bc

Pengorbanan Cinta Dalam Pernikahan

book_age18+
14
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
HE
love after marriage
fated
sweet
city
like
intro-logo
Uraian

Naura Febiola tak menyangka kalau kisah cinta antara marketing dan customer itu benar ada, saat Prabu Adyatama mengajaknya menikah. Selama ini, mereka tidak pernah memiliki hubungan apapun selain rekan bisnis saja.

Prabu yang tampan, Prabu yang santun dalam bicara, berkarisma, sopan dalam bersikap, mapan, dan ... selalu tampak sempurna.

Namun Febi tidak tahu, jika Prabu memiliki rahasia yang pria itu sembunyikan. Prabu ternyata, tak sesempurna yang ia kira dan banggakan.

Bagaimana rumah tangga Febi dan Prabu diantara rahasia yang saling mereka simpan?

chap-preview
Pratinjau gratis
Hadiah Ulang Tahun
Ladies parking penuh. Kalo gue pilih vallet, antara ikhlas dan gak ikhlas keluarin uang buat bayar lebih. Hello, kantor gak pernah reimburse vallet parking. Admin gue cuma mau ganti uang bensin, toll, dan parkir. Itupun, harus pake klipingan bon yang ditempel di kertas lalu di total.         Hah! Hidup gini amat.            Tapi mau gimana lagi. Kita butuh uang, sayang. Gue mengetukkan beberapa jari lentik gue di setir sambil masih memutari basement gedung ini, untuk mencari slot parkir buat si merah. Gedung di Kawasan Mega Kuningan ini, bukan kantor gue, by the way. Gue hanya datang maksimal dua jam untuk ketemuan sama customer potensial, lalu dua hari kemudian --gimanapun caranya-- gue harus bisa sampai tahap negosiasi biar maksimal dua minggu kemudian, gue udah terima omset puluhan juta dari mereka. Yup. That's how I earn money. Nah ... nah ... itu ada pajero item kayaknya mau keluar. Gue harus standby supaya bisa pake tempat dia buat Brio kesayangan gue. Brio yang udah dua tahun ini gue cicil dan masih satu tahun lagi untuk benar-benar memiliki dia secara resmi. Huft, thankyou Pajero untuk timing yang tepat. Gue gak harus turun sampe basement tiga cuma untuk parkir. Tarik rem tangan, matiin mesin, lalu ... ngaca. Baguslah, macet gak bikin dandanan gue luntur dan gue siap untuk ketemu Windu. Customer paling sok keren yang sebenernya, gue eneg banget harus meeting sama dia. Tapi, demi puluhan juta order cetakan yang perusahaan asuransi ini kasih ke gue, seorang Febi haruslah tetap kuat. Karena amunisi seorang marketing percetakan kayak gue, hanya ada dua; mental dan pesona. Tentu saja, dua itu diluar kemampuan dasar komunikasi, negosiasi, hitung harga, juga kecepatan serta ketepatan mengambil keputusan disaat-saat genting. Oya, satu lagi. Komitmen dan konsistensi ucapan juga harus gue pegang. Karena dalam bisnis atau kerja sama, dua hal itu yang akan menunjukan kualitas dan kredibilitas gue dimata pelanggan. Tuh kan, apa gue bilang. Ni cowok main seenaknya ngelempar kaos di meja. Tepat di depan muka gue. Kampret! "Mbak Feb, tau bahan gak sih?" Muka sengak dia nongol lagi. Gue tarik napas pelan ... buang. "Ya kali Mbak, buat acara corporate gathering kita pake bahan raglan? Sablon manual pula! Mbak kira kita mau kampanye!?" "Kaos kampanye bahkan bahannya jauh lebih jelek dari raglan, Pak." Gue nyengir manis, meski hati gue pahit dengerin dia. "Ya tapi bukan raglan juga! Kita maunya cotton combed! Kita perusahan besar, Mbak, dan yang pake kaos ini nanti, gak cuma kelas staff. Sampai direktur juga pake kaos yang sama. Saya gak mau sample dan penawaran harga ini. Spek yang saya maksud, kaos bahan katun kombat terbaik dengan sablon bahan polyflex." Gue mikir sebentar. Spek yang ini orang minta ..., "Harganya lumayan loh Pak, itu. Apalagi jumlah yang mau Bapak ambil---" "Just tell me how much!?" Anjaayyy gayanya bro, selangit. "Kalau kualitas dan harga dari Eazy Print yang terbaik, saya bisa langsung proses POnya. Kamu kayak baru sekali dua kali kerja sama dengan kita saja." Sinis tuh suaranya. Sinis campur sengak. Tapi dimana-mana, pelanggan adalah raja. Jadi ... gue senyumin aja dan "Baik, Pak. Mohon dibantu untuk kirim design gambar kaosnya. Besok, saya akan email penawaran harga dan kirim ulang sample--- oh, kalo memungkinkan, sekalian dummy untuk Bapak." Windu angguk-angguk serius. "Besok, sebelum jam makan siang atau saya cari vendor lain!" Gue melotot tapi langsung kedip-kedip. Gila! Proses cutting polyflex sampe press ke kaos sih cuma sekitar tiga jam. Cuma kan ... "Desain kaos Bapak saja, saya belum ada," kilah gue. "Lima menit lagi sampai di email kamu," jawab dia santai pake tampang nantang. Oke, lo jual, gue beli. Gue angguk mantap dan senyum. "Besok, saya kirim dummy kaos sesuai spesifikasi yang Bapak butuhkan, melalui kurir Eazy Print." Senyum paripurna, gue kasih ke dia GRATIS! Karena setelah ini, minimal seratus juta harus masuk omset gue dari perusahaan dia. *** "Lama banget, sih!" Mbak Susan, senior marketing gue, ngomel. "Macet, Mbak'e," jawab gue sambil nyengir dan jalan cepet ke receptionist lobby gedung di SCBD ini. "Gue kan meeting dulu sama Pak Windu tadi. Gak usah gue jelasin, Mbak tau deh ya ... dari Mega Kuningan kesini tuh, perjuangannya gimana." Gue ambil KTP, tuker sama access card lalu jalan ke lift. "Lantai enam belas, Mbak." Gue bisik-bisik ke Mbak Susan. "Iye, tau." Dia langsung nempelin access card dia di lift dan pencet angka enam belas. "Eh, today lo ulang tahun, ya?" Gue menautkan kening. Ah ... masa iya? Sekarang ..."Lah iya! Kok gue bisa lupa?" Mbak Susan ketawa kecil. "Di otak lo cuma Rupiah doang. Angka selain Rupiah, lo pasti lupa." Gue nyengir gak jelas denger ocehan Mbak Susan. Sialnya, apa kata dia emang bener. "Happy birthday, ya! Ke dua enam kan, sekarang?" ucap dia di tengah-tengah lift yang jalannya lambat banget ini. Gimana gak lambat, tiap lantai berhenti dan ada yang keluar masuk. "Apa harapan lo?" Gue ngelirik ke dinding lift yang dilapisi cermin. Ngaca dulu, sebelum ucapin doa. "Gue ... semoga gue dapet jodoh kayak Pak Prabu Adyatama. User-nya Bu Frida yang mau kita temuin sebentar lagi ini. For your informations, Pak Prabu ini orang Safety and Health Environment di perusahaan ini. Dia suka order cetakan untuk kampanye lingkungan kerja aman dan nyaman. Selama kenal dia, gue kaguumm banget sama tu orang." "Emang gimana orangnya?" Aduh, biarpun lagi dempet-dempetan sama para b***k korporat di lift ini, gue tetep senyum dong inget-inget itu cowok. "Yang jelas ganteng, mapan, sopan dan lembut kalo bersikap, santuunnn kalo ngomong. Dimata gue dia tuh berkharisma. Yah ... kalau Tuhan kasih sih, gue mau dia yang jadi kado langkah hidup gue di angka dua enam ini. Kalo bukan, please kloningan dia aja." Mbak Susan toyor kening gue pelan. Dia malah ketawa saat gue usep-usep kening. "Serius deh, Mbak. Lo tau kenapa gue gak pernah kirim kurir kesini? Dari kirim contoh bahan cetakan sampe tagihan, gue bela-belain jalan sendiri supaya apa? Supaya bisa ketemuan sama dia." "Emang selalu ketemu?" "Ya enggak, sih." Gue geleng kepala. "Tapi minimal, gue bisa berharap papasan sama dia dimanapun, di kawasan gedung ini." Lift behenti dan sekarang giliran gue keluar. Sumpah sesek banget di dalem. Gak tau kenapa, tumben hari ini lift rame terus. Gue berjalan anggun menuju receptionist perusahaan pertambangan ini. Mendaftarankan diri sebagai tamu dan meminta bertemu dengan Bu Frida yang menjabat sebagai staff purchasing. Wanita usia tiga puluhan yang ramah banget dan udah tiga tahun lebih jadi customer gue. Lalu disinilah gue sekarang. Di ruang meeting khusus tamu yang tersedia di kantor ini. Gue minta tolong Mbak Susan temenin meeting kali ini, karena project yang mau Bu Frida kasih lumayan ribet. Pembuatan set goodie bag untuk training bagi operator tambang baru. Isinya, akan ada beberapa macam buku modul, beberapa stiker kampanye, form surat pernyataan apalah itu, mug logo perusahaan mereka, dan tas berbahan spunbond atau art carton yang akan dicetak full color. Itu kenapa gue butuh Mbak Susan yang udah lebih dari sepuluh tahun kerja di Eazy Print. Kalo otak gue isinya rupiah, otak Mbak Susan tuh isinya daftar harga bahan dasar cetakan. Jadi, gue bisa langsung negosiasi sama Bu Frida supaya cepet-cepet goal! Sepuluh menit berjalan dan gue masih nunggu Bu Frida. Mungkin dia masih sibuk siapin data spesifikasi cetakan untuk acara training itu. Sampai lima menit kemudian, akhirnya wanita berhijab itu buka pintu dan masuk. Gue senyum dan sapa dia seramah mungkin sambil cipika cipiki. Yup, kalo sama Bu Frida emang gue udah gak sungkan-sungkan lagi. Dia emang dasarnya supel dan ramah. Jadi bawaannya santai aja kalo meeting sama dia. "Sorry ya, lama." Bu Frida minta maaf sambil senyum ke gue. Tapi ... kenapa gue ngerasa senyumnya dia beda ya? Kayak antara mau ketawa sama mau ngeledek. Sial, disini gak ada kaca. Gue gak tau apa ada yang salah sama penampilan gue. "Mau dibantu Prabu, gak? Ehm, materi training dari dia sih sudah siap cetak semua. Sebenarnya ini tinggal finalisasi harga dan kordinasi pembuatannya kira-kira berapa lama. Tapi kalo Febi mau ada Prabu, aku gak papa kok ajak dia gabung sama kita." Lah, kenapa jadi bawa-bawa Prabu? Gue senyum gak jelas dan salah tingkah. Gimana enggak, bingung sama Bu Frida yang tiba-tiba bersikap aneh siang ini. "Ya ... saya sih, ngikut Ibu aja enaknya gimana," jawab gue dengan hati yang terus merapalkan doa semoga Bu Frida bukan sekedar basa-basi. Wanita dengan hijab ungu itu mengetik sesuatu di ponselnya sebelum akhirnya diskusi kami dimulai. Gak lama, birthday wishes gue dateng. Prabu yang subhanallah matcho banget dengan kemeja biru dongker ini, masuk ke ruang meeting dan duduk tepat di hadapan gue. Jadi, Bu Frida di depan Mbak Susan dan gue di depan Prabu. Kami memulai finalisasi harga dengan Mbak Susan yang cekatan menghitung harga jual cetakan. Kordinasi teknis pengiriman dan waktu pengerjaan juga kami bahas serius. Mengingat, perusahaan pertambangan ini juga salah satu pelanggan prioritas kantor gue. Yang bikin gue suka gagal fokus pada meeting kali ini adalah, Prabu yang sering banget ketangkep basah lagi liatin gue. Bukannya geer, gue juga curi-curi pandang ke dia soalnya. Dan setiap gue lagi mau curi pandang, tatapan mata kami pasti ketemu. Sial, kan!? Jantung gue kayak udah ratusan tahun umurnya. Suka mati hidup dia, kalo lagi dilihatin Prabu kayak gini. Dengan segala kemampuan dan pesona gue, senyum dan berusaha tampak profesional tetap gue lakukan sekuat tenaga. Sampai tiga puluh menit kemudian, Bu Frida dan Prabu setuju dengan harga dan poin-poin teknis mulai proses pengerjaan sampai pengiriman. "Alhamdulillah. Makasih ya, Bu. Selalu percaya sama Eazy Print sampai tiga tahunan ini." Gue mengucap terimakasih karena total dua puluh jutaan yang akan Bu Frida proses Purchase Order ke kantor gue. "Febi pastikan pelayanan kami pada perusahaan ini gak akan menurun," ucap gue setinggi langit. Bu Frida senyum sambil mengangguk senang. Lalu entah kenapa, tiba-tiba dia ketawa sambil lihatin gue. Tuh kan, horor gue jadinya. "Maaf ... Maaf, Feb." Dia menangkupkan dua tangan membuat gestur mohon maaf ala hari raya. Tapi mulutnya tetap belom berhenti ketawa. "Aku tuh tadi lama masuk sini soalnya ...," dia ngelirik Prabu yang sejak tadi cuma senyum tipis doang. Ini orang juga rada aneh sih, hari ini. Gak sesantai Prabu yang gue kenal. "Ada yang kasih tau kita kalau kamu hari ini ulang tahun." Bu Frida senyum sambil meredakan tawa kecilnya yang gak berhenti dari tadi. Gue menautkan kening. "Ibu tau dari mana? Linkedin?" tanya gue dengan raut bingung. "Enggak," jawab Bu Frida. Mata wanita itu ngelirik lagi ke Prabu yang kali ini senyum dan menatap gue lembut. Tuh kan, hati gue kebat-kebit. "Sorry ya, Feb. Tadi di dalem sempet heboh pada ghibahin kamu." Gue makin bingung. "Saya ... ada buat salah, Bu?" Bu Frida menggeleng lagi. "Ada yang bilang denger kamu lagi ulang tahun. Semoga harapan kamu untuk punya jodoh kayak Prabu, dikabulkan Allah. Atau, berjodoh sama Prabu, kan, doa kamu tadi?" Mampus!! Seketika punggung gue menegak kayak tentara yang siap siaga. Aliran darah dan oksigen di badan gue rasanya berhenti saat ini juga. Takut-takut, gue arahin bola mata gue ke sosok idaman yang duduk di sebelah Bu Frida. Jantung gue kayak udah umur dua ratus tahun. Bukan mati hidup lagi, tapi udah gak tau lagi gue gambarin kayak apa rasanya. Ini lebih serem dari ketahuan make narkoba. Mata gue menangkap pandangan dia ke gue yang masih dataaaar aja. Seakan topik ini tuh, bukan hal yang menyalahi kode etik mitra bisnis. Hening. Gak ada suara diantara kami berempat selain suara pendingin ruangan yang bikin bulu kuduk gue berdiri. Sampe akhirnya Prabu mengucapkan hal yang bikin Mbak Susan shock dan gue mau pingsan. "Kalau Febi memang mau, ayo kita menikah." ****

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Revenge

read
35.5K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
40.9K
bc

Beautiful Pain

read
13.6K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
33.8K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook