Author PoV end!
Ih tapi asli ini mah kalau misalkan dilihat-lihat si Fani kayaknya emang nyembunyiin sesuatu deh, tapi apaan ya? Mana kalau dipikir-pikir juga kayaknya tuh kan ini kayak emang ahli nutup-nutupin juga lagi tapi kalau dia juga emang gimana ya orang yang lihatin sesuatu sama yang nutup-nutupin sesuatu terus sama orang yang lagi emang enggak ngomong sesuatu itu kayak kelihatan banget gitu kayak muka mukanya si Fani sekarang. So, aku kudu gimana? Aku kudu percaya atau enggak percaya nih sama ucapannya tadi kenapa aku jadi keingat sama tentang pekerjaannya tadi ya? Yang pokoknya intinya itu tentang tadi itu. Tentang dia yang katanya belum keluar kerja tapi kalau misalkan dilihat dilihat dari tadi yang mahal ke mencurigakan terus sekarang malah bilang kayak gini jangan jalan dia udah keluar?'
Semakin intens kutatap wajah fani yang aku lihat dan memang terlihat seperti menatap ke arahku juga dengan penuh kebingungan itu. Sama halnya seperti ku namun kenapa ada perbedaan yang tak lain tak bukan itu lebih ke arah di mana aku yang memang ini juga semakin mendekat ke arah Fani. Kaki ini semakin berjalan mendekat ke arahnya sama halnya dengan sosok yang ku tatap dan ku dekati lebih jauh ini justru tampak semakin terlihat kalang kabut yang itu juga justru membuatku semakin curiga atas apa yang diucapkannya tadi dan atas sekelumit kalimat yang aku dengar tanpa sengaja yang itu gimana itu juga saat aku sik tentang kalimat itu Fani tampak sebegitu kagetnya seperti tadi.
"Apa sih Ras, perasaan ngeliatin nya kayak gitu banget sih kayak apa aja yang enggak pernah aku lihat gitu maksudnya kayak nggak pernah lihat aku gitu. Padahal kan dari tadi juga udah lihat aku yang kayak gitu ya pokoknya kan gitu sama aku kenapa sih ngelihatnya kayak gitu aku tambah cantik ya padahal baru tadi maksudnya emang dari tadi jadi satu masa iya sih kamu cantik wkwkwk ...."
Mendengarnya, raut wajah greget juga geli aku lontarkan merespon hal itu. Sampai tangan kanan juga ikut maju ke depan menjitak kepalanya dengan sedikit keras walaupun tak terlalu juga tapi efeknya cukup mulai membuat sosok Fani lebay itu kan lain.
Kepala ini aku gelengkan sekali untuk merespon hal itu agar funny berada rasa curiga terus apa yang aku rasakan dan apa yang aku terlalu dipikirkan saat ini tentang apa yang aku lihat dan tetap sedikit kalimat yang aku dengar tadi. "Nggak ada wkwk, nggak ada apa-apa kok santai aja santai aja oke?! Cuman apa ya istilahnya tuh kayak jujur ya aku sendiri tuh suaranya tuh capek. Eheheh pengen duduk, udah buruan geseran dikit aku pengen duduk serous ehehehe ...."
Ya memang kenyataannya begitu dengan aksi ini aku tampak mendudukkan diri di samping Fani yang sebelumnya terlihat berat hati menggeserkan badannya yang memang terlihat sangat nyaman di tempatmu sana tapi kini duduknya pun tergeser karena ulahku.
"Tempat banyak kok ya masih aja malah ngegeser-geser in orang lagi duduk kamu tuh, by the way Rara mana belum selesai sholatnya?!"
"Ya belum tadi orang kalau misalkan apa namanya ini loh belum selesai orang kan tadi itu di sama kamu kan yqng kamu kelihatan cuma satu mukenanya dengan terpaksa gantian aja ini. Soalnya tadi mau keluar bilang ke kamu juga udah keburu mager!" ujarku dengan cengiran di akhir ucapan ke sana yang sempat membuat panik juga sedikit terkejut mendengar apa yang aku ucapkan itu.
"Lah mosok?!" kagetnya yang aku aku kirim sekali mantap, pandanganku masih setia menatap ke arah angin yang masih menatapku dengan bersamaan dengan itu pula asapnya membenarkan posisi duduk kembali soal mencari kenyamanan yang ada di tempat yang memang bisa aku bilang sudah terlalu banyak tergeser karena aksiku tadi.
"Perasaan tadi tuh kayak aku udah ngeluarin 2D mukenanya emang nggak ada nggak satu? Apa emang aku nggak ngeluarin dua ya cuma satu lagi yang tak keluarin? Lupa butuh tuh Ras, seriuss aku lupa tapi kayaknya itu ngeluarin duit tapi nggak tahu deh cuma satu aja tadi aku ngasihnya ke kamu?"
Belum adanya tanggung jawab sama sekali aku hanya bisa mengangguk dan mengangguk kembali merespon hal itu. "Nah kalau misalkan emang baru tak kasih 1 mah gila aja gitu seriusan aku kok bisa lupa ya?!"
"Yehh ngadi-ngadi, mana ada nggak sih dua orang tadi aja kamu cuma ngasih satu ke siapa namanya kak Rara terus aku nggak dikasih bener ya kan aku yang mau duluan tapi karena emang cuma dikasih satu ya udah jadinya itu niatnya aku mau dong Rara tulisan buat sholat. Eh tapi kenyataan yang dikasih cuma satu jadinya ya ya udah aku duluan deh terus juga karena Rara katanya tadi tuh pengen apa gitu nggak jelas juga sih pokoknya tuh intinya pengen benaran nih gantian lagi kayak sekarang ini. Tuh anaknya sekarang malah lagi salat karena tadi nyuruh aku duluan buat salat. Lagian kamu juga rada aneh sih apa sih kayak ada yang bisa begitu mikirin apaan? Ngelamun kan kamu tadi dari tadi?! Jujur nggak hmmm?!"
Damn it, entahlah mulut ini rasanya terlalu greget untuk tidak melakukan sebuah kalimat itu yang kenyataannya sebelumnya sangat ingin aku tahan untuk tidak dikeluarkan tapi kok ujung-ujungnya tetap sama saja karena aku yang memang sudah gatal dengan pertanyaan itu sedangkan disatu sisi aku juga tak bisa menahan nya karena memang dalam otak dan pikiran ku juga kenyataannya sangat mempertanyakan hal itu tentang sebuah ketidaksengajaan yang aku dengar walaupun hanya secuil juga tentang sebuah hal yang ternyata aja karena aku lihat tadi Fani benar-benar seperti orang yang kehabisan akal untuk berpikir jernih atau bahkan untuk bersikap biasa-biasa saja seperti biasanya.
Entahlah bahkan sampai sudah aku sampai tega mengeluarkan kalimat itu sosok yang aku tanyain justru masih dengan pendiriannya untuk sebuah respon gelengan kepala seperti apa yang kulihat dan seperti apa yang aku ketahui atas sosok itu saat ini.
"Allah ya udahlah aku juga udah capek kan intinya kalau misalkan emang bener bener tadi ngelamun, kalau misalkan lagi ada masalah cerita aja. Aku bukannya apa pengen tahu atau kita terlalu nggak cuma kalau misalkan itu ngebebanin pikiran kamu ya kalau bisa dibagi kenapa nggak gitu loh itu aku bisa ngasih salah dan suamiku kalau misalkan kamu mau aku ya udah kamu cerita sama Rara tapi nanti kalau misalkan orang udah keluar kalau misalkan udah selesai salat juga. Lagian emang serius nggak ada yang kamu pikirin selain hal yaitu dari kata yang termasuk ke pekerjaan lah paling nggak, ada hmmm? Jujur ya Allah ya Allah udah tahu kalau kita tuh enggak bisa kalau misalkan dikit-dikit ditutup itu aku tuh paling tahu kalau kamu nggak bisa gitu jadi kalau misalkan ini kita nggak bakal ember kok. Santai, percaya kan?!"
"Iya iya ya Allah kamu tuh makin kesini makin cerewet aja Ras perasaan, seriusan enggak ada ya Allah nanti kalau ada nanti juga aku bakal cerita kan saya enggak ada apa yang mau diceritain coba? Udah kau percaya aja kalau misalkan aku tak ada apa-apa santai aja. Kalau misalkan ada apa-apa pasti aku banget cerita serius aku juga janji wess, percaya kan?!"
Jujur di hadapkan dengan kalimat seperti ini sangat sulit untuk aku jawab, karena bagaimanapun juga jika aku menjawab iya seolah aku sendiri menentang tentang apa yang aku lihat tadi. Tapi juga aku menggeleng itu sama saja aku seperti merusak segala apa ya seperti segala hal yang di mana itu diharapkan sama Fani tapi malah aku dengan segala ketidaksadarannya eh salah maksudnya dengan segera kesadarannya mah berbicara tidak walaupun dengan sebuah aksi tapi itu bukan apa artinya sama saja? Jadinya malah seperti ini sekarang keadaannya. Tanpa ada meresponnya sama sekali, aku justru sedikit mengerucutkan bibirku penuh seolah merasa greget karena hal itu yang jika bola ku katakan pula itu ada yang respon sebaik-baiknya dari yang terbaik yang mungkin memang pas untuk aku keluarkan di segala aksi dan pernyataan yang keluar dari mulut Fani sebelumnya itu agar tidak salah salah juga di antara aku ataupun responku ke padanya.
'Tau deh ah Fan, aku pengen ngomong iya tuh biasanya aku juga nggak percaya tapi kalau misalkan aku tangan-tangan bilang enggak percaya juga kan kayaknya nggak mungkin gitu ya kali aku terang-terangan bilang nggak percaya pada kenyataannya kan kalau misalkan emang iya ya iya kalau misalnya nggak yang nggak tapi aku juga nggak mungkin nggak itu mn dan aku juga nggak mungkin bilang terang-terangan to the point kayak gitu aku juga masih sehat kali nggak mungkin lah kayak gitu tapi aku juga bingung kalau kayak gini ceritanya. Hadehhh tau ah puyeng, coba aja deh ntar aku tanya ke Rara aja siapa tahu dia juga ngeh sama yang aku lihat, yang aku tahu, sama yang aku sadari pada Fani dari tadi ini. CK, tapi kalau dipikir-pikir emang susah juga ini orang tua masih tahu kebenarannya itu ya Allah bisa kalau udah sakit banget udah ngerasa kayak ini baru bilang tapi kalau misalkan belum ya malah kayak gini tapi yang tapi kok kamu jadi overthinking sih astagfirullah. Masa iya si Laras ... Laras sama teman sendiri mau over thinking, overthinking hitungan baik ngapain ditngkatin kesel astagfirullah Laras ....'
*****
Tak terasa, detik demi detik pun berlalu dengan begitu cepatnya tapi tak terlalu terasa karena memang sedari tadi di antara aku, Rara, dan Fani si tuan rumah yang sedang aku dan Rara mainin ini dari tadi sibuk bercerita seperti seolah-olah itu setiap hal yang kami lakukan dan kami bicarakan di sini tuh seperti sudah direncanakan tapi entah lah apakah semua setiap perkumpulan chils pertemanan percakapan tidak aku bahkan tak tahu.
Tapi juga boleh aku jujur pasti di saat aku bertiga bertemu dari pagi kasih dimulai dengan percekcokan dulu, yah memang iya percekcokan karena datang yang terlambat lah dan molor lah itulah waktu yang sangat Maret yang sangat mundur jauh dan seperti itu bahkan baru sampai di tempat tujuan kita hari yang sudah mulai siang dan bisa dibilang matahari pun sudah cukup naik seperti tadi pagi pasti selalu aku sadari penuh jika setelahnya pasti akan ada sebuah perdebatan sengit kembali sebelum saling memaafkan dan setelahnya kembali hadir dengan tawa dan canda yang mengalir yang sebenarnya jika dipikir-pikir juga kehadiran kita sini tuh selain untuk seperti bisa dibilang quality time tapi juga bisa dibilang itu tuh seperti penyembuh lelah yang paling manjur di kalangan pertemanan dan persahabatan mungkin. Karena memang jujur bagiku juga jika bercerita ataupun bersenda gurau dengan yang emang di mana itu tuh paling mengerti diri kita sendiri itu sebenarnya selain diri sendiri yang kedua adalah cells pertemanan. Yakin, di dalamnya sana pasti akan ada sejuta cerita dan cerita rahasia yang sebenarnya tuh seringkali justru paling ampuh tertuang kan di sana daripada kepada keluarga ataupun pada sosok yang di mana tuh sebenarnya telah membesarkan kita selama dari kecil tapi terkadang kita justru lebih terbuka dengan sosok teman ataupun sosok sahabat yang pada dasarnya juga itu tuh sedikit amal seperti keluarga sendiri tapi tetap saja tidak bisa terlalu mengaitkan hal itu karena kita juga tidak bisa memungkiri jika sosok sahabat ataupun pertemanan yang sangat erat yang sangat dekat sekali itu juga kenapa nggak boleh juga untuk mendapatkannya dan yang pasti itu tuh dilihat sembarangan juga dan tidak semudah dan secepat itu juga mendapatkannya atau bisa dibilang tidak semuanya bisa tahu kita bisa tahu kerjaan kita dari nol tapi di situ adalah sosok yang paling mengerti kita di saat kita memang benar-benar tidak puasa dan bisa dibilang tidak mungkin juga menceritakan hal-hal yang bisa dibilang itu sebenarnya adalah sebuah keluhan kepada keluarga yang mana pastinya kita sadar jika kita sudah berkeluarga tak mungkin juga kita akan menceritakan beban lain yang sudah ta alami atau keluarga yaitu hanya akan menambah beban kembali dan akhirnya itu hanya kita ceritakan ke teman kita sendiri atau sahabat terdekat.
Mungkin sudah menjadi alasan tersendiri kali Hal yang diceritakan kepada teman atau yang diceritakan tidak kepada orang tua itu pasti ada tentang hal-hal yang dimana sebenarnya kita sudah sadar bahwa hal itu memang tidak semua terasa kita bebankan kembali di keluarga yang mana kita juga terkadang dituntut untuk lebih dewasa dan dituntut untuk lebih bisa memahami keadaan walaupun terkadang ada untuk memahami kita. Yah, jadinya seperti inilah aku dengan Rara juga Fani saat ini.
"Tapi kalau dipikir-pikir yah Ra, itu emang apa yah bisa dibilang kalau kuliah gitu kan yang orang-orang nggak mampu malah kebanyakan tuh pengen banget ya sedangkan orang yang mampu yang yg berkata kita lihat itu mereka emang gampang jatuh dapetin duit dan mereka itu emang kaya seolah-olah tuh uangnya tuh kayak ngalir terus gitu loh nah kita kan udah berhasil kuliah itu terjadi jatuhnya kayak malah buang-buang duit gitu loh paham nggak Ra? Fan?!"