[40]

1165 Kata
Gerhard baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya dan menyegarkan dirinya yang baru saja bangun tidur, kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Cleo yang sedang terduduk di meja makan bersama dengan Nikita. Kedua wanita itu tampak asik bercengkrama sambil mengoleskan saus ke atas roti mereka. "Sudah merasa lebih segar sekarang?" tanya Nikita kepada Gerhard. "Sudah," jawab pria itu sembari menarik kursi yang ada di samping Nikita kemudian duduk di atasnya. Gerhard menatap ke arah Nikita dan Cleo secara bergantian, "Aku baru sadar kalau kalian cepat sekali untuk akrab," sahut Gerhard di tengah - tengah perbincangan sesama wanita itu. "Benarkah? Apa kami tampak akrab?" tanya Cleo. Kantung mata berwarna hitam terlihat membekas di bawah mata Cleo, dan Gerhard bisa menebak jika wanita itu tidak tidur selama semalaman. "Ya begitulah," jawab Gerhard. Tangan Gerhard terulur, berusaha meraih roti yang masih belum diolesi oleh saus namun tiba - tiba tangan Nikita justru menghalangi Gerhard dan memberikan roti miliknya yang sudah siap untuk dimakan. "Makan saja yang ini, kau tahu kan aku tidak suka roti," ujar Nikita kemudian memberikan roti itu kepada Gerhard. Awalnya Gerhard tampak kebingungan karena diberikan roti milik Nikita yang sudah ia siapkan untuknya sendiri, tapi karena Nikita sudah mengarahkan roti itu ke hadapannya, mau tak mau pria itu pun menerimanya. "Terima kasih," ujar Gerhard kemudian mulai menggigit roti itu dan mengunyahnya.  Setelah Gerhard menerima roti miliknya, barulah Nikita beranjak dari duduknya kemudian mulai menggoreng sebuah telur yang sudah ia siapkan di samping wajan.  Cleo melirik ke arah Gerhard kemudian berkata kepada Gerhard, "Kau masih merasa lemas?" tanya Cleo dengan mulutnya yang dipenuhi dengan roti. "Tidak. Tubuhku sudah jauh lebih baik. Tapi sepertinya obat anti racun itu memberikan efek samping padaku," ujar Gerhard. "Efek samping?" ulang Cleo. Nikita menoleh ke arah Gerhard sambil membalik telur yang sedang ia masak, wanita itu sudah tahu ke arah mana pembicaraan pria itu. "Aku mimpi aneh. Mimpi itu terasa nyata bagiku, padahal aku sebelumnya tidak pernah bertemu dengan orang - orang yang ada di dalam mimpiku," ujar Gerhard. "Aku sudah mengatakan padanya jika itu hanya bunga mimpi," sahut Nikita. "Tapi kenapa terasa nyata bagiku? Bahkan aku sampai benar - benar menangis karena mimpi aneh itu," balas Gerhard. Cleo mengambil minumnya dan membiarkan air membawa masuk roti ke dalam perutnya. Cleo berbeda dengan Nikita yang sama sekali tak bisa memakan roti dan sayuran, Cleo masih bisa menerima bahan - bahan makanan itu asalkan kebutuhan darahnya tetap terpenuhi. "Abaikan saja, mungkin itu efek sampingnya," ujjar Cleo. "Apa di Lacoste pernah ada kerajaan bernama Nephthys?" tanya Gerhard kepada Cleo. Prang ! Tiba - tiba saja piring yang dibawa oleh Nikita terjatuh, untung saja Nikita belum menuangkan telur miliknya ke dalam sana, "Maafkan aku," ujar Nikita kemudian mengambil piring yang terjatuh ke lantai dan mengambilnya. "Nephthys?" tanya Cleo. Gerhard menganggukan kepalanya. Cleo dan Nikita pun saling melirik satu sama lain kemudian mereka sama - sama menatap Gerhard, "Tidak," jawab Cleo. "Sepertinya memang hanya bunga tidurku saja," ujar Gerhard dan kembali menghabiskan roti miliknya. Nikita yang baru saja selesai menggoreng telur miliknya, kembali mengambil duduk di samping Gerhard dan menyantap telur itu perlahan. Sedangkan Cleo yang sudah selesai menyantap sarapannya beranjak dari duduknya. "Aku akan beristirahat dulu, kita akan melakukannya malam ini karena itu harus digunakan di saat sinar bulan purnama berada di puncaknya," ujar Cleo kemudian pergi meninggalkan Gerhard dan Nikita berdua di atas meja makan. Cleo melangkahkan kakinya memasuki ruang kerjanya kemudian berlarian kecil setelah menutup pintu ruangannya. Mata Cleo langsung tertuju pada sebuah buku berwarna cokelat yang berada di atas mejanya. Dengan cepat dan tangan yang sedikit gemetar, Cleo membalik setiap halaman dan mencari keterangan tentang air mata Hydra. "Air mata Hydra, air mata Hydra... Ketemu!" pekik Cleo saat baru saja menemukan halaman yang ia cari. Jari telunjuknya menyentuh ke permukaan buku kemudian matanya menelisik setiap kata yang ada di dalam sana, berusaha mencari kalimat yang menjelaskan tentang efek samping dari air mata Hydra. Karena kata itu belum ditemukan oleh Cleo, Cleo pun membuka halaman selanjutnya namun halaman selanjutnya justru menjelaskan tentang darah Hydra. "Apa - apaan ini? Apa tidak ada efek samping dari air mata Hydra?" keluh Cleo sembari berkacak pinggang. Tak ingin menyerah sebelum menemukan apa yang ia cari, Cleo pun kembali membaca buku itu dan hasilnya nihil. Tak ada efek samping halusinasi atau apapun yang ditimbulkan akibat meminum cairan air mata Hydra. Satu - satunya bahan yang mengandung sihir di dalam ramuan anti racun itu adalah air mata Hydra. "Lantas mengapa dia bisa mengetahui Nephthys? Sangat aneh," gumam Cleo. Malam harinya Gerhard pun bergegas ke ruangan Cleo dan langsung berdiri di depan pintu.  Tok ! Tok ! Tok ! Suara ketukan pintu menyadarkan Cleo dari pemikirannya yang berantakan. Tiba - tiba pintu ruangannya pun terbuka dan menampilkan sosok Gerhard di ambang pintu. "Cleo?" panggil Gerhard. "I - iya, aku segera datang," jawab Cleo kemudian mengambil botol berisikan ramuan untuk menyembuhkan Sagira dan Melior dan bergegas pergi dari mejanya.  Wanita itu sempat membalik karena ia harus menutup buku Noblesse sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangannya. "Ayo," ajak Cleo lalu ia pun bersama dengan Gerhard langsung pergi menuju ke kamar Sagira dan Melior berada. Di ruangan itu, Nikita sudah duduk manis menunggu kedatangan kedua orang itu. Wanita itu langsung berdiri saat melihat Melior yang datang dengan sebuah botol berisikan air bening di tangannya. Cleo menyibakkan gorden yang menutupi jendela ruang kamar itu, kemudian menatap ke arah bulan purnama yang perlahan semakin memancarkan sinarnya. "Aku akan melakukannya sekarang," ujar Cleo, kemudian tangannya pun membuka tutup botol itu dan satu tangannya terulur untuk menuangkan cairan itu tepat ke atas kepala Sagira dan Melior secara merata. Setelah cairan di dalam botol habis, Cleo pun melangkahkan kakinya mundur menjauhi Sagira dan Melior. Gerhard mengepalkan kedua tangannya sembari menatap Sagira dan Melior dan menaruh harap kepada ramuan yang dibuat oleh Cleo.  "Semoga berhasil. Semoga berhasil," lirih Gerhard perlahan. Trek ! Suara batu yang pecah terdengar dari kedua patung itu. Sebuah cahaya bahkan keluar dari setiap sisi tubuh patung Sagira dan Melior dan perlahan cahaya itu justru memudar dan padam. "Apa yang terjadi?" tanya Gerhard saat melihat cahaya yang semula terang membias dari tubuh Sagira dan Melior justru padam. Cleo berjalan mendekati Sagira dan Melior kemudian mengitari patung kedua wanita itu dan mencari apa yang salah. Padahal ia sudah mengikuti seluruh panduan untuk membuat ramuan ini, tapi kenapa tidak berhasil. "Maafkan aku," ucap Cleo. "Apa ini juga tak berhasil?" tanya Gerhard lagi. Cleo menundukan kepalanya dan tampak menyesali perbuatannya, terlebih ia sudah membahayakan Gerhard demi mendapatkan air mata itu. Tubuh Gerhard merosot hingga terduduk di lantai kamar, "Kenapa tidak berhasil?! Apa yang salah?!!" pekik Gerhard. Nikita berjongkok di hadapan Gerhard dan memeluk pria itu. Sedangkan Cleo hanya menatap kosong ke arah botol yang kini sudah tak ada isinya sambil memikirkan apa lagi yang salah dengan ramuannya. Semua ramuan sudah dicoba bahkan bahan yang tersulit pun sudah digunakan, namun Sagira dan Melior tidak kunjung sembuh dari wujud batunya. Kemudian, Cleo pun menyadari sesuatu, "Sepertinya ini dilakukan oleh bangsa elf," gumam Cleo. Nikita menoleh ke arah Cleo, "Elf?" gumam Nikita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN