PSST! Mengandung adegan ehm di part ini! Pembaca di harap bijak dalam membaca. Hihi Sudah satu jam lamanya Zihan berkutat dengan dokumen-dokumen di atas meja tamu di dalam ruang kerja Darrel. Zihan bahkan duduk di lantai yang beralas permadani berwarna cream yang sangat lembut. Sesekali Zihan menguap lalu kembali mengstabilo beberapa hal yang menurutnya penting untuk dipelajari. Darrel tak henti mengamati Zihan dari balik meja kerjanya. Harus ia akui kali ini Zihan terlihat bersungguh-sungguh. Zihan yang selama ini mengaku otaknya hanya setengah sehingga tidak mampu belajar ternyata hanya alasan belaka. Zihan hanya malas. Itu saja. Tidak ada keturunan Laurens yang tidak memiliki otak cerdas. Zihan hanya perlu mengasahnya saja. “Butuh bantuan Zi?” Zihan menggeleng. Melihat itu justr

