Dunia yang Pedih

1006 Kata
Pagi pun tiba. Di tempat dadakan keberadaanku saat ini. Jujur ini masih terlalu pagi untuk sebuah aksi yang kenyataannya tak kunjung pasti juga seperti sekarang ini, sebuah pertemuan yang tak direncanakan sama sekali tiba-tiba dipasrahkan dan dipaksakan dalam sekejap karena sesuatu yang katanya genting tapi entahlah apakah nama segenting itu dan sepenting itu atau memang hanya sebuah lelucon saja tapi kenyataannya jika itu memang lelucon entahlah aku sendiri terlalu percaya dengan apa itu yang namanya sahabat atas apa yang diucapkannya tadi. Yah .... Rara menelponku tiba-tiba di pagi hari tadi, membicarakan sesuatu yang memang kenyataannya jujur mengajarkanku juga tapi apakah juga sewajarnya setelah membicarakan hal itu harus cepat-cepat ini bertemu langsung dan ya mungkin seperti inilah keadaannya yang menjadikan ku harus menunggu kedatangan Rara penuh untuk sebuah janji dan sebuah keadaan dimana setelahnya aku dengannya langsung pergi ke rumah Fani yang tak lain tak bukan adalah sahabatku juga yang bisa dibilang temannya sepergeng an denganku juga Rara yang sangat klop bahkan memang benar-benar kuat diantara kami bertiga selain dengan beberapa teman kami lainnya dulu di waktu SMA dan berlangsung sampai sekarang ini. Aku helakan nafas penuh menyadari kegabutanku saat ini, sedetik kemudian tatapanku ke alihkan ke arah sekitaran di mana tempatku berada yang tak lain tak bukan adalah di teras depan rumah dengan diri yang tampak hidup penuh di kursi kayu ini dengan manisnya dan dengan pandangan yang sesekali celingak-celinguk kearah jalanan di luar sana seolah menunggu dan memang benar-benar menunggu kedatangan Rara yang ingin menjemputku untuk hal tadi yakni pergi ke rumah Fani yang sudah kuduga juga pasti iya tengah libur kerja. Jujur jika boleh aku berkata, sebenarnya sedikit rasa murung sering seringkali menghantuiku jika mengingat perbedaan ku dengan Fani yang memang lumayan jauh ini perihal status sosial mungkin yang bisa dibilang juga aku yang terlihat seperti pengangguran sama sekali tidak ada kerjaan di rumah dan hanya menjadi beban keluarga saja jika harus bertemu dengan Fani yang notabennya sudah bekerja itu terkadang rasa ingin dan rasa kembali hadir dengan diri yang mudah menyalahkan takdir dan kembali menyalahkan keadaan seringkali membuatku baku hantam sendiri jika mengingat hal itu lebih-lebih jika urine bilang juga di antara aku, Rara, dan Fani. Kedua temanku lebih mending daripada diriku yang hanya semakin menjadi beban keluarga saja seperti sekarang ini, tapi jika sudah mengingat hal itu pasti di dukuh juga setelahnya akan merasa seperti bersalah juga dan akan semakin merasa bersalah jika semakin menyalahkan takdir walaupun kenyataannya juga aku sendiri tak tahu ataukah ini memang yang terbaik ataukah ini memang jalannya untuk bersabar agar diberi yang terbaik lagi dan atau mungkin bisa juga memang yang terbaik untukku itu belum diberikan di waktu yang sekarang. Entahlah terkadang aku sendiri juga bingung, tapi mau bagaimanapun juga jika sudah seperti ini aku sendiri akan semakin teringat akan sebuah statement atau sebuah perkataan yang mana disitu sangat jelas aku inget jika mungkin pada masa sekolah bisa saja status kita sama status kita seperti ya sama jarinya orang yang tengah belajar berjuang untuk meraih cita-cita karena memang kita statusnya masih sangat sama di sini. Tapi jika sudah menginjak dunia perdewasaan yang semakin panas, jika sudah pergi dari dunia persekolahan yang memang kenyataannya lebih enak dari pada masa sekarang. Semuanya berubah, rasa ingin kembali ke masa lalu dan rasa ingin tidak bermain-main dengan keadaan di masa lalu itu rasanya sangat menguak hati dan memang tidak bisa dipungkiri juga jika sebuah keadaan itu memang sekarang sangat bisa sekali karena dulu pernah ingin cepat-cepat ini menjadi dewasa dan terjun dalam dunia perdewasaan yang pastinya meninggalkan dunia persekolahan yang dulu lebih ih banyak hal-hal yang membingungkan otak pikiran dan semuanya sampai membuat stress juga karena materi materi atau pembelajaran yang didapatkan pada kenyataannya di situ kita semakin menjadi beban keluarga. Tapi kini, diri justru semakin dibuat merasa bersalah lagi karena hal itu semua yang menjadikan tak jarang sesekali ingin kembali ke masa lalu gimana masa yang sangat bebas untuk apa saja dan seperti tidak ada rasa bersalah atau kasihan untuk meminta sesuatu kepada orang tua tapi semakin kesini justru semuanya semakin terlihat terbuka pada kita dan dunia seperti memperlihatkan satu persatu segala hal yang memang sebenarnya pahit di kehidupan ini yang kenyataannya tak bisa di putar balik atau diganti-ganti oleh eh yang membahagiakan apapun itu. Sampai sebuah helaan nafas panjang kembali aku lontarkan saat ini merespon diriku yang semakin dibuat menjadi jadi oleh keadaan seperti sekarang ini, "Ya Allah ... Sampai kapan coba aku tuh kayak gini terus Masya Allah astaghfirullahaladzim kan kembali jadi kebiasaan kan mulai mengeluh lagi ngeluh lagi astaghfirullahaladzim. Tapi kalau dipikir-pikir emang capek kalau sampai kapan gitu loh bakal kayak gini terus aku kan juga pengen kayak orang-orang, aku kan juga pengen bisa bebas juga kayak mereka gitu nggak cuma soal perginya dewasa seperti sekarang ini dan ya kalau bisa mah percintaan juga seimbang gitu. Kalau enggak ya kerja dulu deh ada lowongan pekerjaan gitu yang emang kenyataannya langsung bisa nerima gitu lho kan videonya paling nggak itu aku enggak jadi bareng keluarga lagi di rumah ini ya walaupun mereka bilangnya enggak apa-apa santai karena masih rasanya kayak gini tapi kan kalau misalkan jiwa-jiwa nggak enak kan terus juga kalau misalkan emang rasa udah capek jadi beban keluarga dan bebas kan tetep aja namanya pengen juga pengen gitu. Fyuh ... Semoga aja deh habis ini langsung ada satu aja yang pasti tentang pekerjaan deh kalau enggak." Bruk! Aku hempaskan badan ini ke ke bagian belakang kursi yang aku duduki hingga bersandar penuh di sana, "Hadeh ... Mana ini Rara juga lama banget lagi. Kapan sampainya ya Allah, emang ya dunia ini tuh selain pedih juga banyak perngaretan. Kaya sekarang ini nih, janjiannya jam berapa ini udah jam ...." Ku gantungkan kalimatku itu bersamaan dengan diriku yang melirik ke arah ponsel pintar yang baru saja aku hidupkan seolah melihat ke arah layar sana yang menunjukkan pukul berapa saat ini bersamaan dengan itu juga aku kembali menatap ke arah lepas sana lurus ke depan sana dengan lelahnya menunggu kedatangan Rara. "Kan, tadi janjiannya jam 7.30 kenapa sekarang udah jam 8 pagi nggak datang-datang orangnya?! Indonesia gini amat dah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN