Anara tersenyum tipis menunggu Siren yang berjalan ke arahnya. "Lo mau balik lagi? Tumben nggak lembur?" tanya Siren berdiri di samping Anara menenteng tas kerjanya. Anara mengedik. "Prakasa larang gue lembur, dia lebih setuju kalau gue ngerjain semuanya di rumah aja," jawab Anara jujur. Prakasa memang memintanya untuk tidak lembur seperti sebelumnya, meski sempat berdebat karena Anara tidak menyetujui permintaan Prakasa, tapi tetap saja Anara kalah dan akhirnya hanya bisa pasrah menuruti permintaan Prakasa. Sebelah alis Siren naik. "Ini Anara sahabat gue, kan?" Kening Anara mengerut heran. "Kenapa lo tanya gitu segala?" Siren menggeleng tak percaya. "Gila! Masa Anara kalah gitu aja." Anara memutar bola mata jengah. "Kalau sama Prakasa, gue nggak bisa banyak protes, Ren." Anar

