"Hishh ... Iya iya iya ya Allah astagfirullah iya iya bunda ya udah air gini maksudnya habis ini beneran makan. Udah ih Laras makan ...."
Aku yang berucap demikian justru dijawab sebuah deh sama oleh bunda saat ini. Tapi karena memang aku yang tak mau terlalu membuat bunda kembali dibuat sibuk dan membuatnya marah akhirnya aku pun mengalah dengan langkah selanjutnya yang segala aksi yang ingin aku lontarkan saat ini. Detik setelahnya pun aku sudah kembali hanya dengan segala aksi dan tindakanku, sebuah piring yang sudah terisi penuh oleh nasi juga lauk yang memang aku ambil Langkat di sini sukses membuat bunda jalan-jalan kepala dari arah sana menyadari aku yang demikian tapi aku hanya bisa menyengir di sini tanpa ada niatan untuk menjawab atau menanyakan sebuah pada bunda saat ini.
"Nah gitu dong makan yang banyak nggak usah ngomong yang dibanyakin, kalau kamu tuh kerjaannya ngomong mulu nggak gendut-gendut kamu Mbak bukannya tambah berisi itu badan malah tambah berisi itu mulut karena ngomong terus. Udah dilanjut nggak usah ngejawab lagi makan yang banyak di sini berangkat kan? Semangat ya Mbak dengerin pesan bunda tadi intinya jangan lupa basmalahnya, kalau memang rezeki pasti tidak akan kemana dann kalau memang sudah takdirmu pasti akan menjadi jalanmu juga. Pahamkan?!" ujar Bunda padaku yang hanya kau anggap saja karena memang mulut kau ini masih cukup penuh untuk bisa menjawab yang membuatku justru tampak menahan segala jawabannya ingin aku keluarkan hanya dengan anggukan itu setelah menyadari segala hal yang terlontar oleh mulut bunda dan juga dengan segala aksi yang kini dilakukannya saat ini.
Jujur mendengar segala hal yang terucap oleh bibir bunda itu dalam sekejap dan bahkan sesekali aku sendiri tampak menghelakan nafas panjang-panjang, aku tahu perihal apa yang diucapkan oleh bunda itu memang sepenuhnya benar. Karena bukan apa-apa tentang sesuatu yang diucapkan dengan basmalah insya Allah akan berakhir dengan Alhamdulillah. Bukannya aku tidak suka rasa apa yang diucapkan oleh bunda itu tidak, bukan begitu hanya saja apa diberitahu olehnya pun sebenarnya aku juga sudah paham dan mengerti. Perihal seperti ini aku memang paham, tetapi kebiasaanku adalah aku ya memang tak mungkin juga bukan atas setiap niatku aku lontarkan langsung pada setiap orang yang ada di dekatku? Yah memang tidak. Oleh karenanya, merespon hal itu aku hanya tersenyum dengan anggukan yang juga aku lontarkan sesaat setelahnya.
"Iya Bunda ... Laras juga tahu kok, Laras juga paham. Doa yang baik-baik aja semoga Ema rezekinya Lara saat ini ya semoga aja kan Bun nggak ada yang tahu iya dibantu dengan bismillah aja kan kalau misalkan emang rejekinya juga pasti nggak akan kemana. Kalau emang udah takdirnya Laras kasihkan juga bakal Laras genggam, kalau memang itu udah jadi jalannya Laras pasti juga akan bakal terlewati dan di permudah juga urusannya. Makanya, doain aja ya Bund semoga emang jalan dan rezekinya Laras kali ini."
"Aamiin ...."
Satu sendok nasi dengan lauknya yang baru saja aku suapkan ke mulut berhasil aku kunyah kembali di sini, selesainya dari itu tangan kananku pun masih setia memegangi sendok itu dengan penuh sampai dengan pandangan ku juga yang saat ini secara sadar mendapati bunda yang kembali berjalan mendekat ke arahku dimana aku yang kini tampak duduk manis dengan segala hal yang aku lakukan saat ini di meja makan.
Sebuah benda yang berada di kedua tangan bunda yang ia bawa penuh dengan segala aksi yang ia lakukan juga karena memang sedang berjalan ke arahku itu sukses membuatku mengalihkan segala keputusan ku kepada benda itu. Keningku mengerjit sempurna, dengan segala kebingungan. Aku tatap dan aku ikut dalam pergerakan bunda sampai dengan berada di hadapanku saat ini, "Itu apa sih Bund?" tanyaku bingung. Yaa bagaimana mau tidak bingung jika pada kenyataannya justru sebuah keadaan tiba-tiba memaksaku untuk berpikir keras atau sesuatu yang tiba-tiba ada di hadapanku itu sukses membuatku berpikir.
Sedangkan sosok bunda yang ada di hadapanku itu kini tampak menoleh sekilas ke arahku setelah segala aksi juga yang ia lakukan tampak meletakkan benda itu dengan perlahan ke meja makan.
"Ini itu apa ya namanya ya kayak ya kayak gini pokoknya Mbak. Namanya kolak, tau nggak?! Eh tapi nih ya mbak kalau misalkan kamu nggak tahu apa yang namanya kolak itu sebenarnya ya keterlaluan. Soalnya gimana ya kan secara ya tuh kaya bunda juga kan gak sekali dua kali bikin kayak gini kan emang sering juga kan. Masa iya kamu bingung mananya berada tahu kalau tahu kamu? Atau lupa hmmm?!"
Bersamaan dengan bunda yang berucap demikian sukses membuatku mengerjit dan bertanya-tanya dalam sekejap, namun hal itu tak menghalangi untuk melanjutkan aksiku yang tengah sarapan ini. Sampai dengan setelah selesai aku menyalahkan satu sendok nasi ke dalam mulut kembali aku tatap bunda dengan sedikit kebingungan, beberapa detik aku terdiam sembari menyelesaikan segala kunyahan yang ada di mulut ini aku berfikir.
'Pagi-pagi buat kolak? Ck, ini tuh bukannya lupa ataupun apa bunda Masya Allah. Lagian udah kayak ada acara apa aja gitu loh mana nggak hujan enggak ini juga buat kolak lebaran juga enggak maksudnya Ramadhan juga kan belum biasa orang mah buat kolak pas Ramadan aja ya rata-rata deng. Lah tapi ini apa? Masa iya bunda malah buat kolak di pagi hari kayak gini udah alasannya aku juga nggak tahu hadeh ... Membagongkan banget hish atau enggak lagi ada hajatan atau apa gitu masih mending. Nah kalau kayak gini kan asli membagongkan banget, udah gitu jelas-jelas kaya gini juga hadeh ...' batinku penuh masih dengan diri yang belum niat sama sekali untuk merespon secara langsung atas apa yang terlantar kan oleh mulut bunda saat itu juga.
Yah ucapan itu hanya bisa aku lontarkan di dalam hati saja, karena detik setelahnya sebuah ucapan yang enak telantarkan untuk merespon hal yang tercipta oleh bunda itu justru lebih dulu didahului olehnya penuh dari bibirnya sana sukses membuatku terdongak dan menatap dengan segala tanya aku ke arah bunda seperti sekarang ini.
Ditambah dengan situasi dan keadaan yang semakin siang ini, sesekali aku pun melanjutkan aksiku yang kini tengah sarapan pagi. Menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulut lagi dan lagi sampai benar Tandes membutuhkan waktu yang entahlah ... bahkan saat ini, segala aktivitasku ini pun sesekali tahan karena ulah bunda yang memang katanya menyuruhku untuk menyelesaikan makanannya tapi malah seringkali mengajakku berbicara seperti sekarang ini sedangkan di atas sana jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah 8 an kurang lebih.