[5] The High Priestess

1641 Kata
Setelah bertemu dengan Raja, William dan Sagira langsung mengundang Nico dan Laura yang mengajak mereka ke kota untuk makan malam dengan tiram yang diberikan oleh Matthew pada mereka secara langsung. "Wah aku iri sekali dengan kalian bisa menemui Raja. Apakah beliau benar - benar gagah seperti kata orang - orang? Dan murah hati?" tanya Laura sembari menarik kursi di meja makan untuk ikut duduk bersama dengan William dan juga Sagira. "Raja Matthew benar - benar murah hati seperti kata kebanyakan orang. Ia bahkan memberikan tiram ini dengan mudahnya. Pantas saja banyak orang yang berbondong - bondong ingin mendapatkan kesejahteraan dan kesehatan darinya," ujar Sagira sembari menunjuk ke arah tiram yang telah ia rebus dan bumbui sebisanya. "Ini pertama kalinya aku memakan tiram. Makanan ini benar - benar mahal," sahut Nico. "Kalau begitu ayo kita makan," ujar William lalu mulai mempersilakan Nico dan juga Laura untuk itu memakan tiram yang diberikan oleh Matthew. Keempat orang di atas meja makan itu mulai mengambil masing - masing 2 tiram untuk mereka cicipi. Mata mereka berbinar bersamaan saat tiram itu menyentuh lidah mereka. "Pantas saja ini sangat mahal, rasanya sangat enak," gumam Sagira sembari memakan tiram miliknya. "Teksturnya sangat lembut," ujar Laura. Mereka pun menghabiskan 20 tiram yang dibagi menjadi masing - masing 5 dan dalam sekejap, tiram itu sudah berada di dalam perut mereka. Kini hanya tersisa cangkang tiram yang sudah tak lagi ada isinya. "Aku sangat menikmati makan malam ini, Sagira. Terima kasih banyak sudah mengundang kami," ujar Nico kepada Sagira dan juga William. "Aku juga berterima kasih karena kalian selalu membantu aku dan Sagira. Anggap saja ini sebagai bayaran kami atas bantuan kalian," ujar William, "Tidak perlu merasa berhutang. Kami selalu melakukannya dengan senang hati. Lagi pula kalian berdua juga teman sejak kecil kan," balas Laura. Setelah selesai makan, Laura dan Nico pun berpamitan dengan William dan Sagira. "Kalau begitu kami pamit ya. Terima kasih atas makan malamnya. Kami sangat menikmatinya," ujar Nico sembari melangkahkan kakinya keluar dari rumah Sagira dan William. Sepasang suami istri itu pun turut mengantar teman mereka sampai ke ambang pintu. Lalu melambaikan tangan mereka sebagai tanda perpisahan mereka malam ini. William dan Sagira kembali masuk ke dalam rumah. Sagira langsung berjalan menuju tempat meja makan dan memindahkan piring - piring sisa makan mereka ke dalam tempat cuci piring. William juga berjalan menghampiri sang istri dan membantu wanita itu membereskan sisa makan malam mereka. "Kau menyukainya?" tanya William sembari memindahkan piring kotor ke dalam tempat cuci piring yang selanjutnya akan dicuci oleh Sagira. Sagira menolehkan kepalanya dan menatap William, "Tentu saja aku menyukainya. Aku tak pernah merasakan sebahagia ini dalam hidupku," ujar Sagira lalu mulai mencuci piring kotor yang ada di hadapannya. William tak beranjak pergi dari dapur, pria itu justru menarik kursi di meja makan dan memutarnya hingga menghadap ke Sagira. "Aku akan selalu menunggu dan berusaha sampai kita memiliki anak kelak. Mungkin saja yang dikatakan oleh sang peramal itu benar, bahkwa anak kita adalah anak istimewa," ujar William. "Sekarang kita hanya perlu bersabar dalam menunggu. Cepat atau lambat, langit pasti akan menitipkan anak lagi untuk kita," balas Sagira. William beranjak dari duduknya lalu memeluk pinggang ramping Sagira dan mencium wantia itu dari belakang. "Aku mencintaimu," ujar William. "Aku juga mencintaimu," balas Sagira. * * * * * 2 tahun kemudian . . . William sibuk memindahkan batu bara yang telah ia hancurkan dengan menggunakan gerobak ke tempat pengumpulan batu bara di tempatnya bekerja. Sudah 2 tahun sejak ia dan istrinya bertemu dengan Matthew, namun hingga detik ini, pria itu belum menemukan tanda kehamilan pada istrinya. Hingga Sagira berulang kali mengingatkan pada William untuk tetap sabar dan menanti kehadiran buah hati mereka. Saat dirinya baru saja memindahkan batu bara ke tempat pengumpulan, tiba - tiba seorang wanita berlari ke arahnya. Tak sendiri, wanita itu berlari bersama dengan suami sekaligus teman masa kecilnya, Nico. "William!" pekik Laura sembari berlari ke arah William. William meletakkan gerobak yang ia bawa dan menatap Laura yang masih berlari ke arahnya bersama dengan Nico. Hingga akhirnya sepasang kekasih itu tiba di hadapan William. "Ada apa?" tanya William yang bertanya - tanya mengapa kedua orang itu berlarian ke arahnya. Napas Laura dan Nico terdengar memburu. "Sa - sagira," ujar Nico sembari berusaha mengatur napasnya. "Sagira? Kenapa dengan Sagira?" tanya William. "Sagira di - dilarikan ke pusat kesehatan," sambung Laura. Mendengar istrinya yang dilarikan ke pusat kesehatan, William langsung meninggalkan gerobaknya dan keluar dari area pertambangan. Sedangkan Laura dan Nico yang masih tersengal - sengal hanya bisa menatap kepergian William yang langsung berlari meninggalkan mereka. "Ash - astaga! Aku sudah tidak bisa berlari lagi," ujar Laura sembari berusaha mengatur deru napasnya yang kini sudah mulai stabil. William berlari hingga dirinya tiba di pusat kesehatan tanpa memperdulikan jarak yang cukup jauh untuk ia tempuh dengan berjalan kaki. Bahkan pikirannya hanya berpusat pada Sagira yang kini berada di pusat kesehatan. William sama sekali tak mempedulikan jarak dan napasnya yang kian melemah seiring dengan kecepatannya yang mulai melambat. Akhirnya William tiba di tempat pusat kesehatan yang ada di Desa Solandis, Kota Adarlan. William buru - buru masuk ke dalam pusat kesehatan. Dirinya mencari posisi istrinya di antara ranjang perawatan yang berisikan beberapa wanita lain. Lalu matanya pun menangkap sosok wanita yang ia kenali dan langsung berlari ke arahnya. "Sagira," panggil William dan langsung memegangi tangan wanita itu, Sagira menoleh dan menatap William. "Kenapa kemari?" tanya Sagira yang tampak kebingungan karena William yang datang dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja. "Pasti Laura memberitahumu aku dilarikan ke pusat kesehatan ya?" tanya Sagira lagi. "Kau tidak apa - apa?" tanya William yang khawatir sembari melihat tubuh istrinya dari ujung kepala sampai dengan ke ujung kaki. "Aku baik - baik saja. Dokter sudah memeriksaku. Aku tinggal menunggu hasilnya," ujar Sagira. Selang beberapa saat kemudian, Laura dan Nico pun hadir di sana dan langsung menghampiri ranjang Sagira. "Wil," panggil Nico. William menoleh dan melihat Nico yang sudah berdiri di belakangnya. "Aku sudah sampaikan izin kerjamu pada bos. Aku mewakilimu karena tadi kau langsung berlari pergi tanpa mengisi absen pulang," tambah Nico. "Terima kasih banyak, kau memang selalu mengerti tentangku," ujar William, Seorang perawat datang menghampiri Sagira dan membuka sebuah amplop berwarna putih yang selanjutnya dibacakan di hadapan Sagira, William, Nico dan juga Laura. "Kami sudah melakukan pemeriksaan dari hasil tes darah Nona Sagira, tapi sepertinya tidak ada yang bermasalah," ujar sang perawat. "Tapi tadi dia pingsan di halaman depan rumahnya. Mana mungkin ia baik - baik saja? Aku sangat khawatir pada Sagira, jadi aku membawanya kemari," ujar Laura yang menjelaskan situasi bagaimana dirinya bisa memutuskan untuk membawa Sagira ke pusat kesehatan. Sang perawat tampak berpikir sejenak. "Apakah Nona Sagira sedang hamil? Itu bisa saja terjadi," ujar sang perawat. "Hamil? Mana mungkin? Aku bahkan masih lancar mendapatkan tamu bulanan," balas Sagira. "Bagaimana kalau dicoba dulu saja? Aku juga heran kenapa kau bisa sampai pingsan seperti itu," sahut Laura. "Kalau begitu saya akan siapkan alat uji kehamilannya," ujar sang perawat lalu pergi meninggalkan mereka. Sagira tampak melihat ke langit - langit ruangan itu dan berpikir sembari menghitung kapan terakhir kali ia mendapat tamu bulanan. "Berdoa saja yang terbaik, Wil. Mungkin saja ini menjadi waktu yang paling tepat bagi kalian untuk memiliki seorang anak," ujar Nico sembari meremas bahu William yang masih setia duduk di samping tanjang Sagira. Tak berapa lama kemudian, sang perawat kembali datang dengan sebuah alat uji kehamilan dan ia berikan kepada Sagira. "Mari saya antarkan ke kamar mandi, Nona," ajak sang perawat sembari membantu Sagira untuk bangun dan bangkit dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Dalam hati William, pria itu berharap cemas. Setiap kali ia menunggu hasil uji kehamilan Sagira, dirinya akan selalu antusias dan takut di waktu yang sama. Bagaimana tidak, sudah lebih dari 1 tahun semenjak mereka mendapat kemuliaan tetapi hingga saat ini belum ada tanda kehadiran dari buah hati mereka. "Mau ikut?" tanya Sagira kepada William yang tampak termenung sembari menundukan kepalanya. Merasa dirinya ditanyai oleh sang istri, William pun mendongakan kepalanya dan menatap Sagira kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku menunggu di sini saja," jawab William. "Aku saja yang menemanimu, Sagira," ujar Laura lalu berlari kecil menghampiri Sagira yang hendak melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Kini hanya tinggal William dan Nico yang menunggu hasil pemeriksaan kehamilan Sagira. Beberapa menit pun berlalu, Laura berjalan mendahului Sagira dan menatap William serta Nico bergantian. Tubuhnya bergeser ke samping kemudian mempersilakan Sagira yang berjalan ke arah Sagira. Tanpa berkata - kata wanita itu langsung memeluk leher William dengan erat. "Negatif lagi ya?" tanya William lalu membalas pelukan hangat Sagira. Sagira melepaskan pelukannya dan menunjukan alat uji kehamilan itu pada William sembari tersenyum senang. "Aku hamil," ujar Sagira. William sontak langsung berdiri dan mengambil alat uji kehamilan dari tangan Sagira seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa? Yang benar?" tanya William lalu melihat alat uji kehamilan itu. 2 buah garis berwarna merah tergambar dengan jelas di alat itu dan William langsung tersenyum senang dan memeluk tubuh mungil Sagira hingga wanita itu terangkat. "Aku akan menjadi seorang Ayah!" pekik William. William melepas pelukannya dan menatap Sagira yang juga sama bahagianya. Bahkan Nico dan Laura juga turut berbahagia mendengar berita kehamilan Sagira. "Ini bukan mimpi kan?" tanya William kepada Sagira. William bahkan menampar pipinya sendiri karena takut ia sedang bermimpi. Namun bukannya terbangun dari mimpi, William justru merasakan pipinya yang panas sekaligus sakit akibat tamparannya dan menandakan ini bukanlah mimpi. "Astaga aku akan menjadi seorang Ayah!" pekik William lagi lalu mencium Sagira. Sang perawat yang tadi membantu Sagira memeriksa kehamilannya pun datang dengan sebuah kantung berisi obat - obatan dan juga vitamin untuk Sagira. "Ini ada sedikit vitamin dan suplemen untuk Nona Sagira. Mohon diminum dan dihabiskan. Jika merasa lemas sebaiknya istirahat dan jangan memaksa diri ya," ujar sang perawat itu lalu pergi meninggalkan Sagira. William memegangi bahu Sagira dan menatap wanitanya, "Tenang saja, kali ini aku akan selalu menjagamu. Aku tidak akan membiarkan kejadian yang sama kembali terulang," ujar William.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN