Sarapan Jajan?

1114 Kata
"Mbak, mau kemana?!" tanya Bunda dari belakang sana. Yah, memang yang kulihat sosok itu adalah Bunda. Yang berhasil menahan segala pergerakanku saat ini, juga dengan segala hal yang membuatku berbalik badan dan tersenyum tak jelas saat ini menghadapnya kembali. Sosok itu tersenyum meresponku, "Mau sarapan Bund. Hehehe, lupa belum sarapan tadi pagi!" jawabku rada kikuk. Yah bagaimana tidak, jika kenyatan sebenarnya pula aku tak pernah selupa ini sebelumnya. Lebih-lebih untuk makan, rasanya mungkin memang tidak meyakinkan jika itu terjadi. Bahkan jika boleh dikatakan, saat dari tatapan bunda yang tak yakin saat ini itu juga sukses membuatku berpikir sama juga karena bisa-bisanya aku sedemikian rupa sedangkan dikebiasaanku saja biasanya tak seperti itu. "Boong ya kamu mbak?!" Refleks kedua bola mataku membulat sempurna, sampai didetik setelahnya sebuah pukulan kecil berhasil mendarat di lenganku. Bersamaan dengan itu pula segala mimik wajah tak jelasku ini mulai memulih seperti sebelumnya. "Bunda ih beneran ... Nggak percaya sih bunda mah, coba deh diingat-ingat. Dari tadi bunda udah lihat Laras makan belum?!" tanyaku membela diri, bunda terlihat geleng-geleng kepala dengan gampangnya. "Eh, iya juga ya. Hmmm, berarti anak bunda ini beneran nggak bohong hahaha. Kirain bunda itu cuma alibi kamu aja buat bisa makan lagi 2× setelah sarapan tadi di jam-jam segini karena udah lapar lagi. Hmmm, ternyata cuma kesimpulan bunda aja yang salah ya sayang ya hahaha. Ya udah ya udah ya udah ...." Digantungkannya kalimat itu saat ini membuatku sedikit kebingungan, tapi semuanya teralihkan karena rasa kesalku yang sedikit mengeruak merespon ucapan yang maha benar dari bunda di hadapanku saat ini. Bahkan itu sampai seolah-olah tak percaya denganku pula. Sampai sebuah tepukan berhasil memutus segala hal yang ada pada diriku saat ini, bersamaan dengan itu pula Bunda terkekeh menatapku. "Bercanda mbak, sih kamu itu nggak bisa diajak bercanda sedikit hahaha. Ya udah sana sarapan, sarapan di jam yang hampir siang ini hmmm. Udah udah sana sarapan sayang ya ... Nanti maag kamu kambuh Lo kalau nggak sarapan, udah sana sarapan bunda bercanda mbak ...." ujar bunda lagi membuatku tak tega melihatnya. Sebenarnya bukan tak tega atau apa, karena kenyataannya memang apa yang diucapkan oleh bunda itu benar adanya. Hanya saja sedikit kesal saja mendengarnya, ntahlah. Tapi semuanya dengan segera kuenyahkan dari pikiran. Bukankah tak mungkin juga aku sedemikian rupa terus-menerus? Sampai dengan helaan nafas panjang disegala aksi bunda yang kusadari penuh juga tampak mengelus-elus bahuku seolah ingin aku sudahi semuanya ini padahal memang sudah ku sudahi. Dengan senyum yang sedikit ku perlihatkan saat ini, ku tatap bunda dengan anggukan kecilku. "Iya iya bunda ... Iya ini habis ini sarapan, lagian bunda sih. Orang anaknya beneran lupa buat sarapan malah dikira boong terus biar bisa makan lagi, padahalkan nggak gitu aslinya bunda ... Ngeyel sih," gregetku masih sedikit tak bisa kuhilangkan. "Horoh ... Kan bunda udah bilang lupa sayang ... Bunda kan nggak ngeh tadi, tapi ya sekarang udah sih. Hmmm, ya udah kan, makan sana sekarang. Bunda nggak mau ya anak gadis bunda ini ngeluh sakit perut lagi gara-gara nggak makan. Sana gih, makan dulu!" "Iya, Laras juga kan bercanda bund hahahah. Udah ih, Laras makan ya bund. Laper, ini perut tadi biasa aja sih jadi lupa buat sarapan. Lah sekarang pas udah rada siang baru deh ngeh kalau belum sarapan karena perut keroncongan, padahal tadi juga udah ngemil banyak lagi di depan tv sana. Duh, moga aja nggak njenggilak ini perut ya Bund." Bunda mengangguk meresponku, "Yaa mungkin aja, salah siapa sih lupa makan malah ngemil. Berarti itu cemilan di depan sana udah habis sekarang?!" Roman-romannya akan ada bau-bau obrolan panjang yang mengeluarkan kekesalan dari diri Bunda. Sampai aku yang sadar akan hal itu menyengir mereponnya saat ini. "Iyakan berarti hmmm?!" tanyanya yang masih berada di hadapanku saat ini sukses membuatku pula mengangguk dengan begitu pelannya seolah akan ada ketakutan jika terlalu jujur dan spontan mengangguk cepat merespon ucapan Bunda. Tapi, siapa sangka jika kenyataannya memang yang terjadi sekarang ini justru kebalikannya. Sampai sebuah cengiran yang aku layangkan kembali dengan gelengan kepala juga yang ku lakukan saat ini, bunda kembali menyanggah ucapannya dengan. "Tapi ya gak apa-apa ding dia bisa juga enggak apa-apa orang bunda kan beli juga buat dihabisin ya kali kalau misalkan lagi makan enggak boleh ya itu mah jadi bunda yang jahat udah nggak papa dimakan aja. Lagian udah kemakan juga kan, ngapain dipermasalahkan lagi gitu loh kak. Hmmm, ya udah ini katanya tadi mau sarapan mau makan dulu mau makan nasi ya sana mbak ke dapur. Ambil makan yang banyak, nggak apa-apa. Lagian juga kan bunda tuh masak ya buat dimakan juga kalau nggak ada yang makan ya gimana bunda malah sedih dong jadinya ini!" "Wihhh, kirain bunda bakal marah karena Laras habisin makannya. Ehehe ternyata enggak toh, alhamdulillah dong kalau gitu. Hmmm, ya udah Laras ke dapur ya bund. Udah laper!" Tanpa berbasa-basi lagi setelah mendapat sebuah respon anggukan penuh dengan senyuman tulus yang dilemparkan oleh bunda yang jelas juga terekam oleh penglihatanku saat ini sesegera mungkin aku kembali membalikan badan berjalan dengan segera ke arah dapur sana. Kini, kaki ini benar-benar kulangkahkan ke dapur sana dengan segera. Berharap tak ada yang menganggu lagi, sampai setelahnya sukses membuatku meraih satu piring beserta sendok di rak hadapanku setelah sampai di ruangan minimalis ini lantas berjalan mengambil nasi dan beberapa lauk yang kenyataannya sudah disimpan di tempat yang aman sampai-sampai kulihat dengan intipannya dan menyantap semua makanan yang ada di piring hadapanku atau lebih tepatnya di tanganku saat ini. **** Entah sudah berapa menit sendiri aku habiskan waktu di ruangan ini, ruangan yang memang sedikit tergabung dengan dapur tapi aku sendiri juga bingung harus menyebut apa tempat ini. Intinya, masih di sini aku berada saat ini. Menyantap makananku dengan selingan memainkan ponsel pintar yang sesekali bergetar hebat seperti saat ini. Yah, jika sudah chating dengan sahabat bukankah semuanya tampak asik? Memang benar. Bahkan sampai dikira gila karena senyum-senyum atau tertawa tak jelas saja di situ dikira dengan pacar. Padahal kenyataannya pula jangankan doi, pacar saja tak punya sama sekali. Adapun itu bukanlah pacar, masih sangat jauh dari kata pacar bukan? Karena nyatanya orang yang kuinginkan saja tak ada respon sama sekali. Entahlah dia yang kadang seperti ini terkadang pikiranku sering berkata tentang semua hal tapi dalam sekejap jelas pasti semuanya akan ku tolak karena kenyataannya sosok yang aku harapkan pun tak ada timbal baliknya sama sekali dan mintalah karena diriku saja juga ribet dengan diriku sendiri. Sampai akhirnya hanya bisa seperti ini dan berharap semoga segala ketidakjelasan aku yang pada intinya mungkin sesekali tertawa tak jelas dan senyum-senyum sendiri tak dianggap sedemikian rupa oleh bunda atau bahkan oleh Mas Rega, semoga saja. Dan itu hanyalah doaku saat ini, dan setiap saat di waktu ketika aku yang bila tanpa sadar senyum-senyum dan ketawa-ketawa tak jelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN