Sama seperti dua utas tali itu—kau milikku, sama seperti ratusan purnama yang telah berlalu—kita masih diberi izin menyatu. *** “Gue mau kasih tunjuk sesuatu,” ucap Satria. “Apa?” “Sini di depan.” Satria menarik tangan Elsa, ia mengajaknya duduk di teras vila seraya menikmati embusan angin malam. Satria merogoh sesuatu dari saku celana dan mengeluarkan dua utas benang wol berbeda warna, satu merah dan satu biru tua. “Masih ingat ini?” Elsa terdiam menatap sepasang benang wol itu, ia merasa deja vu dengan masa lalu. Ia ingat kalau pernah mengikat benang wol di pergelangan tangan Satria dan menjelaskan apa filosofi dari benda itu, Elsa ingat jelas semuanya. Dia menatap wajah laki-laki itu penuh arti. Rooftop rumah susun malam itu jadi saksi bisu semua yang pernah terjadi beberapa tahun

