Mbak Laras Bukan?

3324 Kata
Entahlah, bahkan aku kebingungan sendiri di sini. Seperti tak tahu lagi harus bagaimana dan seperti tak tahu lagi akan seperti apa kejadian setelah ini, tapi satu yang perlu aku ketahui hanyalah aku hanya bisa bersabar disini menunggu kedatangan seseorang atau belakang kedatangan security yang tadinya menyuruhku duduk beberapa menit yang lalu itu atau bahkan hampir setengah jam-an lebih kini tak kunjung datang mungkin nanti bisa saja itu juga yang datang kembali kepadaku dan memberitahukan sebuah hal untuk hal selanjutnya yang harus aku lakukan mungkin untuk sebuah interview kerja yang sebenarnya? Tapi di sini sama saja karena pada akhirnya aku tetap sendirian, tidak ada teman tidak ada satu orang pun yang mengenalku atau bahkan aku kenal atau bahkan lagi lebih parahnya mengajakku berbicara karena di sini aku benar-benar sendirian seperti tak punya seorang pun kawan. Tapi aku sendiri tak menampiknya karena memang di sini aku juga baru pertama kali datang, masuk dan bahkan memang benar-benar baru sekali ini aku bisa berkesempatan untuk datang ke tempat ini dimana sebuah gedung perkantoran yang bisa dibilang lumayan juga. Yah ... mungkin ini adalah hal terbesar yang terlalu konyol juga aku lakukan dan terlalu berani juga aku ambil resiko karena bisa-bisanya aku memasukkan sebuah lowongan pekerjaan di sini, entahlah. Mungkin lebih parahnya lagi bisa dibilang aku ini setengah sadar membuat lowongan pekerjaan di sini. Pulangnya secara begitu pedenya aku hadir di sini sendirian dan ini entahlah atas kesendirianku ini juga membuatku berpikir positif tetapi juga berpikir negatif atas sesuatu hal yang mungkin akan terjadi setelah ini, setelah aku pulang, atau bahkan memang setelah aku benar-benar selesai dengan urusan ku yang ini. Lelah jelas aku rasakan di sini menunggu ketidakpastian ini, keadaan dimana yang sangat sangat sangat tidak pasti karena aku tak mendapati satu orang saja mungkin orang-orang yang sekiranya itu seperti memang asing di tempat ini sepertiku, orang-orang yang dari gelagatnya memang seperti tak pernah masuk ke sini atau memang orang-orang yang dari gelagatnya terlihat sama sepertiku yang tengah berusaha dan berdoa penuh agar keterima di kerjaan ini. Entahlah, rasanya seperti ingin berharap lebih karena di sini semua aku sendirian yang seperti seolah-olah sedang berusaha melamar pekerjaan tapi ingin berharap seperti itu juga rasanya terlalu tidak mungkin karena kenyataannya tidak ada yang tahu bagaimana kejadiannya setelah ini. Sampai sebuah ingatanku tentang ucapan bunda tadi tiba-tiba bersliweran di otakku lagi yang pada intinya, aksiku ttadi memang terusik karena justru sarapanku justru malah terfokus pada sebuah ketidakjelasan dan atas semua hal yang justru malah aku keluhkan pada bunda tapi memang benar jika pada kenyataannya setelah itu bola sebuah solusi didapatkan dari bunda yang pada kenyataannya beliau berbicara agar aku menyelesaikan makananku memang benar cuma ucapan-ucapannya itu sangat tercetak jelas dan sangat jelas aku ingat-ingat tuh disini di otakku yang walaupun memang selalu overload dan memang seperti selalu kebanyakan pikiran, selalu sibuk memikirkan hal-hal tak jelas yang pada intinya hanya membuat diriku sendiri tak kunjung menyelesaikan kegiatan kota di yang berujung di ceramah diceramahin lagi walaupun memang kita boleh aku jujur sayang bunda tadi memang benar-benar sangat sesuai dengan isi hati dan juga memang benar-benar sangat penampar tapi di sisi lain juga ucapkan itu membuatku tersadar sampai detik ini. 1 kalimat yang berhasil merubah rasa segala keluh kesahku menjadi bismillah adalah ketika bunda selalu mengingatkanku bahwa segala hal itu memang harus diperjuangkan dan segala hal itu tak selamanya harus sukses dan sesuai dengan ekspektasi kita, melainkan bisa saja jika sesuatu yang kita ekspresikan itu tak sesuai dengan apa yang terjadi pada kenyataan. Apa yang diucapkan oleh bunda memang benar jika semua hal itu harus terus-menerus diusahakan, jangan sampai berhenti untuk diusahakan dan tetap selalu berusaha meskipun kenyataannya sangat menyakitkan dan meskipun kenyataannya memang selalu tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tapi ... kalimat, 'Selalu mulai semuanya dengan bismillah kak insya Allah jadi Alhamdulillah insya Allah bakalan berkah Dunia akhirat kamu boleh gagal tapi kamu nggak boleh menyerah kamu bisa aja pasrah tapi kamu jangan pernah melakukan itu semua hanya karena amarah saja.' Itu adalah sebuah hal yang aku rasakan jelas tampak sangat-sangat dalam segala arti dan makna yang terkandung pada kalimat yang dilontarkan oleh bunda saat beberapa kali sendiri bunda berkata demikian dan itulah kalimat secuil yang selalu teringat dalam benakku. Aku memang tahu usaha itu perlu usaha itu memang harus dilakukan doa itu juga harus diikutin secara beriringan dengan usaha maka hasil pun akan mengikutinya tanpa dipaksa. Aku tahu jika semuanya itu tak selalu berjalan mulus seperti apa yang diinginkan, tetapi aku juga mengerti jika semuanya itu selalu ada jalan dibalik hal yang terasa amat berat di dunia ini. Jalan terbaik dan jalan satu-satunya untuk merubah segala persepsi pada diri dan segala semangat agar terus membara adalah selalu menginginkan segala doa dan selalu menerbangkan tinggi-tinggi doa itu agar terkabul dengan ridhonya dan juga disertai dengan usaha yang semaksimal juga. Aku percaya jika takdir itu memang nyata walaupun pada kenyataannya selalu membolak-balikkan keadaan dan selalu membuat diri seolah-olah adalah makhluk yang paling terkuat merasakannya. Tapi bunda selalu mengingatkan jika segala sesuatu yang diberikan kepada kita dan segala sesuatu yang seolah-olah menjadi cobaan atau kita itu adalah cara tuhan untuk mengukur seberapa besar kesabaran dan seberapa besar perjuangan kita. Aku tau itu, tapi aku sendiri juga tak munafik jika kenyataannya aku sering menyalahkan takdir dan justru malah sering menyepelekan keadaan padahal kenyataannya hal itu tak seharusnya aku lakukan. Kini yang ada pada pikiranku dan yang ada pada segala hal yang aku bayangkan hanyalah sebuah aamiin yang terjadi pada kenyataan, pada diri yang terus-menerus akan menyalahkan takdir ini dan pada diri yang selalu berusaha juga untuk bisa berjalan semulus yang diinginkan walaupun jalan terjal selalu dihadapi juga. Jujur awalnya ingin mengapresiasi diri sendiri dengan sebuah hal kecil yang membahagiakan, sejujurnya aku sendiri pun tak mau terlalu mau berikut keadaan dan tak mau terlalu memusingkan kenyataan sampai berujung fatal yang justru malah membuat diriku tidak bersyukur pada kenyataan tapi bagaimanapun lagi keadaan tetaplah keadaan, yang entah kita akan menerimanya ataupun tidak jika itu sudah takdir kita pasti akan terlaksana dan akan diberikan kepada kita tanpa kita penolong sedikit pun masih takdir itu akan terus-menerus mendesak kepada kita dengan segala hal yang memang sudah digariskan. Benar kata bunda memang jika pikiran-pikiran yang tak perlu seharusnya kita pikirkan itu juga kita terlalu dibebankan pada otak, karena sejatinya semuanya itu seperti sama saja dan yahoo log in semakin kesini ini aku semakin paham arti setiap kata yang selalu dilontarkan oleh bunda tapi bagaimana lagi jika kenyataannya semua ini justru malah aku abaikan dan seringkali aku sendiri jujur khilaf lihat apa yang dimaksudkan oleh bunda dan perihal tentang sesuatu yang memang tak seharusnya dipikirkan itu justru seringkali mampir di otakku dan malah membuatku seperti tak bisa berkata-kata juga di sini. Tapi, entahlah. Aku hanya menginginkan diriku yang tak terlalu memusingkan segala sesuatu yang tak sepantasnya juga untuk dipusingkan. Jujur, lelah tapi bagaimana lagi. Sampai dengan lelahnya yang membuatku tersadar itu dalam sekejap sebuah lahan nafas aku lontarkan dengan begitu panjangnya di sini. Bersamaan dengan itu sebuah tepukan berhasil mendarat di bahu kanan saat sebuah lamunan juga the buyer bersamaan dengan itu. Pandanganku tertoleh, sedetik kemudian aku kembali beraksi dengan sosok diri yang terkejut bukan main ini. Ku tatap seorang laki-laki yang berdiri di samping kananku itu yang secara gagahnya juga berdiri di samping tempat diriku duduk dengan senyumannya. "Bisa-bisanya gitu loh malah ngelamun Mbak pagi-pagi kayak gini nih," sindirnya dengan sebuah senyuman juga yang masih tercipta penuh dari arah 2 sudut bibirnya sana menatapku dengan gelengan kepala yang juga tipis-tipis ia lakukan ditambah lagi dengan sebuah ketampanan yang berkarisma itu membuatku sedikit terdiam kita di sini merespon dan mengartikan semuanya sampai sebuah lengkungan senyum pun aku lontarkan merespon hal itu. Segala ekspresi terkejut ku pun aku samarkan dengan penuh, sampai sebuah hal yang seharusnya aku keluarkan yakni karena terkejut mendapati hal itu dalam sekejap tertahan secara penuh sampai hanya bisa aku jawab dan aku respon dengan sebuah senyuman lagi dan lagi karena aku pun sendiri masih menahan semuanya entah itu keterkejutan ataupun sebuah respon agar terlihat biasa saja pada kenyataannya kok sendiri sebaliknya harus apa yang aku lontarkan saat ini pada diriku kepada sosok di sampingku ini. "Hust kan ditanya malah diam-diam aja, Mbak kalau ditanya itu dijawab ini malah ngelamun lagi banyak pikiran? Atau lagi deg-degan karena mau interview kerja ya?!" Mendengar itu yakni mendengar kalimat terakhir yang terlontar oleh sosok satpam di sampingku ini, pandanganku terdongak secara penuh menatap ke arahnya dengan sebuah senyuman juga aku lengkungan di sini. "Ehehe enggak kok Pak, nggak ngelamun ini tadi tuh nggak sengaja aja gitu ehehe. Tapi kalau apa yang di cermin sama bapak emang bener gitu tapi sebelumnya saya mau nanya ya pak ya ...." ujarku yang dalam sedetik kemudian aku gantungkan penuh kalimat ini karena sosok yang berada di sampingku itu justru bergabung dengan ku duduk di samping aku berada dengan segala gelagatnya yang salah paham atas apa yang aku lontarkan tapi kenyataannya justru itu malah membuatku sedikit canggung sendiri bahkan sedikit aku juga karena pada kenyataannya aku sendiri yang merutuki segala ketidakjelasanku ini padahal itu adalah sosok yang masih bisa dibilang sangat mudah walaupun mungkin lebih dewasa dan lebih matang dari itu namun belum terlalu tua dan tak terlalu keriput yang sebenarnya pada kenyataannya justru malah aku panggil dengan panggilan 'Pak!' Entahlah, inilah aku dengan diri-diri yang segala sesuatunya selalu aku sambung sambungkan. Satu hal belum selesai sudah kembali aku tambah dengan satu hal lagi begitu terus seterusnya sampai aku sendiri juga terkadang sangat kesal dan yah sangat-sangat tak tahu lagi harus bagaimana di sini merespon semuanya itu. Tapi, dibalik hal itu lagi main lagi kembali lamunanku terpotong karena sebuah panggilan. "Udah mbak, dibilang bohong atau enggak sih kalau boleh saya tahu pasti mbaknya bohong ya soalnya emang kelihatan kayak banyak pikiran kalau enggak ya ngelamun. Ya kan?!" "Eh enggak, gini lho pak maksudnya itu kalau misalkan eumm gimana yah. Duh, jadi intinya itu enggak ehehehe saya nggak ngelamun kok Pak, eh?! Aduh maaf kalau saya ada salah pada panggilan ke anda tapi emang saya nggak ngelamun kok. Kalau kepikiran sih nggak terlalu juga, cuma ya rada grogi aja sih pak kalau misalkan ini apaan takut gagal lagi soalnya kemarin kemarin pengalaman gitu sering gagal pak jadi cuma di tengah jalan deh. Eh, kok jadi malah curhat?!" Refleks ku menutup mulut sejenak dalam beberapa detik sebelum setelahnya aku kembali menatap ke arah sosok itu sekilas pantas kembali menghindar dari pandangan itu sampai di detik detik setelahnya sebuah gelengan dan tawa ringan aku sadari penuh dari pendengaran ini dari sosok yang mungkin memang berasal dari sang empunya suara di sampingku ini. "Aduh mbak ya nggak papa dong mau curhat juga nggak papa, tapi ngomong-ngomong ....", Keningku mengerjit sempurna mendengar penuturan dari sosok di sampingku ini yang tampak digantungkan penuh kalimatnya sampai dengan sebuah raut wajah bingung juga aku lontarkan di sini dan mungkin jika sosok itu paham kesel itu akan menanyakannya tapi buktinya sampai sekarang pun tidak menanyakan yang justru malah membuatku semakin bingung dan keheranan sendiri di sini. Tanpa menjawab atau tanpa menanyakan sebuah hal untuk merespon sebuah tawa ringan itu, pandanganku sesekali masih menatap ke arah sosok yang dengan segala karismanya gelang-gelang kepala dengan kesehatan yang masih tipis-tipis ia lakukan seperti sekarang ini. "Mbak, mbak ... Ada-ada saja kamu ini kalau gagal itu ya tandanya belum beruntung tapi kalau misalkan belum beruntung itu bukan berarti harus nyerah juga. Inget loh, enggak ada yang namanya kesuksesan tanpa sebuah kegagalan lebih dulu. Setiap orang yang sukses pasti pernah gagal enggak cuma sekali dua kali bahkan bisa saja berkali-kali tapi dia nggak akan menyerah walaupun memang berat pasti dia akan terus menjalaninya walaupun dengan berat hati dan walaupun emang dengan sedikit ya mungkin terasa berat juga untuk melaluinya tapi percayalah tiada kegagalan yang sia-sia di dunia ini. Pasti akan ada hikmah dibalik semuanya, santai saja. Bismillah oke? Semangat dong ... Kamu masih terlalu muda untuk menyerah!" Puk! Puk! Puk! Deg! Entah ini apa maksudnya yang pasti, dalam sekejap aku dibuat secara sendiri di sini makanya dari aksi yang dilontarkan oleh sosok di sampingku ini. Sosok yang seolah-olah sudah kenal lama denganku dan Sasak yang seolah-olah adalah sosok yang sebaik-baiknya sosok yang selalu menasehati dan memberi semangat pada kenyataannya antara aku dan sosoknya pun tak ada satu keterkaitan sedikitpun di sini. Entahlah, ini nyata tapi aneh. Di saat orang-orang yang mungkin tak kenal biasanya lebih masa bodoh masa kini justru malah seolah-olah seperti merangkul dan menyemangati diriku yang seperti ini, ntah apa artinya bahkan aku tak paham. Yang terpenting atas hal ini, lebih parahnya lagi rusak itu masih setia dengan tangan kanannya yang masih menempel di pundakku yang sebenarnya aku sendiri pun risih dibuatnya. "Eh hehehe, iya pak kalau itu mah siap pokoknya aku juga tahu saya kalau misalkan dia kayak gini hehehe. kan emang hidup gak ada yang tahu jalan ceritanya bakal kayak gimana jadinya ya saya paham kok pak insya Allah juga rezekinya pasti bakalan jadi jalani juga. Dan saya juga yakin kok Pak, kalau misalkan ini jalannya juga pastikan bakal itu lancar juga." Entah kenapa aku yang berkata demikian sosok itu justru tersenyum menatapku dengan anggukan kecilnya yang jelas itu sangat aku sadari di sini. Tetapi karena kesadaranku itu justru membuatku tampak bingung juga karena kenyataannya sejak beberapa menit yang lalu itu semuanya seperti itu malah menjadikanku canggung berada di situasi dan keadaan seperti sekarang ini. Hingga sebuah deheman kecil berhasil aku layangkan di sini merespon hal itu juga dengan segala hal yang aku pulang ntar kan itu pula dalam sekejap membuatku berusaha menghilangkan segala pikiran pikiran tak jelas yang ada di otakku tentang dan perihal segala penilaian tentang sosok satpam di sampingku yang bisa dibilang masih lumayan mudah dan makin dewasa yang sangat matang lah kurang lebih. Jujur berada di keadaan seperti ini jujur ingin membuatku menanyakan sebuah pertanyaan yang berputar-putar di otak dari tadi perihal pertanyaan, 'Ini si bapak kan udah tahu ini jam kerja tapi malah di sini malah nemenin aku yang nggak jelas kayak gini. bukannya kerja jaga keamanan eh malah disini dia sendiri yang malah enak-enakan duduk di sini kan udah tugasnya juga gitu loh buat jaga keamanan bukannya jagain aku kayak gini malah deket-deket lagi ya astagfirullahaladzim ... buat ngeri aja nih orang lama-lama. Mana nggak ada yang lewat lagi, paling nggak itu ya yang apa ya Ada yang negur kah atau apa masalahnya orang dia malah duduk-dudukan di sini malah nomornya gak jelas orang aku tuh nungguin temen gitu biar ada yang ini ya kali perusahaan kayak gini yang daftar cuma satu doang aku doang ini karena aku yang terlalu rajin dalam arti yang terlalu disiplin sampai datang ke pagian atau emang aku yang salah jadwal sih tapi emang undangannya tuh jam segini mah ini udah lebih. Hisss aneh banget deh as-' "Dengan Mbak Laras ....." Refleks ucapanku dalam hati itu terpotong secara penuh, dalam sekejap pandanganku terdongak dan segala hal tak jelas yang aku lontarkan tadi pun dalam sekejap seperti hilang begitu saja saat sebuah panggilan dari sosok suara barusan itu ternyata adalah panggilan dari satpam tadi juga. Sosok yang aku kira itu siapa ternyata malah kesatuan yang sedari tadi tak kunjung berhenti juga dari samping sudah pergi juga dari sini. Dalam sekejap pandanganku pun menatap ke arah sosok itu dengan segala hal yang aku ciptakan di sini. Seulas senyum aku lontarkan merespon hal itu. "Kok tau?!" tanyaku kaget yang membuat-buat pada kenyataannya merasa kaget beneran tapi sengaja entahlah rasanya itu seperti ada kesan tersendiri gitu jika aku kaget beneran. "Lah iya jelas tahu dong Mbak orang yang daftar di sini tuh yang saya tahu ya yang mau interview hari ini tuh cuma Mbak saja kalau kamu pengen tahu ...." Damn it, aku aja? Kaget jelas aku rasakan di sini karena nampaknya seperti tidak mungkin saja kita jika sebuah kenyataan seperti itu benar-benar ada dan benar-benar nyata aku dapati, bahkan rasanya itu seperti tidak mungkin juga gitu walaupun emang iya jadinya seperti ini tapi itu entahlah rasanya terlalu mustahil dan impossible sekali untuk dipercaya. Sampai entah sudah seperti apa raut wajahku di sini yang dilihat oleh sosok satpam di sampingku itu aku bahkan sudah tak peduli, yang aku tahu dan yang aku rasakan saat ini hanya memang terkejut dan seperti inilah. Beberapa detik berlalu aku belum sempat untuk menjawab pernyataan yang keluar dari mulutnya yang datang menyapa pendengaranku ini bahkan belum sempat sama sekali aku respon tiba-tiba sebuah perubahan kata dari mulutnya kembali aku dapati. "Kalau mau nggak percaya juga silakan Mbak tapi kalau misalkan percaya sama saya ya alhamdulillah orang emang beneran cuma kamu aja yang daftar di sini eh maksudnya cuma kamu aja yang interview hari ini orang saya dikasih tahu sama atasan saya makanya saya dari tadi nemenin kamu disini takutnya nanti dibayarin sama mas mas ganjen di sini kan ya eman-eman ....." Dalam sekejap diriku seperti dibuat mengkerut, sudah dari segala ucapannya seolah-olah paham dengan apa yang aku pikirkan ditambah lagi kini dengan sebuah pengakuannya yang dalam sekejap seperti membuatku terkejut juga bukan main gitu lah. Tapi entah lah di sini memang pernyataan yang keluar dari mulutnya itu dalam sekejap juga seperti membuatku ingin berkata, 'Nggak deh kayaknya. Pak satpam mah bercandanya kebangetan kalo misalkan aku udah berharap kalau misalkan emang apa yang diucapin beneran kan yang jadinya kan jatohnya malah berharap gitu loh. Ya atuh gimana nggak berharap kalau kenyataannya aja misalkan nih ada seorang bilang kayak gitu bilang yang seolah-olah cuma aku doang kan otomatis kok langsung berharap dong kan sama aku dia berharap terus kenyataannya lagi malah kayak gitu yang malah kayak berbanding terbalik sama yang diucapin kan yang ada malah sakit hati sendiri mah nyelekit sendiri mana tadi udah di semangat semangattin lagi. Hadeuh ya Allah ... kapan ini lho aku tuh dipanggilnya lama banget dari tadi nungguin apa sih ishh, sabar Laras ... sabar ....." Sesadarnya dari segala hal yang aku lontarkan saat ini, justru hanya menjawab sebuah senyum dari arah dua sudut bibirku renang apa yang diucapkan oleh satpam itu. bukannya aku tak percaya ataupun aneh juga gitu kenapa seolah-olah seperti sangat terbuka denganku padahal kenyataannya bahkan aku sendiri tak mengenalnya seperti itu untuk bisa dipercaya. Tetapi herannya lagi yang aku pikirkan sekarang ini adalah kenapa aku yang sedari tadi terlihat semakin cuek dan semakin cuek dengan segala hal yang terlontar olehnya dan justru malah aku tanggapi dengan segala respon yang semakin datar di sini tapi itu seperti tak kunjung pergi juga padahal itu adalah tujuan awal ku tapi kenyataannya malah berbanding terbalik. Entahlah, ini aneh namun nyata. Ini seperti bagaimana gitu tapi tak bisa juga aku ungkapkan, sungguh aneh! "Hadeh mbak ... ya sudah kalau misalkan Mbak Laras agak ragu sama yang saya ucapin tapi kalau misalkan emang dalam 10 menit ke depan deh kalau misalkan kan yang saya tahu itu jadwalnya Mbak Laras emang ya dari panggilannya sih katanya jam 8 ya tapi bos saya tuh bisanya jam 9-an jadi ya kurang lebih balas Kan tadi udah nunggu setengah jam-an dia masih ada setengah jam lagi untuk nungguin jadi nggak usah pulang sabar aja tenang duduk anteng di situ. Tenang kalau misalkan ada yang recokin nanti saya usir orangnya, mau saya temenin di sini karena emang orang-orang di sini pada ganjen semua ('Termasuk Bapak!' batinku) tapi karena emang Mbak Laras seperti nggak tenang kalau malah ditemenin ya udah saya pergi tapi seperti apa yang saya ucapin tadi. kalau misalkan emang dalam 10 menit ke depan nggak ada orang satupun yang bisa dibilang kayak orang-orang yang seperti Mbak Laras kelihatan kayak mau interview ya berarti emang apa yang saya ucapin tadi bener walaupun emang sebenarnya benar tapi mbak Laras ragu ya tidak masalah." Aku terdiam, rasanya seperti tak enak dan rasanya seperti merasa bersalah sedikit aku rasakan di sini. Entahlah, nampaknya sosok itu tahu akan jiwa-jiwa diriku yang tak enakan. Tapi ya mau bagaimana lagi, jika pada kenyataannya diriku juga sosok orang yang tak mudah percaya juga kalau kenyataan meskipun aslinya aku orangnya orangnya tak enak kan. Detik kemudian hanya kutatap sosok itu sekilas, sosok yang dalam sekilas pula mengeluarkan senyum manisnya dari arah dua sudut bibir sana dan dalam sekejap semuanya pun hanya bisa aku respon anggukan. "Ya sudah, saya pamit undur diri dulu saya mau ke depan sana nanti kalau ada apa-apa kamu bisa teriak aja kalau misalkan nggak enakan orangnya karena takut ganggu ataupun apa ya tenang pokoknya nanti kalau misalkan udah jam 9 aku langsung masuk ke ruangan sana!" sejenak kusadari satpam itu menggantungkan ucapannya justru diganti dengan sebuah acungan telunjuk ke arah sebuah ruangan di ujung sana yang juga refleks aku ikuti keberadaannya. "Nah, itu. Nanti kalau udah sekitaran jam 9-an kalau enggak ya nanti saya ke sini lagi, eh tapi mbak Laras juga kan tau jam yah. kalau merasa terganggu ya itu tadi yang 9-an Mbak Laras langsung masuk aja ke sana, oke?!" Refleks aku mengangguk, dan dalam hitungan detik pula sosok itu undur diri dengan diri yang kembali mengeluarkan senyumannya. 'Kalau kaya gini ceritanya mau nggak enakan malah jadi nggak percayaan, duh! Ini yang salah sebenarnya aku atau satpam itu sih?! Ya Allah ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN