntung yang akan menemui Raja dan diberikan kemuliaan. Pengawal itu berjalan melewati Nico namun terhenti di depan Sagira dan William lalu memberikan sebuah tiket berwarna emas sebagai pertanda mereka bisa masuk ke dalam untuk menemui Raja. Sagira memekik saat mengetahui William yang diberikan tiket emas itu. "Kau beruntung William. Sepertinya kalian memang harus mendapat kemuliaan," ujar Nico. * * * * * William dan Sagira masuk bersama dengan para rakyat Adarlan yang lain ke dalam rumah Raja. Sebanyak 15 orang terpilih untuk menemui Raja dan diberikan kemuliaan. Sepasang suami istri itu berdiri menunggu giliran dengan senyuman yang terus merekah hingga akhirnya giliran mereka pun tiba. "Tidak boleh mendekati Raja apalagi menyentuh Raja," ujar sang pengawal memberikan peringatan sebelum William dan Sagira masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, mereka langsung disambut oleh Matthew sang Raja yang dengan ramah menyapa kehadiran William dan Sagira. Sagira dan William pun langsung berlutut dan memberikan salam hormat mereka kepada Matthew. "Berdirilah, aku menerima hormat kalian," titah Matthew. Mendengar perintah tersebut, William dan Sagira berdiri dan menatap Raja. "Jadi apa yang kalian inginkan? Apakah kalian ingin kemuliaan dengan harta berlimpah atau sebagainya?" tanya Matthew yang menawarkan beberapa penawaran yang akan dia berikan kepada Sagira dan William. "Kami ingin memiliki anak, Tuan. Istri saya baru saja mengandung kemarin tetapi mengalami keguguran," ujar William. Matthew pun beranjak dari singgasana - nya dan berjalan mendekat ke arah William dan Sagira membuat kedua orang itu menunduk. "Aku turut berduka mendengar atas berita kesedihan yang datang dari kalian. Tapi jika memang itu permintaan kalian, aku hanya bisa mendoakan agar langit bisa secepatnya menurunkan anak bagi kalian," ujar Matthew. Matthew pun melirik ke arah sisi kirinya, tepat dimana sang pengawalnya berdiri. Sang pengawal pun berjalan menghampiri Matthew dan memberikan sebuah kantung besar berwarna emas. "Ini, aku akan memberikan kalian beberapa tiram yang konon bagus untuk kesehatan. Ambilah dan nikmati berdua," ujar Matthew sembari memberikan kantung itu kepada William. William dan Sagira yang mendengar itu tersentak. "Sepertinya kami tidak pantas menerimanya, Tuan. Terlebih itu adalah makanan yang sangat mahal," ujar William. Matthew menarik tangan William dan menaruh kantung itu di telapak tangan William. "Nikmati bersama istrimu. Aku akan berdoa pada langit agar kalian segera diberikan kehadiran buah hati," ujar Matthew. "Te - terima kasih, Tuan! Saya sangat berterima kasih atas kemuliaan dan kemurahan hati anda! Semoga anda akan selalu diberikan kesehatan," ujar William, Matthew tertawa mendengarnya lalu menepuk bahu William. "Terima kasih juga," ucap Matthew. Setelah mendapatkan tiram dan kemuliaan dari Matthew, William dan juga Sagira keluar dari ruangan itu. "Astaga aku tidak menyangka kita akan bertemu dengan Raja. Beliau sangat bermurah hati. Aku pikir akan menyeramkan berada di dalam sana," ujar Sagira yang merasa senang setelah bertemu dengan Matthew sang Raja dari Kerajaan Odor. "Semoga kita secepatnya akan memiliki anak. Malam ini kita makan tiram dan kita ajak juga Nico serta Laura untuk menikmati makanan mahal ini bersama," ujar William. Baru saja mereka melangkah keluar dari ruangan Matthew, tiba - tiba langkahan kaki mereka terhenti saat berpapasan dengan seorang wanita yang menggunakan jubah berwarna hitam. Wanita itu membuka penutup kepalanya dan menatap William. Sontak, William langsung terdiam dan mengenali wanita itu. "Kau?" ujar William sembari menunjuk wajah Yuhwa. "Aku merasakan ada sesuatu yang aneh di sini," ujar Yuhwa lalu melempar tatapannya ke arah Sagira yang berdiri di sebelah William. "Maaf, anda siapa?" tanya Sagira kepada Yuhwa. Yuhwa pun mengulurkan tangannya, "Perkenalkan, aku Yuhwa. Seorang peramal kerajaan Odor. Aku juga yang memberikan ramalan kepada suamimu beberapa waktu yang lalu," ujar Yuhwa. Sagira terkejut mendengarnya dan langsung memberikan salamnya saat tahu jika Yuhwa adalah sang peramal dari Kerajaan Odor yang terkenal bahwa ramalannya tak pernah meleset. "Apa yang kau lakukan?" tanya William dengan nada sinis kepada Yuhwa dan Sagira yang mendengarnya langsung menyikut perut William. "Aku mendatangi kalian karena sepertinya ada yang salah," ujar Yuhwa. "Tentu saja ada yang salah. Kau berkata kami akan memiliki anak, tapi kemarin istriku keguguran. Padahal dia bukan wanita lemah yang mudah kelelahan," ujar William. Yuhwa mengulurkan tanganya pada Sagira, "Boleh aku meminta tanganmu?" tanya Yuhwa. Sagira pun langsung memberikan tangannya dan Yuhwa langsung membaca garis tangan Yuhwa dan memeriksa denyut nadi wanita itu. "Tubuhmu baik - baik saja. Tapi entah mengapa aku merasakan energi yang cukup besar dari dalam perutmu. Sepertinya anak yang kalian kandung bukanlah jiwa biasa. Anak itu adalah seseorang spesial yang diberikan oleh langit kepada kalian. Tapi karena tubuh istrimu tidak mampu menerimanya dengan baik, istrimu jadi keguguran," ujar Yuhwa. Yuhwa tampak merogoh sakunya dan mengeluarkan sebotol kecil cairan berwarna biru. "Coba gunakan ini setiap kali kalian berhubungan. Minumlah setidaknya satu tetes untuk memperkuat rahim kalian. Sejak awal kau datang aku sudah mengetahui akan ada sesuatu istimewa yang datang," ujar Yuhwa lalu memberikan botol itu pada Sagira. Sagira menerimanya dengan senang hati. "Tapi kami tak memiliki uang untuk membayarmu," ujar William. "Tidak perlu. Anggap saja ini bagian sisa ramalan yang terlupakan. Semoga anak spesial yang dititipkan pada kalian akan segera terwujud," ujar Yuhwa lalu ia pun pergi masuk ke dalam ruangan Matthew. Sedangkan William dan Sagira hanya menatap ke arah punggung Yuhwa yang menghilang di balik pintu dan melihat ke arah botol kecil yang ada di tangan Sagira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN