[38]

1413 Kata
Sinar rembulan menyinari Negeri Lacoste dengan cahaya peraknya. Suara burung hantu bersahutan seolah sedang berkomunikasi di tengah malam yang dingin. Dua orang pria dengan mengenakan jubah berwarna hitam berjalan melewati jalan setapak dengan alat penerang seadanya di tangan mereka. Tak ada kendaraan atau kereta kuda yang melewati sepanjang jalan setapak itu. Mungkin karena waktu sudah terlalu larut untuk melakukan aktifitas dan bahkan sebagian besar warga sudah pasti terlelap dalam tidur sementaranya. “Apakah Kerajaan Nephthys masih jauh dari sini?” tanya seorang pria dengan rambut panjang berwarna putih yang bertugas membawa sebuah alat penerang dari lampu minyak yang ia bawa dengan tangan kirinya. Pria yang lebih tua darinya dengan rambut kecokelatan tampak terengah – engah, dia berusaha mengatur napasnya untuk menjawab pertanyaan pria yang berada di samping kirinya, “Sebentar lagi kita sampai di Nephthys,” ujar pria paruh baya itu. Sudah sejak 25 menit yang lalu, pria paruh baya itu selalu berkata sudah dekat, hingga sang pria yang lebih muda darinya terlihat mulai tak menyukai perjalanan yang mereka tempuh. “Padahal aku sudah bilang untuk menggunakan kereta kuda, tapi Ayah terlalu bersikeras untuk berjalan kaki. Sebenarnya untuk apa kita ke sana? Dan bahkan di waktu larut seperti ini?” tanya pria muda bernama Gerhard tersebut. Pria yang dipanggil sebagai Ayah itu bernama Azriel. Dia adalah seorang raja dari Kerajaan Twyla. Dan saat ini, ia bersama anak tunggalnya sedang menempuh sebuah jalan pintas – yang tidak dapat dikatakan pintas, menuju Kerajaan Nephthys. “Kita lihat saja nanti, Nak,” jawab Azriel pada anaknya. Hingga akhirnya, setelah 55 menit berjalan kaki melalui jalan setapak kecil di tengah kegelapan, dua pria berjubah hitam itu tiba di depan sebuah gerbang kecil yang terletak di bagian belakang istana Kerajaan Nephthys. Azriel menyibakkan jubahnya lalu mengulurkan tangannya dan mengetuk pintu kayu itu hingga seseorang dengan pakaian serba hitam muncul dan membukakan pintu, lalu mempersilakan 2 petinggi dari Kerajaan Twyla untuk segera masuk. Pria dengan pakaian serba hitam itu tampak melirikkan matanya sesaat ke arah kegelapan, sebelum akhirnya pria itu memastikan tak ada seorang pun yang mengikuti 2 pria yang baru saja masuk lalu kembali menutup pintu kayu itu dan menahannya dengan sebuah batu besar. Sreeek ! Batu berukuran besar itu kembali didorong oleh sang pria asing tersebut untuk menutup jalan masuk menuju Kerajaan Nephthys. Usai menutupnya, pria itu berjalan lebih dulu dan mengarahkan Gerhard beserta Azriel ke dalam Kerajaan Nephthys. “Silakan lewat sini, Tuan,” ujar pria itu sembari menunjukan jalan masuk menuju istana. Suasana yang terbilang sangat sepi untuk sebuah istana adalah hal pertama yang terlintas dalam benak Gerhard. Jika biasanya di istananya selalu ada kegiatan selama 24 jam tanpa henti, namun berbanding terbalik Kerajaan Nephthys yang terasa sangat sepi dan sunyi. Mereka tiba di depan sebuah pintu kayu besar berwarna cokelat. Dari dalam sana, mereka bisa mendengar suara rintihan seorang wanita yang sedang berusaha keras mempertaruhkan hidup dan matinya. Sang pria membuka pintu besar itu, hingga terpancar sebuah cahaya yang cukup terang dari ruangan yang disebut sebagai kamar utama. Pria itu mempersilakan Gerhard dan Azriel masuk, sedangkan ia akan kembali ke tempat penjagaannya yakni gerbang belakang istana Kerajaan Nephthys. Gerhard melihat seorang pria yang berdiri di depan sebuah perapian sembari meminum sebuah cairan dari dalam gelas berwarna emas. Sedangkan tepat di belakang pria itu, terdapat sebuah ranjang berukuran besar yang ditutupi oleh kain berwarna merah. Mata Gerhard memicing, ia melihat siluet 3 orang wanita di dalam sana. Yang satu dengan posisi tertidur, sedangkan 2 lainnya berada di bawah wanita itu. Pria itu langsung mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini. “Hei,” sapa Azriel seraya menepuk bahu seorang pria dengan jubah merah dan gelas emasnya. Pria itu memiliki rambut panjang seperti Gerhard namun dengan warna cokelat kemerahan, bahkan mata pria itu pun berwarna merah terang. “Akhirnya kau tiba,” ujar pria itu lalu menepuk bahu Azriel guna menyapa pria yang baru saja tiba di sisinya. “Apa ada kemungkinan Runa selamat, Krys?” tanya Azriel pada pria bernama Krys, yang merupakan seorang raja dari Kerajaan Nephthys. “Tubuhnya habis dimakan oleh anakku. Dia kurus kering dan kemungkinan kecil dia akan selamat,” jawab pria bernama Krys itu dengan mata yang mulai berkaca – kaca dan kembali ia benamkan kesedihannya dalam sebuah minuman alkohol di dalam gelas berwarna emasnya. Gerhard berjalan menghampiri wanita yang sedang berusaha mengeluarkan bayi dari dalam perutnya, wanita itu terlihat sangat kurus dan bahkan untuk sekedar merejan saja, seperti akan mematahkan beberapa tulang rusuknya sekaligus. “Sekali dorongan lagi, kepalanya sudah terlihat!” ujar wanita lain yang turut membantu wanita kurus itu melahirkan. Azriel datang mendekati Gerhard, dan melihat siluet dari balik kain merah yang menghalangi pandangan mereka. “Tubuhnya kian mengurus, Yah,” ujar Gerhard saat ia menyadari jika tubuh Runa sudah sangat kurus dan bahkan hanya tersisa tulang dan kulitnya saja. “Itu karena dia mengandung anak seorang vampir, sedangkan dia hanya manusia biasa, Gerhard,” jawab Azriel. “Bukankah dia seorang penyihir? Seharusnya dia bisa mengendalikan bayinya, bukan?” tanya Gerhard. “Walau dia seorang penyihir, dia tetaplah seorang manusia. Kau ingat? Seorang manusia abadi seperti kita, akan mengandung selama 1 tahun, sedangkan manusia biasa akan mengandung selama 9 bulan. Namun, bayi mongrel hanya membutuhkan waktu selama 3 bulan untuk terbentuk sempurna di dalam tubuh Ibu manusianya,” ujar Azriel menjelaskan mengapa Runa yang seorang manusia tampak kurus kering padahal hanya mengandung selama 3 bulan. Gerhard kembali teringat pada saat 3 bulan lalu, dimana ia pertama kali berkunjung ke Kerajaan Nephthys untuk memenuhi panggilan Krys. Dan untuk pertama kalinya dalam 100 tahun terakhir, raja dari Kerajaan Nephthys dan Twyla kembali berkomunikasi. Hal itu karena Krys, yang notabene adalah seorang vampir sekaligus raja dari Kerajaan Nephthys, jatuh cinta pada seorang manusia bernama Runa. Runa bahkan sudah mengandung seorang anak perempuan dari hasil hubungan mereka. “Haaaaaggghhhh!” erangan terakhir wanita bernama Runa itu, lalu disusul dengan suara tangisan seorang bayi. Seorang wanita yang membantu kelahiran Runa keluar dari balik tirai merah dan memberikan bayi perempuan yang baru saja dilahirkan oleh Runa pada Ayahnya, Krys. Krys memutar badannya, dan menatap bayi yang masih berlumuran darah. Sebagai seorang vampir, Krys tak dapat menyembunyikan hasratnya pada darah. “Sadarkan dirimu, Krys. Dia anakmu,” ujar Azriel yang akhirnya menyadarkan Krys untuk tidak memakan keturunannya. Setelah tersadar, Krys melihat kembali ke arah bayi perempuan yang berada di hadapannya. Matanya berwarna merah, menandakan jika bayi itu memiliki garis keturunan vampir yang diturunkan oleh sang ayah. “Dia cantik persis seperti Runa,” ujar Krys, hingga ia kembali teringat kepada kekasihnya yang baru saja bertaruh nyawa melahirkan buah hati mereka. Krys meletakkan gelas emasnya pada sebuah meja lalu bergegas menuju Runa. Tubuhnya lemas seketika, saat ia melihat Runa sudah tak lagi bersuara. “R – Runa,” panggil Krys, lalu naik ke atas tempat tidur dan merangkak mendekati tubuh Runa yang mulai terasa dingin. Gerhard melepas penutup kepala jubah yang ia gunakan, dia melihat ke arah Krys yang tampak memeluk tubuh erat Runa yang sudah lemas dan tak lagi memperlihatan tanda - tanda kehidupan. “Apa dia mati?” tanya Gerhard pada Azriel yang berdiri di sebelahnya. “Sudah pasti. Sejak awal kehamilan Runa, Krys sudah meminta wanita itu untuk menggugurkan kandungannya. Tapi Runa bersikeras untuk mempertahankan bayinya, hingga berakhir seperti ini,” jawab Azriel. Suara isakan tangis Krys terdengar pilu dan begitu menyayat hati. Pria itu bahkan memeluk erat tubuh Runa yang sudah tak lagi bernyawa. Sesekali Krys mengecup kening wanita yang ia cintai, sebelum melepas kepergian wanita itu untuk selamanya. “Kenapa kau tidak menuruti permintaanku, Runa!” pekik Krys menyesali atas perbuatannya karena tak bisa membujuk Runa untuk menggugurkan kandungannya. Berulang kali pun Krys menyesali tindakannya, tak akan membuat Runa kembali. Sekarang Runa hanya menyisakan sebuah kenangan yang mungkin hanya bisa diingat olehnya. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Mungkin Runa begitu mencintaimu dan dia juga tak ingin membunuh anaknya sendiri," ujar Azriel. "Tapi kenapa dia pergi meninggalkanku?!" tanya Krys. Tiba - tiba, pria itu terdiam dan menatap Runa, "Apa aku bisa mengubahnya menjadi vampire?" gumam Krys, kemudian mengeluarkan taringnya dan hendak menggigit leher Runa yang sudah pucat. "Jangan bodoh Krys!" pekik Azriel yang langsung menahan tubuh Krys. Seketika Krys menangis dan terisak melihat dirinya tak berdaya. Sebenarnya dia bisa saja mengubah Runa menjadi seorang vampire, tetapi Azriel menahan apa yang ingin dilakukan Krys mengingat Krys adalah seorang raja bangsa Vampire dan bisa saja berita ini menyebar dengan luas dan menjadikan keluarganya berada dalam ancaman. "Pikirkan anakmu!" pekik Azriel. Krys pun kembali tersadar dari keegoisannya, ia kini hanya bisa menangisi penyesalan tak berujungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN