Desa Solandis, Kota Adarlan
*
9 bulan kemudian . . .
Akhirnya kehamilan Sagira menyentuh batas akhirnya. Selama 9 bulan kehamilan Sagira, wanita itu selalu berhati - hati dalam bertindak karena tidak mau kehilangan bayi mereka. Bahkan William rela bolos kerja beberapa kali hanya karena ingin menemani wanita itu di masa kehamilannya.
Hari ini, kehamilan Sagira baru saja menginjak usia 9 bulan. Dirinya kesulitan berjalan berkat perutnya yang kian membesar dan membuat dirinya sulit bergerak. Untuk membersihkan rumah, William bahkan sampai turun tangan untuk membantu istrinya.
Sedangkan Laura dan Nico masih belum memiliki anak hingga sekarang . Alasannya masih sama, ingin menikmati masa berdua sebagai sepasang kekasih tanpa kehadiran anak. William dan Sagira sendiri bingung kenapa sepasang suami istri itu memilih jalan demikian, sangat berbanding terbalik dengan William dan Sagira yang sangat ingin memiliki keturunan dari cinta mereka.
"Kamu hari ini gak pergi bekerja lagi?" tanya Sagira saat melihat William yang sibuk melipat baju yang baru saja ia angkat dari tempat jemuran.
William berhenti melanjutkan aktifitasnya dan menatap Sagira yang memiringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan mata cokelat yang menatapnya.
"Aku mengambil cuti selama 2 minggu karena istriku akan melahirkan. Aku juga sudah mengatakan kehamilanmu sudah menginjak 9 bulan, mungkin cepat atau lambat bayi kita akan segera lahir," ujar William.
"Jangan terbiasa cuti seperti itu. Aku jadi tidak enak pada Nico yang sudah rela memberikan pekerjaan itu untukmu. Walau teman, tetap saja Nico adalah atasanmu di tempat kau bekerja," balas Sagira.
"Tidak perlu khawatir tentang itu sayang. Aku yakin Nico juga mengerti dengan kondisi kita," ujar William.
"Kau benar. Nico benar - benar mengerti tentangmu. Dia pasti tahu bagaimana dan seberapa inginnya dirimu yang ingin memiliki anak," ujar Sagira.
Saat Sagira hendak bangkit, tiba - tiba ia merasa nyeri melanda perutnya hingga wanita itu meringis kesakitan dan kembali tertidur.
"Arrghhh!" ringis Sagira saat merasa perutnya yang terasa nyeri dan mengalami kontraksi.
Mendengar Sagira yang merintih kesakitan, William langsung meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri Sagira yang tampak kesakitan sembari memegangi perutnya.
"Sayang, ada apa ?" tanya William yang kebingungan sekaligus khawatir pada Sagira karena wanita itu tiba - tiba saya merintih kesakitan.
"Pe - perutku! Argggh! Sa - sakit sekali!" ujar Sagira.
Baru saja Sagira mengatakan demikian, tiba - tiba air keluar membasahi ranjang yang ditempati oleh Sagira hingga membasahi baju yang ia kenakan.
"Sepertinya air ketubanku pecah!" ujar Sagira saat merasakan sesuatu yang basah keluar dari dalam perutnya.
"Tunggu sebentar," ujar William lalu pergi meninggalkan Sagira yang masih merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.
William langsung berlari keluar dan pergi menuju rumah Nico dan Laura. Mengetuk pintu dengan begitu cepat. Hingga Laura yang ada di dalam langsung keluar.
"Astaga, ada apa?" tanya Laura saat melihat William yang berdiri di depan pintunya dengan peluh keringat yang menetes membasahi pelipisnya.
"Sagira, sepertinya ia akan melahirkan," ujar William.
Laura terkejut saat mendengar penuturan William.
"Bukankah jadwalnya sekitar 1 minggu lagi? Astaga, tunggu sebentar," ujar Laura lalu masuk ke dalam dan tak berapa lama kemudian wanita itu kembali keluar.
"Nico sedang pergi ke pertambangan. Sebaiknya kita pergi ke rumah perawat. Aku mendengar salah seorang wanita yang biasa membantu melakukan persalinan di dekat sini," ujar Laura.
Akhirnya mereka berdua pun pergi menuju ke rumah seorang perawat yang dimaksud oleh Laura. Setelah menemui sang perawat yang secara kebetulan sedang berada di rumahnya, akhirnya mereka bertiga dengan terburu - buru langsung pergi menuju rumah William.
Brak !
William membuka pintu rumahnya dengan begitu kencang dan langsung berlari menuju kamarnya. Ia pun menemukan Sagira yang masih memegangi perutnya dengan kondisi tempat tidur yang sudah basah akibat air ketuban yang pecah.
Sang perawat itu langsung mengambil kain dan mempersiapkan seluruh perlengkapan untuk membantu proses persalinan Sagira.
"Ikuti kata - kata saya untuk menarik napas ya, Nona," ujar sang perawat itu sembari melihat ke arah area kewanitaan Sagira dimana bayi itu akan keluar.
William langsung memasang badan dan duduk di samping Sagira, sedangkan Laura berdiri di ambang pintu menunggu kehadiran bayi dari pasangan William dan Sagira yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.
"Ambil napas dalam satu dua, sekarang Nona," ujar sang perawat.
Sagira pun mengikuti arahan sang perawat itu.
Hingga akhirnya Sagira merejan dengan sekuat tenaga dan tak berapa lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi yang menggema di ruangan itu.
Sang perawat yang berdiri di depan Sagira langsung mengambil sang bayi dan membersihkan tubuhnya. Sedangkan William sibuk menenangkan Sagira yang napasnya masih memburu setelah merejan sekuat tenaga.
"Kau hebat sayang," ujar William lalu mencium kening Sagira perlahan.
"Apa dia baik - baik saja? Bagaimana keadaannya?" tanya Sagira sembari menatap kepada sang perawat yang masih membersihkan tubuh anak William dan Sagira.
Setelah membersihkan tubuh bayi itu dari darah dan kotoran lain, sang perawat menghampiri William dan memberikan bayi itu ke dalam pelukan William, "Dia laki - laki," ujar sang perawat sembari menyerahkan bayi yang telah ia selimuti dengan selimut kecil.
William dengan sigap menggendong bayinya ke dalam dekapan hangatnya. Lalu tubuhnya bergeser sedikit, membiarkan Sagira melihat bayi mereka.
"Ya ampun dia tampan sekali," ujar Sagira saat melihat bayi mungilnya yang masih menangis.
Laura datang menghampiri William dan Sagira dan turut melihat bayi itu.
"Dia benar - benar tampan," sahut Laura.
"Sudah kau beri nama?" tanya Sagira pada William yang tampak terpana pada bayinya.
"Namanya Gerhard Alastair. Dia akan menjadi pria yang istimewa dan gagah seperti orang - orang yang selalu mendoakan kehadirannya selama ini," ujar William sembari menimang bayi kecilnya.
Sang perawat pun bangkit dan membereskan sisa perlengkapan yang tadi ia gunakan untuk membantu kelahiran Sagira.
"Terima kasih banyak," ujar Laura lalu memberikan sekantung kecil wyon untuk sang perawat.
Namun bukannya menerima, sang perawat justru mengembalikan wyon itu kepada Laura.
"Tidak perlu. Saya membantu tetangga saya melahirkan dengan ikhlas. Rasa lelah saya terbayar setelah melihat kelahiran anak yang tampan itu," ujar sang perawat sembari melirik ke arah Gerhard yang perlahan tertidur di dalam dekapan Ayahnya.
"Benarkah? Padahal kami sudah merepotkan," sahut Sagira.
"Benar. Terima kasih karena sudah melahirkan anak laki - laki yang sangat tampan seperti itu," balas sang perawat.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Selamat untuk kalian berdua atas kelahiran anak pertama kalian. Dia pasti akan menjadi anak yang hebat dan dapat diandalkan," sambung sang perawat lalu akhirnya pergi meninggalkan rumah William dan Sagira.
"Aku yakin Nico juga akan senang melihat kelahiran anak kalian. Astaga dia benar - benar sangat tampan. Bagaimana bisa kalian melahirkan bibit seperti ini? Sepertinya aku dan Nico harus memiliki anak agar bisa dijodohkan dengan Gerhard," ujar Laura.
William dan Sagira pun tertawa mendengar celotehan Laura yang terdengar berbahagia dengan kelahiran anak pertama pasangan Alastair itu.
* * * * *
Kamar Yuhwa, Kerajaan Odor
Kota Terassen
*
Perasaan asing akan bahagia dan juga ketakutan tiba - tiba mendera sang peramal kepercayaan kerajaan, Yuhwa. Wanita itu langsung menghentikan kegiatannya yang sedang memakan buah apel sembari membaca buku sejarah tentang bangsa lain yang hidup berdampingan bersama mereka.
Sorot matanya berubah saat dirinya merasakan sebuah kasih sayang sekaligus ancaman yang datang di saat bersamaan.
"Apa ini?" gumamnya sembari menyentuh d**a kirinya yang terasa sesak namun di sisi lain justru merasakan kebalikannya.
Yuhwa meletakkan buku sejarah yang ia baca lalu berjalan ke arah meja tempat ia meletakkan setumpuk kartu tarot yang biasa ia gunakan untuk meramal.
Satu tangannya menarik kursi dan dalam sekejap dirinya sudah duduk di depan meja sembari mulai mengacak kartu yang ada di tangannya kemudian mengeluarkan 3 kartu di atas meja.
"Kenapa rasanya sesak tapi juga membahagiakan?" gumamnya lagi.
"Sepertinya aku harus membalik salah satunya saja," sambungnya lalu mengambil 3 kartu yang tadi ia letakkan secara terbalik lalu ia kocok lagi untuk mengacak susunan kartu.
Dengan mata terpejam, dirinya mengambil satu kartu yang berasal dari tengah tumpukkan kartu yang ada di genggamannya, lalu membalik kartu tersebut di hadapannya.
Secara perlahan Yuhwa membuka matanya dan melihat kartu yang ia ambil.
"The Hierophant?" ujar Yuhwa saat melihat kartu tarot yang keluar di hadapannya.
Kartu tarot The Hierophant memiliki arti seseorang yang mengarahkan orang lain dari keprihatinan material. Seorang pemimpin spiritual atau penasihat. Namun juga memiliki arti kebalikan yakni distorsi kebenaran menyebabkan kemarahan. The Hierophant memberitahukan keterbalikannya, anda menjadi skeptis dari informasi yang diberikan oleh orang lain.
"Apakah ada sebuah kejadian yang baru saja terjadi setelah sekian lama? Atau ada hal lain?" tanya Yuhwa kepada dirinya sendiri.
Dirinya pun teringat pada sebuah ramalam yang pernah ia berikan pada seorang pria pekerja tambang 2 tahun lalu yang ia temui di Adarlan. Dimana saat itu ia mengeluarkan sebuah kartu terlarang yang ia yakini sudah ia sembunyikan agar tidak pernah keluar. Namun nyatanya kartu itu keluar.
"Jika ini memang benar ada keterkaitannya dengan kehamilan atau anak dari wanita itu, mungkin akan ada bencana dan juga kemuliaan yang datang dari langit," gumamnya sembari mengingat terkait ramalan kehamilan yang diminta oleh William 2 tahun silam.
Bahkan ketika Sagira mengandung dan mengalami keguguran, Yuhwa bisa merasakan ada energi besar yang tertinggal dari tubuh wanita itu. Makanya Yuhwa memberikan sebuah ramuan buatannya untuk memperkuat tubuh Sagira supaya bisa menampung kekuatan yang cukup besar yang berasal dari janinnya.
Angin berhembus cukup kencang, memasuki kamar Yuhwa hingga membalik buku yang semula terbuka di atas tempat tidur Yuhwa hingga bergeser ke beberapa halaman berikutnya.
Mata Yuhwa langsung menangkap sebuah halaman yang memiliki bekas robekan di sana. Ia langsung beranjak dan menatap ke arah buku yang sobek itu.
"Kenapa halaman ini hilang?" tanya Yuhwa.
Tangannya membalik halaman sebelumnya dan tepat di atasnya, terdapat sebuah tulisan yang sudah hampir memudar.
" Gerhard Khrysaor, King Of The Twyla. "
"Twyla? Apa itu kerajaan lain? Setahuku kerajaan di sini hanya ada Odor. Apa ini kerajaan yang sudah hilang? Runtuh? Atau sudah diambil alih oleh Odor?"
Tak mau menghabiskan waktunya memikirkan tentang Kerajaan bernama Twyla itu, akhirnya Yuhwa menutup bukunya. Jarinya mengusap tulisan yang tercetak di atas sampul buku itu.
Buku berjudul Lacoste itu memang telah ada sejak lama di perpustakaan Kerajaan Odor, namun selalu dipindahkan dan disembunyikan seolah - olah tidak ada yang boleh membaca buku sejarah itu. Padahal di sana berisikan tentang sejarah Kerajaan Odor, dimana waktu itu masih dipimpin oleh Raja pertamanya bernama Raizel Garbhan, kakek dari kakeknya Matthew Garbha, -- raja Odor yang sekarang.