Memasuki daerah Kota Adarlan di siang hari, Gerhard dan Nikita pun memutuskan untuk berhenti di sebuah tempat makan yang menjual daging asap. Tempat makan itu tampak ramai diisi oleh orang - orang yang bergantian mengisi perut mereka. Nikita langsung memposisikan Dolunay miliknya di area parkiran bersama dengan Dolunay lain.
"Kenapa berhenti?" tanya Gerhard yang kebingungan karena Nikita berhenti di depan sebuah tempat makan.
"Kita makan dulu. Aku sangat lapar. Kau juga harus makan karena sejak tadi malam belum memakan sesuatu," ujar Nikita kemudian ia pun turun dari Dolunay dan masuk ke dalam area tempat makan.
Gerhard segera menyusul Nikita ke dalam tempat makan. Mata pria itu membulat melihat betapa ramainya tempat makan itu, bahkan ia bisa mencium aroma daging melalui asap yang memenuhi tempat makan itu. Gerhard kemudian menghampiri Nikita yang berada di depan sebuah meja tempat memesan makanan.
"Kau mau berapa porsi?" tanya Nikita pada Gerhard.
"Aku tidak membawa uang banyak, sepertinya harga daging asapnya mahal," jawab Gerhard.
"Kami pesan 6 porsi ya," ujar Nikita.
"Apa?!" pekik Gerhard.
Nikita menoleh menatap Gerhard, "Aku menyuruhmu makan, bukan membayarnya," balas Nikita kemudian pergi meninggalkan Gerhard dan berjalan menuju salah satu meja yang masih kosong.
"Ta - tapi," ujar Gerhard namun ia berhenti mengucapkannya karena Nikita justru pergi meninggalkannya.
Pria itu menyusul menghampiri Nikita dan duduk tepat di hadapan wanita itu, "Bagaimana aku harus membayarnya?"
Nikita memejamkan matanya sembari berpikir dan jarinya menghitung sesuatu, sedangkan Gerhard susah payah menelan ludah karena ketakutan harus membayar seluruh hal yang dilakukan oleh Nikita untuknya dalam bentuk uang.
"Aku mau kau menemaniku selama study tour, bagaimana?" ujar Nikita.
"Apa?!"
"Duduk bersamaku dan bahkan tetap bersamaku selama kunjungan. Hanya itu saja bentuk untuk membayarnya. Kecuali kau punya banyak uang untuk..."
"Oke! Aku akan bersamamu," potong Gerhard cepat sebelum wanita itu berubah pikiran.
"Pemikiran yang bagus," puji Nikita sembari menganggukan kepalanya.
Seorang pelayan pun datang menghampiri meja Gerhard dan Nikita kemudian meletakkan 6 piring daging asap ke hadapan mereka.
"Selamat menikmati," ujar pelayan laki - laki itu kemudian pergi meninggalkan meja setelah meletakkan semua makanan di atas meja.
Mata Gerhard berubah saat ia mencium aroma daging asap dari dekat, baginya ini sama saja seperti makanan mahal lainnya. Bahkan Gerhard bisa menghitung dengan jarinya berapa kali ia makan daging dalam waktu 1 bulan.
"Kita bagi 2. Kau 3 porsi dan aku 3 porsi. Jika kurang, kau boleh memesannya lagi, biar aku saja yang bayar," ujar Nikita kemudian mulai mengambil 1 piring daging asap dan ia santap begitu saja dengan menggunakan alat makan seadanya yang sudah disiapkan di atas piring.
Gerhard menelan ludah melihat Nikita yang sudah memakan daging asap miliknya. Selain aroma yang lezat, Gerhard juga setuju jika ia harus makan terlebih perutnya yang kosong terasa sangat lapar untuk saat ini. Tanpa berpikir lagi, Gerhard akhirnya mengambil 1 piring untuknya kemudian ia santap.
Mata Gerhard berbinar saat daging asap itu menyentuh mulut dan lidahnya, "Astaga!" pekik Gerhard.
Nikita tersentak mendengar pekikan Gerhard dan langsung menatap pria di hadapannya, "Hati - hati panas," ujar Nikita.
"Ini sangat enak," ujar Gerhard.
"Kau suka?" tanya Nikita.
"Sangat!"
"Kau bisa memesannya untuk dibawa pulang kalau kau mau," ujar Nikita.
"Benarkah?"
"Tentu saja," jawab Nikita.
Gerhard kemudian mengangkat satu tangannya dan membuat salah seorang pelayan menghampirinya. Pria itu kemudian memesan 6 porsi daging asap untuk ia bawa pulang. Sedangkan Nikita tampak senang melihat wajah Gerhard yang kembali tersenyum seperti semula.
"Kau harus banyak makan, Gerhard," sahut Nikita.
"Jika makanannya seenak ini, 10 porsi pun tidak masalah," balas Gerhard.
"Yang benar? Apa perlu aku pesan 10 lagi?"
"Tidak! Tidak! Aku akan makan 3 ini dulu."
Nikita pun tertawa mendengar jawaban Gerhard, begitu juga dengan pria itu yang ikut tertawa melihat wanita di hadapannya tertawa.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan makan siang mereka sebelum akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Desa Solandis.
Setelah selesai makan, Gerhard dan Nikita kembali ke dalam Dolunay. Gerhard dan Niktia sama - sama kekenyangan usai menyantap 3 porsi daging asap dengan ukuran besar.
"Terima kasih banyak, Nikita," ujar Gerhard.
"Tidak masalah," balas Nikita.
"Suatu hari nanti aku akan membalasnya dengan mengajakmu makan di tempat itu lagi."
"Oke, aku akan menunggu sampai saat itu tiba."
Nikita kemudian kembali melajukan Dolunay miliknya, meninggalkan area tempat makan menuju Desa Solandis.
Beberapa jam kemudian . . .
Dolunay yang dikemudikan oleh Nikita akhirnya memasuki Desa Solandis, orang - orang di desa itu tampaknya sudah terbiasa dengan Dolunay milik Nikita yang pernah masuk ke Desa itu beberapa waktu lalu. Meski di Desa Solandis sendiri para warganya cenderung menggunakan kereta kuda dan kuda saja, nyatanya mereka nampak biasa saja ketika Dolunay Nikita melintasi jalanan di desa itu.
Setelah beberapa saat melintasi jalanan Desa Solandis, barulah mereka tiba di pemukiman warga yang terletak paling ujung dari jalan desa. Sampai akhirnya mereka berhenti di depan sebuah rumah yang terbuat dari kayu dan dilapisi dengan cat berwarna putih.
Nikita menghentikan Dolunay miliknya tepat di halaman rumah itu, kemudian mematikan mesin Dolunay miliknya dan menatap ke arah Gerhard yang duduk di sampingnya. Pria itu terlihat memejamkan mata sembari menundukan kepalanya dengan posisi duduk.
"Dia pasti masih kelelahan," gumam Nikita.
Tangan Nikita pun terulur mengusap lengan kekar Gerhard yang masih memejamkan mata. Saat tangannya yang dingin menyentuh permukaan kulit Gerhard, perlahan pria itu pun tersadar dan mendongakan kepalanya. Perlahan matanya kian membuka dan mengerjapkannya beberapa kali.
"Sudah sampai?" tanyanya dengan sedikit gumaman di dalamnya.
"Sudah," jawab Nikita.
Gerhard mengucek matanya dengan tangannya kemudian menguap sambil merentangkan tangannya ke arah depan, "Ayo turun," ajak Gerhard kepada Nikita.
Bukannya turun, Nikita justru menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap Gerhard, "Sepertinya aku langsung pulang saja, terlebih hari sudah sore. Aku takut matahari terbenam dan akhirnya kembali menginap di rumahmu, aku takut merepotkanmu Gerhard," ujar Nikita.
"Tidak apa - apa jika kau akan menginap di rumahku, tidak masalah bagiku. Terlebih kau sudah banyak membantuku, Nikita," balas Gerhard.
"Kau harus beristirahat penuh karena energimu pasti terkuras habis. Tidur di ruang tengah tidak terlalu nyaman, jadi tidurlah dengan benar di kamarmu, ya," ujar Nikita.
"Baiklah kalau begitu."
"Sampaikan salamku untuk Ayahmu."
"Akan kusampaikan. Hati - hati di jalan, Nikita," ujar Gerhard.
Nikita menganggukan kepalanya, Nikita pun kembali menyalakan Dolunay miliknya kemudian berjalan mundur hingga keluar dari halaman rumah Gerhard dan kembali melaju meninggalkan Gerhard.
Gerhard melambaikan tangannya melihat kepergian Nikita, dan tepat setelah kepergian wanita itu bersama dengan Dolunay miliknya, pintu rumahnya pun terbuka dan menampilkan sosok William yang berdiri di ambang pintu tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya.
"Ayah!" panggil Gerhard kemudian berlari kecil menghampiri William dan memeluk tubuh pria itu.
William membalas pelukan Gerhard dan berkata kepada anaknya, "Ayah memiliki sesuatu untukmu. Ada hal yang ingin aku katakan," ujar William.
"Begitu juga dengan aku, Ayah. Bagaimana jika kita berbincang di dalam sambil memakan daging asap? Tadi di Kota Adarlan Nikita membelikan daging asap untuk kami dan aku juga membawa pulang daging asap yang kami beli," ujar Gerhard.
"Boleh," ujar William sembari menganggukan kepalanya.
William dan Gerhard pun masuk ke dalam rumah. Kedua pria itu sama - sama duduk di meja makan sambil menatap satu sama lain.
"Dari ekspresimu itu, aku bisa menebak Ibumu belum kembali kan?" tanya William.
Gerhard menundukan kepalanya dengan penuh penyesalan, "Maafkan aku, Ayah," lirih Gerhard.
William memegang tangan Gerhard yang saling berpegangan di atas meja kemudian mengusapnya perlahan, "Jangan membiasakan untuk selalu menyalahkan dirimu sendiri atas kesalahan yang tidak pernah kau perbuat, Gerhard," ujar William.
Tangan William terulur dan mendongakkan kepala Gerhard hingga mata mereka saling bertemu, William bisa melihat dengan jelas mata anaknya yang tampak berkaca - kaca. Tak tega melihat anaknya yang tampak menahan nangis, William kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri Gerhard kemudian merangkul tubuh anaknya yang kini telah menjadi dewasa.
Isakan tangis terdengar dari mulut Gerhard, sebenarnya pria itu sedari tadi berusaha menahan tangisannya di depan Ayahnya, namun mendengar Ayahnya yang tak ingin membiarkan anaknya menyalahkan dirinya sendiri, tangisan Gerhard justru pecah.
"Ma - maafkan aku!" lirih Gerhard di tengah tangisan pilunya.
William masih memeluk Gerhard dan sesekali mengusap punggung anaknya, "Sudah, tidak apa - apa," ujar William.
"Aku gagal membawa Ibu pulang dan menepati janji yang kubuat, Ayah," ujar Gerhard.
"Gerhard, terlepas dari kau bisa menepati janjimu atau tidak, tidak diukur dari hasil yang kau dapatkan, melainkan dari usahamu untuk menepati janji tersebut," ujar William.
Perlahan, isakan tangis Gerhard mulai menghilang. William pun melepas pelukannya terhadap Gerhard dan menatap wajah pria tampan itu, "Jangan biarkan air mata membuat wajahmu menjadi jelek. Kau tahu kan, Nak? Siapa pria tampan di Desa Solandis? Itu kau."
Gerhard tersenyum mendengar ucapan William. Pria itu kemudian teringat pada daging asap di dalam tasnya yang ia bawa untuk Ayahnya. Pria itu kemudian beralih pada tasnya kemudian mengeluarkan 6 kotak daging asap yang tadi ia pesan.
"Apa ini?" tanya William.
"Daging asap. Ayah harus makan yang banyak," ujar Gerhard.
"Kau sudah makan?" tanya William.
"Sudah tadi di sana."
"Kalau begitu temani aku makan lagi. Aku tidak mau makan sendiri," pinta William.
Senyuman cerah Gerhard kembali terlihat, "Baiklah. Ayah 5 porsi dan aku 1 porsi," ujar Gerhard.
"Tidak bisa begitu," tolak William.
"Ayah harus makan yang banyak," ujar Gerhard.
"Baiklah kalau begitu, tapi yang makan paling sedikit akan membereskan rumah selama 1 bulan," ujar William kemudian mengambil 5 kotak dari hadapan Gerhard.
Gerhard membelalakan matanya, "Apa?!"
"Kau harus membereskan rumah selama 1 bulan ke depan," cibir William.
Gerhard tertawa mendengar Ayahnya yang tampak mengejeknya. "Hahahaha, baiklah baiklah."