"Apa?!"
"Nggak ada, udah itu nggak usah mikir yang aneh-aneh udah tuh paham banget sama apa yang kamu pikirin yang ada di otak kamu sekarang tapi ya udah ih kamu kalau mau sarapan lanjutin dulu dihabisin dulu sampai habis gitu loh udah nggak usah respon yang lain-lain dulu itu dihabisin dulu diselesaiin. Orang kamu tuh kok kebiasaan banget sih jadi orang pasti kayak gitu makanya itu kalau misalkan ini ya yang udah lanjut lagi lah makannya udah buruan. Berangkat kan nggak usah bawa waktu rezeki itu dicari dengan bismillah dengan niat insya Allah berkah dan insya Allah emang jalannya. Paham?!"
"CK! Iya iya iya ya Allah. Nih Laras lanjut lagi makannya!"
Benar saja dalam detik kemudian aku sudah kembali hadir dengan segala aksiku di sini, sampai di detik demi detik pun berlalu semua urusanku di pagi hari dan atas semua ritual yang biasa aku lakukan di setiap pagi pun selesai dengan tepat waktu.
Aku berjalan dengan perlahan keluar rumah, mendekat dan berjalan lebih dekat ke garasi rumah untuk mengeluarkan sebuah motor yang memang itu adalah motor kesayangan ku untuk kulajukan keliling dan melewati jalanan yang sudah aku tebak pasti akan sangat ramai karena kenyataannya hari ini adalah hari senin dimana semua aktivitas dan tak menutup kemungkinan juga setiap orang pasti akan keluar dan memang bagaimana ya ibarat katanya setiap orang pasti akan keluar memenuhi jalanan raya karena memang sudah mulai kembali beraktivitas seperti semula. Itu untuk mereka, tetapi untuk diriku sendiri bahkan aku dibuat bingung. Aku baru saja ingin berangkat untuk sebuah keadaan di mana panggilan kerja kudapatkan.
Bahkan di sela-sela aksi ku yang kini tanpa mengeluarkan semua mata dari garasi rumah, pikiranku justru kemana-mana tentang hal itu. Sedikit bingung jelas aku lontarkan di sini sampai sebuah pertanyaan hanya bisa aku batin di dalam hati perihal, 'Padahal kenyataannya aku tuh baru aja dipanggil kerja dan itu belum kerja juga gimana ya kayak sebenarnya tuh aku kan baru mau interview atau matikan belum kerja dan belum tentu juga diterima. Nah, eh tapi semoga aja emang diterima kerja sih aamiin. Semoga emang jalan rezekinya. Tapi ... Kalau kenyataannya bahkan sebenarnya tuh aku sendiri kan belum tentu ini ya soalnya kayak gitu lah kenapa aku sepagi-pagi ini udah harus berangkat? Berasa udah kayak dipanggil kerja banget ya Allah. Berasa kaya emang udah disuruh kerja, adakah masih interview lah aku ngapain pagi banget udah disuruh ke sana? Sedangkan aku juga tahu sendiri kalau jam segini itu pasti karyawan sana tuh yang lagi pada berangkat lah kok serasa kayak emang udah karyawan? Wah parah nih ... Jangan-jangan ntar cuma disuruh nunggu lama-lama lagi, biar bareng berangkat sama mereka biar malu sendiri dan emang biar gimana yah. Eummm mungkin ada maksud tersendiri? Ah sial ... Kenapa jadi overthinking sih Laras ....'
Bug!
Satu bogeman berhasil aku layangkan di atas jok motor yang baru saja akan ku keluarkan ini. Sembari dengan hal itu, sebuah gelengan pun aku keluarkan pula di sini merespon yang terlihat sebegitu bagaimana ini. "Haishhh, mulai kan over tingginya mulai kan nggak jelasnya melainkan sok tahunya dan mulai kan sok menyimpulkannya ... CK! Udah ah, berangkat aja dulu sekarang siapa tahu emang cuma pikiran pikiran gak jelas kau aja yang sok-sokan gimana kayak gini. Ya semoga aja ini sebuah pertanda aja kalau misalkan suatu saat emang, eh ya enggak suatu saat juga deng maksudnya siapa tau ini suatu pertanda kalau ini jalan rezekiku kan? Hooh toh? Aamiin ...."
Sebuah anggukan mantap aku keluarkan di sini, "Hooh wes yakin, fiks banget ini mah. Oke, bismillah berangkat!"
Tanpa berbasa-basi lagi, aku pun langsung mengemudikan motor Beat ini melintasi jalanan komplek dan jalanan raya sampai ke tempat tujuanku nanti.
*****
Lima belas menit berlalu, di sini bukan berarti aku sudah sampai ke tempat tujuan. Melainkan kini aku sudah hampir mendekati tempat tujuan yang akan aku datangi, jujur nervous dan grogi aku rasakan di sini. Entahlah, bahkan kejadian seperti ini bukan baru sekali atau dua kali saja aku rasakan. Tapi entah kenapa bisa sukses membuatku berpikir penuh bahkan bisa membuatku lebuh grogi dari hal-hal seperti ini yang biasa aku lakukan dulu.
Apa ini sebuah pertanda jika memang akan menjadi jaln rezekiku? Yang pasti aku tak ingin terlalu berharap. Tapi jika memang ini jalanku, aku pun tak akan menolak karena ini juga memang keinginanku semenjak lulus SMA dan paling tidak aku tidak terjerat status beban keluarga juga di sini.
Helaan nafas panjang aku lontarkan, sebuah pikiran yang entah akan sampai kapan kembali hilang setelah sekian lama hadir di otakku mengingat hal ini. Yang pasti aku hanya terus berusaha tenang agar tidak semakin dibuat-buat nervous saat ini, mungkin jika boleh aku kira-kira. Hampir 100 meter an lagi aku sampai tempat tujuan. Motor yang aku lajukan pun sedari beberapa detik yang lalu mulai kuperlambat aksinya.
Sampai di keadaan aku yang masih setia di sini, di jalanan yang ku perlambat laju motorku juga. Aku masih panas dingin dibuatnya, salah dibuat berpikir penuh atas sebuah hal yang tak seharusnya aku lakukan ini. Tapi semua itu kembali hadir dan terus menerpa diriku sampai dengan sebuah lahan akan sepanjang mungkin kembali aku lontarkan sampai kesekian kalinya sampai aku sendiri juga sebenarnya sudah lelah dibuatnya.
"Tapi kalau dipikir-pikir emang aku tuh nggak harus kayak gini, nggak boleh Laras ... Nggak boleh! Bener apa kata bunda awali dengan bismillah insya Allah berkah, kamu nggak boleh mundur masa belum berusaha udah mau mundur duluan. Masa belum dicoba udah takut duluan, masa belum apa-apa udah kepikiran ujung-ujungnya bakal gimana. Ini tuh cuma pikiran kamu Laras, itu cuma sebuah bentuk ketakutan kamu. Semuanya nggak bakal kayak gitu kok percaya deh astagfirullah, seriusan kamu harus percaya sama diri sendirilah ras Masya Allah. Tapi jangan percaya sama pikiran-pikiran kamu yang suka ngaco udah ngawur ini. Hush, buang jauh-jauh ya Allah astagfirullah ...." gerutuku tak jelas sendiri di sini, di tempat ini dan di pinggir jalan di mana mungkin 2 meter lagi adalah tempat dimana tempat tujuanku sebelumnya itu yang tak kunjung aku datangi tapi malah mandek di sini.
Yah padahal tujuan tempatnya sudah berada di depan mata tapi pikiranku kembali wi-fi memberontak sendiri tak jelas bahkan seperti sok tahu sendiri pada kenyataannya semua itu belum tentu terjadi dan itu hanya sebuah pikiran pikiran tak jelas yang seharusnya pun harus hilang dari ingatan kuat tapi kenapa sangat susah sekali untuk aku hilangkan? Entahlah ... Yang pasti aku hanya berusaha bisa tapi entahlah semuanya sudah selalu aku usahakan tapi jika diriku masih saja saya seperti ini aku sendiri bahkan bingung harus seperti apa.
Tapi aku tak boleh lengah, hidup mesti berjalan dan ketakutan harus dihilangkan. Laras ... Pejemin mata kamu please ....
Seolah seperti diberi sebuah instruksi dari sosok ahli dalam bidang apapun itu entah siapa yang tiba-tiba merasuki diriku ini tapi yang jelas dalam hitungan detik pula, mata ini aku pejamkan secara penuh dengan helaan nafas panjang yang juga aku lancarkan saat ini disini setelahnya.
"Oke, enggak boleh takut keras serahin semuanya pada yang di atas. Bismillah aja semoga doamu segera terbalaskan dan segera diaminkan oleh alam, semoga emang ini takdirmu dan semoga emang ini jalanmu. Apapun hasilnya harus selalu berprasangka baik pada keadaan, jangan nyerah, dan tetap positif thinking oke?!"
FYUH ....
Dalam hitungan detik setelahnya aku kembali melanjutkan motorku untuk bisa lebih dekat lagi dengan tempat tujuan yang memang sebelumnya sangat nanggung aku berhentikan motor ini.
"Bismillah yakin ...."
Melawan segala rasa malu yang ada, aku tampak mencuekkan diri pada keadaan.
Tanpa berbasa-basi lagi motor ini kembali aku lagi lajukan ke depan sana.
*****
Detik demi detik berlalu dengan begitu cepatnya, kini aku berada di lobby kantor tempat dimana aku disuruh duduk oleh seorang security yang entahlah rasa rasanya seperti ingin membuatku kabur dari sini karena memang aku yang sendirian atau memang hanya aku saja yang dipanggil untuk interview kerja hari ini? Sampai segala pikiran pikiran tak jelas kembali hadir di otakku merespon hal itu.
Sesekali pandanganku kuedarkan ke arah samping kanan dan kiri dan ke arah sekitar tempat dimana aku berada saat ini yang sesekali juga tak jarang ada orang berlalu-lalang yaitu menamati keberadaanku di situ pula kembali membuatku seperti merasa ini hanya aku saja atau sebagaimana?!