[41] Temperance

1534 Kata
Keesokan harinya . . . Setelah melihat hasil ramuan yang dibuat menggunakan bahan dari air mata Hydra yang sama sekali tak memberikan efek apapun kepada Sagira dan juga Melior, Gerhard seketika berubah menjadi murung dan bahkan ia melewatkan makan malam dan sarapan pagi yang disiapkan oleh Cleo. Tak hanya itu saja, Cleo juga merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada Melior dan Sagira. Berulang kali Cleo meminta maaf kepada Gerhard namun pria itu selalu menepisnya dengan alasan kesalahan itu tentu saja bukan diakibatkan dari Cleo yang membuat ramuan tersebut, tapi mungkin karena itu memang bukan obat untuk menyembuhkan Sagira dan juga Melior. Hari ini, Gerhard dan Nikita memutuskan untuk keluar dari rumah Cleo dan pulang ke rumah mereka masing - masing. Terlebih, mereka sudah berada di rumah Cleo selama 4 hari dan bahkan tidak masuk ke akademi selama mereka berada di sana. Oleh karena itu, karena hasil yang mereka inginkan tidak membuahkan hasil yang sesaui dengan ekspektasi dan harapan mereka, alhasil kedua orang itu memutuskan untuk kembali ke Adarlan. Sebelum pulang, Nikita dipanggil oleh Cleo ke ruang kerjanya dan diajak untuk berbincang secara 4 mata. Di dalam ruangan itu, Cleo membuka buku Noblesse miliknya yang ia tunjukkan kepada Nikita. "Buku ini berjumlah 5 buah dengan masing - masing buku memiliki teori yang berbeda," ujar Cleo sembari menunjuk pada sebuah angka 5 romawi dengan tulisan IV / V di halaman ke dua setelah halaman depan. Nikita melihat angka tersebut yang tertulis di sana dengan menggunakan sebuah tinta berwarna hitam pekat yang ditulis dengan tulisan tangan. "Semua ini ditulis tangan oleh 1 orang?" tanya Nikita yang teringat kembali kepada mantan kekasihnya yang merupakan raja terakhir Kerajaan Twyla, bangsa Noblesse. "Tidak, buku 1 sampai dengan 3 ditulis oleh Azriel Khrysaor, ketiga buku itu adalah buku tertua dan bahkan bentuknya sudah sangat usang. Buku ke 1 berisikan tentang bangsa Noblesse dan Kerajaan Twyla, buku ke 2 tentang bangsa Elf dan Kerajaan Tessitura dan yang terakhir buku ke 3 berisikan tentang bangsa Vampire dan Kerajaan Nephthys," ujar Cleo. "Kemana semua buku itu pergi? Dan dimana keberadaan buku itu sekarang?" tanya Nikita. Cleo menggidikan bahunya, "Tak ada yang tahu. Setiap tahun buku itu selalu berpindah tangan dan tak pernah meninggalkan jejak. Ada yang bilang yang memegang setiap buku itu adalah keturunan asli bangsa mereka," jawab Cleo. "Aku ratu Nephthys sekarang tapi aku bahkan tak memiliki buku itu. Jangankan memiliki buku itu, tahu keberadaannya saja pun tidak," balas Nikita yang terdengar kesal karena ia tak pernah tahu tentang keberadaan buku itu, setelah ia hidup selama 737 tahun. "Sudah kuduga dari reaksimu pertama kali mendengar buku Noblesse, buku vampire pasti tidak akan ada padamu. Aku juga tak memilikinya, aku hanya memegang buku ke 4, yakni berisikan tentang Oriel dan bagaimana cara mengelola setiap energi sihir yang mengalir di dalam tubuhnya. Berkat buku ini juga aku bisa menghilangkan racun pada tubuh Basilisk peliharaanku," ujar Cleo sembari menunjuk ke arah buku Noblesse miliknya. "Bagaimana dengan buku terakhir?" tanya Nikita lagi yang semakin penasaran dengan misteri ke 5 buku itu. "Tak pernah ada yang tahu judul buku terakhir, ada yang bilang buku itu berisikan kisah pribadi dan percintaan raja Noblesse terakhir," jawab Cleo. "Gerhard Khrysaor," ujar Nikita membuat Cleo menoleh menatap Nikita. "Apa?" tanya Cleo. "Nama raja Noblesse terakhir, Gerhard Khrysaor, dia adalah putra tunggal dari pasangan Azriel Khrysaor dengan Ivelle Khrysaor," tambah Nikita. "Bagaimana kau tahu? Apa karena kau seorang putri makanya kau mengenal bangsa mereka?" "Tidak. Gerhard adalah mantan kekasihku, aku membunuhnya dengan tanganku sendiri, bahkan dia tak pernah bercerita tentang buku itu padaku, cih," dengus Nikita kesal. Cleo tampak merenung kemudian kembali teringat dengan mimpi yang dikatakan oleh Gerhard kemarin, "Kini aku mengerti jika Gerhard mendapatkan mimpi mengenai Nephthys, mungkin karena kemiripan namanya juga dengan Raja Noblesse sebelumnya, membuat Hydra tertunduk kepadanya," ucap Cleo. Nikita mendengar dengan jelas setiap ucapan Cleo, namun dalam hati Nikita seolah - olah yakin jika Gerhard Alastair adalah Gerhard Khrysaor yang telah dibunuh olehnya 600 tahun lalu, "Tapi apa mungkin?" tanya Nikita dalam hatinya. "Apa itu sebabnya tatapan matamu pada Gerhard berbeda?" tambah Cleo sembari menatap ke arah Nikita. Nikita menoleh mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Cleo, "Apa maksudmu?" "Kau menatap Gerhard seolah mencintai pria itu. Apa manusia itu mengingatkan sesuatu tentangnya?" balas Cleo. "Jangan bodoh, Cleo! Aku tak akan pernah memiliki hubungan spesial dengan manusia," jawab Nikita dan berbalik sambil menyilangkan kedua tangannya dengan dahi yang mengkerut. "Tapi kenyataannya ada darah manusia mengalir dalam tubuhmu," ujar Cleo. Nikita kembali berbalik menatap Cleo, "Diam!" pekik Nikita kemudian matanya berubah menjadi merah menyala dan taring pun keluar dari mulut wanita itu. Cleo langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menunduk, "Maafkan aku, aku tak bermaksud-" "Jangan karena kita akrab akhir - akhir ini, kau jadi melupakan posisiku yang merupakan ratu dari bangsa vampire. Entah aku memiliki darah manusia yang mengalir dalam tubuhku atau tidak, aku tetap ratu untukmu!" ujar Nikita kemudian ia kembali menyembunyikan wujud vampire aslinya dan keluar dari ruangan Cleo. Cleo menatap sendu kepergian Nikita dari ruangannya. Di sisi lain ia masih tak menyangka jika Nikita adalah mantan kekasih dari sang raja Noblesse. Bahkan Cleo kini bertanya - tanya, bagaimana cerita runtuhnya kerajaan Noblesse yang bahkan jauh lebih kuat daripada kerajaan bangsa lain.  Sejak runtuhnya sang raja dan menghilangnya istana Kerajaan Twyla entah kemana, bangsa vampire dan bangsa elf langsung pergi meninggalkan Lacoste. Hingga detik ini, keberadaan kedua bangsa itu tak pernah diketahui. Nikita melangkahkan kakinya dengan kesal keluar dari ruangan Cleo, wanita itu langsung bergegas menuju kamar Sagira dan Melior untuk mengambil barang - barang miliknya. Di dalam kamar itu, Gerhard sedang terduduk diam sambil membaca sebuah buku di tepi tempat tidur. "Kita pulang sekarang," ajak Nikita kemudian langsung keluar meninggalkan Gerhard yang tampak masih bersantai menikmati bahan bacaannya. Gerhard yang mendengar ucapan Nikita dengan nada mengancam dan memaksa langsung menutup bukunya dan menatap Nikita, pria itu bahkan tak sempat menyanggah Nikita yang sudah lebih dulu keluar dari kamar itu. Tak mau tertinggal dengan Nikita yang sudah lebih dulu keluar dari kamar, alhasil Gerhard pun meletakkan buku itu di atas tempat tidur dan mengambil tas miliknya. Sebelum keluar dari kamar, Gerhard berpamitan kepada Sagira dan juga Melior. "Aku akan segera kembali dan menemukan obat untuk kalian," ujar Gerhard kemudian mengecup kening Sagira perlahan. Usai berpamitan, Gerhard