"Nah gitu dong mandi beres-beres bersih-bersih diri juga nggak ngebo aja ya walaupun mas juga tahu kalau misalkan adanya lagi kayak gini dan kamu juga bingung ngapain terus juga kamu berusaha selama ini. Tapi ya kalau misalkan lihat kamu luntrak luntruk gitu aja capek juga lihatnya dek."
Dengan penuh tak percayanya aku gelengkan kepala menatap ke arah mas Rega, sedangkan yang kutatap kini tampak senyum-senyum tak jelas diharapkan dengan sesekali juga tampak menjahiliku dengan jitakan jitakan kecilnya di kepala. "Anda terlalu jujur sodara, tapi it's okey ...."
Tangan kananku terangkat keatas menyingkirkan jari-jari usil dari Mas Rega, "Capek sih capek tapi ya nggak usah dijitakin terus-menerus juga ini kepala. Sakit tau, aku aduin ke bunda mampus Lo kamu Mas!"
"Dih aduan!" telaknya, aku menghendikkan bahu acuh. Sedetik kemudian aku putar balik badan ini seolah-olah ingin pergi meninggalkan sosok yang menyebalkan tadi tanpa kata sedikitpun.
Cek-lek!
Puk!
Langkahku tertahan, aksiku terhenti. Kini dengan malas ku kembalikan posisi pandanganku ke arah Mas Rega.
Sosok itu mengerjit penuh, sontak membuatku bingung sendiri saat ini. Sedang tanganku pula kini masih memegang gangang pintu yang sebelumnya ingin kubuka tapi tertahan karena sebuah tepukan yang ntahlah itu disengaja ataupun tidak oleh Mas Rega.
"Apalagi sih Mas ya Allah astagfirullahaladzim, ini adik mau mandi loh sesuai perintah kakanda tadi. Giliran mau ini beneran ya malah ditahan-tahan nanti lagi kangen kangennya. Ciellah Astagfirullah wkwkwk."
Aku jawab dengan segala ketidakjelasan itu sontak membuatku tertawa terkekeh pelan saat ini. Berbeda dengan Mas Rega yang justru kini tampak menyengir tak jelas sontak saja membuatku memutarkan mata malas karena hal itu. "Iya ding lupa aku tuh dek, ya Allah gitu aja sinis kamu sama kakaknya sendiri hmmm ...."
"Bukannya sinis ataupun apa ya, tapi ya mbok tolong gitu Lo Mas. Barusan banget loh kamu tuh bilangnya, adiknya nggak boleh males-malesan pas udah mau ini apa namanya udah jadinya kan disuruh mandi pas udah mau mandi eh malah ditahan-tahan kan jadi males lagi. Ini kalau misalkan udah kayak gini ya salah siapa coba aku atau kamu mas?!" sinisku beneran.
Yah bagaimana lagi, bukankah tadinya diriku sudah biasa-biasa saja tapi bagaimana lagi jika dalam sekejap pula tiba-tiba dibuat greget bukan main yah berujunglah hanya bisa seperti saat ini.
Badanku sudah kembali menghadap ke arah mas Rega dengan malasnya, menatap ke arah sana dengan penuh penuh kesinisan yang kenyatannya sebelum itu tak kukeluarkan tapi dalam sekejap pula semuanya membuatku benar-benar sinis pada sosok itu.
"Iya iya ya Allah gitu aja ngambek," tukasnya menjawab lagi.
Tapi kini sudah tak terlalu kuhiraukan lagi, ingat dengan segera aku berjalan kembali mengembalikan badan hingga ku dapati segenggam pintu dan kubuka dengan segera lantas masuk setelah sebelumnya sempat berkata. "Tau ah mas, capek aku. Masa iya tiap hari suruh debat terus. Durhaka dong aku sama kakak sendiri, ck! Udah udah nggak usah ditahan lagi aku mau mandi bye!"
"Yaud-"
BRAK!
Jelas dari pendengaranku saat ini, sebuah sahutan seperti yang dilontarkan oleh mas Rega namun kutahan karena bersamaan dengan itu pula pintu kamar tertutup dengan kerasnya karena ulahku.
Ntahlah, rasanya ingin tertawa sendiri juga karena aksiku yang absurd ini. Ditambah lagi aku yang rasanya ingin memaki-maki diriku sendiri juga tapi juga tak mungkin kulakukan karena jelas ini juga diriku sendiri hanya karena aku yang baru saja berucap apa tapi kenyataannya aku sendiri yang bertindak seperti adik durhaka pada kakak sendiri.
Tapi, semua itu tak kuhiraukan. Sedetik kemudian langkahkan kaki ku kembali berjalan masuk kamar sampai di ujung ruangan sana udah berarti kamar mandi. Dengan segera pula setelah mengambil beberapa pakaian sebagai gantinya, aku pun masuk ke ruangan itu untuk membersihkan diri.
Memang betul apa yang diucapkan Mas Rega, rasanya ingin bermalas-malasan pun sebenarnya aku sudah capek. Tapi terkadang juga bingung harus berbuat apa, sampai-sampai untuk bisa saja sudah bosan sendiri. Tapi semakin ke sini, semakin yakin juga aku kalau kenyataan pasti juga tak akan seperti ini terus.
Hingga dengan helaan nafas panjang kulontarkan, sedetik setelahnya ku tutup pintu kamar mandi untuk segera melaksanakan ritual pagi yang kenyataannya sudah berada di hari yang semakin siang ini.
*****
Tak terasa waktu kini semakin siang dengan cahaya matahari yang semakin naik di luar sana, udaranya sama saja karena itu sangat dirasakan olehku saat ini yang berada di ruang tengah dengan beberapa cemilan juga dengan tontonan sinetron andalan dari layar televisi yang ada di depan sana lurus ku tatap dengan santainya.
Keseharianku memang terlalu monoton seperti ini, bahkan jika jadwalku dari bangun tidur sampai tidur lagi pun semuanya rasanya itu seperti sama saja karena tidak ada perbedaannya sama sekali. Saat semua orang sibuk dengan aktivitasnya yang mungkin selalu berubah-ubah berbeda denganku yang bahkan bisa dikatakan terlalu sama sampai membuat diri seringkali lelah untuk menghadapi semuanya lagi dan lagi atau bahkan seperti rasanya itu tak tahu lagi harus berbuat apa hingga akhirnya hanya penyakit malas lah dan yang sering hadir pada diri-diri yang selalu dibuat sepi ini.
Udara panas jelas terasa karena di ruangan ini tak ada kipas angin sama sekali, ditambah lagi sinar matahari juga yang sampai tembus jendela jelas menerangi ruangan ini semakin cerah sampai dengan helaan nafas kasar kembali terlontar dariku.
Tanpa segaja mata ini tertuju pada jam dinding di atas sana, bersamaan dengan diriku yang tampak letakkan sebuah remote televisi setelah kumatikan juga benda itu karena sudah sangat bosan untuk menontonnya. Kugelengkan kepala ini ke kanan dan kiri seolah berusaha menghilangkan segala rasa pegal yang terasa tiba-tiba ini dengan begitu pelannya.
Jujur, hari ini entahlah. Hambar seperti tak ada apa-apa dan tak ada menarik-nariknya seperti biasanya.
Ku benarkan posisi rebahannya pada sofa ini dengan segera, "Ya Allah ... Baru jam segini ternyata. Padahal masih pagi loh kayaknya, pantesan aja panas banget. Kaya luka hati yang tak kunjung disembuhkan, asek ...."
"Hadeh Laras ... Laras ... Tapi ngomong-ngomong soal jam nih sekarang kan udah jam 11 aku kayak nggak yang sesuatu ya kayak ada yang kelupaan gitu tapi apa?!"
Jujur, dan ini sangat asli. Seperti ada yang kelupaan tapi apa entahlah aku pun juga tahu tapi rasanya itu seperti ingin ....
Berpikir sejenak kulakukan saat ini, sampai dengan sebuah tepukan berhasil mendarat di keningku sendiri karena tanganku mengingat dalam sekejap pula ingatanku kembali terkuak sampai memunculkan otak juga merespon mata agar menatap ke arah sekelilingku yang terdapat beberapa bagai macam cemilan di sana.
"Demi Alex! Sumpah demi apapun ya Allah buat sarapan aja lupa masa iya aku dari tadi cuma makan cemilan doang. Bisa-bisanya gitu loh aku lupa buat makan nasi, masa iya sarapan aja sampai lupa ya Allah sampai makan cemilan segini banyaknya penyakit pikun kembali menyerang ini kayaknya astaga ...."
"Udah ah, ke dapur aja nyari makan! Pantes aja dari tadi makan nggak kenyang-kenyang. La ternyata yang jadi ininya adalah karena belum makan nasi, ck! Pikun ... Pikun ...."
Tanpa berbasa-basi lagi, kini ku bangkitkan badan ini dari segala kenyamanan yang ada sebelumnya sampai dengan 1 detik setelahnya kaki ini pun melangkahkan penuh jalan ke arah dapur dengan segera.
Tapi baru saja sampai di tengah jalan, dalam artian baru berjalan beberapa langkah. Tapi kaki ini sudah kembali tertahan karena sebuah panggilan yang memaksaku untuk menoleh ke arah belakang gimana ke tempat dan dari arah sumber suara itu datang.