Hari demi hari berlalu dengan begitu cepatnya, entah sampai kapan aku harus seperti ini terus tapi kenyataanya itu adalah sebuah pernyataan yang keluar dan muncul di benakku kalah beberapa bulan yang lalu atau mungkin bisa dibilang dalam hitungan beberapa minggu yang lalu setelah segala hal itu dalam sekejap dan seolah seperti dibuat tiba-tiba juga pada kenyataannya juga tidak sebegitu tiba-tiba kini sebuah panggilan kerja yang membuatku terlonjak bukan main pada sore hari kemarin membuatku sukses sudah bersih dan siap tapi dengan segala pakaian yang kau kenakan saat ini di jam-jam yang masih dibilang cukup lagi karena masih menunjukkan pukul 7 lebih seperempat ini.
Yah pada siapa yang tahu jika sebelumnya bahkan memang kebiasaan sebelum sebelum ini di jam-jam seperti sekarang adalah rutinitasku masih rebahan di kamar, jangankan untuk mandi apa belum beres-beres dan sampai seperti siap sedia seperti sekarang ini. Untuk sebuah aksi seperti itu akan menjadi sebuah tidak mustahil lain juga akan aku lakukan tapi kenyataannya ini semuanya pun terjawab dengan begitu jelas nya sampai semua hal yang seketika seperti merubahku dalam sekejap 180° membuatku berbeda dari biasanya ini sukses membuatku dihadiahi juga sebuah pernyataan-pernyataan yang keluar dari bunda dan juga mas Reno yang itu di mana juga sangat membuatku sedikit kesal kamu juga memang sedikit mengunggulkanku juga di sini karena memang kenyataannya jika aku adalah seorang yang disiplin pasti mereka akan senang bukan? Tapi yang ada di kenyataannya justru aku bisa seperti itu karena sebuah alasan dan apakah mungkin harus ada alasan terlebih dahulu agar aku bisa seperti itu?
Entahlah, ini adalah aku dengan segala ketidakjelasan dan dengan segala ke adaan yang selalu mengembang ambing kan diri dan juga selalu memberikan kejutan kepada diriku dan segala hal yang mungkin akan kulalui seperti saat ini.
Kedudukan diri di kursi makan yang ada di harapan bunda yang emang ini sedang mempersiapkan beberapa piring untuk sarapan dengan lauk pauk dan juga antek-anteknya yang lengkap ditaruh di atas meja di hadapanku persis ini sambil dengan helaan nafas panjangnya ia lontarkan dengan sebuah senyum juga yang terlontar dari arah dua sudut bibir sana, juga dengan sebuah gelengan kecil yang terlantar kan oleh sosok itu saat ini. Justru kembali membuatku terkekeh pelan menyadarinya, "Apa sih bunda udah sih nggak usah ribut ya Bun. Anaknya mau berjuang ini heheheh, doain yah semoga interview kali ini keterima."
"Iya iya yang mau berjuang semangat ya sayangku, aamiin ... Semoga keterima, terus udah deh apa tadi gua kan jadi kamu sering keluar nggak di rumah terus dia juga capek lihatnya. Ehehehe udah ah mbak sarapan dulu ya. Masih agak lama kan keluarnya nanti dulu makan dulu sarapan dulu biar ada energi, dan jangan lupa nanti kalau misalkan udah mau pulang interview-nya mengucap Bismillah dulu biar hasilnya juga enggak mengecewakan lagi. Biar kamu juga insya Allah bakal keterima gitu kerjanya kan jadi enak ya bukannya bunda udah nggak suka kalau misalkan kamu ada di rumah terus jadi kayak ngusir kamu biar nggak di rumah aja kamu juga yang senang sendiri bisa beli apa-apa sendiri nungguin bunda kan pasti tambah lama. Ya nggak hmmm?!"
"Eheheh iya juga sih, aamiin deh aamiin ... Semoga aja ya Bun Kan bunda udah bilang gitu ya semoga aja sama Allah yang diijabah gitu. Ya emang iya sih apa yang bunda bilang juga bener lagian aku juga udah capek Bun di rumah terus kayak nggak ada kerjaan sama sekali malah ada deng kerjaan, tapi ya masa iya kerjaanku cuma rebahan terus kan pasti juga bunda capek melihatnya. Ya emang iya sih tapi ya semoga aja ya berubahlah Bun karena kan gimana pun juga aku kan baru mulai kerjanya ya maksudnya baru mau interview hasilnya nggak ada yang penting udah berusaha tuh sudah di serahin juga semoga Allah semoga aja emang ini ya jadinya ya Bun. Iya masih agak lamaan kok, paling jam 8-an lah kalau undangan interview jam segitu, Laras nanti paling berangkatnya jam 7.30 pagi sini langsung sarapan dulu. Lagi nggak papa kan duluan kalau misalkan aku ini sarapan duluan hmmm?!"
Ya bukannya bagaimana bagaimana cuma kan rasanya jika aku mendahului sarapan orang-orang rumah yang letaknya lebih tua dariku itu sebenarnya aku sendiri seperti merasa kayak tidak layak juga gitu mendahului mereka pada kenyataannya umurku lebih mudah di sini dan seperti aneh saja rasanya dan itu adalah aksiku yang mungkin bisa dibilang karena aku sendiri orang yang enakan sampai kalimat itu pernah keluar dari mulutku tiba-tiba ini dan seperti tak bisa terkontrol lagi yang justru malah dihadiahi sebuah senyuman dari bunda yang kini tengah mengelap beberapa piring dan sendok yang masih di tangannya itu dengan begitu seriusnya, dan yang pasti seperti apa yang aku bilang tadi seperti sekarang juga sebenarnya aku merasa tak enak karena aku justru malah tampak santai ketimbang bunda yang kini masih sibuk mempersiapkan ini itu dan aku yang ini membantu justru malah kali ini di sarankan sekali olehnya untuk tidak membantu.
Yah ... Beberapa menit yang lalu aku turun ke sini untuk membantu bunda yang telah masak tapi memang entahlah ini adalah sebuah hal yang bisa dibilang akunya apapun aku juga tak tahu karena kenyataannya setelah bunda tahu aku mendapatkan wawancara interview untuk pekerjaan dalam sekejap pulang bunda melihatku dengan segala raut wajah senang dan mungkin memang aku tahu itu dia sangat senang karena memang itu yang aku impikan dan itu memang sebuah doa juga darinya untukku mungkin yang selama ini ia harapkan diam-diam tapi tak mengapa tapi juga entahlah karena nyatanya aku sendiri masih sedikit kekanakan namun juga pengen beranjak dewasa yang sesungguhnya yang tidak hanya memikirkan cinta-cintaan saja tapi kini semakin fokus pada masa depan dan membahagiakan orang tua juga kakak atau keluarga. Aamiin ...
Dengan segala kebingunganku saat ini yang juga mengesekiankan segala hal yang menjadi kebingunganku di otak beberapa detik yang lalu atas apa yang aku pikirkan itu kini sebuah aku lontarkan apa yang terlontar kan oleh Bunda saat ini.
"Jangan gitu lah Bun Laras tuh beneran nanya kalau misalkan nggak boleh kan ya udah nggak apa-apa gitu tapi kalau misalnya boleh kan ya Alhamdulillah gitu ehehehe ...."
Dalam sekejap mendengar hal itu justru sebuah hadiah jika akan kembali kudapatkan dari sosok Bunda. "Ngawur aja pertanyaan kamu tuh ya sudah jelas boleh lah ngapain nggak boleh, nggak boleh itu kamu tadi masak. Kalau masak emang bunda enggak ngebolehin karena apa karena kamu tuh kalo misalkan mau bantuin masak itu jadinya malah ngerecokin gitu makanya bunda nggak mau kalau sekarang mah ya jenazah boleh lah orang cuma makan juga kan. Kalau misalkan nggak boleh terus bunda masak sebanyak ini buat apa gitu loh? Kamu ini ada-ada aja ...." sahutnya penuh yang membuatku terkekeh.
"Ya kan siapa tahu gitu buat mas Reno aja kalau nggak ya buat bunda sama ayah sendiri gitu aku nggak dikasih kan saudara aku selama ini nyebelin sama bunda pernah bantuin bunda masak terus bunda jadi marah gara-gara Laras sekalinya bantu kayak gini jadi kayak gimana gitu kesannya. Ya kan bunda? Ibunda rada mikir gitu kan makanya bunda enggak ngebolehin Laras gak bantuin pasti karena itu kan? Lagian ya bunda juga aneh sih orang Laras kan bantuin juga emang niat mau bantuin, kalau misalkan nggak boleh bagaimana terus besok kalau misalnya sudah punya suami gimana dong masaknya masa ya suami malah disuruh makan cinta aja kan nggak cukup bunda ....."
"Hasyehh ... Masih kecil-kecil pindahannya nanti dulu kamu tuh kerja dulu yang fokus. Kalau udah kerja mapan udah siap udah ini gitu baru boleh sekarang kan masih kecil ngapain Mbak cita cita and fokus dulu sama kerja biar sukses. Nanti kalau misalkan udah sukses udah enak juga tahu mana massanya yang ini ya bunda mah tau ... Yang mana tuh emang ya udah masanya gitu, kalau kayak gitu kan ya pasti bunda nggak ngelarang lah lagian buat apa dilarang juga orang kamu juga bagus dari suatu saat akan terbiasa ya kalau misalnya kamu pengen belajar masak ya udah boleh minta kapan mau bayar masak bunda bimbing biar kamu bisa semua kalau tadi ya emang enggak bunda bolehin karena apa ya karena itu bunda itu emang sengaja enggak ngebolehin orang emang bunda spesialin kok biar ya itung-itung syukuran lah karena kamu dipanggil kerja setelah sekian lama kamu berjuang yang dulu-dulu sama kamu dipanggil tapi setelah nya enggak ada maksudnya kayak wawancara doang tapi nggak dipanggil gitu lho Mbak. Kan kemarin kemarin tuh telah kayak gitu kejadiannya kan seringnya kamu cuma biasanya mengeluh ini itu ini itu ya semoga aja sekarang enggak, udahan gitu. Udah ah, nggak usah dibahas. Sarapan aja kamu, bunda masih ada kerjaan. Kamu makan aja dulu gapapa, lagian kalau membahas soal kayak gini kayaknya kamu juga nggak paham udah udah udah bunda mau ke belakang dulu ya."
Lah, ditinggal beneran?!
Ya benar saja, dari pandanganku yang terlihat saat ini Bunda benar-benar meninggalkan aku di sini. Beraksi dengan segala hal yang dilancarkannya barusan dan dengan segala hal yang terlontar dari bibirnya beberapa detik yang lalu itu kini benar-benar ia lakukan saat ini. Hingga aku yang hanya bisa geleng-geleng kepala, ditambah lagi dengan apa yang aku lihat saat ini selalu seperti menyita perhatian dan sangat membuatku hanya bisa tak habis pikir juga dengan sosok Bunda. 'Apa iya dan apa mungkin jika suatu saat aku benar-benar sudah dewasa dan mungkin sama seperti apa yang bunda bilang tadi. Seperti masa dimana aku ya memang dia bilang sudah siapakah semua hal yang semakin nyata di kehidupan, dan itu seperti apa yang diucapkan oleh bunda juga tentang sebuah kesiapan untuk sesuatu hal yang lebih serius lagi di hidup ini. Apa mungkin kalau aku pun juga sama seperti bunda yang akan bersikap demikian kepada sang anak? Anak yang mungkin suatu saat bagaimana sikapnya aku pun tak tahu tapi yang pasti mungkin gambaran dari Sasak aku adalah sebuah bunda yang seperti itu tapi apakah mungkin? Entahlah, disini aku hanya bisa menggunakan nafas panjang dengan detik kemudian aku raih sebuah piring dari arah depan depanku yang memang sedikit berjarak ini.
"Tapi seriusan nih Bun aku beneran makan duluan ya?!" lagi dan lagi aku berucap demikian hanya untuk meyakinkan sosok bunda. Yah karena bagaimanapun juga aku adalah sosok paling mudah disini dan bagaimanapun juga sebenarnya mendahului orang yang lebih tua bukanlah sikapku banget di poin ini.
Sampai sosok yang aku ajak bicara itu menoleh kembali dengan segala aksi gregetnya itu berucap, "iya Masya Allah mbak itu mau bilang berapa kali sih kalau bunda udah bilang iya ya iya atuh Monggo silakan. Kok ya masih di ulangi terus gitu loh, ini bunda kalau misalkan beneran udah greget udah deh bunda lempar jauh-jauh ya di sini. Dibilangin kok ngeyel banget!"
Meringis tak jelas dengan segala hal yang aku rasakan setelah mendengar ucapan bunda itu jujur sedikit males juga sebenarnya mendengarkan atau bahkan memang kita harus mendapati kalimat seperti itu aku antarkan karena kenyataannya aku sendiri orangnya sungguh tidak enakan jika dibandingkan dengan hal apapun itu.
"Ya udah deh ya ya ya allah bunda tuh lagian kan aku nanya serius, ya oke deh oke sekarang mau makan duluan ya udah lanjutin aja itunya. Nanti nggak selesai-selesai loh nanti, tah kalau misalkan mau Laras bantuin juga pasti nanti nggak dibolehin juga sama bunda. Kan jadinya sama aja hmmmm, ya udah ya bund Laras sarapan dulu ehehehe. Bunda lanjut lagi ya sama kerjaannya ehehehe, maafkan anakmu ini yang seketika tiba-tiba jadi anak yang durhaka. Tapi bukan aku yang minta loh itu wkwkw jadi Ya nggak papa kan Bun kalau misalkan ini duluan ya orang bunda udah bilang gitu ya kan udah dienakin masa nggak mau ehehehe ...."
"Hasyeh berisik kamu itu, iya sana makan buruan ... Kamu ngomong kayak gitu sekali lagi udah pites asli. Asli nyebelin banget kamu itu lho nggak makan tinggal makan kamu sama sekali lagi bunda buang beneran loh kamu tuh. Gemes tahu bunda tuh lama-lama sama kamu jangan sampai bunda yang lagi di sini langsung lari ke situ buat numpuk kamu Lo mbak. Punya anak kok ya gini amat, maunya bunda tuh sekali dikasih tahu ya udah gitu loh langsung paham. Langsung dikerjain ... Nggak malah ngomong terus jaya gini, paham?!"
"CK, iya iya ya Allah ... Nggak boleh emosian bunda kalau emosian nanti jadinya gimana loh malahan. Udah ih, ya udah Laras makan dulu aja daripada kena omelan bunda terus capek tahu dengerinnya. Udah ya bund nggak usah cari keribu-"
"Hasyeh berisik, kamu yang ribut mbak. Kelamaan banget mau makan juga, CK!"