langsung keluar dari kamar dan menemukan Cleo dan Nikita yang sedang berbincang di ambang pintu. Cleo tampak memberikan sesuatu kepada Nikita yang tampak seperti sebuah kalung. "Pakailah ini, kau lebih membutuhkannya dari pada aku," ujar Cleo sembari meletakkan kalung itu di atas telapak tangan Nikita. "Bagaimana dengan kau, Cleo?" tanya Nikita. "Aku bisa menahannya dengan Aesira," jawab Cleo. Pandangan mata Nikita pun bertemu dengan Gerhard yang sudah berdiri di belakang Cleo entah sejak kapan. Dengan cepat, Nikita mengambil kalung yang diberikan oleh Cleo untuknya kemudian memasukannya ke dalam saku. "Ayo," ajak Nikita pada Gerhard, lalu ia pun menatap Cleo dan memeluk wanita itu. "Maafkan aku dan terima kasih banyak," ujar Nikita kepada Cleo. Cleo berusaha mengerti Nikita yang memiliki tempramen buruk, terlebih Raja Krys Talfaern memang terkenal memiliki emosi yang tidak stabil dan sepertinya hal itu menurun pada anaknya. "Aku pulang dulu, Cleo. Terima kasih untuk tempat menginap dan makanannya selama 4 hari terakhir," ujar Gerhard sembari memeluk Cleo untuk mengucapkan rasa terima kasihnya kepada wanita itu. Setelah selesai berpamitan kepada Cleo, Nikita dan Gerhard langsung masuk ke dalam Dolunay milik Nikita kemudian melajukan Dolunay itu meninggalkan halaman rumah Cleo.  Gerhard menoleh ke arah Nikita yang tampak berfokus pada jalanan Eyelwe di hadapannya, "Aku pikir kau sedang bertengkar dengan Cleo," sahut Gerhard. Nikita menoleh ke arah Gerhard yang menyadari jika dirinya dan Cleo sempat adu mulut tadi, "Masalah wanita," jawab Nikita cepat karena tak ingin Gerhard berpikir macam - macam tentangnya ataupun tentang Cleo. "Perasanmu sudah jauh lebih baik?" tanya Nikita kepada Gerhard yang melihat pria itu kini setidaknya mau berbicara setelah murung selama semalaman di dalam kamar tanpa mau berbicara dengan orang lain. Gerhard menganggukan kepalanya meski ia tahu Nikita tak bisa melihat kepalanya yang mengangguk karena wanita itu sedang terfokus untuk mengemudikan Dolunaynya, "Sedikit. Aku harus tetap terlihat baik - baik saja di hadapan Ayahku," jawab Gerhard. "Ayahmu?" "Iya. Aku tak mau membuatnya khawatir. Sudah cukup ia khawatir setiap hari dan merindukan Ibuku. Sepertinya aku harus membuat alasan lain untuk mengganti jika air mata Hydra bukanlah jawaban untuk kesembuhan Ibuku dan juga Melior," tambah Gerhard sembari berusaha tersenyum yang terlihat dengan jelas kepalsuannya. "Kenapa kau tidak jujur saja jika air mata Hydra itu tidak berhasil?" tanya Nikita. "Ia akan kembali sedih, aku tak ingin membuat Ayahku bersedih," jawab Gerhard. "Tapi jika kau menjawab seperti itu, kau membuatnya menunggu, Gerhard," balas Nikita. Gerhard pun menundukan kepalanya seolah - olah sedang berpikir, "Benar juga," ujar Gerhard. Suara tarikan napas terdengar ke telinga Nikita, wanita itu menebak jika Gerhard sedang mempersiapkan diri untuk bertemu Ayahnya. "Kalau begitu aku akan mengatakan kebenarannya, walau pahit," lirih Gerhard. Satu tangan Nikita pun terulur untuk mengusap bahu Gerhard meski tatapan matanya terfokus pada jalanan Eyelwe yang sebentar lagi akan memasuki hutan dan juga perbukitan Rhony. "Berkata jujur lebih baik daripada berbohong. Sekali kau berbohong, kau akan membutuhkan kebohongan lain untuk menutupi kebohonganmu yang pertama dan kebohongan itu tak akan memiliki batas akhir sampai kau mengatakan kebenarannya," ujar Nikita kepada Gerhard. "Kau benar," balas Gerhard.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN