Ajakan Menikah

1713 Kata
"Pakeeett!" Gue membuka pagar kost dan mendapati kurir jasa pengiriman celingukan menunggu seseorang keluar dari rumah kost. "Untuk siapa, Pak?" tanya gue pada pria yang kira-kira usianya sedikit lebih tua dari gue. "Noura Febiola, Mbak." Gue mengangguk, lantas menerima secarik kertas resi untuk ditandatangani. Owh, dari Ibu dan Bapak di kampung. Kening gue berkerut samar saat ternyata, barang yang dikirim orang tua gue bervolume cukup besar dan berat. "Ini isinya apa ya?" tanya gue ke kurir itu. "Tulisannya makanan dan buah, Mbak." Ah ... satu kesadaran menghinggap saat ingat kalau orang tua gue di kampung, punya satu kebiasaan yang menurut gue kurang efisien, tapi tetap mereka lakukan sampai sekarang. Yaitu, mengirimi gue hasil panen sawah dan kebun milik mereka. Kurir jasa pengiriman itu mengucapkan terimakasih saat gue menyodorkan satu lembar uang berwarna biru sebagai tip karena membantu membawakan dua kardus berukuran besar kedalam kost. Bahkan, sampai depan pintu kamar gue. Sekuat tenaga, gue dorong kardus-kardus itu masuk kamar, lalu seketika tersenyum saat tangan gue berhasil membuka kardus dan menilik semua isinya. Gue geleng-geleng kepala. Well, cinta orang tua emang segitu gak terbatasnya. Sampe otak gue yang terbatas ini gak bisa nangkep apa motif mereka tetap mengirimi gue logistik yang sebenarnya ada di supermarket dan pasar sini. Oke, oke, mungkin harga semua ini akan lebih murah jika dibeli di kampung, tapi dengan menghitung ongkos kirim jasa ekspedisi tadi, bukankah jatuhnya justru lebih mahal? Tapi yasudahlah, kalau gue telepon Ibu dan bilang "Gak usah repot-repot," yang ada, Ibu akan ngomel sepanjang jalur rel kereta Jakarta - Surabaya dan berakhir dengan kalimat "Lebih baik kamu balik kampung dan menikah di sini saja." Itu lebih gak enak dari menerima semua pemberian Ibu ini. Beras, mangga, jambu klutuk, bumbu pecel, kopi tradisional, teh khas kampung gue, ledre, keripik tempe, petis, terasi, abon, sapi srundeng, cabai, semua gue keluarin dan gue tata di lantai kamar kost. Berfikir mau diletakkan diwadah apa semua ini. Namun acara mikir gue belum sempat menemukan ide dan solusi saat ponsel gue berbunyi dan Ibu lah yang menghubungi. "Waalaikumsalam Ibunya Feby," jawab gue semangat saat mendengar salam Ibu pagi ini. "Ibu telepon pas banget saat Feby lagi pusing mikirin mau ditaruh dimana semua paketan Ibu," lanjut gue meledek dan tawa terlepas dari mulut gue saat mendengar omelan Ibu sebagai tanggapannya. Tapi tawa gue mendadak hilang dan berganti wajah serius yang super serius waktu telinga gue mendengar suara Ibu yang tampaknya gak bercanda saat bicara, "Minara ada yang melamar. Tapi Ibu tidak mungkin menerima lamaran Sadam karena kamu belum menikah. Ibu maunya kamu yang menikah dulu, baru adikmu." Gue menelan ludah dan mendadak gugup. Baiklah, umur gue dua puluh enam dan Minara Fatma, adik gue, usianya dua puluh satu. Di kampung, usia segitu emang lagi laku-lakunya buat dilamar orang dan gue juga tau siapa Sadam itu. Anak juragan frozen food yang punya empat kios di pasar. Yang gue tau, Sadam emang udah naksir Nara dari lama. Tapi gak nyangka juga itu orang bakalan beneran ngadep Bapak dan Ibu untuk ngelamar Nara. "Di sini itu katanya, kalau perempuan menikah dilangkahi, akan susah nanti ketemu jodohnya. Ibu gak mau. Nara juga gitu, disuruh kuliah yo gak mau." Gue tertawa lirih mencoba mencairkan suasana diantara gue dan ibu saat ini. "Anak ibu pada alergi sama kampus kayaknya," canda gue. "Feby sama Nara kompak banget lebih suka langsung cari uang setelah lulus SMA daripada cari gelar." Gue bicara seenteng mungkin supaya ibu gak tau kalau mendengar kabar tentang Nara, juga bikin hati gue kayak teremas. "Udah, Ibu santai saja. Kalau Sadam dan Nara udah saling cinta, kenapa ditunda? Jatohnya malah zina loh mereka nanti. Amit-amit deh sama zina. Feby anti banget bu, sama hubungan yang gak halal gitu." "Yo makanya itu," sanggah ibu, "kamu gimana di sana? apa iya gak ada laki-laki yang mau menikahi kamu?" "Ehm ... Feby masih fokus bekerja, Bu." "Ya mosok se-Jakarta Raya gak ada satu laki-laki yang tertarik sama kamu?" Ada tapi bikin curiga. Gue gak mau gegabah. "Ya ... mungkin ada, tapi Feby belum sreg," kilah gue akhirnya. "Pokoknya Feb, Ibu gak akan menikahkan Minara kalau kamu belum menikah duluan. Jika keluarga Sadam kerumah untuk menanyakan jawaban atas lamaran Sadam pada Minara, Ibu akan jawab begitu. Bukannya Ibu mau menunda kebaikan, Ibu hanya ingin semuanya sesuai jalur." Gue mendesah lirih. "Mana yang tidak sesuai jalur, Bu? didului Nara menikah, bukan berarti Feby gak laku atau bernasib naas. Jodoh tiap orang itu, beda bentuknya dan beda juga jadwal datangnya. Mungkin emang takdirnya jodoh Nara dulu yang datang?" "Tetep enggak, Feb. Pokoknya, Nara akan menikah jika kamu sudah menikah lebih dulu dan tidak ditahun yang sama kalian menikahnya." Itu kalimat final dari ibu sebelum sambungan gue dan wanita hebat itu terputus. Mood gue untuk menyeduh kopi yang gue yakin ibu sangrai dan giling sendiri ini, mendadak hilang. Semangat untuk beresin semua kiriman ibu juga menguap entah kemana. Yang jelas, yang gue lakuin sekarang adalah, mengambil rokok dan jalan ke area jemuran untuk mengurai penat yang mendadak datang. Binara Prabu : Date? Binara Prabu : Sorry, lunch? Saya janji traktir kamu kan, weekend ini? Harusnya, lihat pop up pesan dari Prabu, gue seneng dan jingkrak-jingkrak ditengah jemuran. Tapi kenapa justru linglung. Menyesap nikotin dan membuang polusinya, gue akhirnya mengetik balasan. Saya : Cucian Feby lagi banyak, Pak. Kalau gak dicuci sekarang, Senin pake baju apa dong? Binara Prabu : Oke, dinner. Saya jemput sore ini, gimana? Saya : Besok aja, gimana? Binara Prabu : Besok saya ada acara. Malam ini, ya! Supaya hutang saya traktir kamu segera lunas. Haduh, ini orang bener-bener deh! Untung dia pelanggan yang suka kasih gue omset puluhan juta. Kalau cuma modal tampang tapi gak ada uangnya, kelaut aja lah! Saya : Oke. Jam empat sore Feby udah bisa dijemput. Send. Gue mengalah saja. Semoga ini bukan pelanggaran kode etik marketing. Tapi kayaknya enggak lah, secara dia yang traktir, bukan gue. Lagian dia juga cuma user, bukan procurement yang menentukan siapa pemenang setiap ada tender. Jadi, santai aja. Tapi hati gue sekarang justru gak bisa santai, soalnya jadi mikir sendiri nanti malam si Prabu mau gajak gue kemana ya? Tuh kan, bibir gue aja udah senyum-senyum sendiri sekarang. Udah ah, habisin aja sisa tembakau ini, terus beberes hasil kebun dan makanan yang dikirim ibu. ******* Untuk ukuran kencan pertama, penampilan gue gak terlalu ganjen, tapi juga gak terlihat cuek. Jeans dan blus serta make up minimalis dan tas kecil. Cukuplah buat sekedar nonton bioskop atau nongkrong sambil makan malam. Eh, jangan lupa, Jaket! Gue gak mau ada adegan kedinginan di bioskop terus Prabu peluk-peluk gue terus kita skinship terus ciuman. Yuck, itu bukan style gue! Gue paling anti adegan fisik sebelum menikah. "Mbak Feby, ada yang cari!" Suara salah satu penghuni kost ini. Gue tau itu Prabu karena bersamaan dengan teriakan itu, ponsel gue berdenting menandakan ada pesan dan itu dari Prabu yang info kalau dia udah di depan kost. Ambil tas dan jaket, gue langsung keluar kamar dan bersiap memulai servis gue ke pelanggan. Eits, bukan servis yang anu-anu, tapi servis biar hubungan bisnis gue makin erat dan semakin menjamin masa depan gue. "Sore, Pak," sapa gue saat memasuki mobilnya. "Kita mau makan dimana?" ucap gue sambil memasang sabuk pengaman. Aduh duh Mak ... senyum Prabu bikin jantung gue meleleh kayak es krim yang ditaruh di atas kompor. Mampus gue, apa bisa tetep bersikap santai dan kalem padahal hati gue udah krinyis krinyis gini. Sialan emang si Prabu, bisaan aja bikin gue jadi begini. "Kamu cantik." Allahurobbi, dia malah jawab begitu. Ini gue kalau gak diiket sama sabuk pengaman, udah terbang kemana tau, kayaknya. "Kamu mau makan apa, Feb?" "Apa aja yang penting halal," jawab gue sekenanya. Mengontrol tremor karena lihat prabu yang ganteng dengan kaos kerah dan celana chinos ini, lebih penting daripada sekedar mikir tempat makan malam. Prabu mengangguk dengan senyum yang tetap terpatri di wajah manisnya itu. "Kita ke rumah orang tua saya, ya. Ada bakar-bakar disana. Adik saya sedang hamil dan minta sate. Mama saya khawatir kalau beli diluar. Jadi, kita mau bakar-bakar di rumah orang tua saya untuk memenuhi permintaan adik saya itu." Gue menoleh secepat angin berembus. "Ke rumah orang tua Bapak?" tanya gue dengan intonasi kaget campur horor. Gila aja, belom apa-apa udah masuk rumah orang sembarangan guenya. "Ngapain?" "Makan malam. Bakar-bakar. Mama meminta saya datang dan membantu. Sekalian ajak kamu kenalan." "Katanya Bapak mau traktir?" Bener kan pertanyaan gue? Numpang makan dirumah nyokapnya dia itu, bukan hitungan traktir. Prabu malah terkekeh lirih. "Nanti saya belikan apapun yang lagi pengen kamu makan, lalu kita bungkus dan bawa ke rumah mama." "Saya pikir kita akan makan malam di mana lalu nonton bioskop lalu—” "Kamu mau nonton?" Gue menggeleng tegas. "Enggak juga. Cuma sempet mikir akan begitu tadi." "Kita bisa nonton di kamar saya yang ada di rumah mama." Gue menggeleng lebih keras. "Enggak. Saya anti masuk kamar orang lain apalagi laki-laki." Prabu senyum lagi dan itu berhasil bikin jantung gue yang udah jumpalitan dari tadi, makin jumpalitan. "Jadi?" Gue hela napas. Ini sih namanya gue kena jebakan batman. "Yasudahlah. Sesuai rencana Bapak saja. Saya kan cuma ikut saja," putus gue akhirnya. "Tapi saya mau turun sebentar ambil sesuatu untuk dibawa kerumah orang tua Bapak. Pamali buat saya bertamu gak bawa hantaran," jelas gue ke dia. Membuka sabuk dan pintu mobil, gue akhirnya masuk ke kost lagi untuk mengambil buah dan beberapa makanan yang ibu paketkan tadi. Sengaja pilih ini sebagai hantarannya, alih-alih kue bermerek atau buah dengan plastik berlogo swalayan ternama. Gue pengen tau, gimana reaksi keluarga Prabu kalau tau, anaknya lagi pedekate sama cewek kampung macem gue. "Itu apa?" tanya Prabu saat gue udah kembali memasuki mobilnya. "Paketan dari Ibu saya. Hasil kebun kami yang sedang panen dan beberapa camilan khas kota kami," jawab gue dengan senyum dan gestur penuh kebanggaan. "Mudah-mudahan mamanya Bapak mau menerima." Prabu tertawa. "Siapa yang bisa nolak pemberian gadis cantik seperti kamu, Feby? Justru saya yang jadi gak enak karena merepotkan." Gue mengendikkan bahu tak acuh. Let we see. Gimana respon keluarga si ganteng ini nantinya saat melihat gue di kediaman mereka. Karena sebelum semua terlambat nantinya, gue akan jujur mengatakan asal usul dan kondisi gue. Jika mereka menerima gue dengan baik, gue akan berpikir untuk menerima ajakan menikah yang Prabu ucapkan dulu, demi Minara. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN