[37] Death

1782 Kata
Kediaman Keluarga Alastair Desa Solandis, Adarlan * Seorang pria tua keluar dari rumahnya yang sederhana dengan membawa sebuah air yang diletakkan di dalam wadah. Pria itu berjalan menuju ke arah tanaman bunga yang tumbuh di area halaman rumahnya. Dengan berbekal pengetahuan seadanya tentang cara menyiram tanaman, pria itu pun mulai menuangkan air dari dalam wadah itu secara perlahan membasahi daun tanaman yang hanya setinggi lututnya. "Tetaplah hidup dan menjadi lebih cantik, aku ingin istriku melihat kalian ketika ia kembali nanti," gumamnya sembari menyirami tanaman itu dengan air. Seluruh tanaman akhirnya selesai disiram, daun - daun yang semula kering kini tampak basah akibat terkena air yang mengalir membasahi batang dan daunnya. Pria itu kemudian berjongkok, memeriksa satu persatu tanaman itu dan memastikan tak ada hama yang menempel pada daun - daun tanaman itu. Tanaman itu sebenarnya hanyalah sebuah pohon hias yang ditanam oleh istrinya 18 tahun yang lalu. Meski tak pernah berbunga dan berbuah, tanaman itu nyatanya masih tetap hidup di bawah perawatan William, suaminya. William dengan lihai merawat tanaman yang ditanam oleh Sagira seolah - olah ia menjaga istrinya melalui kasih dan cinta yang ia tuangkan lewat tanaman itu. Setelah selesai menyiram tanaman, William kembali bangkit dari posisi berjongkoknya dan kemudian mengucapkan salam terakhir kepada tanaman di hadapannya sebelum akhirnya pria itu masuk ke dalam rumahnya. "Tumbuhlah dengan baik, ya," ujar William dan akhirnya ia masuk ke dalam rumah. Semenjak ia pensiun dari pekerjaannya, seluruh perhatiannya menjadi terfokus kepada hal - hal di sekitarnya, salah satunya tanaman yang selalu ia rawat dan ia siram setiap pagi dan sore hari agar tetap hidup dan cantik.  Tok ! Tok ! Tok ! Baru saja William masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rumahnya, tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuat pria itu berbalik dan menatap ke arah pintu. "Apa Gerhard sudah pulang?" gumam William di dalam hatinya karena teringat pada sosok anak satu - satunya yang ia miliki dari pernikahannya dengan Sagira. Pria itu kemudian berjalan menghampiri pintu dan membukanya. Namun bukan sosok Gerhard yang ada di balik pintu melainkan seorang wanita asing yang tidak dikenali oleh William berdiri di hadapannya. Wanita itu memakai sebuah pakaian langsung dengan rok berwarna biru tua yang dihiasi dengan bunga - bunga cantik. William menatap wanita itu dari atas hingga ke bawah dan berusaha mengenali penampilan wanita itu dari belakang. Tak lupa, wanita itu juga mengenakan sebuah topi yang menutupi area kepala dan juga wajahnya. "Maaf, siapa ya?" tanya William sembari menelisik menatap wanita yang ada di hadapannya, karena ia yakin wanita itu tentu saja bukan Sagira - istrinya, mengingat wanita itu memiliki perawakan yang jauh lebih tinggi dan juga kurus. Mendengar suara William yang bertanya kepadanya dan sadar jika pintu yang diketuk olehnya telah dibuka, wanita itu pun membalikkan tubuhnya kemudian menaikkan sedikit topinya memberikan akses bagi William untuk mengenali wajahnya. "Kau?" ucap William menggantung saat William mengenali siapa wanita yang berdiri di depan rumahnya sekarang. Wanita itu adalah Yuhwa, seorang peramal kepercayaan Kerajaan Odor yang juga meramal tentang kehamilan Sagira. Bahkan wanita itu pula yang meramalkan kehadiran Gerhard bahkan 2 tahun sebelum kelahiran anak itu ke Lacoste. Dengan senyuman manisnya, Yuhwa pun berkata kepada William, "Bisa kita berbicara di dalam?" tanya Yuhwa kepada William. "Tentu saja," jawab William kemudian membuka pintu rumahnya lebih lebar lagi. Sebelum masuk ke dalam rumah William, wanita itu sempat menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada tentara dari Kerajaan Odor yang mengikutinya ke rumah William. Setelah merasa aman, barulah Yuhwa masuk ke dalam rumah itu dan langsung mendudukan dirinya di atas sebuah kursi yang berada di area ruang tamu. William kembali menutup pintu rumahnya kemudian menghampiri Yuhwa yang langsung membuka topi yang ia gunakan dan meletakannya ke atas meja, "Mau minum sesuatu?" tanya William. "Apa ada teh chamomile?" tanya Yuhwa. "Ada. Sebentar biar kubuatkan untukmu," ujar William kemudian pergi dari hadapan Yuhwa dengan tangannya yang masih memegangi sebuah wadah untuk menyiram tanaman barusan. William pergi menuju dapur dan mulai memanaskan air untuk membuat teh, sesekali pria itu tampak menoleh ke arah Yuhwa yang sibuk memperhatikan sekitar rumah William yang jauh dari kata mewah. Bahkan rumah itu akan terasa sesak jika diisi lebih dari 4 orang di dalamnya. Air yang dipanaskan oleh William perlahan mulai menunjukan gelembung air yang menandakan jika air sudah cukup panas untuk menyeduh teh, William pun mengambil panci berisikan air panas itu dan menuangkannya ke dalam gelas. Sambil mencelupkan teh chamomile  di dalam gelas, William bertanya - tanya, mengapa bisa seorang wanita kepercayaan dari Kerajaan Odor datang ke rumahnya di pagi hari? William datang dengan segelas teh chamomile yang diminta oleh Yuhwa. Dengan senyuman manis, wanita itu pun menerima teh buatan William dan mencium aroma yang keluar dari teh itu, "Aromanya sangat nikmat dan menenangkan," gumam Yuhwa lalu kembali meletakkan gelas itu ke atas meja dan menunggu uap panas keluar agar ia bisa menyesapnya setelah sedikit lebih hangat. "Apa tujuanmu kemari?" tanya William kepada Yuhwa. Yuhwa tak menjawab pertanyaan William, melainkan ia justru merogoh baju miliknya dan mengeluarkan sebuah buku bertuliskan Noblesse kepada William. "Aku mau kau menyimpan ini, lebih tepatnya biarkan anakmu menyimpan ini," ujar Yuhwa sembari memberikan buku itu kepada William. "Apa ini?" tanya William. "Itu adalah buku Noblesse. Buku itu hanya ada 5, dan setiap buku berisikan informasi berbeda. Aku sudah membuka kunci buku ini dan buku ini berisikan informasi tentang para Noblesse," jawab Yuhwa. "Lantas, kenapa kau berikan ini kepada anakku?"  "Buku ini tidak boleh jatuh ke orang yang salah karena berisikan informasi tersembunyi tentang Noblesse dan bahkan keberadaan Noblesse tak pernah diketahui dan diungkapkan ke publik. Selama ini, hanya para pemimpin Odor serta bangsa Vampire dan Elf lah yang mengetahui keberadaan Noblesse. Namun jika aku lihat dari sejarah buku ini, buku ini merupakan seri terakhir dan berhenti ditulis sejak kematian Noblesse terakhir, Gerhard Khrysaor, sang Raja dari Kerajaan Twyla," ujar Yuhwa. "Gerhard? Maksudmu?" "Entah ini hanya perasaanku saja, tapi bisa jadi anakmu adalah reinkarnasi dari Noblesse terakhir yang mati dan kemungkinan besar reinkarnasi selalu terjadi pada setiap Noblesse yang mati. Aku pernah bertemu dengan seorang pria yang dianggap gila di Wendlyn karena bercerita ia pernah hidup di waktu 1200 tahun yang lalu dengan nama Tauriel. Saat aku membaca buku ini dan mengartikan setiap tulisannya, nyatanya pria itu tak berbohong. Tapi kemudian pria itu melakukan aksi bunuh diri karena tidak tahan dengan cacian orang sekitarnya." William mencoba mencerna setiap ucapan Yuhwa, namun nyatanya ia tak mengerti. "Mungkin sebaiknya kau membaca buku ini sebelum menyerahkannya kepada anakmu. Kau harus tahu jika kelahiran anakmu, menjadi misteri yang tak pernah terpecahkan bahkan olehku sendiri. Jika memang benar, akan ada kejadian besar yang akan dipikul dan menjadi tanggung jawab Gerhard ke depannya," sambung Yuhwa. William menyungging, "Apa maksudmu? Anakku? Noblesse? Tidak mungkin, dia hanyalah manusia biasa. Tidak ada reinkarnasi. Lagi pula, bangsa yang berkekuatan sihir sudah lebih dulu menghilang sejak 600 tahun yang lalu," tolak William yang masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yuhwa. Yuhwa tampak menarik napas dalam kemudian mengambil kembali buku yang ia berikan sebelumnya, membuka halaman yang ia tuju kemudian ia putar dan ia tunjukkan kepada William. "Anakmu, kemungkinan besar adalah seorang Noblesse yang bereinkarnasi. Kelak, ketika ingatannya pulih, rambutnya akan memutih dan matanya berubah menjadi biru. Mungkin dia hanya seorang manusia biasa, tapi ia memiliki kekuatan luar biasa bahkan di atas bangsa Elf dan Vampire sekalipun. Kekuatannya bahkan mampu mengontrol setiap Oriel yang ada di Lacoste," ujar Yuhwa sembari menunjukkan sebuah nama bertuliskan Gerhard Khrysaor yang berada di halaman depan. Kemudian Yuhwa menggeser ke halaman berikutnya, memperlihatkan sebuah gambar yang memperlihatkan seorang pria dengan rambut putih lengkap dengan mahkotanya. William sampai membelalakan matanya saat melihat wajah yang ia kenali terdapat di dalam buku itu. "Tidak mungkin...." gumam William. "Buku Noblesse terdapat 5 buah, beberapa orang juga menyebut buku ini dengan nama buku Hamkhat yang berarti terlarang. Keberadaan buku ini baru 2 yang diketahui, 1 dipegang olehku dan 1 lagi masih berada di perpustakaan Kerajaan Odor. Setiap buku memiliki topik yang berbeda, milikku memiliki isi tentang sejarah Noblesse, sedangkan yang berada di perpustakaan istana berisikan sejarah bangsa Elf," ujar Yuhwa. William yang semula tak percaya dengan ucapan Yuhwa akhirnya mulai mempercayai wanita itu, "Lalu bagaimana dengan 3 buku sisanya?"  "Sisanya berisikan tentang informasi lengkap tentang segala jenis Oriel beserta cara menaklukannya, sejarah bangsa vampire beserta mongrel dan yang terakhir adalah buku diary milik Gerhard Khrysaor sendiri," jawab Yuhwa. "Diary?"  Yuhwa menganggukan kepalanya, " Buku lain hanya diikat dengan sebuah mantra sederhana, sedangkan buku diary milik Gerhard Khrysaor harus dibuka menggunakan darah dari Gerhard sendiri," ujarnya. William merasakan kepalanya pening mendengar pembicaraan yang tak masuk akal. Meski para makhluk Oriel saja sudah terdengar tak masuk akal baginya, kini mendengar tentang Noblesse yang bahkan baru pertama kali ia dengar semakin membuat kepalanya ingin pecah. Ditambah, kenyataan bahwa anaknya adalah seorang reinkarnasi dari Raja Noblesse yang mati 600 tahun yang lalu. "Sejujurnya aku tak ingin percaya, tapi melihat foto Gerhard berada di sini, aku semakin khawatir kepadanya," ujar William sembari memijat pelipisnya. "Aku juga demikian, William. Aku semula tak percaya dengan ini semua, tetapi aku tanpa sengaja menemukan buku ini 25 tahun yang lalu, kemudian hari demi hari aku berusaha membongkar isi buku misterius ini dan terkejut saat melihat anakmu yang dewasa, mirip dengan ilustrasi sang Raja Twyla yang tergambar di dalam buku ini," ujar Yuhwa. Akhirnya William pun mulai mempercayai ucapan Yuhwa, terlebih wanita itu adalah wanita kepercayaan Raja Matthew, sang pemimpin Kerajaan Odor. "Apa menurutmu Raja menyembunyikan sesuatu?" tanya William. "Aku selalu merasa begitu tapi yang jelas aku tidak bisa bertindak gegabah, terlebih aku adalah orang kepercayaan Raja. Maka dari itu, aku diam - diam memberikan buku ini kepadamu. Sebaiknya kau baca seluruhnya dan biarkan Gerhard juga membaca isi buku ini dan menyimpannya. Buku ini akan lebih aman berada di tangan pemilik aslinya," ujar Yuhwa. "Baiklah, aku akan memberikan buku ini kepadanya jika waktunya sudah tepat," balas William. Setelah menyerahkan buku Hamkhat alias Noblesse kepada William, Yuhwa pun meneguk teh chamomile yang dibuatkan oleh William kemudian kembali mengenakkan topi yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya, "Kalau begitu aku permisi," ucap Yuhwa lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari rumah William setelah berpamitan pada pria itu. Tepat sebelum Yuhwa menutup pintu, wanita itu pun mengatakan sesuatu kepada William, "Di Wendlyn, masih ada Noblesse lain yang hidup hingga saat ini. Jika dilihat dari rambutnya, pria itu sepertinya sudah mengingat seluruh ingatannya saat menjadi Noblesse. Kau bisa menemuinya di Toko Buku besar di Wendlyn dengan nama pemiliknya Azriel Draven," ujar Yuhwa kemudian menutup pintu rumah William rapat. William masih terduduk di kursinya sambil menatap lekat ke arah buku yang tampak usang akibat termakan usia. Tangan William terulur dan mengusap foto Gerhard yang terukir di buku tersebut. "Sepertinya kau memang ditakdirkan untuk menjadi anak yang memikul tanggung jawab besar, Nak," gumam William.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN