Sekian detik berlalu bahkan kini juga sudah digantikan oleh sekian jam, aku dan Rara pun berniat numoang sholat di kamar Fani. Berbeda dengan sang empunya kamar yang justru malah di ruang tengah sana dengan handphone yang dimainkannya mungkin. Aku masuk ke dalam dengan segera mengikuti arah langkah kaki Rara memasuki ruangan ini yang pasti atas izin Fani juga.
Author PoV.
Sedangkan di sisi lain, sosok orang yang disangkanya memainkan ponsel begitu saja di ruang tengah sana aslinya justru tampak melamun memikirkan sebuah hal yang mana ia tutup-tutupi sedari tadi.
Sejujurnya semua yang diucapkan sama mereka itu benar semua, tapi ya gimana lagi kalau misalkan kenyataannya juga aku udah nggak kuat terus kan ya semuanya itu yang jalannya kan aku. Ya walau pun di sini juga aku yang salah karena aku baru bilang sama mereka sekarang, dan di sini juga aku mau jujur sejujur-jujurnya sama mereka sama sekali. Yang ada kan aku malah ibu hanya cerita aja setengah-setengah ada di itu nggak sesuai sama pikiranku juga, terus kalau misalkan mereka tahu gimana ya perasaan mereka ya? Kalau misalkan mereka ngerti terus gimana ya jadinya itu bakalan kayak apa gitu lah. Ya aku tuh bukannya apa-apa juga cuma kan ya emangnya siapa yang aku cerita yang ke laris terus siapa yang aku ceritain itu emang nggak sepenuhnya sama juga, ya aku lihat porsinya juga lah secara kalau ke Laras kan seenggaknya kegiatan banyak tahu juga gimana perasaan kok kalau misalkan kayak gitu aja kan di satu sisi kan dia juga pernah kerja tuliskan juga pasti dia pernah ngerasain juga walaupun ya cuma sebentar aja dek kakak tidur lebih paham daripada ke Rara.
Lagian aku juga bukannya gimana-gimana juga cuma kan masalahnya tuh kalau misalkan Rara kan basicnya lebih ke kuliah. mau apa-apa pun juga kan pasti kan kayak dia berkata masih minta orang tua yang walaupun aku nggak gampang nggak cuma kan emang kenyataannya gitu jadi terlihat lebih kau masih sama aja gitu lah kalau lebihnya belum ada perbedaan yang kayak dia masih sibuk mikirin kuliahnya terus kan belum terlalu tahu juga dunia kayak gitu kayak gimana jadi kan takutnya malah dia tuh ngomong apa gitu sih enaknya terus malah aku kesel sendiri kan kalau enggak sesuai ekspektasi kan jadinya gimana juga.
Tapi kalau misalkan dipikir-pikir mereka juga bisa tahu, mereka juga pasti kan nggak ngerti ke toko ucapkan apa yang aku cari itu sebenarnya apa maksudnya yang tadi ke mereka itu pasti itu bakalan mereka ngertiin juga itu nyatanya mereka bisa ngasih orang kayak gitu ya aku tahu mereka tuh memang yang terbaik buat aku tapi kalau aku cerita lebih lanjut juga pasti ujung-ujungnya tuh cuma buat kayak gitu lagi aku nggak tahu rasanya kayak gimana begitu pasti responnya juga kayak gitu terus.
Dalam sekejap pandangan ini pun aku alihkan ke arah samping sejenak, 'Ya Allah ya Robbi ya kan mereka suatu saat tahu ya bukannya gimana-gimana juga ya ketikan yang namanya ditutupi kan pasti bakal ketahuan juga. lagian kan namanya misalkan apa ya kayak bau busuk kalau misalkan dia tetap di situ juga kan lama-lama pasti bakal tercium dan aku juga tipe kalau orang yang gak mungkin bisa juga bohong ke mereka, aku juga sekarang ya sama aja aku juga nggak bisa gitu loh. Arghh ya Allah, bisa-bisanya gitu ya Allah ... tapi kalau misalkan dipikir jaga juga agak gimana-gimana juga sih sebenarnya. Tapi emang kaya gini ishh. Serba salahkan sekarang jadinya malahan. Kayak pengen cerita yang sebenarnya tapi aku juga takut kalau misalkan malah mereka nggak terima juga tapi kalau misalnya nggak cerita juga kayak gini malah bingung sendiri juga. Mau terlalu berlebihan cerita juga kayaknya nggak enak ya bukannya gimana-gimana sih tapi kan ya intinya tuh gimana ya walaupun aku duduknya nanti itu pasti kalau misalkan aku boleh cerita ke mereka pasti juga kan mereka walaupun pertamanya pasti bakal marah terus kan setelahnya pernah juga mereka diam-diam dulu respon ucapan sakit banget sumpah. Udah gitu kalau misalkan udah gitu tuh gak tau sampai berapa menit pasti nanti setelah nya tuh baru deh apa namanya baru dia mereka tuh kayak gimana ya kayak mungkin lebih ke yaudah lah gimana lagi udah terlanjur juga mau di pulangnya juga nggak bisa namanya udah terlanjur udah nggak bisa diulangi kan gimana lagi mereka juga bakal pasrah tapi dibalik semua itu tetap saja rasanya seperti mengganjal di hati tapi tak mungkin juga kakak ucapkan karena aku yang tahu betul sikap dan karakter mereka tuh pakai apa makanya aku tuh terlalu takut sendiri juga segera nya terlebih sendiri aku ini orangnya terlalu kepikiran juga sebenarnya marah sama Rara juga sama aja sih aku cuma kan ya masih banyak mereka lah daripada aku gitu. Hish ....'
'Ya aku tahu mereka tuh pasti bakal memahami aku mereka pasti bakal tahu kek gimana perasaan aku juga kalau misalkan aku udah udah bilang ke aku atuh aku mau kaya gimana kaya gimana juga kan pasti mereka aku sadar dan pasti mereka juga bakal tahu respon kok kayak gimana soalnya juga kan aku sama mereka kenal juga nggak cuma sehari dua hari aja udah hampir berapa tahun sendiri tapi namanya kalau misalkan nggak enak kan itu juga gimana lagi aku juga enggak enak juga mau bilangnya. aku mau jujur juga aku juga kalau misalkan mereka marah kecewa sama aku lagian ini kan juga salah aku ngapain aku pakai segala Mbak langsung jujur malah bilang kayak gitu kan ujung-ujungnya malah ngasih saran ya walaupun emang sekarang mereka bener sih kaya yang habis di pikir-pikir dulu tapi ya gimana lagi orang aku juga udah terlanjur juga keluar. Udah gitu aku juga emang bener udah kayak apa ya istilahnya tuh kayak bener-bener yang gila sih kayak gimana ya lebih ke terlalu cepat ambil kesimpulan atau terlalu cepat mundur juga sih bisa dikatakan aku tuh orangnya kayak gitu. T-tapi gimana lagi huee ... namanya udah terlanjur ya udah terlanjur mau gimana gimana pun juga apakah bisa diubah lagi. Fyuh ... udahlah aku emang beneran harus pasrah deh kayaknya aku tidak mau bener kayak harus bener-bener kayak nyerah aja lah sama keadaan bagaimanapun nanti jadinya aku bakal pasrah aja kalau misalkan mereka marah ya bapak tapi kalau misalkan mereka nggak parah ya alhamdulillah juga toh kalau misalnya ini kan aku juga nggak cuma formalitas lebih banyak kayak begitu kita juga kalau misalkan ini kan takutnya mereka juga kaget kalau misalkan aku tiba-tiba keluar gitu ya Allah nyatanya emang gitu dan aku bilangnya ke mereka nggak gitu tapi kan ya paling nggak tahu mereka tahu sedikit diriku. Dan kalau terpaksa nya mereka udah ngeh duluan ya udah, jadinya ya mau gimana lagi buat emang aku yang kudu sabar dan berusaha ikhlas aja buat ngelakuin dari apa yang aku lakukan sekarang juga gitu.'
Kembali aku helakan nafas panjang di sini, mengingat-ingat hal-hal itu sejujurnya membuatku sedikit merasa bersalah juga makan tanya sedikit lebih tepatnya sangat besar tapi bagaimanapun juga itu juga bukan sepenuhnya salah ku karena semua ini yang menjalani aku dan aku adalah tokoh utama dari kisah aku sendiri jadi kalau misalkan aku menceritakan kepada mereka itu bukan masalah tapi kalau misalkan mereka terlalu mengambil satu sisi atas apa yang aku lakukan atas apa yang terjadi padaku pada kenyataannya mereka tidak merasakannya itu yang terlalu berlebihan. Tapi aku sendiri sebenarnya aku juga yakin jika berkata mungkin seperti itu, tapi namanya greget juga tetap saja greget dan itu mereka bakal merasakan apa yang tidak ada di otakku sekarang tapi ya udahlah nggak papa aku sudah terpasang pada keadaan atas apa yang akan terjadi nanti semoga saja mereka tak marah Dan semoga saja mereka dapat semakin mengerti aku lagi walaupun sekarang sudah mengerti ketika mereka akan ada kecewa sedikit karena aku aku ucapkan itu dan apa yang sudah aku lakukan tak mendengarkan nasehat mereka. tetapi aku sangat sadar betul jika oke ini ini adalah sebuah hal yang harus aku lakuin gitu karena emang ini juga bahasa kasarnya itu efek dari apa yang sudah aku lakukan.
Aku sudah sangat sangat berpasrah pada semua hal yang akan terjadi nantinya, aku sudah sangat sangat lelah untuk bertahan di tempat ini walaupun aku sadari betul juga di masa seperti sekarang mencari pekerjaan itu sangatlah susah dan aku sangat sadar betul jika apa yang diucapkan tadi Laras lagi adalah sebuah kode dari sebuah saran yang memang sangat betul dan aku pun sangat menyadarinya tetapi jika aku sendiri sudah tak kuat pantas untuk apa aku pertahankan? Apa iya ya untuk melewati ucapan orang saja karena itu rasanya tidak mungkin aku lakukan dan tak mungkin sekonyol itu aku ya kan juga..
Posisiku saat ini adalah antara serba salah dan serba tak tahu harus bagaimana, keadaanku sekarang adalah keadaan dimana aku yang seperti bingung juga atas diri sendiri. Tetapi disatu sisi aku juga tak terlalu bingung dan tak terlalu mengerti tentang sebuah hal yang aku sadari itu sangat dalam sekelas memang seperti menyelamatkan diriku tapi aku juga sadar juga karena suatu ketika pasti aku akan menyesal juga karena aku sudah melepaskan suatu hal yang nyatanya memang zaman sekarang ini dan dimasa yang seperti sekarang ini semua orang pernah berlomba untuk mendapatkan hal itu tapi kenapa aku dengan mudahnya melepaskan? Entahlah yang pasti di pikiranku sekarang adalah kesehatan mental itu juga penting ketimbang harus menuruti perkataan orang lain tah itu teman sendiri ataupun bukan karena ia menjalani adalah kita dan yang melakukan adalah kita sendiri.
Perihal suatu hal yang akan terjadi nanti semua sudah aku pasrahkan pada Alam semesta saj-
Glek!
Entah ada sumber kesadaran darimana yang pasti Fani kini lamunannya terbuyar. "Asli jadi nggak enak nanti kalau mereka tahu beneran aku udah keluar gimana responnya yah? Hadehh lagian kenapa boong sih Fani ... Fani .... Tapi kalau dipikir-pikir kalau misalkan aku jujur juga ujung-ujungnya pasti mereka bakal marah apalagi kan tadi mereka udah terang-terangan juga kalau misalkan mereka bilang harus dipikir-pikir dulu terus ini itunya tuh harus dilakuin dulu lah sebelum menyerah dan sebelum benar-benar emang pengen keluar gitu. Ya emang omongan mereka benar, aku juga sadar kalau misalkan apa yang aku omongin tuh eh salah maksudnya kalau misalkan apa yang aku lakuin itu terlalu cepat cepat dalam mengambil tindakan cuma ya gimana lagi orang emang udah enggak kuat tapi emang salah aku juga sih terlalu bedakan bilangnya udah gitu misalkan ini aku juga emang bener yang dikatain sama mereka. Karena pada intinya aku tuh terlalu mudah untuk melepaskan dalam maksud pekerjaan loh ya, karena kalau urusan percintaan mah aku banget ngilanginnya. CK! Apa sih Fani ... Ah sudahlah, orang juga emang kenyataannya kayak gini jadinya mau gimana lagi. Haduh ... Tapi kalau dipikir-pikir yang soal siapa namanya yang soal pekerjaan ini ya semoga aja kalau misalkan beneran mau ngasih tahu mereka beneran udah tahu mereka semoga aja nggak marah lah aku juga sih astagfirullah ... Kan jadi ribet urusanny-"
"Heh hayoo, urusan apa hayo ...."
Damn it, mendengar itu Fani tampak menoleh ke arah sumber suara dengan begitu kilatnya. Raut wajah terkejut jelas terlintas dari sosok itu, membuatnya panas dingin dalam sekejap sebelum setelahnya memang benar-benar dibuat susah payah menelan salivanya dalam-dalam.
Laras ... Yah orang itu adalah Laras yang baru saja selesai salat dzuhur dan baru saja keluar dari ruang kamar Ani sana yang kini mendapati wajah wajah terkejut itu jelas tampak mengerjitkan keningnya penuh seolah sangat bingung juga dibuatnya saat ini.
'Ini anak kenapa sih?!' batinnya sesaat dengan langkah kakinya juga yang kini berjalan semakin mendekat ke arah Fani yang tersenyum ragu.