[39]

1254 Kata
Gerhard memutar arah perhatiannya menuju ke arah lain. Ia pun melihat seorang pelayan wanita dengan bayi perempuan yang masih menangis. Pria itu pun berjalan mendekati bayi perempuan itu dan menatapnya. Matanya yang berwarna merah langsung berubah saat melihat Gerhard yang hadir di hadapannya, tangisannya berhenti dan kini berubah menjadi senyuman cerah. “Sepertinya dia menyukaimu,” ujar sang pelayan wanita itu. “Boleh saya menggendongnya?” pinta Gerhard seraya mengulurkan kedua tangannya. Sang pelayan wanita itu pun memberikan bayi perempuan itu pada Gerhard. Bayi yang semula terus menerus menangis karena baru saja ditinggal oleh sang ibu untuk selamanya, tiba – tiba saja terhenti saat Gerhard mendekap tubuh kecilnya. “Kau cantik. Terlihat sangat persis dengan Ibumu,” ujar Gerhard pada bayi perempuan yang ia tahu sudah pasti belum mengerti apa yang ia ucapkan. Tangan Gerhard terulur mengusap pipi bayi perempuan di tangannya. Tiba – tiba saja, mata kemerahan bayi itu berubah menjadi merah terang dan terkesan seperti menyala menatapnya. Gerhard tersentak dengan apa yang baru saja ia lihat. Sedangkan bayi perempuan itu hanya tertawa melihat wajah kebingungan Gerhard yang masih terkejut dengan perubahan warna mata bayi perempuan di tangannya. Krys yang merasa sedikit tenang setelah mengikhlaskan kepergian Runa, lalu turun dari tempat tidur dan berjalan menghampiri Gerhard untuk menggendong bayi perempuannya. Dia menatap sesaat ke wajah bayi perempuan itu sebelum akhirnya Krys memikirkan nama yang pas untuk bayi itu. “Akan kuberi nama kau Nikita Talfaern. Kelak, kau akan menjadi seorang wanita yang tangguh seperti ibumu. Dan saat kau besar nanti, akan kupastikan kau tetap mengingat nama Ibumu, Runa,” ujar Krys pada bayi yang berada di dalam dekapannya. Krys menatap ke arah Gerhard dan Azriel lalu memberikan senyuman getirnya dengan mata yang masih sembab karena baru saja menangisi kepergian wanita yang paling ia cintai, “Terima kasih sudah datang malam ini. Aku tidak tahu jika kalian sampai datang. Itu pasti karena keinginan Runa, kan?” “Bukan masalah bagi kami, Krys. Runa bilang dia ingin kami turut menemanimu jika memang benar Runapergi untuk selamanya,” balas Azriel saat ia teringat dengan permintaan Runa yang menginginkan Gerhard dan Azriel turut hadir dalam proses melahirkannya. Krys kembali menatap bayi kecilnya. Untuk sesaat ia menyesali karena kehilangan kekasihnya, namun kini ia justru mendapatkan cintanya yang lain dan dari wanita yang sangat ia cintai. “Terima kasih, Runa,” gumam Krys. Tanpa Gerhard sadari, sebuah air mata jatuh menetes membasahi pipinya. Pria itu tiba - tiba saja terisak setelah melewati sebuah kejadian yang terasa tidak biasa baginya. Merasa isakan tangisnya semakin keras, Gerhard sayup - sayup merasakan tubuhnya yang diguncang oleh sesuatu namun entah dari mana, perlahan ia mendengar suara wanita yang semakin mengeras memanggil namanya. "Gerhard!"  "Gerhard!" Gerhard mengedarkan pandangannya berusaha mencari sumber suara itu. Perlahan, objek yang berada di hadapannya menghilang bagaikan asap yang lenyap setelah api yang padam akibat air. Gerhard membelalakan matanya karena ia menyadari kini ia hanya seorang diri di dalam ruang itu. "Kemana perginya Ayah dan Krys?" tanya Gerhard sambil mengedarkan pandangannya. "Gerhard!" suara itu kembali terdengar lagi, sampai akhirnya . . . . Zep ! Gerhard terbangun dari tidurnya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Mata pria itu bahkan tampak lebam karena ia menangis di dalam mimpinya. "Kau baik - baik saja?" tanya seorang wanita yang entah sejak kapan duduk di sampingnya dan menatap khawatir ke arahnya. "Nikita?" gumam Gerhard. Pria itu kembali teringat pada mimpinya dimana ia melihat sebuah kelahiran bayi vampire dan manusia yang baru saja lahir ke Lacoste dengan nama yang indah, Nikita Talfaern. "Gerhard? Kau bisa mendengarku?" tanya Nikita lagi karena merasa heran melihat respon Gerhard yang tidak biasa, terlebih pria itu hanya melamun sambil menatapnya. Nikita melambaikan tangannya di depan wajah Gerhard sambil memanggil nama pria itu berulang kali. "Sepertinya aku bermimpi aneh," ujar Gerhard. "Mimpi?" ulang Nikita. "Iya. Aku bermimpi tentang suatu momen dimana saat kau dilahirkan. Tapi tiba - tiba semuanya menghilang. Tempat itu berbeda dari rumah pada umumnya, bahkan terkesan seperti sebuah istana," balas Gerhard. Nikita terdiam mendengar ucapan Gerhard, sesaat kemudian barulah Nikita kembali tersenyum dan berkata kepada Gerhard, "Mungkin itu hanya bunga tidurnya. Mungkin sebaiknya kau bangun karena Cleo sudah hampir selesai membuatkan ramuan untuk Ibumu dan Melior," ujar Nikita. Gerhard menganggukan kepalanya. "Aku tunggu di ruang makan," ujar Nikita dan akhirnya ia beranjak dari tempatnya semula dan pergi meninggalkan Gerhard seorang diri.  Gerhard kembali terdiam memikirkan mimpinya yang terasa begitu nyata. Seolah - olah dia benar - benar ada di sana bersama dengan seorang pria bernama Azriel, Krys dan juga Runa.  "Apa itu ingatanku? Tapi bagaimana mungkin? Aku bahkan tak pernah ke tempat itu sebelumnya," gumam Gerhard. Tak mau ambil pusing, Gerhard pun membuang semua ingatan mimpinya dan setuju pada ucapan Nikita jika itu hanyalah bunga tidurnya, "Mungkin nama bayi itu hanya kebetulan dengan nama Nikita," gumam Gerhard lagi kemudian ia pun beranjak dari duduknya dan turun dari tempat tidur.  Sebelum keluar dari kamar, ia mendapati Bai yang rupanya selama semalaman menemaninya tidur di bawah lantai, bahkan hingga Gerhard terbangun, hewan itu dengan setia menemani Gerhard. "Tidurlah yang nyenyak," bisik Gerhard pada Bai, membuat Oriel itu langsung menggeliatkan tubuhnya dan kembali tertidur. Gerhard kemudian keluar dari ruang kamar itu dan segera menuju ke area kamar mandi untuk membasuh mukanya. Selama di dalam kamar mandi, pria itu terus memikirkan mimpinya yang tidak kunjung pergi dari pikirannya. Untuk sebuah mimpi, rasanya kejadian itu terasa begitu nyata baginya. "Aneh," gumam Gerhard. Di sisi lain, Cleo . . . Setelah berhasil mendapatkan air mata dari Hydra, selama semalaman penuh Cleo terus berusaha mencoba mencampurkan air mata berharga itu menjadi sebuah ramuan yang dapat menyembuhkan Sagira dan Melior yang menjadi batu. Dengan berbekal sebuah buku Noblesse yang berisikan informasi tentang Oriel beserta cara mengolah berbagai produk tubuhnya yang mengandung kekuatan sihir luar biasa, Cleo mulai membuat ramuan itu dengan berbagai bahan yang telah ia kumpulkan sebelumnya. Karena bahan - bahan yang dimasukkan satu persatu, memakan waktu cukup lama bagi Cleo untuk menyelesaikkan ramuan itu. Bahkan hingga matahari terbit dan jam istirahatnya yang sudah habis karena termakan untuk berfokus pada ramuan tersebut, Cleo masih belum selesai membuat ramuan itu. Sinar matahari di pagi hari lebih terang dari biasanya dan bahkan sampai menyinari permukaan tanah Kota Eyelwe yang sebagian tertutupi oleh dedaunan kering yang berjatuhan dari pohon. Sinarnya pun sampai ikut menembus celah jendela dan tembok yang berlubang di rumah Cleo. "Sudah pagi lagi?" gumam Cleo menoleh ke arah jendela ruang kerjanya dengan tangan yang masih sibuk berkutat pada ramuan tersebut. Cleo memasukkan bahan terakhir ke dalam wadah tempat ramuannya diracik, setelah itu, cairan itu pun mengeluarkan sebuah asap dan juga gelembung dan lama - kelamaan, asap serta gelembungnya menghilang dan justru hanya menyisakan cairan bening seperti air mineral pada umumnya. "Untuk pertama kalinya aku melihat hal semacam ini," ujar Cleo sembari mengangkat wadah yang ia pakai untuk membuat ramuan tersebut kemudian memutarnya beberapa kali untuk memastikan jika cairan itu benar - benar berubah menjadi bening. Cleo menoleh ke arah buku Noblesse miliknya kemudian membaca lagi petunjuk yang tertulis di dalam buku tersebut, "Ternyata akan lebih bagus jika diberikan saat bulan purnama ya," gumamnya. Tubuh Cleo pun bergeser ke arah sebuah buku yang ia gunakan untuk mencatat setiap tanggal dan bulan yang muncul. Untung saja Gerhard sudah mendapatkan air mata Hydra itu kemarin, karena berdasarkan dari catatan milik Cleo, malam ini akan menjadi malam purnama yang bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan Sagira dan juga Melior. "Aku tidak sabar melakukannya nanti malam, Gerhard pasti akan sangat senang karena usahanya tidak akan sia - sia," gumam Cleo kemudian memeluk wadah ramuan itu dengan senyuman cerah yang menghiasi wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN