"Perhatian semua!" Mbak Susan berteriak saat kami baru memasuki ruang karyawan Eazy Print. "Gue mau kasih pesen ke semua karyawan Eazy Print. Terutama marketing," ucap Mbak Susan di depan banyak wajah yang menatap dia heran. "Satu. Jangan suka ngomong ngaco di area publik. Dua. Jangan suka ngomongin customer di manapun selain di kantor."
Gue yang masih lemes ini, cuma diem sambil menatap satu per satu wajah yang beragam ekspresinya. Mulai dari nurut-nurut aja, cuek, gak terima, heran, dan berbagai macam. "Gue ke balkon belakang dulu," pamit gue ke Mbak Susan.
"Eh, lo juga kudu dengerin ini!" sergah dia tegas sambil menarik cross body bag gue. Mengembuskan napas pasrah, gue akhirnya duduk di kubikel gue. Siap dengerin petuah dia sebagai senior di sini. "Febi baru aja diajak nikah sama staff Binara Mining." Semua wajah kali ini kompak terkejut. "Sebenernya, ini gara-gara mulut dia gak bisa lihat tempat dan waktu kalo ghibah. Ini bukan hal bagus menurut gue. Jadi, kalian harus hati-hati dalam bersikap dan bicara di area publik."
Semua wajah, sekarang menatap gue seakan minta penjelasan. Gue sendiri aja gak jelas sama kejadian tadi, gimana mau jelasin ke mereka? Lepas tas, gue langusng beranjak dari kubikel dan melangkah ke arah belakang lantai dua kantor gue. Gak lupa, gue mengambil ponsel dan Dunhill Mild untuk bantu gue mengurai penat ini.
"Kurangin rokok, sih, Feb," tegur Litta, admin gue.
Gue mengendikkan bahu santai. "Puyeng gue. Butuh ini biar plong," jawab gue santai sambil lalu meninggalkan temen-temen gue yang mendadak bisik-bisik ramai. Gue yakin mereka lagi ghibahin gue.
Sampai beberapa hisapan rokok, otak gue masih belom nemu hal logis yang bisa bantu gue mencerna semua ini. Oke, gue akuin gue salah. Sembarangan ngomong suka sama orang dan didenger sama temen-temennya orang itu. Siapa yang nyangka, ternyata di lift gedung Binara Mining tadi, ada temen-temennya Prabu dan Bu Frida yang denger obrolan gue dan Mbak Susan. Luputnya gue, manusia dan kodratnya yang suka ngomongin orang. Mereka lapor ke Prabu dan sampai di telinga Bu Frida.
Gak. Ini gak bener.
Setelah mendengar ucapan Prabu tadi, gue cuma ketawa culun di depan mereka dan bilang kalau kabar itu hoaks. Oke, gue mengakui gue adoring Prabu. Tapi sebatas kagum aja. Soal doa ngaco yang gue ucap, gue bilang itu bercanda. Bu Frida tadi tetep ketawa dan Prabu tetap senyum santai seakan ini semua tuh cuma lelucon receh buat mereka. Padahal tadi, gue mengerahkan semua kekuatan fisik, mental, pikiran, sampe tenaga dalam yang gue punya, supaya keadaan kami gak awkward. Sialnya lagi, dari pagi gue belom ngisep nikotin dan mulut gue mendadak terasa kering dan asam.
Mengambil ponsel, gue harus klarifikasi lagi sama Bu Frida. Gue cari nama dia di kontak dan mencoba menghubungi. Seperti yang gue bilang, Bu Frida ramah. Nada sambung ke dua, dia sudah angkat teleponnya. Lalu sekarang, tiba-tiba gue gugup lagi aja.
"Halo, Bu," sapa gue canggung. Sialan! Kemana hubungan luwes gue sama Bu Frida selama ini?
"Apa, Feb?" tanya Bu Frida riang.
Gue bergerak gak nyaman dari kursi plastik yang gue duduki sekarang. "Soal yang tadi. Febi cuma mau bilang--"
"Eh, sorry, Feb. Soal yang tadi, aku lupa bilang ke kamu," sela Bu Frida. "Prabu minta nomor telepon kamu ke aku. Terus aku kasih. Gak papa, ya?"
Gue menepuk kening gue pelan. Yaelah ... kenapa jadi begini coba? "Iya, gak papa. Tapi Febi ini mau klarifikasi kalau obrolan yang di lift tuh cuma bercanda. Anggap aja Febi lagi impulsif ngomong sembarangan. Ini Febi habis kena tegur gara-gara ketauan ngomongin customer sendiri," selorohku mengarang alasan. "Soal Pak Prabu yang minta nomor Febi mah, silahkan aja. Nomor Febi kan emang didedikasikan buat semua costumer Eazy Print," ucapku seraya terkekeh pelan.
Terdengar tawa lirih dari Bu Frida. "Bagus, deh. Eh, aku lupa ucapin Happy birthday ke kamu."
"Udah sih, Bu. Malu Febi, ikh," jawabku malu-malu. "Yang Pak Prabu ucapin tadi di akhir meeting kita, Febi anggep birthday prank, ya."
"Ya itu sih, terserah yang bersangkutan." Bu Frida terdengar ketawa lagi. "Tapi sumpah, aku juga gak sangka Prabu bilang gitu. Ya ... wish you all the best, ya, Feb. Tambah sukses karir kamu di dunia percetakan ini. Tetep jadi vendor andalan Binara Mining karena aku lagi proses PO untuk item yang kita bahas tadi."
Aku tersenyum sambil menekan putung rokok yang udah pendek. "Thankyou, Bu. Apalah aku tanpa omset dari Binara Mining," ucapku dengan nada merayu.
Lepas obrolan ringan dengan Bu Frida, gue tutup ponsel dan tetiba keingetan soal Windu dan dummy kaos yang harus gue kirim besok pagi. Beresin sisa abu tembakau, gue lantas beranjak ke bawah untuk minta bagian produksi buatin apa maunya si sengak Windu itu.
"Parman." Gue manggil operator yang ahli banget urusan printing apparel di kantor gue. "Stok kaos polos yang aman, punya Gildan apa New State Apparel?" tanya gue sambil menyodorkan form permohonan pembuatan dummy dan flashdisk berisi data design kaos ke dia.
"Tipe soft stye apa premium?"
"Premium aja. Pelanggan yang ini rada-rada soalnya. Eh, apa bikinin dua dummy pake dua merek kaos itu, ya? Sama update info stok masing-masing merek itu ya! Males gue kalo dia ribet."
Parman terlihat menulis catatan di form itu tentang permintaan gue yang ingin memberikan Windu dua kaos sekaligus. Yeah, setiap pelanggan memang punya karakter yang beda. Ada yang friendly banget kayak Bu Frida. Ada yang resek dan sengak kayak Windu. Ada juga tipe-tipe berkharisma kayak Prabu.
Tuh, kan, Prabu lagi.
Gue menggelengkan kepala supaya pikiran gue gak kemana-mana lagi. Udah ... udah ... yang tadi itu mending gue lupain aja. Kalo ketemu Prabu lagi di Binara Mining, gue bakal beraksi seolah-oleh kejadian hari ini tidak ada. Kecuali bagian project dua puluh jutaannya.
*****
"Cheers!"
Sky dining Plaza Semanggi. Udah, cukup di sini aja traktir anak-anak Eazy Print di hari ulang tahun gue. Males banget kalau reserve steak house atau restaurant yang bikin tagihan kartu kredit gue bengkak. No ... No ...
"Semoga keinginan lo kewong sama Pak Prabu beneran terjadi. Enak lo dapet karyawan mining." litta mengambil french fries dan menggigitnya setelah ia cocol dengan saus.
Aku hanya tersenyum simpul dan menyesap bir kalengan yang aku pesan malam ini. Satu kaleng kok, cuma satu kaleng buat bikin badan gue anget dan tetep waras gara-gara siang tadi. "Tadi tuh gue cuma diledekin aja, Ta, sama mereka. Guenya aja yang bego ngomong ngaco di kandang singa," ucap gue seraya mengikuti Litta menikmati kentang goreng. "Lagian, gak bakal ada lah pelanggan yang jatuh cinta sama marketing-nya."
"Intinya, jadikan pengalaman Febi sebagai pelajaran buat kalian semua. Stay profesional dimanapun kalian berada, selama itu jam kerja sebagai karyawan Eazy Print. Mau gosipin siapapun juga gue gak larang, asal ... jangan nyerocos sembarangan." Mbak Susan masih belum puas sama khotbahnya buat kita-kita para junior. "Mau balik jam berapa nih?"
Aku mengendikkan bahu. Terserah mereka saja mau mengakhiri kumpul-kumpul ini kapan. Setelah bincang ringan seputar kantor sampai drama Korea terbaru, akhirnya kami memutuskan bubar saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh.
"Lo besok 'ngamen' ke customer lagi?" tanya Nanda, salah satu anak marketing.
"Enggak. Besok cuma kirim dummy ke Asuransi Pratama. Biar kurir aja. Gue dikantor aja, pantau proses produksi orderan dari pelanggan lain," jawab gue. Kami tengah berjalan menuju parkiran dan akan berpisah sesaat lagi.
Lalu lintas Jakarta di jam segini sudah lebih kondusif dibandingkan tiga sampai lima jam lalu. Aku membawa si merah kembali ke kost di daerah Pinang Ranti. Sejak delapan tahun lalu, saat gue menginjakkan kaki pertama kali di Jakarta, daerah Pinang Ranti ini yang bikin gue betah.
Kantor Eazy Print di Slipi. Jadi, cukup naik Transjakarta satu kali tanpa transit, lalu naik ojek atau angkot untuk nyambung sampe kantor. Brio cuma gue pake kalau harus pergi sendiri ke pelanggan pagi-pagi. Males banget kan, ke Slipi dulu trus balik ke Kuningan dan Sudirman? Jadi, kalau lagi gak butuh bawa mobil, naik busway itu udah pilihan paling oke buat gue.
Ponsel gue berbunyi. Lagu Dance Tonight-nya Bunga Citra Lestari mengalun dan ada serangkaian nomor tertera di layar. Siapa yang telepon semalam ini?
"Halo," sapa gue setelah memasang handsfree di telinga.
"Saya belum ucapin selamat ulang tahun, ya?"
Aku menautkan kening. Masih sambil nyetir ke arah Cawang. "Pak ... Prabu?"
"Iya. Maaf, apa saya ganggu Febi?"
Baiklah, gue masih mengemudi dan konsentrasi gue sedikit goyah. "Enggak, kok. Lagi on the way balik ke kost."
"Baru pulang?"
"Iya," jawab gue seraya meringis salah tingkah. "Anak-anak nodong traktiran dulu, tadi."
Tak ada sahutan. Hening ... tapi sambungan kami belum terputus. Itu orang ngapain ya?
"Yasudah, hati-hati di jalan." Dia diem lama cuma buat bilang gitu?
"Iya, Pak. Terimakasih," ucap gue yang sekarang jadi berasa canggung. "Ehm ... soal tadi siang, Febi mohon maaf ya, Pak. Ini murni salah Febi, kok. Bapak ... gak marah, kan?"
Terdengar helaan napas. Ya Ampun, denger napasnya dia doang aja, badan gue udah lemes gini. Kaki oh kaki ... kalian masih harus nginjek pedal sampe Pinang Ranti. Jangan mati rasa dulu cuma gara-gara doi. "Tidak apa, Febi. Saya justru menghargai kejujuran kamu."
"Kapan sih, Febi pernah bohong, Pak?" tanya gue dengan tawa garing yang gue harap bisa nutupin gugup gue saat ini. "Harga dan kualitas cetakan Febi gak pernah bikin Bapak kecewa, kan?" Gue berusaha mengalihkan topik supaya gue dan dia jangan sampe bahas yang tadi.
"Iya, saya percaya. Maka dari itu, saya jadi tertarik sama kamu."
Tuh kan ... Tuh kan ... "Tertarik mau order apa lagi, Pak? Sini, Febi bantu!"
Gue mendengar tawa lirih Prabu. Ya Tuhan, kalo aja tiap malem bisa denger tawanya dia kayak gini, terus bercanda sambil pillow talk bareng cowok gentle macem Prabu. Gak ada nikmat yang bisa gue dustakan lagi deh ini. "Saya mau order kamu, jadi istri saya, kalau boleh."
Napas gue hilang mendadak. Kost masih sekitar satu kiloan lagi. Gue ... cuma bisa diem aja. Gak tau mau jawab apa. Ini orang kalo bercanda gak nanggung-nanggung, bikin anak orang belingsatan. Gue ketawa sok asik, seakan gak sedikitpun terpengaruh sama omongan dia barusan tadi. "saya bisa didapatkan bukan di Eazy Print, Pak. Jauh ... di Jawa Timur sana," jawab gue seenteng mungkin. Pokoknya Prabu jangan sampe tau kalo jantung gue lagi gak karu-karuan.
"Owh, Jawa Timur."
"Iya. Tapi bukan kota yang besar. Tempat tinggal saya dan keluarga, hanya sebuah kota kecil."
"Tapi dari kota kecil itu, ada gadis hebat yang bisa maju di Ibu Kota," puji dia yang bikin gue jadi besar kepala.
"Yah ... semua kan butuh proses dan perjuangan ya, Pak."
Hening lagi. Ini orang kenapa sih, ya? Niat telepon gak sih?
Terdengar lagi helaan napas. "Iya, benar. Semua keberhasilan tidak lepas dari proses, perjuangan, dan pengorbanan." Kali ini suara Prabu rada aneh. Kaya ... ada sendu-sendu sedihnya gitu.
Gue gak menjawab lagi omongan dia karena mendadak, otak gue keingetan terus nada bicara dia saat mengucapkan perjuangan dan pengorbanan. Kenapa jadi kayak mellow gitu, ya?
Akhirnya gue terpaksa bohong bilang ke Prabu kalau gue di SPBU untuk isi bensin. Sehingga, sambungan kami harus selesai karena tidak boleh menggunakan ponsel selama di SPBU. Prabu ucapin selamat ulang tahun dengan embel-embel doa yang pasaran gue denger dari orang. Dia juga ngajak gue untuk ketemuan di akhir minggu nanti. Dia bilang, dia mau traktir gue sebagai ganti kado ulang tahun.
Gue ... boleh gak ya terima traktiran dari pelanggan gue sendiri?
****