30

1278 Kata

Tidak ada jaminan Caius sanggup melindungiku dari mereka yang mengharapkan takhta. Ibarat api membakar sumbu, tinggal menunggu peledak tersulut dan BOOM—lenyap. Pada akhir cerita tragis nanti, tidak ada apa pun tersisa bagiku. Bila memilih Caius, maka nasibku tidak ada bedanya dengan milik Alina: Mati. Dia mati karena cinta buta, sementara aku mati karena pengikut Caius.  Seseorang pernah berkata kepadaku, “Berhati-hatilah dalam memilih jalan.” Setiap opsi diikuti konsekuensi. Baik, buruk. Keduanya tidak terpisahkan, melekat bagai takdir kembar sang durjana.  Tindakan yang kulakukan terhadap Caius terbilang sembrono. Bisa saja dia naik pitam, menganggapku tidak sopan dan menghina keluarga kerajaan, lalu hukuman pun dijatuhkan. Namun, keberuntungan masih berpihak kepadaku. Satu-satunya ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN