Tuh Rara

1544 Kata
Mendengar itu aku hanya terdiam mematung di sini, entahlah untuk menjawab rasanya bingung juga untuk menyiapkan rasanya terlalu bagaimana tapi untuk menolak juga sepertinya memang bakal seperti itu nantinya tapi entahlah mungkin karena suatu hal yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata yang membuat ini tuh membuat s**u di tempat ini tanpa ada sepatah kata sedikitpun yang hanya ada sebuah pikiran-pikiran yang kembali semrawut di otak sini mendengar segala pengaturan panjang lebar dari bunda tadi jujur itu membuatku sedikit merasa seperti ingin berucap. 'Ya sabar atuh Bun suatu saat juga akan pasti Laras belakang rasain itu semua, suatu saat juga pasti Laras bakal ngerasain itu semua lagian kan kalau untuk sampai ke masa seperti muda sekarang kan rasanya itu terlalu masih jauh gitu padahal gimana sekarang juga aku nggak bisa menutup kemungkinan kalau misalkan suatu saat bisa terjadi juga aku yang seperti apa yang diucapkan oleh bunda tadi tapi kan jadi kayak mana sekarang saja aku masih sedikit lagi lagunya dengan perubahan yang semakin dewasa lagi gitu kadang nyadar apa kabar kalau kuat buat ngejagain iya tapi ya pasti kuat seiring bertambahnya waktu lagian kan semakin bertambahnya umur pasti semakin bijak juga dong menyikapi semuanya. Yah dan mungkin seperti sekarang ini, yang membuatku justru seketika tanpa menoleh ke arah benda dengan senyuman tak jelas yang dilontarkan. "Udahlah intinya tuh Laras mau cepet-cepet jadi tua. Tapi berpaling dari itu ya Bun kok ini mah jadi bahas tua tua an ya jadi balas kayak gini sih kok an. Atuh lagian buat apa sih pakai dibahas lagian kan sekarang juga pasti bakal sampai kalau titik di situasi kayak bunda sekarang ini insya Allah aamiin. Tapi ya udahlah Bun udah nggak usah dibahas lagi soal itu. Tapi ini tuh yang aku ingin tuh apa namanya si Rara kemana sih Masya Allah lama banget datangnya udah lumutan di sini sampai ditemenin bunda kok ya sama aja Rara mana udah ditemenin bunda juga haduh jam pun sampai udah segini aja, tapi anaknya juga nggak kelihatan juga sampai sekarang batang hidungnya. Haduh ... Bunda yang nemenin aku dari beberapa mi yang lain itu aku nggak sih nungguin dia juga?!" ujarku yang malah menanyakan perihal Rara pada Bunda. Sontak saja dari pertanyaan yang ku lontarkan itu, bunda tampak mengangguk sedikit dengan senyumannya yang di situ pula membuatku refleks mengerucutkan bibirnya penuh ke depan sana. "Tuh kan, pasti Bunda juga capek kan? Apalagi apalagi Rara coba yang dari tadi nungguin. Udah sampai lumutan nih, emang yah budaya ngaret di Indonesia itu udah kaya sarapan sehari-hari banget. Kalau nggak waktunya molor tuh pasti nggak Indonesia banget. Ya nggak Bun?!" "Hus kalau ngomong, kamu nggak usah aneh-aneh nggak tuh dia cob-" Ucapan bunda tertahan penuh, bersamaan juga memang sama sepertiku yang ini seketika tanpa mengarahkan pandangan ke arah depan sana penuh dimana halaman rumah berada saat sebuah klakson dibunyikan secara kencang pendengaran dengan penuh ketidak aku juga atas hal yang tiba-tiba menerpa telinga ini. Bersamaan dengan hal itu pula, bunda berkata. "Nah kan dibilang juga apa kamu tuh cuma butuh sabar dikit, Mbak Rara udah dateng tuh." Mendengarnya aku mengangguk dengan mantap bersamaan dengan sebuah cengiran yang aku lontarkan juga di sini. Selesainya menjawab pertanyaan pernyataan yang keluar dari mulut bunda itu ku arahkan kembali pandanganku ke depan sana di mana keberadaan Rara yang memang tampak kode-kode ke arahku di balik gerbang rumah sana yang notabennya memang masih menjadikan gadis itu kini berada di luar gerbang masih setia di atas motornya sana kenapa ke arahku dengan wajah-wajah yang tertutup oleh masker. "Iya iya ya Allah lagian gue juga aneh-aneh aja sih kan wajar juga kalau misalkan aku kayak tadi orangnya yang tanya yang ditunggu aja lama banget datangnya!" ujarku sedikit tak terima. Namun baru saja ingin berucap kembali atas apa yang ingin aku sanggahkan di sini seolah ingin menambahi atas apa yang aku ucapkan sebelumnya itu. Kini sebuah cubitan justru aku dapatkan dari bunda di lengan kananku ini, sampai seketika pula aku elus-elus dengan penuh yang setelahnya bunda justru malah kembali menambah sebuah jitakan di kepalaku yang membuatku refleks menoleh ke arahnya dengan sedikit greget juga kesal kepadanya namun Ku tahan-tahan. "Udah-udah kamu ngomelnya nanti-nanti aja dulu, barusan siapa yang bilang kalau misalkan ini udah kelamaan ah kamu tuh, tuh lihat Mbak Rara udah nungguin di sana dari beberapa menit yang lalu kamu buruan ke sana sampeyan nggak usah panas sama bunda bunda udah tahu kalian mau pergi kemana juga nggak papa sana balik langsung ke depan kasihan kalau Rara nungguinnya lama." Tak percaya jelas aku rasakan saat ini, sedangkan tadi aku yang menunggu Rara lama-lama. Tapi justru sekarang malah Rara yang dikasihani oleh bunda. Sampai sebuah gelengan tak percaya pun aku lontarkan saat ini namun aksi bunda kembali menuntutku untuk segera bangkit dari duduk hingga berakhiran seperti sekarang ini yang dengan segera sedikit didorong oleh bunda agar berjalan meninggalkannya dan mendekat ke arah Rara yang justru terbahak di hadapanku sana. Sukses itu membuatku sedikit kesal, sampai sebuah ucapan keluar dari mulutnya kembali membuatku ingat akan apa yang diberikan oleh bunda pada Rara beberapa menit yang lalu itu sukses membuatku melayangkan sebuah jitakan kecil di kepala Rara saat ini. "Kampret banget sih, orang lagi aku udah nungguin dari tadi banget banget banget. Kamu datangnya malah 30 menit setelah jam yang dijanjiin. CK, kebiasaan banget man-" "Mana kena usir bundamu lagi iya kan?!" sahut Rara cepat memotong ucapanku sontak saja membuatku memutarkan mata malas menatapnya seperti saat ini. Sedangkan dirinya justru terbahak penuh sampai entahlah jika bunda melihatnya pun pasti akan sama saja ikut tertawa menertawakanku yang ujungnya juga itu karena bunda juga yang malah terus-menerus sering membela Rara seperti tadi jika aku mengeluh ia yang lama datangnya dan di saat itu pula bersamaan dengan kehadiran Rara seperti sekarang ini. "Tau dah ah, udah yuk buruan lagian apa ya kamu kelamaan juga Ra. Orang mau janjian jam berapa datangnya tuh harusnya tepat waktu lah ini otw nya kamu tuh OTW mandi. Hadeuh ... Langsung aja yuk?!" Tanpa berbasa-basi lagi aku yang menawarkan itu justru malah dengan segera ditahan oleh Rara saat ingin naik ke atas motornya yang memang kenyataannya ini sudah terlalu siang dari perkiraan rencana yang dilakukan semuanya itu tapi tertahan penuh hingga seperti sekarang ini adalah keadaannya aku yang kembali hadir dengan segala nafas kasar karena aksi Rara saat ini. Lebih-lebih saat tangannya yang juga secara penuh menahanku sampai nggak jadi naik ke atas motornya itu dalam sekejap tatapan manik mata yang lekat itu dengan sedikit malas menatap wanita di hadapanku saat ini. "Apa lagi sih ya Allah ... Kelamaan banget deh Masya Allah astagfirullah, kenapa lagi? Udah yang soal apa namanya yang soal ini telat tadi jamnya ngaret. Udah nggak apa-apa lah, udah aku biasa ini juga lagian udah nggak papa lah aku juga enggak marah juga. Kalau soal urusan izin pamit, mau pamit sama Bunda?!" tanyaku diakhir yang seolah memang paham atas apa yang akan dilakukan oleh Rara dan benar saja diangguki olehnya saat ini. Semua itu sudah aku duga dengan penuh sampai sebuah tepukan akulah Yang Kan di pundaknya itu dengan tangan kananku yang sebelumnya tampak memegang helm ini aku pindah ke tangan kiri yang sekarang tampak sibuk menyangking helm bogo milikku. "Udah nggak apa-apa aku udah izin tadi sama bunda sebelum keluar ke sini, eh salah maksudnya lebih tepatnya itu juga sebelum diusir juga sama bunda karena kamu datang itu. Udah yuk jalan sekarang aja ini keburu panas udah siang banget, nanti si Fanny marah-marah lagi sama kita karena nggak datang-datang. Udah telat berapa menit sendiri ini kita woi astagfirullah, kamu mah nggak nyadar. Iya kan?!" tanyaku lagi dengan sebuah aksi juga yang aku lakukan bersamaan dengan hal itu menaiki motor yang dikendarai oleh Rara itu tanpa menghiraukan sosok yang yang memiliki benda mati yang aku inginkan pagi ini kini sedang sibuk dengan ketidakpercayaannya karena aku yang justru terlalu agresif seperti sekarang ini kesannya yang terburu-buru oleh waktu. "Sabar napa ellah, CK jadi beneran nih aku tadi dibelain lagi sama Bunda?!" Mendengar itu sontak saja aksi bukan sedikit tertahan sebelum setelahnya kembali bermassa bodoh ada sapi yang diucapkan oleh Rara dan kembali membenarkan posisi duduk di kursi belakang motor yang kini aku tumpangi bersama Rara yang mengendarai di depan sana penuh sedikit menoleh ke arahku. "Tahu ah kan tahu sendiri kamu kalau bunda aku tuh udah sama kamu tuh udah kayak kelak banget gitu bilang sama anaknya sendiri malah haduh aku yang payah banget ya Allah sumpah sama anaknya sendiri mah disia-siain astaghfirullahaladzim. Udah ah, ini lama kelamaan kalau misalkan dibiarin aja malah jadi aku yang tambah ngaco Ra! Udah sih ayo buruan kita jalan gitu udah tambah siang nih kita nanti yang ada udah sampai ke rumah Fani udah mencak-mencak lagi anaknya. Udah yok gas nggak usah rewel lagi, buruan ya!" "CK, buru-buru amat sih neng .... jam berapa sekar-" "Sepuluh kurang seperempat!" jawabku orangnya dengan cepat sampai sebuah yang aku lontarkan seorang agar menyuruh Rara untuk menyudahi batuk-batuknya yang makin terkejut atas apa yang aku lontarkan itu dalam sekejap tanganku juga menepuk-nepuk bahunya secara penuh di kedua sisi sana sampai sebuah suara aku dengar di pendengaran ini dari Rara yang tak lain tak bukan berbunyi seperti ini. "Yang benar aja, gila aja sih masa udah jam 10 eh maksudnya jam 10 kurang dikit ya Allah ya udahlah yoga saja yuk daripada kelamaan nanti kita diomelin lagi sama si Fani."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN