Author PoV end!
Keluar dari segala hal yang ini masih usaha untuk di hindari oleh Laras seperti sekarang ini.
Laras POV
Aku edarkan pandangan ini ke arah halaman sana secara lurus seolah-olah mencari dan menunggu secepat mungkin yang kuinginkan sosok Rara benar-benar segera hadir di sini tapi kenyataannya justru tak kunjung datang yang hanya membuatku sukses lagi dan lagi kembali sibuk dengan pikiran pikiran ku juga dengan badanku yang mulai pegal sendiri duduk di sini sedari tadi.
Sampai sebuah panggilan dari dalam rumah sana membuatku tertoleh saat ini, beberapa detik kemudian aku dapati sosok bunda yang keluar dari sana dengan wajah-wajah bingung dan wajah-wajah yang penuh tanya itu menatapku yang justru juga sebenarnya dibuat bingung atas maksud yang ditampilkan oleh mimik wajah bunda saat ini sukses membuatku bertanya-tanya juga saat ini.
"Apa loh bund? Kaget aku tiba-tiba bunda manggilin kayak gitu ada apa Bun?!" tanyaku lembut, tetapi bukan yang menjual bunda justru tampak berjalan melewatiku hingga berakhir duduk di sampingku persis walaupun hanya terjeda sebuah meja yang mana masuk paket dengan 1 kursi dan yang diduduki bunda saat ini juga dengan satu porsi yang aku duduk di teras rumah ini.
Sama halnya dengan bunda yang masih belum menjawab pertanyaanku tadi, disatu sisi aku pun masih setia menatap ke arah bunda dengan mimik wajah penuh tanyanya merespon hal itu. Sampai sebuah kekehan justru kembali aku lontarkan saat ini karena tak kunjung mendapat jawaban dari benda
"Nggak ada apa-apa, yang bunda bingung itu cuma satu loh mbak sama kamu sekarang. Ini udah jam berapa tumben belum dateng sih Rara, ngaret ya?!"
"Ya kalau misalkan dia nanya sama aku terus aku nanya sama siapa dong? Lagian kan aku juga nggak tahu bunda ini tapi nggak datang-datang. Udah ih sih ini Bun, ini kalau 5 menit atau 10 menit lagi Rara beneran ga datang-datang asli deh Bun aku mene masuk ke dalam aja tidur atau rebahan gitu malah enak daripada kayak gini ya Allah lama banget ini udah dandan dandan cantik dari tadi tapi yang ditunggu-tunggu nggak datang-datang ya walaupun memang nggak kemana-kemana sih cuma ke rumah Fani yang matanya juga sih cuma bertiga doang tapi kan ya eman-eman juga lah Bun. Hadeh ...."
Jelas terlihat dari arah pandangan ku bunda tampak menggeleng-gelengkan kepalanya kecil dengan sebuah lahan nafas panjang juga yang dilontarkan di sana merasakan apa yang aku ucapkan itu. Tapi, bukankah memang seperti itu kenyataannya? Jika memang sangat lama sekali hadir dan sampai di tempat kerja di mana aku berada saat ini bunda udah ada sekitar 30 menit aku menanti kehadirannya namun yang ditunggu tak kunjung datang juga seperti sekarang ini yang hanya greget juga jadinya.
"Udah tahu kamu itu sabar aja lagi yang gitu-gitu juga kan temen kamu."
"Ya iya bunda ... Ih udah ma kalau ngomong suka gitu nyebelin tahu Bun tapi emang gitu sih kan gimana gimana juga itu temennya parah tapi ya kesel juga kalau kelama-"
Sebuah suara klakson yang dibunyikan dengan keras juga tidak hadir semuanya apa telinga ini sampai dengan pandangan ku juga refleks menoleh ke arah depan sana hingga hal itu juga sama pak membuat bunda berkata. "Tuh yang kamu tunggu-tunggu, Rara udah datang tuh kamu tuh lagian sabar dikit dong Mbak ya Allah. Kebiasaan banget sih nggak sabaran kalau udah kayak gini dulu tuh baru aja kamu ngomongin baru aja kamu buat jadi bahan gedumelnya kamu. Eh sekarang muncul anaknya kan, hmmmm udah jadiin pelajaran aja lah yang kali yang ikhlas nungguin temennya lagi sama temannya juga itu kan lagi perjalanan dari rumahnya Rara ke sini kan juga rumah ya jadi kamu sabar sabar aja udah sekarang sana kamu samperin itu kalau misalkan udah nggak sabar pengen main!"
Damn it, Pedas banget bund omongannya. Kaya dicabein 100 truk!'
Mendengar itu refleks aja aku mengangguk dan tersenyum dari arah 2 sudut bibirku ini, "Ya pokoknya kayak yang udah lihat sekarang ini. Tau tuh, paling juga emang iya Bun kamu lagi nggak tahu lah lagi apa yang pasti biasa kan kalau Rara tuh pasti suka ngaret jamnya. But, it's okelah nggak apa-apa lagian juga nggak ngapa-ngapain kan di rumah. Jadinya ya udahlah nggak apa-apa lagian juga kan kalau dipikir-pikir pasti juga Rara lagi di jalan eh apa sih testing aja lah Bun siapa tahu emang lagi di jalan lagi on the way itu kalau enggak ya paling-paling yang mengenaskan itu baru selesai mandi juga. Walaupun Laras juga sering capek nunggunya!" ujarku panjang lebar kepadanya.
Siapa sangka jika aku yang berucap demikian justru kini bunda lah yang berganti menjadi tersenyum menatapku dengan gelengan kepalanya yang juga ia lontarkan dari arah kepalanya sana. "Ya udah nggak apa-apa, ditunggu aja lagian kan cuma main jadinya ya sabar-sabar ajalah ya paling juga abis ini emang sampai jadi ya udah dimaklumi aja. Ini juga kamu cuman mainkan kamu ke rumah Fani sama mbak Rara hmm? Jadinya ya toko di santai aja Mbak nggak usah buru-bur-"
"Dih, atau siapa yang mau buru-buru in bunda ya Allah bukannya enggak buru-buru in cuma kan kalau misalkan rencananya terus janjiannya jam sekian ya pastinya kan harusnya udah standby gitu loh. Siap-siap nya kan harusnya juga s berapa sebelum ini gitu kalau nggak yang 20 menit sebelum jam gitu lah intinya ini mah kalau beda banget otw nya aku sama otw nya dia tuh beda banget tapi ya nggak apa-apa sih atau enggak ya mungkin karena ini Laras yang terlalu kerajinan atau apa ya kan bund?!" tanyaku tertahan, dengan sebuah kode-kode yang aku lontarkan ke arah benda saat ini seolah memang aku ini anak yang rajin pada kenyataannya entahlah seperti inilah sedikit blur untuk menilai diri sendiri sampai bunda saja yang aku beri kode itu seketika tampak tersenyum masam dengan helaan nafas yang ia lontarkan juga saat ini membuatku terkekeh dengan sekejap karenanya.
"Rajin apanya, kamu itu rajin kalau mau saya mau pergi aja. Ya memang kalau misalkan udah janjian gitu kamu tuh paling apa ya pokoknya on time gitu istilahnya tuh tepat waktu beda sama yang lain tapi ya nggak apa-apa tapi ya nggak baik juga karena kamu kayak seolah-olah ada hal yang lebih unggul karena sebuah hal juga gitu tapi ya udah nggak apa-apa daripada nggak sama sekali ya kan. Lagian kamu kalau misalkan diajak pergi gitu malah bunda senang jadi nggak capek lihatin kamu di rumah terus, kerjaannya cuman rebahan terus makan kalau enggak ya tidur saya mandi eh mandi aja udah itu jarang-jarang juga. Lebih banyak malasnya kamu itu Mbak kalau misalkan lagi di rumah kayak nggak punya semangat sama sekali, jadinya ya kalau misalnya kamu keluar gini udah seneng ya walaupun kadang kamu kalau misalnya keluarga ingat waktu. Berangkat jam berapa nanti pulang jam berapa udah gitu karena suka lupa sama pulang sampai udah harus nelpon Line kamu banyak banyak kali kalau enggak ya kakak kamu itu bunda suruh nelpon kamu suruh pulang baru mau pulang baru ingat waktu baru deh udah capek ghibahnya. Iya kan?!"
Sedikit terkejut aku lontarkan atas apa yang diucapkan oleh bunda di akhir ucapannya sana, walaupun memang kenyataannya memang iya tapi bukankah ucapan bunda terlalu frontal? Sampai sebuah helaan nafas panjang pun aku lontarkan saat ini merespon hal itu. Sebuah gelengan tipis pun aku bayangkan saat ini bersamaan dengan seulas senyum tipis yang aku berikan ke arah bunda seperti sekarang ini. "Apaan enggak kok hehehe, atuh bunda mah kebiasaan yang ada yang ada terus enggak gue serius deh percaya sama Laras!"
"Eum eum eum!" kodenya dengan gelengan seolah benar-benar tak akan percaya dengan apa yang aku ucapkan seketika pula membuatku sedikit greget menatap bunda. "Ih bunda mah gitu ... Tau ih, nggak like aku sama bunda orang emang kenyataannya gitu kok nggak percaya sama anaknya. Fiuh ...."
"Loh, bukannya gitu Mbak. Tapi nih ya, kalau dipikir-pikir itu nggak mungkin kalau misalkan perkumpulan cewek cewek lagi bete tahu sendiri karakter teman kamu itu kayak gimana apa lagi tuh si Rara sama Fani. Ditambah lagi kalau misal kamu juga udah ikut gabung ummm bunda udah bisa nebak banget kalau dia kalau misalkan kamu paling juga cuma ngomongin cewek terus ngomong apa ya pokoknya ghibah lah. Iya kan? Sebenarnya bunda itu udah nggak kaget Mbak kalau urusan kayak gitu kayak gitu tu, terus juga bunda kan juga cewek mudah kan juga sama kayak kamu ya gitu terus beli 11-12 bawa cuma bedanya kalau bunda kan akhirnya lebih duluan daripada kamu bahkan jauh lebih duluan daripada kamu udah lebih berpengalaman dalam hal apapun itu udah pernah ada di masa kamu jadi gue juga tahu pasti kamu tahu nggak bisa bohong sama bunda udah itu pasti bisa bisa kan berbeda pun paling juga cuma sedikit banget deh itu minim banget bedanya paling juga banyak banyaknya itu sama tetep. Hayo, mau ngomong apa kamu hmmm?!"
Glek!
Dalam sekejap aku benarkan posisi dudukku saat ini, aku tak para bunda yang juga dengan penuh senyuman dari arah itu sukses juga membuatku menggeleng-gelengkan kepalanya sampai sebuah ingatan peringatan secuil dari kalimat yang dilontarkan oleh bunda itu sontak saja membuatku menghelakan nafas tipis di sini. "Ya udah iya iya ada si emang iya Bun cuma kan nggak terlalu sering lagian juga kan kalau silakan ya gimana juga hehehe. Tapi, tapi kan kalau katanya bunda itu juga tahu dan bunda itu pernah ada di posisiku ya emang sih nggak bisa dipungkiri juga kalau misalkan emang lebih berpengalaman cuma kan ya istilahnya tuh apa ya boneka ya berarti bunda juga dulu sering ghibah kan sama temen-temennya bunda ayo ngaku Bun iya kan Bun?!"
Bagai menegaskan bunda, aku tatap ke arah bunda dengan senyuman penuh kemenangan sampai sebuah respon sementara jadi sosok itu dengan sebuah senyuman percaya mendapati aku yang baru chat pengertian dari arah mimik wajah yang dikeluarkan oleh Bunda saat ini.
"Kamu ini, malah jadi bunda yang ke skakmat kalau kayak gini ya. Pinter banget bolak-balik in fakta tapi emang iya tapi kan itu dulu mbak, ya kalau misalkan dulu itu kan ya sebenarnya tuh kita tuh sama aja Mbak kayak yang bunda bilang tadi gitu tapi kalau sekarang ya bunda tuh udah ngerasa kayak ibu apa sih ngomongin orang gitu loh kayak gimana gitu ya pokoknya kamu cepetan deh jadi seorang ibu juga kayak bunda kalau misalnya kamu udah punya anak dan anak kamu cewek terus anak kamu kayak kamu sekarang ini ya kadang kalau aku belum bersama temannya yang paling ngomongin apa hal-hal yang enggak beda jauh kayak soal percintaan atau apapun itu lah ya pokoknya yang sewajarnya kayak kamu sekarang gitu pasti kan kamu tahu sendiri. Nah pasti kamu kamu kayak ngerasa ya apa sih pada dulu itu ngapain pakai segala ngomongin inilah ngomongin itu lah kayak kurang kerjaan banget gitu kayak gitu lah Mbak kalau aku sudah mandi ya walau pun enggak ada yang bisa saya juga cuma kan dia sebenarnya tindakan yang tidak baik itu dia udah kamu cepetan gede makanya biar semuanya pokoknya kan jadi kan dibaca tapi kayak guru adalah eh kebalik. Maksudnya itu kayak kamu pernah denger kan kalau pengalaman itu adalah guru terbaik, ya kayak gitu loh paham kan kamu?!"