BAB 1. Ditemukan
Alea menghentikan kursi roda di depan sebuah kamar yang pintunya terbuka—tidak, itu memang sengaja dibiarkan terbuka oleh suaminya, Indra. Alea dapat menyaksikan langsung dua insan di dalam sana yang saling berlomba, mengejar klimaksnya masing-masing.
Indra telanjang, begitupun wanita yang terkurung di bawahnya. Keduanya bergumul tanpa tahu malu. Tanpa mengenakan penutup satu helaipun. Apa gunanaya selimut tebal yang menggulung di ujung ranjang itu? Tanpa sadar Alea menggeleng—sangat disayangkan.
Desahan perempuan itu saling bersahut dengan erangan Indra yang kemudian melepas penyatuan hanya untuk mengganti posisi keduanya sampai perempuan itu menungging.
Alea bergidik. Ia jijik tapi selalu penasaran. Lagipula Indra sendiri yang selalu memintanya menonton, “Supaya kamu sakit hati, dan segera meminta cerai,” katanya.
Tetapi tidak. Alea tidak pernah sakit hati, dan tidak berminat cerai.
Untuk apa?
Lagipula dirinya tidak memiliki tujuan hidup, selain menunggu kematian. Jika memang mau pernikahan ini berakhir, kenapa tidak Indra saja yang menggugatnya?
Ah iya, hampir saja lupa. Mana mau Lelaki itu menceraikannya, toh hidupnya hanya sebatas b***k Wira Atmaja—Ayah Alea sendiri.
Ya. Tanpa belas kasihan, Wira menikahkan Alea dengan anak tukang kebun di keluarganya. Beruntung Alea sedikit cerdik, ia meminta Imbalan dari pernikahannya nanti. Alhasil keduanya sepakat, Setelah Alea menikah, Wira siap memberinya sejumlah uang meski hanya senilai 20% dari kekayaan yang dimilikinya.
Tidak masalah. Toh sebenarnya Alea tidak terlalu membutuhkannya. Penawaran itu pada awalnya hanya gertakan saja, siapa sangka Wira malah menyanggupinya.
Dulu Indra dikenal anak yang baik dan penurut, namun … Status dan jabatan mana yang tidak dapat mengubah seseorang? Termasuk mengubah prilaku Indra.
Sejak menjadi menantu dari keluarga kaya raya, hidup Lelaki itu berubah drastis. Pun dengan kebaikan yang Indra miliki, berbalik jadi kejahatan. Indra yang dulunya hormat pada Alea, sekarang malah menginjak-injak harga dirinya.
Lihatlah, daripada menggauli sang Istri, Laki-laki itu lebih memilih p*****r yang tidak jelas asal-usulnya. Semua gara-gara cacat yang dimilikinya ini.
“Ayo Ndra, masukkan lebih dalam lagi … lebih cepat lagi … ahhh….” Racau perempuan itu yang hanya dibalas erangan tertahan dari Indra.
Satu sudut bibir Alea terangkat, tersenyum meremehkan. “Jika Indra sudah kesetanan seperti itu, biasanya permainan akan segera berakhir. Sudahlah, apalagi yang perlu kusaksikan. Masih begitu-begitu saja rupanya.”
Perempuan itu memutar kursi roda untuk memasuki kamarnya kembali, seiring dengan raut wajahnya yang berubah perlahan menjadi datar.
“Sebenarnya, untuk apa kau berjuang melahirkanku, Bu? Padahal sudah jelas-jelas Ayah tidak menyetujui kehamilan itu,” gumam Alea dengan menatap foto mendiang Sahara yang terpajang di dinding.
Itu merupakan Satu-satunya benda yang menjadi pajangan di ruangan ini.
Tidak ada foto pernikahan, apalagi foto prewedding. Tidak ada pula foto-foto Alea, baik semasa kecil mauppun beranjak dewasa. Alea tidak memiliki kenangan apa-apa, hidupnya hampa.
Kehadirannya tak pernah diinginkan. Jangankan dunia, Ayah kandungnya sendiri saja seakan tidak pernah menganggapnya ada.
Alea ingat, pada saat itu hari ulang tahun Ayahnya. Ia dengan sengaja belajar membuat kue, khusus untuk diberikan sebagai kado ulang tahun Ayahnya. Bukannya bangga, justru Lelaki itu malah melemparkan kue buatannya dihadapan tamu-tamu yang hadir.
Itu belum seberapa.
Ada yang lebih parah, Alea tidak pernah dibelikan baju baru. Semua yang dikenakannya merupakan bekas pakai Kakak-kakak kembarnya. Begitupun dengan pendidikan, jika Kakak-kakak kembarnya di dukung untuk masuk sekolah bergengsi, justru Alea harus berjuang sendiri agar mendapat beasiswa setiap tahunnya.
Semua ketidak adilan itu didapat karena, ketika dilahirkan ia menyebabkan Ibunya mengalami pendarahan hingga akhirnya meninggal dunia.
Dari rumor yang beredar—dikalangan para pekerja, katanya Ayahnya tidak pernah mendukung kehamilan Sahara yang kedua. Mengingat usia sikembar yang pada saat itu masih berumur 4bulan. Namun sudah kepala tanggung, Sahara mempertahankannya, meski tanpa perhatian dari sang Suami.
Stress berkepanjangan, dan tekanan yang didapat dari Wira, membuat kehamilan itu sedikit bermasalah. Pada saat persalinan, Sahara dihadapkan pada dua pilihan. Jika terjadi sesuatu apakah dokter harus menyelamatkan nyawanya atau bayinya?
Dan seperti yang terlihat sekarang. Istri bodoh itu lebih memilih melahirkan anak pembawa sialnya.
Ya. Anak pembawa sial. Itulah yang selalu Wira lontarkan ketika memarahi Alea.
“Jika tidak melahirkanku, mungkin saat ini Ibu masih hidup. Lihatlah, 25 tahun Ayah sudah menderita. Dan selama itu dia masih mempertahankan Ibu di hatinya.” Itu benar. Meskipun Wira kejam terhadap Alea, tetapi sampai detik ini pun Lelaki itu tidak pernah menghadirkan perempuan lain dalam hidupnya.
Saking cintanya, Lelaki itu sampai membenci sesuatu yang menyebabkan Istrinya meninggal.
“Berdandanlah sedikit, sebentar lagi pelangganmu akan datang.” Selembar pakaian sexy terjatuh dipangkuan Alea. Cukup berhasil membuat perempuan itu mendongak dengan kilatan kebencian.
“Sedang butuh biaya tambahan untuk membayar p*****r itu, eh?” Alea menyeringai kemudian membuka baju, berniat melakukan apa yang suaminya perintahkan.
Belum juga baju itu terbuka, Indra malah sudah bersuara. “Jangan buka sekarang. Setidaknya, tunggu aku sampai keluar kamar dulu.”
“Yasudah cepat. keluar sana.”
Alea mengembuskan napas lega, begitu Indra sudah pergi dari hadapan dengan menutup pintu kamar juga. Ia tahu pasti, suaminya itu memang terkesan jijik jika melihat dirinya telanjang.
Ngomong-ngomong tentang pelanggan yang Indra katakan, itu merajuk pada seonggok sampah yang rela membayar Indra hanya demi menghabiskan malam dengan Istri cacatnya. Dengan kata lain, suaminya itu memperjual belikan Alea demi kepentingannya sendiri.
“Anggap pelanggan itu sebagai penebusan maaf karena aku tidak akan pernah bisa menyentuhmu, tenang saja mereka tidak akan sampai menghamilimu.” begitulah tuturnya.
Tentu saja pada awalnya Alea marah besar. Ia tidak menyangka jika suaminya akan setega itu. Namun setelah tahu bahwa pelanggan tersebut dapat diajak negosiasi akhirnya ia tidak keberatan sama sekali.
Sebelum pelanggan itu mendekatinya, Alea akan mengatakan. “Carilah p*****r lain diluar sana, tenang saja saya akan membayarmu lima kali lipat dari harga yang kau keluarkan pada Indra. Lagipula, kau akan rugi jika menyentuhku. Aku tidak bisa berbuat banyak selain terduduk kaku. Tenang saja, selama kamu tutup mulut, rahasia kita akan aman.”
Setelah itu, biasanya pelanggannya akan langsung menurut. Lalu keduanya hanya akan menikmati waktu bersama dengan saling berdiam diri.
Seseorang memasuki kamar. Dari caranya membuka pintu ditambah aroma maskulinnya, dapat dipastikan kalau orang tersebut bukanlah Indra. Sepertinya lawan bernegosiasi Alea selanjutnya, telah tiba.
Perempuan itu memuta kursi rodanya dengan gerakan santai, kemudian berucap, “Carilah p*****r lain diluar sana, tenang saja aku akan membayarmu lima kali lipat dari harga yang kau keluarkan pada Indra. Lagipula, kau akan rugi jika menyentuhku. Aku tidak bisa berbuat banyak selain terduduk kaku. Tenang saja, selama anda tutup mulut, rahasia kita akan aman. Tuliskan saja besaran nominal yang anda keluarkan beserta Nomor ATM pada kertas yang telah tersedia di atas meja.”
“Akhirnya aku menemukan keberadaanmu … Alea Wiraatmaja.”
***